Nina senyum-senyum sendiri sambil berusaha membuka pintu rumah kost. Beruntung saja rumah kostnya tidak terletak di dalam gangg, tetapi di pinggir jalan jadi memudahkan Nina jika hujan seperti ini, seperti tadi ketika setelah keluar dari mobil dirinya langsung bisa berlari untuk masuk. Walau bajunya tetap lembab karena air hujan, dipastikan tidak sampai basah kuyup. Akhirnya, setelah berjuang membuka kunci pintu yang memang beberapa hari terakhir ini agak macet, Nina bisa masuk rumah kostnya. Ia melihat masih cukup sepi hanya ada beberapa motor saja padahal hari sudah cukup sore. Mungkin penghuni kost lain juga ingin pulang tetapi terjebak oleh hujan.
Nina buru-buru masuk ke kamarnya dan tidak lupa menaruh sepatu di rak yang terdapat di masing-masing kamar. Beruntung sepatunya juga tidak basah jadi Nina tidak perlu untuk mencucinya. Perempuan itu langsung berganti baju dan mandi. Cukup cepat walau udara dingin karena mandi air hangat di saat hujan begini memang paling enak. Seperti biasanya, Nina sangat suka berlama-lama di kamar mandi hanya untuk mencari inspirasi. Entah inspirasi menu makan apa yang harus ia siapkan untuk makan malam, lalu ojek online milik perusahaan mana yang sekiranya ada promo, sampai membayangkan ketika ia berdua bersama Brian di dalam mobil tadi. Rasanya memang canggung sekali, tetapi Nina berhasil melewatinya. Mereka tidak banyak bicara, tetapi juga tidak diam saja. Setidaknya, Nina tidak menyesal sudah pulang bersama dengan Brian, karena bagaimana bisa ia menyesal untuk satu mobil bersama laki-laki itu yang bahkan aroma parfum mobilnya sangat nyaman untuk dirinya. Nina tersenyum menatap dirinya di pantulan kaca, ia bangga dengan dirinya sendiri.
Setelah mandi, seperti biasanya Nina perlu sesuatu untuk menghangatkan tubuhnya. Ia ingin sekali memasak mie rebus, tetapi ia berpikir kembali bahwa beberapa jam yang lalu ia sudah makan. Namun, hujan yang semakin deras membuatnya ingin makan mie sekali.
Setelah berpikir beberapa menit, akhirnya Nina memutuskan untuk mengeksekusi mie rebus rasa soto yang ia punya. Sepertinya tidak akan membuat menu yang biasa-biasa saja, tetapi dengan mencampur telur, keju mozzarella, dan sedikit s**u cair akan lebih istimewa seperti yang pernah viral di youtube.
Nina langsung meluncur ke dapur dengan membawa sebungkus mie. Ia langsung merebus air dan membuka kulkas untuk mengambil telur, s**u, dan juga keju mozzarella. Tetapi, ada yang aneh. Keju yang ia simpan dalam freezer dan ia yakin masih lebih dari separuh ukuran setengah kilogram ternyata tidak ada. Kulkas berukuran dua pintu ini memiliki freezer yang cukup besar tetapi justru terlihat kosong, hanya ada beberapa nugget milik penghuni lain saja dan keju mozzarella miliknya sama sekali tidak ada. Ia sudah mencari di tempat lain tetapi juga tidak ketemu juga.
Kesal. Nina terlanjur kesal. Air yang ia rebus sudah mendidih tetapi ia memilih untuk mematikan kompor saja. Dirinya langsung membuang air itu di wastafel setelah keran air ia buka untuk menetralkan panasnya air. Panci langsung ia kembalikan ke tempatnya dan juga telur dan s**u yang sebelumnya juga sempat ia ambil. Nina melangkah dengan kesal membawa sebungkus mie kuah rasa soto untuk kembali ke kamar. Dirinya pun masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan membantingnya karena kesal.
Masalahnya, ini bukan kali pertama Nina kehilangan bahan makanannya di kulkas. Sebelumny ia pernah kehilangan sosis dan keju mozzarella yang sama, namun saat itu tinggal sedikit saja. Nina juga pernah kehilangan tiga butir telur sekaligus, entah siapa yang mengambil kala itu tidak ada yang mengaku dan Nina mengikhlaskan saja. Namun, saat ini untuk kesekian kalinya ia kehilangan bahan makanan, rasanya sangat kesal. Akhirnya, Nina memilih rebahan saja sambil menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Beruntung, suara hujan yang deras mampu meredam sedikit amarah yang timbul pada dirinya.
Tidak terasa, Nina sudah tertidur saja sampai hari sudah malam. Ia buru-buru menyalakan lampu kamarnya dan segera mengecek ponselnya, berusaha agar tidak kehabisan daya baterai karena memang ia masih menggunakan ponsel lamanya itu. Setelah membiarkan ponselnya terisi daya, Nina merasakan perutnya yang keroncongan. Rasa kesalnya sudah berkurang, tetapi tetap saja ia merasa kesal karena yang hilang kali ini adalah keju yang baginya cukup mahal daripada tiga butir telur yang pernah hilang juga. Nina pun berinisiatif untuk kembali membuka ponselnya dan menanyakan langsung di grup rumah kost.
Nina segera mengetikkan pesan saja.
Nina: Kakak-kakak, apakah ada yang lihat keju mozzarella gue ya? Masih sekitar setengah bungkus gue taruh di freezer tapi kok nggak ada:(
Tidak lama, ada balasan yang membuat ponselnya bergetar.
Kak Syalaby: Tadi pagi pas bikin sarapan gue masih lihat kayaknya
Nina: Tapi sore tadi udah nggak ada hiks
Cukup sampai di situ, beberapa menit Nina menunggu sudah tidak ada lagi yang membalas pesannya di grup padahal di laporan dibaca, semuanya sudah membaca. Tetapi mengapa mereka enggan untuk membalas. Nina hanya mengembuskan napasnya panjang-panjang. Memang jalan terbaik adalah ia yang harus segera pindah dari rumah kost ini terlepas Kak Syalaby dan beberapa penghuni yang lain sangat ramah padanya, hanya saja ada beberapa hal yang membuatnya tidak nyaman yaitu Areta dan beberapa bahan makanannya yang sering hilang. Nina tidak menuduh Areta, hanya saja memang ia selalu kesal dengan perempuan itu.
Tidak lama, ponselnya kembali bergetar. Ada satu pesan yang membuatnya terkejut sekaligus bertanya-tanya walau sebenarnya perasaan Nina sangat senang sekali.
Kak Brian: Na, udah makan?
Brian tahu saja jika dirinya tengah kelaparan dan ia langsung menanyakan hal tersebut. Nina pikir Brian akan mengajaknya makan malam, tetapi rasanya sangat tidak mungkin. Untuk apa juga Brian mengajak Nina makan malam padahal jelas-jelas Brian itu kekasih dari Brina. Perempuan itu belum sempat membalas tetapi satu pesan dari orang yang sama kembali ia terima.
Kak Brian: Ayo makan malam, Na.
Okai, kali ini jantungnya kembali sukses dibuat berdegub kencang. Rasanya antara percaya dan tidak percaya, mengapa semudah itu Brian dekat dengan dirinya dan bahkan sampai mengajaknya makan malam. Nina butuh menetralkan napas dan degub jantungnya terlebih dahulu. Kemudian ia mendadak berpikir baju apa yang harus ia kenakan untuk pergi makan malam berdua bersama Brian. Ah, Nina kembali berpikir. Apa benar mereka akan makan malam berdua atau bertiga bersama Brina? Tetapi mengapa bukan Brina yang mengajaknya tetapi malah Brian?
Nina makin senyum-senyum saja. Ia berpikir berarti Brian lah yang memang mengajaknya makan malam tanpa Brina. Alasan mengapa tanpa Brina pun ia tidak mau berpikir. Yang pasti saat ini ia harus segera membalas pesan dari Brian dan menyetujui untuk makan malam bersama. Setelahnya, barulah ia sibuk memilih baju yang cocok.
Baru saja Nina akan membalas, lagi-lagi ada satu pesan dari Brian yang masuk, di mana pesan itu membuatnya tersenyum tipis dan menampik semua bayangannya tadi.
Kak Brian: Ayo, Na. Ini Brina yang ngajak, jadi kita bertiga.
Rupanya, memang bertiga adalah jalan terbaik untuk bisa bersama dengan Brian.