"Apa kamu sudah mengabarkan tentang bulan madu mereka?" tanya ibu mertuaku. Dia menatapku dengan raut wajah penasaran.
"Sudah mah," jawabku singkat.
Senyum ibu mertuaku semakin merekah. Matanya nampak berbinar. Dia pasti senang dan tidak sabar ingin mendapatkan cucu dari menantu barunya.
"Lalu bagaimana dengan perjanjian antara kamu dan Rea? Apa Kenzie mengetahuinya?"
Aku menggeleng. "Rania tidak mengatakan apapun pada Kenzie. Tapi, entahlah kalau Rea," jawabku.
Ibu mertuaku memicingkan mata. Dia terlihat berpikir. "Berikan pada mamah surat perjanjian itu."
"Untuk apa mah?" tanyaku. Sebelumnya tidak pernah ada kesepakatan diantara kami yang menyebut aku harus menyerahkan surat perjanjianku dan Rea.
"Mamah hanya ingin melihatnya. Mamah ingin memastikan, kamu tidak menipu Rea," tuduhnya.
Aku tersenyum kecut. Kemudian bangkit dari tempat duduk.
"Rania ambilkan dulu. Surat perjanjian itu ada di kamar," ujarku. Ku percepat langkah menuju kamar, kemudian membuka laci dan mengambil map coklat yang berisi surat perjanjian antara aku dan Rea.
"Kamu tidur di kamar ini?"
Aku terlonjak mendengar suara ibu mertuaku. Tubuhku berbalik. Nampak mamah sudah berdiri di belakangku
"Sesuai permintaan mama. Kamar itu bukan milik Rania lagi," ujarku seraya menyerahkan map pada ibu mertuaku.
"Bagus! Ternyata kamu mengingat setiap detail perjanjian kita," lontarnya seraya membuka map yang aku berikan, lalu membacanya dengan seksama.
Aku memperhatikan baik-baik raut wajah ibu mertuaku. Keseriusannya mengingatkan aku pada perjanjian yang telah kami sepakati satu Minggu lalu.
Kedua mertuaku menerima penawaran yang aku berikan dan mengizinkan aku tetap bersama Kenzie, asal aku tidak menganggu Kenzie dan Rea selama melakukan pendekatan. Aku juga harus membiarkan mereka menghabiskan waktu bersama termasuk memberikan kamar yang sebelumnya aku tempati untuk mereka.
Aku sedang bertaruh dengan kedua mertuaku. Dan yang kami pertaruhkan adalah hati Kenzie. Jika setelah Rea melahirkan anak, Kenzie menginginkan Rea untuk tetap disampingnya, maka aku harus mundur dari kehidupan mereka. Tapi, jika setelah Rea melahirkan, hati Kenzie masih memilihku, maka Rea harus pergi sesuai dengan perjanjian itu.
Kecil kemungkinan untukku memenangkan pertaruhan ini. Tapi, tidak ada yang bisa aku lakukan lagi. Aku sangat mengenal sifat orang tua Kenzie yang akan melakukan segala cara untuk memisahkanku dengan putra mereka.
Aku tidak mau terus berseteru dengan mertuaku. Karena itu, aku menyepakati keinginan mereka dan membiarkan Kenzie sendiri yang memilih tanpa melibatkannya secara langsung.
Kalau pun akhirnya hubunganku dengan Kenzie harus kandas, aku akan menerimanya dengan tegar. Setidaknya, aku bisa bersamanya lebih lama untuk saat ini.
"Oke! Surat perjanjian ini sudah sesuai dengan yang kita sepakati," seru ibu mertuaku seraya memasukan kembali kertas yang tadi dia keluarkan. "Ohya! Mamah akan melunasi seluruh hutang mendiang ayah Rea pada keluargamu. Katakan itu pada ayahmu."
"Tidak perlu mah," tolakku. "Rania sudah melunasi semuanya."
Terlihat beberapa kerutan di kening mertuaku. "Kamu melunasi semuanya?" tanyanya menegaskan." Aku mengangguk. Mamah Dewi menatapku penuh curiga. "Apa yang kamu rencanakan? Kamu ingin menjebak Rea?"
Senyumku memudar. Mamah Dewi memang selalu mencurigaiku.
"Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya," tukasnya.
Aku kembali memasang senyum palsu. Menyembunyikan rasa kecewa pada ibu mertua yang selalu merendahkan diriku karena sifat kedua orang tuaku.
"Rania hanya ingin menebus kesalahan masa lalu. Hutang itu memang seharusnya bukan Rea yang menanggungnya," jelasku.
Mamah terdiam. Aku tidak tahu yang dia pikirkan, tapi sepertinya dia kaget mendengar kata-kata yang aku lontarkan.
"Baguslah! Setidaknya harus ada seseorang yang bertanggung jawab atas nasib buruk yang menimpa Rea dan ibunya," ujar mamah Dewi tanpa ekspresi. "Mamah harus pergi. Ingat! Pastikan Kenzie dan Rea pergi malam ini," titahnya seraya menyerahkan kembali amplop coklat yang tadi aku berikan.
"Baik mah," jawabku. Kemudian, mamah Dewi pergi dari kamarku.
Nafasku terasa sesak. Semua ini terasa sulit bagiku, tapi aku ingin tetap menjalaninya untuk pria yang aku cintai. Tatapanku tertuju pada foto pernikahanku dan Kenzie yang terpajang di atas nakas.
Kenzie Mahardika. Dari awal mengenalnya, aku sudah tidak yakin dengan hubungan kami yang dilandaskan perjodohan, karena perjanjian bisnis keluarga.
Bertahan dengannya selama dua tahun merupakan suatu keajaiban untukku. Aku kira, hubungan kami akan berakhir beberapa bulan setelah pernikahan. Mengingat keluargaku dan keluarga Kenzie yang mulai berseteru karena kelicikan ayahku saat berbisnis dengan mereka.
Langkahku terayun menuju tempat tidur. Tanganku terulur mengambil foto yang dari tadi aku perhatikan. Bibirku tersenyum melihat ekspresi dingin Kenzie pada foto tersebut.
"Seumur hidup, aku tidak pernah ingin memperjuangkan apapun. Setiap orang yang datang dalam hidupku hanya singgah kemudian pergi. Mereka selalu meninggalkan aku begitu saja. Tapi kali ini, aku ingin memperjuangkan kamu. Aku akan tetap bersamamu selama kamu masih menginginkanku."
Air mataku luruh. Mengingat kehidupanku selama 28 tahun ini. Setelah ibuku pergi meninggalkan ayah demi pria lain, ayah pun tidak pernah benar-benar menyayangiku. Dia merawatku hanya karena kewajiban saja. Membesarkan aku tanpa memberikan kasih sayang.
Bahkan, dia tidak peduli saat aku tidak dianggap dalam keluarga besarnya. Aku tidak diakui sebagai cucu ataupun anggota keluarga mereka. Semua karena perbuatan ibuku.
Aku membaringkan tubuh di atas tempat tidur, lalu merentangkan tangan seraya menatap langit-langit kamar. Air mata menetes keluar tanpa dapat aku tahan.
Sebanyak apapun air mata yang aku keluarkan akibat luka yang aku peroleh dari kehidupan, tetap saja air mataku masih bersisa.
"Ken ... Aku hanya harus membiasakan diri melihatmu bersama wanita lain. Dengan begitu, perasaan ini akan berkurang sedikit demi sedikit. Aku harap, hatiku mati sebelum cintamu benar-benar berpindah ke lain hati."
Aku menghela nafas, lalu memejamkan mata.
"Aku berharap mataku terpejam untuk selamanya. Tapi, sepertinya kali ini pun Tuhan tidak akan mengabulkan harapanku. Sama seperti harapan-harapanku sebelumnya," ujarku seraya mengeratkan pelukan pada foto pernikahanku.
Perlahan, kesadaranku mulai mengabur. Setelah semalaman terjaga, kini rasa kantuk datang membawaku pergi.
***
Aku mengernyit saat merasakan sesuatu yang lembut menghinggapi wajahku. Membuatku mau tidak mau membuka mata.
"Ken?" lirihku saat melihat wajah Kenzie yang terlihat samar. Sepertinya aku sedang bermimpi. Mana mungkin Kenzie ada di rumah siang-siang seperti ini. "Aku lelah," gumamku seraya kembali memejamkan mata.
Keningku berkedut ketika sebuah suara terdengar di dekat telingaku.
"Bangun sayang! Aku membawakan sesuatu untukmu."
Mataku terbuka saat sadar suara yang aku dengar benar suara Kenzie. Aku menoleh ke arah pria yang kini tengah tersenyum kepadaku.
"Kenzie? Apa sekarang sudah sore? Aku belum memasak," ujarku saat sadar Kenzie berada di sampingku. Seketika, aku bangkit dan terduduk. "Sakit!" ringisku sambil memijat kepala. Terlalu lama tidur membuatku pening.
Aku terkesiap saat merasakan sebuah tangan memijat lembut kepalaku. Aku ingin menurunkan tangan Kenzie, namun pijatannya terasa nyaman.
"Sekarang masih siang. Masih jam 11."
Aku menoleh ke arah Kenzie. "Apa kamu sakit? Kenapa sudah pulang?" tanyaku heran.
Kenzie pria yang sangat menghargai waktu. Walau dia CEO di perusahaannya, Kenzie berangkat kerja dan pulang sesuai peraturan kantornya. Dia jarang pulang lebih awal, terkecuali kalau Kenzie sedang sakit.
"Aku pulang untuk memberikan ini," tutur kenzie seraya memberikan sebatang coklat.
"Coklat?" ucapku heran.
Aku memang suka coklat, tapi Kenzie melarangku memakannya karena aku pernah sakit gigi. Dia hanya membolehkan aku makan coklat saat dirinya sedang merasa bersalah.
"Maaf tadi pagi sudah membentakmu. Kamu boleh makan coklat asal jangan terlalu banyak," ucapnya.
"Kamu pulang untuk meminta maaf?" tanyaku meyakinkan.
Kenzie mengangguk. "Aku tidak bisa berkonsentrasi saat hati dan pikiranku ada disini. Karena itu, aku kembali. Maaf sudah membentakmu. Aku mencintaimu Rania," ujar Kenzie seraya mengecupi wajahku.
Aku diam tidak menanggapi perbuatannya. Tanganku terkepal.
'Aku lebih mencintaimu, ken,' batinku.