Alasan di Balik Perjanjian

1028 Words
Rania POV Nampak raut kekagetan dalam ekspresi wajah Kenzie dan Rea. Aku tahu, mereka akan terkejut dengan hadiah yang sudah aku persiapkan. Bibirku tersenyum seraya menatap mereka bergantian. "Tidak perlu terkejut. Bukankah sudah biasa pasangan suami istri yang baru menikah berbulan madu," ucapku. Dalam hati, aku menjerit. Setiap kata-kata yang aku ucapkan dan perbuatan yang aku lakukan bagai hujaman belati yang menikam diriku sendiri. Tidak ada satu pun wanita berstatus istri di dunia ini yang rela berbagi suami termasuk aku. Saat ini, aku hanya sedang menghancurkan diriku sendiri dengan memberikan suamiku pada wanita lain. Walau sudah ada perjanjian antara aku dan Rea yang mengharuskan Rea pergi setelah dia melahirkan anak untuk kami. Tapi, tidak menutup kemungkinan Kenzie akan mempertahankan Rea di sisinya. Bukan hal yang mustahil Kenzie mencintai Rea dan berbalik menginginkannya. Satu hal yang aku percaya dalam hidupku mengenai hubungan pria dan wanita. Tidak ada hubungan antara pria dan wanita yang tidak melibatkan perasaan. Dan aku yakin, cepat atau lambat Kenzie akan memiliki perasaan pada istri barunya. Aku sudah memikirkan segalanya matang-matang sebelum melakukan perjanjian itu. Termasuk kemungkinan hancurnya hubunganku dan Kenzie. Aku sudah mempersiapkan diriku untuk menghadapinya. "Maldives. Sepertinya tempat itu cocok untuk kalian mulai saling mengenal. Aku sudah menyiapkan segalanya. Kalian hanya tinggal berangkat saja. Jadwal keberangkatan kalian nanti malam," tukasku. BRAK! Aku terperanjat mendengar suara gebrakan meja. Nampak, Kenzie berdiri seraya menatapku dengan nyalang. Dia marah kepadaku. Aku mencoba menenangkan diri. Tidak ada yang bisa aku lakukan untuk hubunganku dan Kenzie selain ini. Aku ingin lebih lama bersamanya. Dan hanya ini yang bisa aku lakukan. Mengantarkan Kenzie pada wanita yang sebelumnya sudah dipilihkan mertuaku untuknya. "Jangan keterlaluan Rania! Tidak cukupkah kamu memintaku menikah dengannya? Haruskah kamu memaksaku berbulan madu juga?" Aku tersenyum walau hatiku menangis darah. Satu hal yang selalu aku banggakan dari diriku. Aku pintar mengatur emosi. Kini, Aku berdiri seraya memegang lengan suamiku. "Aku tidak memaksamu untuk berbulan madu. Aku hanya ingin membantu kalian saling mengenal saja. Dan menurutku, Maldives tempat yang tepat," ujarku. Mencoba meredakan kemarahan Kenzie. "Kamu gila!" dengus Kenzie. "Kamu egois Rania." Aku tertegun mendengar ucapan suamiku. Rasanya, air mataku hampir luruh. Tapi, sekuat tenaga aku menahannya. "Maaf!" Kepalaku tertunduk, tak kuasa menatap raut wajah Kenzie yang nampak terluka. Aku sadar, Kenzie tersiksa dengan permintaanku. Dia memang tidak mudah menerima orang baru dalam hidupnya. Tapi, aku yakin itu tidak akan berlangsung lama. Cepat atau lambat, Kenzie akan menerima Rea dalam hidupnya. Sama seperti yang dulu Kenzie lakukan padaku. "Aku berangkat," ucap Kenzie. Dia berbalik meninggalkanku. Aku bergeming. Tidak mencegah kepergiannya. Aku memang harus membiasakan diri melepaskan Kenzie. Aku hanya bisa mengantar kepergiannya dengan melihat sepatunya yang perlahan mulai menghilang dari pandanganku. "Rania ... Kamu tidak pernah membicarakan tentang bulan madu sebelumnya." Suara Rea menyadarkanku bahwa masih ada orang lain di ruangan ini. Aku mengangkat wajahku, lalu berbalik menatapnya. Nampak, wajah cantik itu menatapku dengan bingung. "Tidak pernah membicarakannya bukan berarti tidak akan terjadi. Bulan madu akan membuat hubunganmu dan Kenzie menjadi semakin dekat. Dengan begitu, kalian akan lebih cepat memiliki anak," ujarku seraya mengukir senyum palsu di bibir. "Sebaiknya, kamu segera mengajukan cuti ke tempatmu bekerja. Pesawat kalian akan berangkat jam sembilan malam." Rea melotot. "Jam sembilan? Tapi-," "Aku sudah menyiapkan supir untuk mengantarmu berangkat kerja. Mulai hari ini dan seterusnya, kamu akan pergi kemanapun dengannya. Jangan lupa, ajukan cuti ke tempat kerjamu," ujarku memotong perkataan Rea, lalu pergi meninggalkannya di ruang makan. Rasanya, aku tidak akan sanggup menahan air mataku jika terus berdekatan dengannya. Tatapan Rea membuatku merasa bersalah dan sakit secara bersamaan. Kakiku melangkah memasuki kamar tamu yang mulai semalam sudah resmi menjadi kamarku. Begitu pintu kamar ku tutup, tubuhku luruh di belakang pintu. "Maafkan aku Ken," isakku. Air mataku mengalir membasahi pipi. Aku mencoba menahan laju air mataku, namun percuma. Cairan bening itu terus keluar dengan derasnya. "Aku mencintaimu," lirihku. Beberapa puluh menit berlalu, Aku masih terduduk di belakang pintu. Tidak sedikit pun keinginanku untuk beranjak dari sana. Tadi, aku mendengar suara mobil meninggalkan rumah. Aku yakin, Rea sudah pergi ke tempat kerjanya. "Nyonya ... Nyonya besar menunggu anda di ruang tengah." Terdengar suara Erni memanggilku. Hidungku mendengus, ibu mertuaku pasti datang untuk memantau tugas yang diberikannya padaku. "Baik ... Aku akan menemui mamah sebentar lagi," sahutku. Dengan sisa tenaga yang aku punya, aku bangkit lalu beranjak ke kamar mandi. Aku membasuh wajah, kemudian menaburkan sedikit bedak untuk menutupi wajahku yang sembab. "Mah ...." sapaku pada wanita paruh baya yang duduk di ruang tengah. Dewi Mahardika, ibu mertuaku sekaligus ibu Kenzie itu menoleh. "Kamu membuatku menunggu lama. Duduklah!" titahnya. Aku melangkah menuju sofa dihadapannya. Kemudian duduk sesuai permintaannya. Ku tatap wajah wanita yang sudah menjadi ibu mertuaku selama dua tahun ini. Nampak ketidaksabaran dalam sorot matanya. "Bagaimana dengan Kenzie dan Rea? Apa Mereka sudah melakukan malam pertama?" tanya wanita itu tanpa memikirkan perasanku sedikitpun. Rasanya, sesuatu yang keras menghantam dadaku saat mendengar pertanyaannya. Aku mengangguk. "Sudah mah. Mereka melakukannya. Rania sudah meyakinkan itu," jawabku. Teringat ceceran darah yang aku temukan di sprei milik suamiku. Tanganku terkepal erat menahan rasa sakit yang kembali menyeruak dalam d**a. Mertuaku tersenyum lebar. Dia pasti senang. Putranya sudah berhasil menikmati malam pertama dengan gadis pilihannya. "Baguslah! Mamah yakin tidak lama lagi Kenzie akan jatuh hati pada Rea," ujarnya seraya menatap sinis kepadaku. "Dari dulu, Rea memang seharusnya sudah jadi menantuku. Bukan wanita mandul sepertimu," tuturnya. Aku tersenyum kecut. Selama beberapa bulan ini, aku memang sudah sering mendengar kata-kata itu darinya. Realina Brimantara, dia adalah wanita pertama yang di jodohkan dengan Kenzie. Tapi, karena Rea pergi bersama ibunya. Keluarga Mahardika terpaksa membatalkan perjodohan, kemudian menjodohkan Kenzie denganku. Tiga bulan lalu, saat aku kembali gagal melakukan program bayi tabung. Orang tua Kenzie mendesakku pergi dari kehidupan Kenzie. Mereka tidak mau mempunyai menantu cacat sepertiku. Mereka bahkan mengancam akan menghancurkan perusahaan milik keluargaku, jika aku tetap bersikeras bertahan bersama putra mereka. Tapi, aku menolak. Aku menawarkan kesepakatan pada mereka. Aku bersedia membantu Kenzie dekat dengan Rea asal aku masih diijinkan untuk tetap bersama Kenzie sampai Kenzie sendiri yang memintaku pergi. Bukannya aku takut terhadap ancaman mereka yang akan menghancurkan bisnis keluargaku. Aku tidak peduli dengan itu. Aku hanya ingin tinggal lebih lama lagi bersama suamiku. Aku ingin melepasnya secara perlahan hingga aku benar-benar siap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD