Langkahku terayun menapaki anak tangga menuju lantai bawah. Pijakan anak tangga yang kokoh dan bau wangi masakan yang menyeruak membuatku tidak asing. Aku merasa devaju.
Dulu, saat aku masih menjadi putri di rumah keluarga Brimantara. Aku sering turun naik tangga karena lokasi kamarku yang berada di lantai dua.
Setiap pagi, bau wangi makanan yang ibuku masak selalu berhasil membuatku berlari ke lantai bawah untuk memburu masakannya.
Memikirkan itu, aku teringat mendiang mamah yang pintar memasak. Aku pun jadi merindukan sup iga buatannya. Sudah lama aku tidak memakan itu karena tidak ada yang bisa memasak sup selezat buatan ibuku.
Begitu langkahku sampai di ruang tengah, mataku menyapu memperhatikan setiap detail dekorasi interior dan perabotan mahal yang ada di rumah ini. Aku pun kembali teringat dengan rumah mewah milik ayahku.
Entah siapa yang menepati rumah itu sekarang. Tapi, hal terakhir yang aku dengar Rumah itu di sita oleh pihak bank. Aku sangat menyayangkan, karena sejujurnya aku ingin kembali ke sana. Banyak kenangan tentang mamah yang terukir di rumah itu.
"Ayo sarapan!" tutur Rania seraya tersenyum manis padaku.
Hatiku berjengit melihatnya. Aku tidak suka. Senyum Rania mengingatkan aku pada senyum mamah saat ayahku mengajak istri barunya sarapan di rumah untuk pertama kalinya. Senyum mereka sama.
"Maaf ... aku terlambat," ucapku seraya membalas senyuman Rania, kemudian menarik kursi.
Sebisa mungkin, aku harus bersikap manis di hadapan Rania. Aku tidak mau Rania menganggapku wanita liar hingga membatalkan keputusannya untuk membantu melunasi hutang papah.
"Tidak apa-apa. Aku tahu, kamu pasti lelah setelah melewati malam pertamamu."
Uhuk!
Kenzie terbatuk. Dia tersedak air teh yang disesapnya.
"Hati-hati! Air tehnya masih panas," ujar Rania seraya menepuk punggung suaminya.
Mataku menatap miris Kenzie yang terus terbatuk. Dia pasti kaget mendengar kata-kata istrinya. Aku pun kaget mendengar Rania yang membahas malam pertamaku dengan suaminya.
"Ayo makan!" ajak Rania. Dia menyodorkan Semangkuk sayur padaku. "Aku memasak sayur toge untukmu. Mulai hari ini, kamu harus membiasakan diri makan makanan yang bisa meningkatkan kesuburan supaya kamu cepat hamil," ujarnya.
Aku mengangguk tanpa protes. 'Padahal, aku lebih suka sup iga dari pada sayur toge,' cibirku dalam hati.
Sekilas, ku lirik makanan yang ada di atas piring Kenzie. Telur, brokoli dan ikan tuna. Rania benar-benar menyiapkan makanan penyubur untuk kami berdua. Aku kagum dengan kegigihannya untuk memberikan anak pada suaminya.
"Rea ... tambah lagi ikannya. Omega 3 bagus untuk kesuburanmu," tutur Rania.
Mataku menatap ikan yang hanya tertinggal satu potong. Aku ragu mengambilnya karena aku lihat Rania belum makan sedikitpun.
"Aku sudah makan tadi pagi. Aku terbiasa makan pagi, jadi aku makan lebih dulu," ujar Rania. Menjawab pertanyaan dalam benakku.
Tanpa ragu, aku mengambil ikan tersebut, lalu menyuapkannya. Aku akui, masakan Rania memang lezat. Aku merasa sedang memakan masakan ibuku. Sudah lama, aku tidak makan makanan selezat ini.
"Buka mulutmu! Aku tidak akan makan jika kamu tidak makan bersamaku." Terlihat Kenzie yang menyodorkan sepotong ikan pada istrinya.
Diam-diam, aku memperhatikan mereka.
Rania menggeleng. "Aku sudah kenyang Ken. Kamu saja yang makan."
"Kalau begitu. Aku juga tidak makan. Aku sudah kenyang," ujar Kenzie seraya menjauhkan piring miliknya.
Sikap Kenzie membuat ku tercengang. Padahal, jelas-jelas tadi dia terlihat menikmati makanannya. Walau baru beberapa suap yang dia nikmati.
Rania diam. Dia mengambil piring Kenzie seraya menggeser duduknya.
"Maaf...kamu tahu kan, aku harus makan tepat waktu karena lambungku. Jadi, tadi aku tidak menunggumu sarapan," ujarnya. Dia menyendok nasi, lalu mendekatkannya ke mulut Kenzie. "Ayo makan! Aku suapi."
Aku mendengus. Mereka berdua membuatku iri sekaligus merasa dikucilkan. Aku seperti lalat saja. Tidak dianggap keberadaannya.
"Lain kali, jangan bangun terlambat. Kamu harus bangun lebih pagi. Aku tidak segan mengguyurmu dengan air, jika kamu masih sulit dibangunkan," ketus Kenzie padaku.
Aku mengangguk. Dalam hati, aku merutuki ancaman Kenzie. Aku memang tidak biasa bangun pagi. Waktu kerjaku di cafe berakhir jam 11 malam, jadi aku terbiasa tidur tengah malam. Biasanya, aku baru bangun jam delapan pagi. Setelah itu, aku bersiap pergi ke rumah sakit untuk shift siang.
Sarapan berakhir dengan cepat. Rania memberiku segelas s**u yang harus aku habiskan. Aku merutuki gelas s**u di hadapanku. Seharusnya, Rania memberikan itu sebelum sarapan. Sekarang, perutku sangat kenyang. Aku tidak bisa memasukkan apa-apa lagi ke dalamnya.
'Semoga aku tidak muntah,' batinku seraya meneguk habis s**u yang Rania berikan.
"Aku akan meminta Erni menyiapkan kamar baru. Aku tidak suka ada orang asing yang tidur di kamar kita," ujar Kenzie. Dia menekan kata asing pada kalimat terakhirnya. Aku sadar, kata itu di tujukan padaku.
'Salah Rania sendiri kenapa membiarkan aku tidur di kamarnya,' batinku. Melihat tatapan dingin Kenzie membuatku ingin berkata seperti itu padanya.
"Tidak Ken. Rea akan tetap tidur bersamamu sampai dia hamil. Aku akan tidur di kamar lain."
"Rania!" Kenzie membentak istrinya. Terlihat, wajah datar Kenzie berubah nyalang. Sepetinya, dia tidak suka dengan gagasan Rania.
Sejujurnya, aku pun kaget mendengar perkataan Rania. Aku tidak habis pikir dengan pemikirannya. Bukan hanya menyerahkan suaminya padaku, tapi Rania juga menyerahkan kamarnya.
Rania mengusap lengan suaminya. "Aku bisa tidur di kamar manapun, sedang kamu tidak. Aku tidak mau alergimu kambuh."
"Alergi?" celetukku tanpa sengaja. Buru-buru, aku menutup mulut dengan telapak tangan. Nampak, tatapan Kenzie terhunus tajam ke arahku. Dia benar-benar tidak menyukaiku.
Rania melirikku. "Kenzie hanya bisa tidur di kamarnya. Kulitnya akan beruam jika tidur di kamar lain."
"Owh! Begitu," ringisku. Aku tidak menyangka orang sedingin Kenzie ternyata sangat sensitif.
"Cukup Rania! Tidak perlu membicarakan hal pribadi dengan orang asing," tutur Kenzie. Nada bicaranya terdengar tidak bersahabat denganku.
Aku bungkam. Tidak menyangkal perkataan Kenzie. Walau statusku sekarang istrinya, tapi kami memang masih sama-sama asing.
"Rea istrimu. Dia berhak tahu tentangmu," tutur Rania. Dia meremas tangan suaminya. "Jangan terus menyebutnya orang asing. Walau Kalian baru bertemu semalam, tapi kalian harus segera saling mengenal. Rea akan mengandung anakmu. Jadi, perlakukan dia dengan baik."
Kenzie bungkam. Sama sepertiku, aku yakin Kenzie juga tercengang mendengar Rania membahas tentang hubungan kami dengan acuhnya. Seakan, Kenzie itu bukan suaminya dan aku ini bukan madunya.
Rania Dewantara, aku sungguh tidak paham dengan isi kepalanya. Menurutku, kata bodoh saja tidak cukup untuk disematkan padanya.
"Oh iya, aku sudah menyiapkan tiket bulan madu untuk kalian. Anggap saja sebagai hadiah pernikahan dariku."
"Apa?! Bulan madu?" Jantungku hampir copot mendengar perkataan Rania.