Sabtu pagi ini para mahasiswa yang ikut serta dalam acara malam nanti tengah sibuk mendirikan stand mereka masing-masing sesuai tempat yang sudah pihak kampus siapkan, para anak laki-laki mereka bekerja sama untuk mendirikan tenda agar mebuat cafe mereka terlihat nyaman, dan untuk para anak perempuan, mereka menyiapkan meja-meja, serta kursi-kursi agar nanti setelah tenda berdiri dengan rapih mereka tinggal menatanya saja.
Tepat pukul sepuluh siang mereka telah selesai mendirikan stand jurusan management, hampir empat jam mereka sibuk dengan mendirikan stand jurusan management, mulai bekerja dari pukul tujuh pagi hingga jam sepuluh siang ini.
“Selesai! Semua sudah tertata rapih, acara akan di mulai jam empat sore nanti, mungkin akan ada yang berdatangan dari mulai pukul tiga sore nanti, kita akan kumpul dahulu di ruang musik. Rizal, lo tetap di stand, jagain stand gue mau breafing anak-anak dulu” tutur Adit.
Rizal mengacungkan ibu jarinya dengan kepala yang dia anggukka. “Sip bro!”
“Saya tunggu kalian di ruang musik” ucap Adit, pria itu pun melangkahkan kakinya meninggalkan stand menuju ruang musik dimana dia akan membreafing teman-temannya untu kesuksesan acara nanti sore.
Adit sudah berdiri di depan dan para temen-teman lainnya terduduk di kursi yang berada di ruangan ini.
“Siang teman-teman, masih semangatkan?” Tanya Adit karena takut saja di antara teman-temannya ini ada yang berkurang semangatnya.
“Kalau ada yang merasa kurang sehat bisa nanti lapor sama saya, atau Rizal. Baik, jadi untuk nanti sore sesuai dengan kesepakatan kita di awal rapat, kita akan membagi pekerjaan agar semuanya adil dan tidak ada yang hanya berdiam saja. Nah, untuk Ezra dan Safiyya kalian bisa membantu di bagian dalam seagai waiters, untuk Hafiz dan Siska kalian akan berkeliling untuk mempromosikan stand kita sekaligus memperkenalkan stand kita kepada para tamu.” Ucap Adit membagi pekerjaan, termasuk kepada para teman satu angkatannya. Dia tidak membeda-bedakan antara junior dan senior karena semuanya harus sama-sama bekerja karena ini membawa nama jurusan yang mereka ambil.
Mereka pun mulai bersiap-siap untuk acara nanti. Tepat pukul 15.30 mereka semua sudah bersiap dan sudah berada di stand, dan mereka sudah memulai stay di bagian-bagian yang sudah mereka sepakati tadi. Awalnya Hafiz ingin menukar tugasnya dengan Ezra, namun dia harus profesional lagi pula dia bukan siapa-siapanya Safiyya kan.
Dengan berat hati Hafiz pun harus melihat Safiyya bersama dengan pria lain yang tidak lain adalah Ezra, Hafiz akan berkeliling bersama dengan Siska untuk berkeliling mempromosikan stand jurusannya.
Para tamu pun mulai berdatangan, tidak hanya mahasiswa dari kampus Nusa saja, tetapi ada mahasiswa yang berasal dari kampus lainnya yang di undang oleh mahasiswa dari kampus Nusa, kampusnya Safiyya juga Zarina.
Berbicara soal Zarina, gadis itu pun tengah sibuk dengan stand dari jurusanya, stand Zarina begitu terlihat cantik di penuhi dengan maha karya yang di ciptakan oleh para mahasiswa jurusan desain, banyak sekali di kunjungi oleh para tamu yang ingin melihat hasil karya para mahasiswa yang terlihat begitu cantik dan juga indah.
Kembali pada stand management, di sana Safiyya dan juga Ezra tengah sibuk mengantarkan pesanan yang di pesan oleh para tamu, mereka berdua kelihatan begitu cekatan dan juga hampir keteter, karena melihat antusias para mahasiswa yang ingin singgah di cafe mereka ini. Ezra sibuk melayani para tamu dari kalangan mahasiswi, sedangkan Safiyya sibuk dengan para tamu dari kalangan mahasiswa. Itulah mengapa mereka di bagi kelompok antara pria dan wanita, agar bisa menarik para mahasiswa dan mahasiswi.
Disaat waktu sengang seperti ini Safiyya dan Ezra beristirahat sejenak dengan terduduk di kursi, dan ada juga kakak tingkat mereka, disaat yang bersamaan datanglah Siska dan Hafiz, nampaknya mereka sudah selesai berkeliling dan Adit meminta Siska juga Hafiz menggantikan tugas Safiyya dan Ezra untuk menjadi seorang waiters.
Sebelum Hafis melakukan tugasnya, prisa itu lebih dulu memberikan satu botol air mineral kepada Safiyya, karena melihat gadis yang dia sukai nampaknya kelelahan. Safiyya menerimanya dengan seulas senyum terlukis di wajah manisnya ini.
“Makasih” ucap Safiyya.
Hafiz pun berlalu untuk melakukan tugasnya setelah memberikan air mineral kepada Safiyya. Dan kini giliran Siska dan Hafiz yang di sibukkan dengan tugas mengantarkan pesanan kepada para tamu yang singgah di cafe ini.
Acara pun belanjut hingga malam hari, dan ternyata semakin malam semakin banyak pula pengunjung yang datang, namun stand mereka hanya di buka sampai pukul 20.00, karena sisanya biarkan para mahasiswa dan mahasiswi ini menikmati acara malam tahunan kampus ini, tetapi masih banyak juga stand dari jurusan lain yang masih tetap buka hingga acara selesai, namun Adit memberikan kebijakan tersendiri untuk jurusannya.
Pria itu pun memberikan kebebasan jika sudah pukul delapan malam maka stand mereka akan di tutup dan mereka bisa menikmati acara ini dengan santai.
“Capek banget Fiya!” Keluh Siska, Safiyya pun menagnggapinya dengan seulas senyuman.
Saat ini kedua gadis itu tengah berada di toilet wanita untuk mengganti pakaian mereka, dan setelah ini mereka akan bersenang-senang menikmati acara tahunan kampus yang menjadi acara pertama bagi mereka sebagai mahasiswi baru di kampus Nusa ini.
“Habis ini lo mau kemana, Fiy?” Tanya Siska.
“Kayanya mau lihat standa jurusan lain yang masih buka, lo mau kemana?” Jawab dan Tanya balik Safiyya.
“Gue lagi nungguin temen sih, tapi kayanya dia maish di jalan. Gue ikut sama lo aja deh keliling” sahut Siska.
“Ayok!” Jawab Safiyya. Mereka berdua pun berlalu setelah melihat penampilan mereka yang sudah rapih dari pantulan cermin besar di depan keduanya.
Kedua gadis ini pun berjalan keluar dari toilet wanita dan berjalan menuju tenda-tenda yang masih berdiri di pinggiran jalan kampus. Safiyya menyempatkan diri untuk berkunjung ke stand sahabatnya Zarina, karena memang selama menyelenggarakan acara ini keduanya jarang bertemu meskipun berada di satu apartemen yang sama, namun Zarina yang di sibukkan dengan acara hari ini membuat keduanya sampai apartemen dalam waktu yang berbeda.
“Na!” Seru Safiyya memangiila sahabatnya ini.
Zarina menolehkan wajahnya menatap pada seseorang yang memanggilnya, raut wajahnya pun berubah bahagia ketika melihat ternyata sahabatnyalah yang memanggil namanya.
“Fiyaa!” Seru Zarina tidak kalah bahagia dan juga heboh.
Mereka saling berpelukan seperti dua orang yang bertahun-tahun tidak bertemu satu sama lain.
“Masih lama lo?” Tanya Safiyya.
Zarina pun menganggukan kealanya. “Sampai beresa acara aja kayanya, lo udah beres emang?”
“Udah, dari jam delapan tadi, jadi gua sama Siska mau jalan-jalan”
Disaat percakapan keduanya ada yang datang berkunjung ke stand ini membuat Zarina harus menyudahi obrolannya brsam dengan Safiyya. Dan Safiyya pun melanjutkan langkahnya bersama dengan Siska.
“Ya udah, kita duluan ya” pamit safiyya.
“Bye Zarina,fighting!” Timpal Siska dengan mengepalkan kedua tangannya menyemangati Zarina.
Safiyya dan Siska pun kembali melihat-lihat stand dari semua jurusan kampus yang ikut berpartisipasi dalam acara ini.
“Fiya, gue tinggal sendiri gak apa-apa ni?” Tanya Siska yang merasa tidak enak.
“Temen gue udah nyampe ni!” Lanjutnya merasa tidak enak kepada Safiyya, setelah membaca pesan singkat dari ponselnya Siska pun harus meninggalkan Safiyya seorang diri.
“Gak apa-apa kali, gue udah gede juga. Ya udah, sana gih kasian temen lo nungguin lama nanti!” Ujar Safiyya.
“Serius Fi?” Tanya Siska yang masih merasa tidak enak.
“Elah si Siska, udah sono gih!” Usir Fiya seraya mendorong tubuh Siska pelan.
Siska pun melambaikan tangannya berpamitan kepada Safiyya. Setelah kepergian Siska, Safiyya berjalan menyusuri jalanan kampus dan terduduk di kursi yang tersedia di sana.
Melihat seluruh kampus yang begitu ramai, ditambah dengan lampu-lampu warna warni yang mempercantik suasana acara malam ini, banyak mahasiswa yang berlalu lalang menikmati acara malam ini, sebagian dari mereka ada berjalan-jalan bersama dengan pasangan dan ada pula yang bersama dengan teman atau sahabat mereka.
Satu cup kopi hangat terulur di depan wajah safiiya, gadis itu pun menolehkan wajahnya melihat siapa pelaku yang memberikannya minuman, senyum pun terbit di wajah Fiya ketika melihat siapa orangnya.
Safiyya mengambil minuman yang di berikan oleh Hafiz, ya orang yang memberikan minuman kepada Safiyya adalah Hafiz. Pria itu pun mendudukan dirinya di samping Safiyya.
“Sendirian aja?” Tanya Hafiz.
Safiyya pun menggelengkan kepalanya, membuat Hafiz mengkerutkan keningnya. “Ada yang lagi kamu tungguin?” Tanya Hafiz kembali dan gelengan kepala pun Fiya tunjukan kembali.
“Ada kamu kan, jadi aku gak sendiri” jawab Fiya membuat Hafiz menyunggingkan senyumannya dengan menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
Safiyya pun tersenyum melihat tingkah pria di sampingnya ini. “Kamu gak jalan-jalan?” Tanya Safiyya.
“Ini mau jalan-jalan, tapi mau jemput ceweknya dulu biar bisa aku gandeng?”
Jawaban Hafiz sontak membuat raut wajah Safiyya berubah menjadi datar dan sedikit canggung.
“Ka-kamu udah punya cewek?” Tanya ragu-ragu Safiyya.
“Lagi on the way sih buat jadi pasangan!” Sahut Hafiz.
“Oh” jawan singkat Safiyya dengan kepala yang dia anggukan.
Hafiz menarik nafasnya lalu menghambuskannya perlahan sebelum pria itu memulai pembicaraannya kembali.
“Fiya?” Panggil Hafiz.
Safiyya pun menolehkan wajahnya menatap pria di sampingnya ini. “Hm?”
Tangan Hafiz terulur menggenggam jemari lembut Safiyya. “Kamu mau jadi sosok perempuan yang selalu ada di sampingku, menemani hari-hariku, dan menjadi orang yang paling spesial dalam hidupku?” Ungkap Hafiz membuat Safiyya terpaku di buatnya, matanya pun dia kedipan dua kali.
“Kamu lagi belajar biar nanti lancar ungkapin perasaannya?” Sahut Safiyya dengan polosnya.
Hafiz tersenyum dengan kepala yang dia gelengkan. “Cewek yang lagi aku cari untuk aku gandeng tangannya itu kamu, Fiya!”
“Jadi, apakah kamu mau menjadi bagian terpenting dalam hidupku?”
Safiyya terpaku mendengar ungkapan perasaan Hafiz terhadap dirinya. Fiya pun menganggukkan kepalanya dengan wajah yang sudah merona. “Aku mau” jawab Fiya.
Hafiz yang merasa bahagia dengan jawaban yang Fiya berikan pun refleks memeluk tubuh Safiyya yang resmi menjadi kekasih hatinya mulai detik ini, dan untuk ke depannya nanti. Hafiz sudah berniat untuk menjadikan Safiyya masa depannya.
Safiyya pun sangat bahagia dengan hari ini, karena ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan, pria yang dia cintai pun ternyata mencintai dirinya.