SM 11 -- Kunci Hati

1097 Words
Safiyya dan Hafiz sudah resmi menjadi sepasang kekasih namun keduanya sepakat untuk tidak mengumbar tentang hubungan yang tengah mereka jalani sekarang ini kepada siapa pun apalagi teman mereka di kampus, tetapi tidak kepada kedua orang tua mereka masing-masing. Karena Hafiz akan mengajak Safiyya ke rumahnya jika Safiyya sudah siap nanti, karena saat ini Safiyya masih merasa sungkan untuk bertemu dengan kedua orang tua Hafiz karena hubungan mereka yang baru beberapa hari ini, Safiyya merasa ini terlalu cepat saja. Kini Fiya dan Hafiz tengah berada di perpustakaan tempat yang spesial bagi mereka berdua, karena berkat perpustakaan mereka jadi bisa tahu satu sama lainnya. Dan hanya di perpustakaanlah keduanya bisa lebih dekat dan menjalankan peran keduanya sebagai sepasang kekasih.  Safiyya sudah larut dalam buku yang tengah dia baca, seperti kebiasaanya jika sudah menyangkut pelajaran atau membaca maka Safiyya akan lupa dengan sekitarnya dan dia akan lebih fokus pada buku atau pelajaran yang tengah dia pelajari. Namun berbeda dengan Hafiz pria itu malah asik memfoto wajah sang kekasih Safiyya, awalnya Hafiz hanya memperhatikan bola mata kekasihnya yang bergerak ke kanan dan ke kiri dengan bulu mata lentiknya yang mengikuti kemana bola matanya bergerak. Hafiz pun sudah mendapatkan banyak foto sang kekasih yang di ambil secara candied olehnya, Fiya nampak terlihat begitu cantik, manis, dan sangat mempesona bagi Hafiz. Hafiz pun menjadikan salah satu foto Safiyya sebagai tema walpaper ponselnya. mungkin ini yang dinamakan bucin Hafiz sudah senyam senyum sendiri kala melihat foto sang kekasih terpangpang di ponselnya. Safiyya yang sudah selesai dengan membacanya pun menatap sang kekasih yang tengah senyum-senyum sendiri. Alis Fiya terangkat satu ketika melihat Hafiz yang masih senyum-senyum dengan mata yang terfokus pada ponselnya. "Kamu kenapa sih?" Tanya Fiya penuh selidik. Hafiz sedikit terlonjak kaget karena dengan secara tiba-tiba Safiyya bertanya kepada dirinya. "Hah?" Refleks Hafiz. "Ish, kamu lagi chattingan sama siapa sih, senyum-senyum aja dari tadi kau perhatiin?" Kesal Safiyya karena pria itu tidak menyimak pertanyaannya. "Aku gak lagi chattingan sama siapa-siapa kok!"  Safiyya menatap Hafiz penuh curiga. "AKu gak chatan sama siapa-siapa sayang, serius!" Cetus Hafiz seraya mengangkat jari telunjuk dan jari tengah membentuk lambang peace. "Terus kenapa senyum-senyum sendiri gitu?" "Aku lagi lihatin foto wanita cantik" kata Hafiz seraya menatap layar ponselnya. "Manis banget dia, gak bosen aku lihatinnya" lanjut Hafiz dengan sorot mata yang berbinar. Wajah Safiyya sudah dalam keadaan mode jutek, menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya kasar. "Kenapa gak pacaran saja sama dia, kalau dia enak di pandang!" Ketusa Fiya. Hafiz tersenyum penuh kemenangan. "Cie, kamu cemburu ya" celetuk Hafiz seraya mencolek ujung hidung mancung milik sang kekasih. "Apaan sih!"  "Asal kamu tahu ya, dia sama aku itu udah pacaran, jadi aku bebas mau mandangin wajahnya dia kan!" Sahut Hafiz yang membuat mood Safiyya benar-benar jelek. Safiyya diam tidak menanggapi ocehan Hafiz, dia kembali membaca buku lainnya, namun gadis itu tidak bisa berkonsentrasi dan itu semua membuat Hafiz semakin kesenangan melihatnya. Hafiz pun membalikan layar ponselnya dan menunjukan foto siapa yang tengah dia tatap sedari tadi, awalnya Safiyya tidak mau melihatnya, namun perlahan Fiya melirik ponsel Hafiz yang menunjukan foto seorang gadis yang tengah membaca buku. Fiya mengkerutkan keningnya sepertinya dia merasa tidak asing dengan seseorang di foto tersebut, Fiya semakin menajamkan penglihatannya dan sedikit mencondongkan tubuhnya untuk melihat lebih jelas siapa gadis di balik foto itu. Fiya menahan senyumannya karena ternyata gadis yang tengah fotoya di pandani oleh Hafiz adalah dirinya, dan itu seperti outfitnya saat ini. "Kamu?" Tunjuk Fiya. Hafiz pun tersenyum. "Dia pacar aku, cantik kan?" "Sumpah rese banget!" Ucap Fiya. "Dengerin aku ya, aku gak akan bisa pernah berpaling sama kamu, hati aku sudah milik kamu. Seperti halnya gembok yang sudah terkunci dan hanya bisa di buka dengan kunci yang hanya menjadi pasangan bagi gembok itu, begitu pun dengan hati aku yang sudah tertulis nama kamu dan hanya kamu yang bisa mengunci dan juga membuka hati aku" tutut Hafiz membuat kedua sudut bibir Safiyya terangkat ke atas. Safiyya dan Hafiz pun sudah berada di taman kota, setelah dari perpustakaan tadi Hafiz mengajak Safiyya untuk makan berdua di taman kota yang jika malam hari akan sangat ramai dan di penuhi oleh para penjual di pinggiran jalan. Mereka begitu menikmati malam ini, meskipun bukan di tempat mewah tetapi jika bersama dengan orang yang kita cintai maka semua akan terasa indah dan mewah dengan cara mereka sendiri. Safiyya pun sudah berada di apartemen selesai makan malam bersama dengan sang kekasaih tadi Hafiz pun mengantarkan Safiyya pulang, hanya sampai depan gedung apartemen saja, karena jika sampai depan pintu maka Zarina akan mengetahuinya. Sebenarnya Safiyya ingin memberitahukan hal ini kepada sahabatnya tetapi mungkin bukan sekarang nanti jika sudah Fiya menggenalkan Hafiz kepada Ibu dan Ayahnya maka Fiya akan memberitahu Zarina soal hubungannya dengan Hafiz. "Si Fiya, jam sakiyeu baru balik, ari elu dari mana aja Safiyya Yasna!" Omela Zarina dengan menggunakan bahasa Sunda yang di camour dengan bahasa indonesia. "Si Fiya, jam segini baru pulang, lu dari mana aja Safiyya Yasna!" Safiyya yang baru saja memasuki apartemen sedikit terlonjak karena omelan Zarina yang sedikit kencang membuatnya memegangi dad-anya. "Astagfirullahaladzim Zarina! Berisik ya lu teh ih, kaget anjir gue!" Keluh Safiyya. "Lagian lu ya kebiasaan balik telat bukannya ngabarin gue untung Ibu gak nelepon gue hari ini!" Omel Zarina kembali. "Ya maap, gue lupa gak ngabarin" sesal Fiya. "Gue telepon gak di angkat lagi, dari mana si neng?" Fiya memasang cengiran lebarnya. "Biasa dari perpustakaan, pulangnya mampir dulu buat makan di taman kota" jawabnya memang benar adanya, Fiya tidak berbohong kan karena Zarina hanya menanyakan kemana perginya Safiyya dan tidak menanyakan dengan siapa Fiya pergi. "Gue heran sama lo Fi. bisa-bisanya ngabisin waktu di perpustakaan terus, emangnya gak bosen lo di sana? Terus ya lo gak bisa lihat cowok-cowok ganteng kalau di perpus terus!" Oceh Zarina yang merasa heran juga dengan sahabatnya ini yang terus menerus berada di perpustakaan dan lebih sering menghabiskan waktu disana, seraya berjalan menuju sofa dengan televisi yang menyala di depannya. Safiyya pun mengikuti langkah Zarina, namun gadis itu mendudukan dirinya di atas sofa single sedangkan Zarina di sofa sebelahnya. "Sekali-kali lo ikut gue ke perpustakaan, biar tahu gimana rasanya ada di sana" ajak Fiya, namun Zarina mengangkat bahunya berkali-kali. "Gak deh makasih, gak ada cowok ganteng di sana, palingan cowok kutu buku yang pada make kacamata tebel!" Tukasnya. Fiya pun menarik nafasnya lalu menghembuskannya perlahan. "Ya terserah lo aja Nona Zarina Jasmin!" Sahut Fiya seraya beranjak dari duduknya dan meangkahkan kakinya menuju kamar, dia akan mandi dan berganti pakaian karena tubuhnya sudah terasa sangat lengket seharian ini. "Belum tahu saja si Zarina di perpustakaan ada makhluk tampan"  bantinnya seraya berjalan meninggalkan Zarina yang sudha fokus menonton acara di televisi.        
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD