Penawaran dalam Penawaran

1134 Words
Rea POV Aku terperangah mendengar kata-kata Kenzie. Dia terdengar seperti pria psikopat berdarah dingin. Beberapa menit lalu, aku sampai di rumah Rania. Aku segera mencari wanita itu karena ingin membicarakan tentang pelunasan hutang ayahku. Tapi ternyata, Rania sedang mengobrol bersama Kenzie. Karena pembicaraan mereka terdengar serius. Aku pun memutuskan bersembunyi di balik tembok dan menguping. Sungguh! Aku terkejut mendengar semua yang Kenzie ucapkan pada istrinya. 'Pergi mati bersama? Apa dia pikir dirinya dan Rania, Romeo dan Juliet? Dasar pria gila!' cibirku dalam hati. "Sudah cukup! Jangan membicarakan masalah mati lagi," ujar Rania. Menghindari suaminya. Aku tersenyum kecut. Rania membuatku kesal. Kenapa dia begitu lemah dan senang menghindari masalah. "Ehm!" Aku keluar dari tempat persembunyianku. Menampakan diri di hadapan Rania dan Kenzie. Nampak, mereka kaget melihat kehadiranku. "Sudah pulang? Ayo sini! Ada jus mangga untukmu," tutur Rania seraya berjalan ke meja makan, lalu menuangkan jus mangga ke dalam gelas. "Minumlah! Ini segar." Kepalaku mengangguk. Aku berjalan menghampiri Rania, lalu duduk. Tanpa sungkan, ku teguk jus mangga yang Rania berikan. "Segar!" ucapku. Rania tersenyum seraya mengelus kepalaku. Sejenak, ku tatap netra coklatnya yang selalu terlihat tulus padaku. "Aku sedang masak makan siang. Kita makan sama-sama," ujarnya. Aku mengangguk tanpa berniat menolak. Perutku memang lapar karena tadi siang tidak sempat makan. Rania pun bangkit, lalu kembali ke meja pantry. "Biar aku yang lakukan. Mana lagi yang harus aku potong?" Kenzie meraih pisau yang baru saja Rania pegang. Wajahnya nampak datar. Pria itu sama sekali tidak menyapaku walau tahu aku duduk di belakangnya. "Tidak perlu Ken. Lebih baik, kamu duduk saja bersama Rea. Temani dia mengobrol, aku bisa menyelesaikan ini sendirian," tolak Rania. Wanita itu benar-benar gigih mendekatkan aku dengan suaminya. Aku diam memperhatikan mereka seraya menyesap jus mangga di tanganku. Melihat mereka berdua, aku seperti sedang menonton adegan dalam drama Korea. Yang satu gigih memberikan perhatian, tapi yang satu gigih dengan penolakannya. "Biar aku saja!" Kenzie merebut sutil yang Rania pegang. Pria itu tetap ingin membantu istrinya memasak. Aku tertegun melihat gerakan tangan kenzie yang sedang mengaduk makanan. Dia terlihat gagah. Kemejanya yang terlihat rapi dengan lengan kemeja yang di gulung sampai ke sikut membuat penampilannya begitu mempesona. Belum lagi, rambutnya yang terlihat sedikit acak-acakan. Membuatku tanpa sadar mengagumi pria itu seraya melebarkan senyum di wajahku. Kenzie sangat tampan. "Ken ... Duduklah! Biar aku yang hidangkan." Lamunanku buyar melihat Rania yang mendorong Kenzie dan memaksanya duduk di sampingku. "Kalian mengobrol dulu saja. Makanan akan tersaji sebentar lagi," ucap Rania memperagakan gaya pelayan restoran dengan nada geli. Rania benar-benar pandai menyembunyikan perasaannya. Dia tersenyum, walau netra coklatnya terlihat berkaca-kaca. Kenzie hendak protes. Tapi, Rania melotot kepadanya. "Duduk saja!" tegas Rania pada suaminya. Aku mengernyit. Sikap Kenzie pada Rania bagai kerbau yang di cocok hidungnya. Dia begitu penurut. Pria itu duduk di sampingku, tapi postur tubuh dan tatapannya tidak lepas dari Rania. Keadaan ruang makan begitu hening. Tidak ada satupun dari kami yang berbicara. Hanya terdengar suara dentingan piring dan sutil yang Rania pegang. Kenzie Diam seraya menatap punggung istrinya, sedang aku diam seraya memperhatikan mereka berdua. "Makanan siap!" Rania datang dengan dua piring nasi goreng di tangannya. Dia meletakkan salah satu piring di depanku dan piring satunya lagi di hadapan Kenzie. "Kalian makanlah dulu. Aku mau ke toilet sebentar." Rania tersenyum lembut padaku dan Kenzie, kemudian pergi ke kamarnya. Perutku keroncongan mencium bau wangi nasi goreng buatan Rania. Tanpa menunggu Rania kembali, aku langsung menyantap nasi goreng di hadapanku dengan lahap. "Jangan pernah mengharapkan apapun dariku!" Kepalaku mendongak mendengar suara Kenzie. Terlihat, pria itu menatapku dengan ekspresi datarnya. Kemudian mengalihkan tatapannya pada pintu kamar Rania yang tertutup rapat. "Aku pria cacat tanpa Rania. Jangan berharap aku akan menjadi suami seutuhnya untukmu," tukasnya. Aku menelan makanan di mulutku dengan kasar, kemudian meminum air untuk membasahi tenggorokan ku yang terasa perih. "Aku tidak pernah mengharapkan apapun darimu. Aku hanya ingin segera menyelesaikan tugasku melahirkan anak, lalu pergi dari kehidupan kalian," ujarku. Hatiku berat mengatakan itu. Membayangkan proses menuju kehamilan yang sangat panjang membuat keberanianku sedikit menciut. "Aku tidak pernah ingin menikahimu. Aku juga tidak pernah menginginkan anak darimu atau wanita lain. Rania mengancam akan menjalani program bayi tabung lagi jika aku menolak menikah denganmu. Dia bahkan sudah mengatur jadwal dengan dokter. Aku tidak mau Rania melakukan inseminasi lagi karena itu hanya menyiksanya. Dia kesakitan dengan segala obat yang disuntikkan ke tubuhnya." Tatapan Kenzie terlihat meredup. Suaranya pun terdengar bergetar. Hatiku tersentuh melihat Kenzie yang sangat memperhatikan istrinya. Kenzie suami yang baik. Aku iri pada Rania. "Perkataan mu semalam. Apa kamu serius?" Kenzie mengalihkan tatapannya dari pintu kamar Rania kepadaku. "Aku tidak ingin membagi diriku dengan wanita lain walau Rania sudah mengijinkannya. Aku tidak mau menduakan istriku." "Tentu saja. Aku serius," jawabku. Alis Kenzie bertaut setelah mendengar perkataanku. Tatapannya menghunus tajam, meminta penjelasan. "Aku ingin melanjutkan program bayi tabung yang istrimu lakukan. Aku bersedia meminjamkan rahimku untuk anak kalian." Kenzie memicingkan mata berpikir. Tangan kanannya bersedekap dengan telunjuk tangan kirinya yang mengelus dagu. Aku memperhatikan setiap detail gerakan yang Kenzie lakukan. Rahang kokoh yang menyangga wajahnya, membuatku kembali terpesona pada ketampanan Kenzie untuk kesekian kalinya. "Bukankah terlalu beresiko jika kamu melakukan itu? Tidak mudah menjadi ibu pengganti," tutur Kenzie. Suaranya terdengar ragu. "Kamu mungkin akan mengalami sakit seperti yang pernah Rania rasakan." Aku tersentuh dengan kata-kata Kenzie. Hatiku senang mendengarnya. Kenzie mengkhawatirkan aku? Bibirku tersenyum memikirkan itu. Sebenarnya, aku sudah mencari tahu resiko yang akan aku alami selama proses bayi tabung itu. Tapi, aku tetap ingin mencobanya. Aku tidak mau menyerahkan diriku pada Kenzie, walau pria itu sudah berstatus sebagai suamiku. "Aku tidak masalah dengan itu. Aku rasa, semua itu setimpal dengan uang yang Rania keluarkan untukku," jawabku. "Baiklah. Lakukan semaumu. Tapi jika kamu gagal, pergi dari kehidupan kami. Aku akan mengurus sisa perjanjian yang sudah kamu sepakati dengan Rania." Aku tertegun mendengar permintaan Kenzie. Pria itu memintaku untuk kabur? "Semua uang yang sudah Rania keluarkan untukmu. Aku akan menggantinya. Aku juga akan memberimu uang sebagai kompensasi untuk perceraian kita. Aku akan memberikan uang sebanyak apapun yang kamu mau. Tapi aku mohon, pergi dari kehidupan kami untuk selamanya." Harga diriku terluka mendengar kata-kata pria itu. Aku memang sangat membutuhkan uang, tapi bagaimana bisa dia membicarakan perceraian dengan begitu mudahnya. Pernikahan kami bahkan belum ada 24 jam, namun Kenzie sudah membicarakan perceraian. Walau aku tahu pernikahan kami hanya pernikahan kontrak. Tapi tetap saja, hatiku terluka mendengarnya. "Apa kamu pikir uang adalah segalanya? Aku memang membutuhkan uang, tapi aku bukan seorang pengecut yang akan menghianati kepercayaan orang yang sudah mempercayaiku." Suaraku tercekat di tenggorokan. "Perjanjianku dengan Rania. Aku sendiri yang akan menyelesaikannya. Aku akan memenuhi setiap janjiku padanya. Dan mengenai perceraian. Kamu tidak perlu khawatir, kita akan bercerai setelah aku melahirkan. Aku juga tidak pernah ingin berlama-lama tinggal bersama kalian." Dengan perasaan terluka, aku bangkit lalu melangkah pergi meninggalkan Kenzie. Tidak aku pedulikan sisa makanan yang masih belum tersentuh. Aku pergi seraya terisak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD