Urusan menahan diri untuk terlihat baik-baik saja adalah hal yang paling mudah yang bisa dilakukan oleh Nina. Perempuan itu cukup kuat untuk menjalani hari-harinya dengan ceria walau sebenarnya di dalam jiwanya sedang ambyar luar biasa. Toh, jika ia terlihat tidak baik-baik saja dan terlihat seperti orang yang sedang ada masalah, justru hal tersebut hanya akan membuat orang lain mengasihaninya. Untung-untung kalau ada yang peka dan benar-benar iba padanya. Jika kenyataan membuktikan bahwa orang-orang sama sekali tidak peduli dengan dirinya, hal tersebut malah lebih membuatnya sakit hati. Maka, keputusan yang tepat adalah ketika Nina selalu terlihat baik-baik saja. Hal tersebut juga membuat Nina berangsur membaik dengan setiap masalah yang ia hadapi, dengan bertingkah sok kuat maka Nina akan menjadi perempuan yang benar-benar kuat.
Hari Senin adalah hari yang dibenci oleh banyak orang. Bagaimana bisa jarak antara hari Senin dengan hari Minggu sangatlah jauh, padalah jarak antara hari Minggu ke hari Senin sangat cepat sekali. Nina pernah memikirkan hal tersebut sampai kepalanya benar-benar pusing karena ia tidak pernah mendapatkan jawaban yang masuk akal, semua jawaban hanya ia kira-kira sendiri saja, padahal ada yang namanya teknologi canggih yaitu Google, tetapi Nina belum pernah memanfaatkan teknologi itu untuk pertanyaannya yang sebenarnya tidak pantas untuk ditanyakan apalagi oleh orang pemalas yang begitu tidak menyukai hari Senin seperti Nina.
Perempuan itu sedang berjalan di melewati koridor yang tidak terlalu ramai seorang diri. Sekarang masih pukul setengah delapan pagi, masih di jam-jam yang cukup sibuk dengan beberapa mahasiswa yang berlarian karena terlambat masuk kelas atau beberapa dosen yang berjalan dengan santai padahal jam masuk kelas sudah lewat setengah jam. Kali ini Nina tidak sedang terburu-buru karena kelas mereka diundur satu jam dari jadwal yang semula jam tujuh pagi, diundur menjadi jam delapan pagi. Setidaknya, pagi tadi Nina memiliki sedikit waktu untuk berlama-lama rebahan di atas kasur sebelum akhirnya harus mandi dan bersiap ke berangkat untuk menuntuk ilmu di kampus.
Ponselnya bergetar. Seharusnya bisa saja Nina membiarkan getaran itu yang hanya sebentar, pertanda hanya ada sebuah pesan singkat yang masuk, bukan sebuah panggilan. Namun, Nina memilih berhenti sejenak hanya untuk mengambil ponselnya yang ada di saku celana. Perempuan itu tidak pernah berharap lebih dengan pesan yang ia terima. Kalau bukan pesan di obrolan grup, paling-paling juga Winta atau orang tuanya yang tidak pernah absen mengucapkan selamat pagi untuk dirinya.
Ternyata Nina salah. Satu pesan yang ia terima itu dari Brian. Kali ini Nina tidak tersenyum atau menahan jantungnya yang berdegub. Saat ini dirinya justru merasakan sebuah kesedihan. Entah mengapa, sejak perjalanan pulang dari hotel Nina memang tidak banyak bicara dengan Brina dan Brian. Ketika Brian berbasa-basi untuk mengobrol dengan dirinya dan Winta pun Nina hanya menjawab secukupnya, sangat singkat sekali. Tidak aneh jika setelahnya Brian mengiriminya banyak pesan. Namun, sampai sekarang ketika Brian kembali mengirimi pesan lagi, padahal pesannya yang semalam belum Nina balas.
Kak Brian: Na, ayo makan siang. Kamu bisa kan?
Lagi-lagi Nina memilih untuk mengabaikan pesan tersebut. Ia tidak mau membalasnya walau tanda centang biru yang berarti sudah dibaca dapat diketahui oleh Brian. Tidak apa, Nina hanya enggan membalas pesan dari laki-laki itu, bukan ingin mengabaikannya.
Perempuan itu kembali melangkah menuju ruang kelas yang hanya tinggal beberapa langkah lagi. Sebelumnya ia mengecek ponselnya untuk melihat jam dan masih menunjukkan pukul delapan kurang dua puluh menit. Masih banyak waktu dan Nina yakin sekali jika ruang kelas pasti masih sepi. Akhirnya ia memutuskan untuk mampir ke kantin sebentar, membeli roti dan kopi siap minum agar dirinya tidak mengantuk ketika mengikuti perkuliahan yang ada dimulai dua puluh menit lagi.
Kantin fakultas selalu ramai walau hari ini masih pagi. Sayangnya belum semua counter telah buka. Beruntung saja Nina bisa mendapatkan roti isi dan kopi siap minumnya. Setelah membayar, perempuan itu memutuskan untuk menikmati di sini saja alih-alih di dalam kelas karena jarak kelas dan kantin juga hanya beberapa langkah saja. Ditambah kelas masih sepi, Nina tidak terlalu suka kondisi kelas yang tidak banyak orang karena menurutnya sedikit menyeramkan.
Roti tawar isi coklat berhasil Nina lahap habis. Kini dirinya meminum air mineral yang ia bawa dari rumah kost terlebih dahulu sebelum melanjutkan untuk meminum kopi.
"Nina!"
Hampir saja Nina tersedak, beruntung perempuan itu masih bisa mengontrolnya.
Nina menoleh, di sampingnya sudah ada Brina dengan senyumnya yang mekar menghiasi wajah cantiknya seperti biasa. Brina tidak pernah terlihat murung. Perempuan itu selalu terlihat cantik dan ceria sampai-sampai segelintir orang yang ada di kantin ini seperti memiliki kewajiban untuk terus menatap Brina.
"Udah sarapan?" tanya Brina berbasa-basi ketika melihat bungkus roti di hadapan Nina yang telah kosong.
Nina pun mengangguk. Sebenarnya ia ingin mengobrol seperti biasanya dengan Brina, tetapi entah kenapa semua tertahan dan dirinya merasa tidak nyaman ada Brina di sebelahnya.
"Kelas dimulai jam berapa?" Brina bertanya lagi. Ia sadar jika Nina masih menjaga jarak dengannya. Sungguh, keadaan seperti ini selalu berhasil membuatnya merasa sedih. Tetapi ia tidak boleh memperlihatkan kesedihannya di depan Nina. Ia berusaha untuk bersikap seperti biasanya.
Nina belum juga menjawab. Ia malah asyik bermain dengan ponselnya yang tadi sempat bergetar. Bukan karena ada pesan dari seseorang, tetapi hanya sebuah notifikasi dari aplikasi belanja online.
"Nin, gue mau ngomong sesuatu deh sama lo," kata Brina lagi. Kali ini ia menahan tangan Nina seolah mengisyaratkan agar dirinya bisa menatap Brina karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh perempuan itu.
Nina pun menyadari. Dirinya meletakkan pelan ponselnya di atas meja dan wajahnya mulai menatap Brina.
Kedua mata mereka kini menatap intens satu sama lain. Nina tidak tahu apa yang akan dikatakan Brina, yang pasti Nina yakin sekali jika semua ini nanti akan ada hubungannya dengan Brian. Ah, lama-lama Nina capek sendiri karena Brian lah hubungannya dengan Brina menjadi renggang seperti ini. Tetapu dirinya juga tetap mencintai Brian. Ah, Nina memang benar-benar terjebak di situasi yang sangat menyebalkan.
"Nin, " ucap Brina sekali. Menggantung, dan belum ia lanjutkan hingga beberapa detik terlewatkan.
Nina masih diam. Ia berniat untuk mendengarkan ucapan Brina saja daripada harus bertanya tentang kelanjutan omongannya. Walau Nina bisa menebak jika semua ini ada sangkut pautnya dengan Brian, tetapi Nina tidak tahu mengapa sekarang ini rasanya sangat seriuz sekali.
"Nin, gue sama Brian udah putus."