"Aku tidak akan pergi kemanapun tanpamu," ujar Kenzie merajuk.
Setelah menyuapiku makan coklat, kini dia membantuku memotong sayur untuk makan siang. Terlihat bibirnya mencebik saat aku membahas tentang bulan madunya dan Rea.
"Ken ... Aku hanya ingin kamu dan Rea segera memiliki anak. Dengan begitu, kamu juga tidak perlu lagi berduaan dengannya," ujarku membujuk Kenzie agar mau pergi bersama Rea.
"Tidak!" tolak pria itu. Dia melepaskan pisau ditangannya kemudian beralih ke belakangku. Kenzie mendekap punggungku dan bergelayut manja di celah leherku.
"Kenapa kamu terus memintaku dekat dengan wanita itu? Apa kamu tidak cemburu?" tanyanya lirih seraya mendekap erat tubuhku.
Air mataku menggenang. Pandanganku memburam karenanya. Tentu saja cemburu, wanita mana yang tidak cemburu melihat suaminya bersama wanita lain. Tapi, sekali lagi aku meyakinkan diri. Bahwa semua yang aku lakukan demi Kenzie.
Sebagai seorang istri yang mandul, aku sadar tidak boleh egois. Suamiku membutuhkan keturunan dan aku tidak mampu memberikannya. Jadi, aku harus merelakannya memiliki keturunan dari wanita lain.
Wanita yang mungkin akan menjeratnya dan mendapatkan hatinya kelak. Sekali lagi, aku mempersiapkan diri untuk melepasnya. Aku menyimpan pisau di tanganku, lalu berbalik menghadap Kenzie.
"Tentu aku cemburu," ujarku seraya menatap manik hitamnya dengan lekat. Bibirku tersenyum tipis. Senyum topeng yang selama ini selalu aku gunakan untuk menutupi perasaanku. "Tapi, membayangkan bisa melihat replikamu versi mini membuat kecemburuanku hilang."
Kenzie menguraikan pelukannya. Dia melangkah mundur seraya menatapku dengan tajam.
"Aku tidak pernah menuntut anak Rania. Aku tidak keberatan jika kita harus hidup tanpa anak," ucapnya. Nada suara Kenzie terdengar dingin.
Aku tersenyum kecut seraya memainkan jariku di dadanya. "Tidak ada pria di dunia ini yang tidak menginginkan keturunan," ujarku, lalu mendongak menatap wajah datar Kenzie. "Aku yakin kamu juga menginginkannya."
"Tapi Rania, aku hanya ingin anak darimu bukan wanita lain," sela Kenzie.
"Aku tidak mampu memberikanmu itu Ken. Aku mandul. Sekuat apapun usaha yang aku lakukan, aku tidak akan pernah bisa memberikan keturunan untukmu."
Air mataku luruh. Teringat dengan keadaanku yang cacat dan tidak sempurna. Sekali lagi, bibirku melengkungkan senyum palsunya.
"Kamu pria sehat Ken. Kamu bisa memiliki anak sebanyak apapun yang kamu mau. Aku tidak mau mengekangmu dengan kekuranganku," ucapku seraya kembali menitikkan air mata.
Menekan rasa sakit dan pedih yang aku rasakan dalam hati, karena perkataanku sendiri.
"Apa melihatku memiliki anak akan membuatmu senang? Walau kamu harus membagiku dengan wanita lain?" Suara Kenzie terdengar bergetar. Nampak, wajahnya yang mengeras dengan sorot matanya yang bergetar.
"Aku tidak mau serakah Ken. Cukup jaga ini untukku. Aku tidak berani mengharapkan yang lain," ujarku seraya menunjuk dadanya.
Kenzie melangkah maju mendekatiku. Dia memegang tanganku, lalu menyimpannya tepat di atas bagian dadanya yang tadi aku tunjuk.
"Aku tidak bisa menjamin apapun. Kamu mendorongku untuk menyerahkan diri pada wanita lain. Aku takut tidak bisa menjaga hatiku untukmu."
Hatiku tersentak. Kenzie memiliki ketakutan yang sama denganku. Aku yakin, dia menyadari pesona yang Rea miliki hingga membuatnya ragu.
Aku melepas tanganku dari genggaman Kenzie. Kemudian mendekap erat tubuhnya. Air mataku menetes dengan senyum yang masih tersungging.
"Kalau begitu, aku harus menikmati waktu saat hatimu masih menjadi milikku," ujarku seraya menguatkan dekapanku. "Aku tidak memiliki kuasa memintamu untuk tetap mencintaiku. Karena aku tahu, kamu pun tidak kuasa mengendalikan perasaanmu sendiri. Aku hanya ingin bersyukur, karena saat ini masih memilikimu."
Lengan bagian atas ku terasa nyeri karena cengkraman tangan Kenzie. Dia menarikku menjauh dari tubuhnya, kemudian mendongakkan wajahku supaya menatapnya.
"Jawab satu pertanyaanku," pintanya dengan ekspresi wajah yang sulit aku tebak. Raut wajah Kenzie terlalu datar hingga membuatmu bingung menebak perasaannya
"Apa itu?" tanyaku.
"Jika kamu diberi waktu tiga hari untuk hidup. Apa yang akan kamu lakukan untuk menghabiskan hari-hari terakhirmu?"
Alisku bertaut. Bingung dengan pertanyaan Kenzie. Kenapa dia tiba-tiba menanyakan hal aneh seperti itu padaku. Tatapanku tertuju pada Kenzie yang terlihat sedang menunggu jawaban dariku.
"Apa aku benar-benar harus menjawab itu?" tanyaku lagi.
Kenzie mengangguk. "Aku ingin mendengar jawabanmu."
Bibirku tersungging senyum. Jika saja keadaan yang di tanyakan kenzie benar menimpaku. Mungkin aku akan sangat bersyukur. Memiliki waktu yang singkat untuk hidup merupakan harapan terbesarku saat ini.
Aku mengerutkan kening, pura-pura berpikir. Terlihat, tatapan Kenzie begitu lekat seakan tidak sabar menunggu jawaban dariku.
"Kalau aku hanya memiliki waktu tiga hari. Aku akan mencarikan pasangan yang baik untukmu dan memastikan kamu berpaling dariku secepatnya. Setelah itu, aku akan pergi diam-diam tanpa memberi tahu kalian," jawabku.
"Pergi diam-diam?" tanya Kenzie dengan alis bertaut.
Aku mengangguk. "Aku tidak mau dikasihani Ken. Aku juga tidak mau membuatmu meratapiku. Aku ingin memastikan kamu bahagia sebelum aku pergi meninggalkan kamu selamanya."
Kenzie melangkah mundur. "Kamu egois Rania. Apa kamu tidak memikirkan perasaanku sedikitpun?"
Hatiku mencelos. Tatapan Kenzie menyiratkan luka dan kekecewaan. Keningku mengernyit tidak mengerti kenapa Kenzie menatapku seperti itu. Aku tidak merasa ada yang salah dengan jawaban yang aku berikan.
Jika hidupku singkat, aku memang tidak mau Kenzie meratapi kepergianku. Melihatnya bahagia lebih baik dari pada melihatnya bersedih karena diriku. Aku tidak mau orang yang aku cintai hidup dalam kesedihan dan kerinduan tak berujung seperti yang aku alami selama ini.
Meratapi kepergian orang yang kita sayangi bukan hal yang menyenangkan. Setiap hari, rasa rindu yang menumpuk semakin menggunung hingga menutupi hati dari kebahagiaan. Tidak ada suka cita hidup yang bisa dirasakan, kecuali rasa sedih dan kecewa karena kerinduan yang tak berujung.
Selama ini, kehidupan seperti itu yang aku jalani. Kehidupan menumpuk rindu dan bergulung dalam kesedihan. Aku merindukan ibuku yang telah pergi dan ayahku yang tidak pernah menganggapku ada. Aku merindukan kasih sayang orang tuaku.
"Maaf kalau jawabanku tidak memuaskan kamu," ujarku menghindari perdebatan dengan kenzie. Aku berbalik memunggungi Kenzie, lalu meneruskan kembali mengiris sisa bawang Bombay yang belum aku potong. Terdengar suara langkah kaki yang mulai menjauhiku. "Kalau itu terjadi padamu. Apa yang akan kamu lakukan?"
Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulutku. Tanpa sempat aku saring sebelumnya. Aku mengatupkan bibir menyesali pertanyaan yang sudah aku lontarkan. Aku pastikan langkah kaki Kenzie tidak terdengar, aku yakin saat ini pria itu tengah terdiam memikirkan jawaban dari pertanyaanku.
"Kalau itu terjadi padaku. Aku juga akan bersikap egois di akhir hidupku. Aku akan melepas semua yang aku miliki. Lalu, membawamu pergi bersamaku. Aku tidak mau melihatmu menangisi kepergianku. Karena itu, mati bersama lebih baik dari pada berpisah."
"awww!" pekikku saat bagian tajam pisau memotong jari telunjukku.
Aku terkesiap saat Kenzie datang dan tanpa sungkan menghisap darah di jariku. Tatapan Kenzie yang terlihat di balik bulu matanya menyiratkan kekhawatiran.
"Aku tidak apa-apa," ujarku seraya mencoba menarik tanganku dari mulutnya. Tapi, Kenzie memegang tanganku dengan kuat.
"Apa kamu takut aku akan membawamu pergi mati bersamaku?" tanyanya tanpa ekspresi sedikitpun.