SM 12 -- Menantu Idaman

1446 Words
Enam bulan sudah Hafiz dan Safiyya menjalin hubungan tanpa di ketahui oleh teman-teman di kampusnya termasuk Zarina sahabat Safiyya sendiri, dan hari ini Safiyya akan berkunjung ke rumah Hafiz untuk bertemu dengan kedua orang tua sang kekasih. Selesai kuliah nanti Safiyya dan Hafiz akan langsung menuju rumah Hafiz, dan kebetulan hari ini Zarina sedang di sibukkan oleh tugas kampusnya. “Gak usah tegang gitu mukanya, biasa aja. Bunda gak gigit kok” ledek Hafiz karena melihat wajah Safiyya yang tegang sedari tadi saat mereka keluar dari kelas. Safiyya menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan menghalau agar rasa gugupnya berkurang. Hafiz hanya tersenyum melihat tingkah kekasihnya yang baginya terlihat menggemasakan. Mereka pun kembali melanjutkan langkah kaki menuju halte bus, beruntungnya mereka karena tidak lama mereka tiba di halte, bus yang akan mengantarkan keduanya menuju komplek perumahan Hafiz pun tiba, hingga mereka bisa segera menuju kediaman Hafiz. Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi mereka untuk sampai ke rumah Hafiz, karena memang untuk bus ini memiliki jalurnya tersendiri, jadi mereka bisa sedikit terhindar dari padatnya jalan Ibu Kota. Mereka berdua berjalan beriringan di kawasan komplek perumahan Hafiz. Keduanya pun tiba di depan rumah mewah bernuansa putih dan juga sebuah taman indah di depan yang hanya di tumbuhi oleh pepohonan hijau sehingga membuat rumah ini nampak sejuk dan juga tenang. “Assalamualaikum” salam Hafiz begitu dirinya membuka pintu utama rumah ini. “Waalaikumsalam” terdengar suara wanita paruh baya menjawab salam Hafiz, dan itu membuat Safiiya yang berada di belakang tubuh Hafiz menjadi semakin gugup, kedua tangannya dia kepalkan lalu menarik nafasnya dalam-dalam. “Tumben kamu sudah pulang jam segini?” Tanya heran Najma Bunda dari Hafiz. Hafiz hanya tersenyum lalu menyalimi tangan sang Bunda, dan disaat itulah Najma baru melihat sosok gadis cantik yang datang bersama dengan putra semata wayangnya ini. Najma mengkerutkan keningnya begitu melihat sosok gadis di belakang tubuh sang putra. Dan yang di tatap hanya tersenyum canggung, lalu menyalimi punggung tangan Najma bergantian setelah Hafiz. “Assalamualaikum Tante” salam Fiya. “Em, aku Safiyya, Tan!” Lanjutnya memperkenalkan diri kepada calon mertuanya ini. Najma pun tersenyum lebar dan raut wajahnya berubah menjadi penuh dengan binar kebahagiaan. “Ini ternyata Safiyya” ucap Najma seraya memegangi kedua lengan atas Safiyya. Safiyya hanya menganggukan kepalanya dengan senyum canggungnya. “Manis sekali kamu, Nak. Ayok, kita duduk!” Puji dan ajak Najma pada Safiyya. Safiyya menatap Hafiz dan di balas dengan senyuman manis oleh Hafiz, gadis itu pun ikut melangkahkan kakinya bersama Najma karena lengannya yang masih Najma pegangi, Hafiz pun mengikuti langkah sang Bunda yang membawa kekasihnya masuk ke ruang keluarga, bukan ke ruang tamu lagi. Najma langsung membawa kekasih putranya ini ke ruang keluarga. “Duduk sini sayang, dekat Bunda saja!” Kata Najma seraya terduduk di atas sofa panjang bersama dengan Safiyya. “Bunda sudah dengar banyak cerita tentang kamu dari Hafiz, senang sekali Bunda akhirnya kamu main ke rumah juga” ucap Najma begitu bahagia, karena pasalnya Najma ingin sekali memilki seorang anak perempuan, namun apalah daya Allah memilki rencana-Nya sendiri. Najma tidak bisa lagi memilki seorang anak karena ada masalah pada rahimnya. Jadi dia begitu sangat bahagia ketika mendengar jika putranya memiliki kekasih dan itu artinya dia bisa memilki seorang putri yang bisa di ajak shopping, masak-masak, nyalon bareng, dan kegiatan lainnya yang hanya bisa dilakukan oleh sesam wanita saja. Safiyya hanya tersenyum menanggapi ucapan Najma, karena dia benar-benar merasa begitu canggung dengan Najma, Bunda dari kekasaih hatinya Hafiz. “Sebentar. Bunda ambilkan minum dulu ya!” Ujar Najma dan sebelum wanita paruh baya itu beranjak dari duduknya suara Safiyya lebih dulu mengintrupsi pergerakan Najma. “Gak usah repot-repot tante” kata Safiyya merasa tidak enak. Najma menghembuskan nafasnya pelan. “Jangan panggil tante dong, panggil Bunda saja ya, kaya Hafiz” pinta Najma membuat Safiyya sedikit kaget karena Najma sudah meminta dirinya untuk memanggilnya dengan panggilan yang sama dengan Hafiz. Safiyya menatap Hafiz, dan pria itu hanya tersenyum dengan kepala yang dia anggukan. Sedari tadi Hafiz hanya tersenyum bahagia melihat interaksi antara Bundanya dan juga kekasih hatinya Safiyya. Nampaknya sang Bunda Najma sudah jatuh hati kepada Safiyya. Dan itu berarti Hafiz tidak perlu repot-repot meminta restu kepada Bundanya. Tinggallah nanti dia harus bertemu dengan kedua orang tua Safiyya yang berada di Bandung. “Iya, Bu-bunda” kata Safiyya masih sedikit asing. Dengan seulas senyuman di akhirnya membuat Najma pun tersenyum lebar. “Ya sudah, Bunda ke dapur dulu ya, kamu ngobrol saja dulu sama Hafiz” kata Najma dan wanita paruh baya itu pun berjalan menuju dapur mengambilkan minum dan makanan ringan untuk Safiyya. Hafiz tersenyum melihat Safiyya yang mati kutu berada di dekat Bundanya. “Kamu lucu banget sih!” Ungkap Hafiz. Safiyya mengkerutkan keningnya mendengar ucapan Hafiz. “Lucu apanya, jantung aku dari tadi udah disko tau gak di dalem!” Cetus Safiyya. “Habis di depan Bunda aja udah kaya mau sidang skripsi tahu gak!” Kata Hafiz di akhiri dengan tawa ringan. Najma pun kembali dengan sebuah nampan di tangannya yang berisikan dua gelas minuman dan juga makanan untuk putranya dan juga Safiyya. Fiya pun berdiri ketika melihat Najma datang dengan sebuah nampan di tangannya. “Bunda, gak usah repot-repot!” Kata Safiyya seraya mengambil alih nampan di atas tangan Najma. Najma pun mengulas senyuman di wajahnya, karena Safiyya adalah gadis yang begitu sopan. “Nggak repot kok, Nak” “Jangan pulang dulu ya sayang, kita makan malam dulu, sekalian nanti ketemu sama Ayahnya Hafiz” ucap Najma. Safiyya menganggukan kepalanya lalu tersenyum. “I-iya Bunda!” Najma senang sekali mendengarnya. “Kalian ngobrol saja ya, Bunda tinggal masak dulu gak apa-apa kan, Nak?” Ujar Najma. “Em, aku bo-boleh bantuin Bunda masak di dapur?’ Pinta Safiyya menawarkan diri membantu Najma memasak untuk makan malam mereka nanti. “Kamu gak capek sayang, biarin Bunda saja yang masak” “Nggak kok, Bun, aku sudah biasa bantuin Ibu juga” Najma pun tersenyum dengan kepala yang wanita itu anggukan. “Hafiz, kamu mandi sana, dari tadi senyam senyum terus gak ada suaranya” “Ya, Bunda ngajakin ngobrol Fiya terus, akunya di cuekin!” Keluh Hafiz bercanda. “Sudah sana mandi!” Titah Najma kepada putranya, Hafiz pun beranjak dari duduknya lalu melangkahkan kaki menuju kamarnya di lantai atas. Sedangkan Safiyya mengikuti langkah Najma menuju dapur rumah mewah ini, untuk membantu wanita paruh baya itu memasak. Makan malam pun tiba, Safiyya sudah terduduk di atas meja makan duduk berdampingan dengan Hafiz, bersama dengan kedua orang tua Hafiz. Fiya pun sudah bertemu dengan Dimas, Ayah dari Hafiz. Dan sama seperti Najma ketika pertama melihat Safiyya, langsung menyukai gadis itu untuk menjadi pendamping putra mereka. Nampaknya Fiya memiliki aura positif yang membuat siapa saja akan langsung menyukainya. “Ayok di makan, Nak. Jangan malu-malu, anggap saja ini rumah kamu sendiri” kata Dimas kepada Fiya. “Iya, Yah!” Jawab Fiya, ya sesuai permintaan Dimas, pria itu meminta Safiyya untuk memanggilnya Ayah. Dimas merasa iri karena istrinya di panggil Bunda sedangkan dia di panggil Om oleh Safiyya, maka dari itu Dimas meminta Safiyya untuk memangiilnya Ayah, dan agar Safiyya pun terbiasa. “Gimana, Yah. Enak?” Tanya Najma. Dimas mengangguk-anggukan kepalanya. “Enak banget, Bun. Wah, masakan Bunda sudah ada peningkatan ni!” Puji Dimas. Najma tersenyum sebelum menjawab pujian sang suami. “Bukan Bunda yang masak hari ini!” Kata Najma membuat Dimas menatapnya penuh tanya, sedangkan Hafiz, pria itu sudah mengetahui jika ini adalah masakan Safiyya. “Calon menantu Ayah yang masak” sambung Hafiz. “Wah, serius Fiya?” Safiyya tersenyum dengan kepala yang dia anggukan. “Nikahin mereka sekarang aja, Bun!” Celetuk Dimas membuat Safiyya dan Hafiz tersedak makanan. “Uhuk.. uhuk..” kompak keduanya. Safiyya dan Hafiz pun kompak mengambil gelas minuman mereka lalu meneguknya untuk menghilangkan rasa perih di tenggorokannya karena tersedak makanan barusan. Dimas dan Najma pun hanya tersenyum geli melihat respon keduanya yang kompak sekali. “Ayah!” Tegur Hafiz kepada sang Ayah. Dimas pun hanya menyunggingkan senyumannya, lalu menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. “Sudah, lanjut lagi makannya. Ayah kamu cuman bercanda, Fiz.” Kata Najma. “Tapi kalau kalian siap dan mau di nikahin sekarang , Bunda sama Ayah siap ketemu orang tua Safiyya untuk lamar Fiya!” Lanjut Najma bercanda, namun jika memang mereka mau maka dengan senang hati Najma dan Dimas akan meluncur ke Bandung bertemu dengan orang tua Safiyya. Hafiz dan Safiyya pun sama-sama membulatkan kedua mata mereka ketika mendengar perkataan sang Bunda yang sama saja seperti sang Ayah. “Bunda!” Tegur Hafiz. Najma dan Dimas saling menatap lalu menatap bergantian pada Safiyya dan Hafiz dengan seulas senyuman terbit di wajah mereka, senang sekali sepertinya kedua orang tua ini menggoda Hafiz dan Safiyya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD