Pria Dingin Menyebalkan

1062 Words
Aku mengernyit saat sinar matahari menerpa wajahku. Mataku mengerjap melihat cahaya yang masuk dari arah jendela. Bibirku merutuki siapapun orang yang sudah menganggu tidurku. "Akhirnya kamu bangun." Mulutku berdecak mendengar suara dingin Kenzie yang menyapa telingaku. Sekilas, ku lirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul enam lebih dua puluh. "Kenapa tirainya dibuka? Menganggu saja! Tutup lagi jendelanya! Silau. Aku masih mengantuk," gerutuku seraya berbalik menghadap sandaran sofa. Lalu menarik selimut dan menenggelamkan kepalaku ke dalamnya. Sofa yang lembut dan hangat membuatku merasa sangat nyaman. Mataku betah untuk terus terpejam. Sudah lama, aku tidak tidur di tempat empuk dan lembut seperti sofa ini. "Beraninya kamu memerintahku. Bangun! Ayo bangun! Aku harus segera pergi ke kantor." Kenzie membentakku seraya menarik selimut yang aku pakai. Sontak, aku duduk tegak seraya menatap pria itu dengan tajam. "Memangnya kenapa kalau kamu harus pergi ke kantor? Kamu mau membawaku kekantor?" bentakku kesal. Padahal, baru kali ini aku bisa tidur dengan nyenyak. Kenzie memalingkan wajah. Ekspresi Kenzie yang sebelumnya marah berubah datar. "Memang tidak ada hubungannya denganmu. Tapi, Rania memintaku membangunkanmu untuk sarapan. Cepat bersiap!" titah Kenzie seraya melempar selimut yang dipegangnya ke arahku, lalu pergi ke luar kamar. "Dasar b******k!" umpatku kesal. Sungguh! Aku tidak suka kenyamanan ku diganggu. Apalagi oleh pria dingin menyebalkan seperti Kenzie. "Sial! Apa susahnya sih mereka makan berdua saja? Kenapa juga harus menungguku," gerutuku seraya beranjak turun dari sofa. Aku menggeliat. Rasanya, tubuhku benar-benar Segar. Sekilas, ku tatap sofa tempatku tidur. Aku ingin kembali berbaring, tapi langsung teringat wajah datar Kenzie yang menyebalkan. Ku langkahkan kaki menuju kamar mandi. Begitu masuk, aku terpaku melihat bayangan diriku sendiri dalam cermin. "Aish! Sial! Pantas saja Kenzie langsung berpaling," rutukku saat melihat penampilanku yang berantakan. Tidak! Bukan hanya berantakan, tapi SANGAT berantakan. Kancing gaunku terbuka hingga memperlihatkan bagian atas dadaku dan sebagian make up di wajahku juga terlihat luntur. "Kenapa aku tidak mencuci muka sebelum tidur," gumamku seraya berjalan mendekati westafel lalu menarik tuas keran. Aku membasuh wajah dengan sabun milik Rania. "Lebih baik." Mataku menatap diriku yang kembali terlihat cantik. Aku pun mengeringkan wajah dengan handuk kecil, lalu mengancingkan gaun yang aku pakai. Sejenak, aku teringat reaksi Kenzie saat melihat bagian tubuhku. Baik semalam ataupun tadi malam, pria itu tidak tertarik sedikitpunpadaku. Padahal, jelas-jelas dia melihat bagian tubuhku yang tidak pernah orang lain lihat. "Hah! Akan sulit untuk mendapatkan pria itu." Aku mulai memikirkan kembali keinginanku untuk mendapatkan Kenzie. Walau dia batu loncatan tercepat agar aku bisa hidup mewah seperti dulu. Tapi, aku ragu untuk menggodanya. Selain tidak mau mengganggu suami orang. Aku juga tidak mau terjebak dalam cinta segitiga yang rumit. "Hey girls! Keep your heart! Banyak laki-laki di dunia ini. Tapi, jangan jatuh cinta pada pria bersuami!" ujarku seraya menunjuk bayanganku sendiri. Hiks! Aku mengernyit saat mendengar suara isakan. Karena penasaran, ku langkahkan kaki ke dekat pintu tanpa mematikan air dari westafel. Perlahan, ku buka daun pintu. Terlihat Rania yang tengah merapihkan tempat tidur Kenzie. Wajahku mengernyit melihat Rania yang menatap lekat sprei ditangannya. Aku yakin, dia sudah menemukan darah Kenzie yang semalam aku tumpahkan di atasnya. "Dasar wanita munafik! Akhirnya dia menangis juga," gumamku. Ada sedikit perasaan tidak tega melihat Rania yang terduduk di lantai. Dia pasti sedih melihat noda darah itu. Istri mana yang tidak sedih mendapati suaminya sudah meniduri wanita lain, walau wanita itu istri sah suaminya sendiri. "Bodoh! Salahmu sendiri kenapa menyodorkan wanita lain pada suamimu." Aku menatap iba Rania. "Untung saja aku dan Kenzie tidak melakukan apa-apa," gumamku lega. Terdengar suara gedoran pintu kamar. Terlihat, Rania yang segera bangkit sambil mengusap air matanya. "Sebentar!" ucap Rania seraya berjalan menuju pintu. "Kenapa pintunya dikunci?" tanya Kenzie. Dia melangkah masuk ke dalam kamar. Melihat itu, aku sedikit merapatkan pintu kamar mandi. Tidak mau Rania dan Kenzie sadar aku mengintip mereka. Sekilas, kepalaku menoleh. Menatap keran air yang belum sempat aku tutup. Karena penasaran dengan pasangan suami istri itu, aku pun tidak mengindahkannya. Aku penasaran, apa Rania masih akan bersikap hangat pada Kenzie setelah tahu suaminya meniduriku. "Maaf! Tadi aku tidak sengaja," jawab Rania. Mulutku berdecih mendengar kebohongannya. Aku yakin, dia sengaja mengunci pintu karena tidak mau Kenzie memergokinya menangis. "Kamu menangis?" tanya Kenzie. Wajah pria itu terlihat khawatir. Lagi-lagi, aku iri melihat perhatian Kenzie pada Rania. Dia selalu bersikap lembut kepadanya. "Menangis? Tidak. Tadi aku hanya kelilipan saat membuka sprei." Rania tertawa kecil. "Cih! Dasar pembohong!" gumamku saat mendengar jawaban Rania. Jelas-jelas tadi aku melihatnya menangis. "Kenapa harus repot-repot melakukan ini? Biarkan pembantu yang melakukannya!" Aku mengernyit saat mendengar Kenzie membentak Rania. Terlihat, pria itu melempar sprei yang Rania pegang. "Ayo kita sarapan!" ajak Kenzie seraya merangkul bahu istrinya. Dari suaranya, aku tahu Kenzie marah pada istrinya. Sepertinya, dia tidak suka istrinya melihat noda darah yang Rania kira milikku. "Sebentar! Aku belum mengajak Rea turun. Dia masih di kamar mandi," tutur Rania. Dia berbalik ke arahku. Buru-buru, ku tutup pintu kamar mandi. Bisa gawat jika mereka tahu dari tadi aku mengintip. Bisa-bisa, aku dianggap tidak punya sopan santun. Walau sebenarnya, sikapku memang sedikit urakan. "Rea ... Kamu mandi?" Terdengar suara Rania yang mengetuk pintu kamar. Aku terperanjat. "Mandi? Siapa yang man-." Kata-kataku terputus saat mendengar air keran yang mengalir. Dia pasti menyangka aku mandi karena mendengar suara air. "I-iya! Sebentar lagi selesai," teriakku berbohong. Buru-buru, aku melepas gaun dan pakaian dalamku. Setidaknya, aku harus benar-benar mandi walau hanya beberapa menit. "Kami menunggumu di bawah. Kita sarapan bersama," ujar Rania. "Oke!" sahutku. Aku tersentak saat menyadari koperku entah ada dimana. Semalam, Rania yang menyimpan semua barang-barangku. Aku membutuhkan pakaian untuk ku kenakan dan juga barang-barang lainnya. "Rania tunggu!" teriakku. Tanpa pikir panjang, ku tarik handuk yang menggantung di hanger dinding. Lalu, bergegas menuju pintu. Tanganku menarik handle pintu dengan terburu-buru, lalu melangkah ke dalam kamar. "Rania ... Aku butuh koperku," ucapku. Terlihat, Rania dan Kenzie berhenti di ambang pintu, mereka melirik ke arahku. Mata Rania membulat, sedang wajah Kenzie berubah mengeras. "Apa yang kamu lakukan?!" bentak Kenzie. Aku mengernyit. "Memangnya aku kenapa?" "Bisa-bisanya kamu keluar kamar dengan handuk kecil seperti itu!" bentak Kenzie. Dia menatapku dengan jijik. Lalu beralih menatap istrinya. "Rania, sebenarnya wanita seperti apa yang kamu jadikan istriku? Dia tidak punya rasa malu sedikit pun." Kenzie pergi dari kamar. Aku terperangah mendengar kata-kata Kenzie. Tatapanku beralih menatap tubuhku. Aku tersentak mendapati panjang handuk yang hampir tidak menutupi bagian bawahku. "Sial! Pantas dia marah. Memalukan!" Aku berbalik. Menyembunyikan wajahku dari Rania. "Bodoh! Kenapa aku selalu ceroboh dan tidak berpikir panjang."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD