Nina tidak habis pikir. Laki-laki tampan itu muncul dari mobilnya yang baru saja terparkir di depan gedung fakultas. Ia berlarian menembus hujan dan sampai lah di samping Nina yang masih terkejut karena kedatangan Brian. Jelas sekali perempuan itu tahu jika yang baru saja parkir adalah mobil milik Brian, karena sudah pasti penggemar nomor satu Brian di dunia ini adalah Nina yang tahu semua hal tentang laki-laki itu. Mulai dari nomor sepatu, merek sepatu yang sering digunakan, warna baju atau kemeja yang digunakan di hari-hari khusus, semuanya Nina tahu. Satu hal yang Nina tidak tahu adalah isi hati Brian, apakah ada dirinya di dalamnya. Ah, Nina terlalu berharap.
"Kak Brian kok hujan-hujanan?" tanya Nina setibanya Brian di sampingnya. Laki-laki itu perlu mengibaskan rambutnya yang basah karena air hujan. Sumpah, Nina dibuat semakin deg-degan saja karena Brian yang suka bertingkah tampan seenaknya.
Bukannya menjawab, Brian malah terkekeh di hadapannya.
"Kak Brian kok tahu aku belum pulang?" tanya Nina lagi yang masih penasaran. Agaknya cukup aneh jika Brina yang memberitahu Brian dan menyuruhnya untuk datang ke sini. Jika benar, berarti Brina tadi terburu-buru bukan untuk menemui Brian tetapi ada urusan lain. Tetapi, bisa-bisanya Brina sempat memberitahu Brian jika Nina masih ada di kampus dan menyuruhnya untuk mengantar pulang karena hari akan hujan, walau Brina tahu jika Nina tidak suka hujan ketika dalam perjalanan mau pulang.
"Tadi Brina bilang ke aku, suruh anterin kamu pulang, Na," katanya setelah kesibukannya mengibaskan rambut dan menepuk bajunya yang basah telah selesai. Brian nampak ceria seperti biasanya. Senyumnya selalu mekar bagai bunga sepatu di pagi hari yang segar karena embun. Bedanya, ini Brian. Setiap kali laki-laki itu senyum atau bahkan berwajah datar, dirinya selalu tampan di mata Nina.
Nina mengangkat sebelah alisnya karena cukup bingung, walau sejatinya ia senang Brian ada di sini yang akhirnya tidak membuat dirinya sendirian di tengah cuaca hujan yang cukup lebat. "Kenapa Kak Brina minta Kak Brian buat anterin aku pulang?" tanyanya kemudian. Ia benar-benar penasaran dan butuh sebuah jawaban.
"Kata Brina kamu belum pulang dan mau hujan, jadilah dia nyuruh aku anterin kamu pulang," jawab Brian dengan santai. "Mau pulang sekarang?"
"Bentar, Kak." Ada sesuatu yang masih belum menjawab rasa penasaran Nina. "Kenapa Kak Brina minta tolong ke Kak Brian? Kak Brinanya kemana? Dan kenapa Kak Brian mau repot-repit anterin aku pulang?" Beberapa pertanyaan langsung keluar dari mulut Nina, membuat Brian lagi-lagi terkekeh karena mendengarnya.
Brian perlu menghirup napas dan mengembuskannya perlahan sebelum menjawab rasa penasaran yang dimiliki perempuan yang saat ini ada di hadapannya itu. Ia masih tersenyum memamerkan deretan giginya, sementara Nina masih dengan dahinya yang berkerut. "Jadi gini, Na." Brian mulai menjelaskan dan memberi jawaban untuk pertanyaan Nina. "Tadinya aku sama Brina mau pergi makan siang bareng-"
"Tapi Kak Brina udah makan siang sama aku sama teman-teman di himpunan, Kak," kata Nina yang mendadak reflek karena memang dirinya dan Brina baru saja makan. Toh, tidak mungkin jika Brina harus terburu-buru hanya untuk makan siang bersama. Setahu Nina, Brian bukan tipe orang yang mudah marah, sepenglihatannya selama ini, apalagi hanya karena janjian makan siang dengan Brina.
Brian nampak santai, walau sebenarnya alasannya telah ditepis mentah-mentah oleh Nina. Brian sendiri tidak tahu mengapa Brina terburu-buru tadi, ia benar-benar hanya bilang untuk mengantar Nina pulang. Walau begitu, Brian harus tetap membuat alasan yang masuk akal.
"Kamu nggak tahu ya kalo Brina makannya banyak? Langsing-langsing gitu dia kalo makan kan bisa sampai dua porsi." Kali ini perkataan Brian tidak dilebih-lebihkan. Nina juga tahu kalau Brina itu banyak makan biarpun badannya tetap langsing, idaman semua orang.
"Terus, Kak Brina kemana?" Nina masih bertanya.
"Ke perpus dia, katanya keburu tutup. Emang sih rencananya kami bakal makan, tapi dia baru ingat kalau ada yang dicari di perpus. Tahu sendiri kan kalo perpus di kampus kita ini sore aja udah tutup." Kali ini Brian berbohong. Ia tidak tahu Brina kemana karena perempuan itu tidak berkata apapun setelah menyuruhnya untuk mengantar Nina pulang. Adik kembarnya itu hanya menelponnya saja walau dengan nada terburu-buru, tetapi Brian tidak penasaran.
Kali ini Nina percaya saja karena tadi Brina memang sempat ingin pergi ke perpustakaan setelah dari ruang himpunan, tetapi ternyata mereka asyik mengobrol ditambah Brina sempat mentraktir teman-teman pengurus di himpunan.
"Kok Kak Brian mau?" tanya Nina lagi. Benar-benar kali ini Nina membuat Brian berpikir. Padahal tidak perlu ada alasan untuk dirinya mau mengantar Nina pulang.
"Kan kita teman, Na. Emang kamu nggak mau ya aku antar pulang?" Kini Brian yang balik bertanya.
"Ummmm ...." Nina berpikir lama untuk menanggapi.
"Ya udah, mau pulang sekarang? Mumpung nggak sederas tadi, Na," kata Brian menawari Nina untuk segera pulang.
Nina pun mengangguk. Sebenarnya Nina sesikit takut untuk berada di dalam mobil bersama dengan Brian, walau ia tahu Brian adalah orang baik. Namun, Nina tidak tahu niat Brian sebenarnya itu apa. Bukannya berprasangka buruk, tetapi Nina perlu berjaga-jaga. Dahulu waktu kecil Nina pernah hampir diculik, untung saja selamat karena ada tukang bakso yang curiga dengan sikap penculik yang mengiming-imigi Nina es krim. Tapi kali ini tidak ada yang curiga selain dirinya. Nina takut, tetapi ia juga ingin diantar pulang dengan Brian. Seandainya Brian mengantar pulang dengan berjalan kaki, Nina tidak perlu berpikir lama dan berprasangka seperti ini.
"Ayo." Brian memegang tangan Nina dan melangkah, tetapi baru satu langkah saja langsung terhenti. Nina tidak ikut melangkah, justru membeku sambil menatap pergelangan tangannya yang digenggam oleh Brian.
Brian menyadari itu. Ia langsung melepaskan genggamannya. "Eh, Na. Sorry," katanya yang membuat suasana menjadi canggung saja.
"Eh."
"Nggg ... ayo, Na." Kini ia kembali melangkah namun tanpa menggenggam tangan Nina. Lagi-lagi Nina belum melangkah sampai Brian harus menghentikan langkahnya dan menoleh. "Na, kenapa?" tanyanya.
Nina tersadar. Ia menggeleng. "Ah, enggak, Kak. Ayo." Kemudian mereka berlari untuk masuk ke dalam mobil.
Walau hujan tidak sederas tadi, tetapi tetap saja bisa membuat pakaian mereka lembab dan tidak akan nyaman selama dalam perjalanan. Rumah kost Nina memang tidak jauh, tetapi terkadang jalan kaki akan lebih cepat dari pada menaiki kendaraan apalagi mobil. Padatnya Kota Malang di area dekat kampus memang mengesalkan, apalagi jika hari hujan dan bertepatan dengan jam pulang kantor.
Entah Nina harus bersyukur atau bagaimana, yang pasti selama di dalam mobil perempuan itu masih nampak canggung saja. Untuk bisa akrab dengan Brian tidak semudah itu dan mengetahui jika Brian memang tidak banyak bicara walau tidak selalu diam juga membuat mereka masih merasa canggung satu sama lain.