SM 13 -- Jealous

1584 Words
“Fiyaaaaa!” Teriak Zarina yang baru saja tiba di apartemen. “Apa sih, Na. Malam-malam teriak-teriak, berisik tahu gak!” Sahut Safiyya yang tengah terduduk santai di depan televisi dengan satu toples makanan ringan di pangkuannya. “Gue capek!” Keluhnya seraya mendudukan diri di atas sofa di samping Safiyya. Ya, Zarina baru saja tiba pukul sepuluh malam, sedangkan Safiyya dia sudah di rumah sejak pukul  sembilan malam, setelah makan malam bersama kedua orang tua Hafiz dan membantu merapihkan semuanya juga sedikit berbincang Safiyya pun pamit pulang di temani oleh Hafiz. “Lagian tumben banget jam segini baru balik lo?” Tanya Safiyya sedikit merasa heran, karena Zarina terlihat lebih rajin dari sebelumnya. “Karya gue harus bisa lolos pokoknya biar gue bisa go Internasional, ya ampun impian gue banget bisa jadi model sekaligus desainer terkenal dan mendunia” harap Zarina dengan kedua tangan yang dia angkat ke atas juga binar bahagia terpancar di matanya dengan begitu jelas. “Aamiin!” Jawab Safiyya. “Pantas saja, lo jadi lebih rajin biasanya malas banget soal tugas-tugas kaya gini” lanjut Fiya. Zarina menyunggingkan senyumannya seraya menatap safiyya lalu menaik turunkan kedua alisnya. Tangannya pun terulur akan mengambil camilan yang berada dalam pangkuan sahabatnya Safiyya, namun dengan cepat Fiya memukul punggung tangan Zarina. “Kotor Zarina Jasmin tangan lo, kebiasaan banget! Cuci tangan dulu sana” sentak Safiyya membuat Zarina sedikit terlonjak. Karena Zarina ini memang sudah terbiasa selalu seperti itu, ketika sampai di rumah bukannya bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Gadis itu malah bermalas-malasan dan mendudukan dirinya di atas sofa, atau langsung selonjoran di atas karpet bulu. “Iya Nona Safiyya yang super duper bersih!” Sahut Zarina seraya menangkup kedua pipi Safiyya lalu menggoyangkannya ke kiri dan ke kanan hingga bibir Safiyya sedikit manyun karena kedua tangan Zaria sedikit menekannya. “Sakit, Zarina!” Teriak Safiyya karena Zarina sudah berlari menuju kamarnya meninggalkan sahabatnya yang sudah sedikit emosi karena kejahilan Zarina. Pagi hari Zarina sudah rapih dan siap untuk berangkat menuju kampus, sedangkan Safiyya saja baru keluar dari kamarnya dan baru akan sarapan pagi. Safiyya sedikit merasa heran karena melihat sahabatnya, Zarina, seorang gadis manja, pemalas sekarang tiba-tiba saja terlihat begitu rajin. “Tumben lo sudah rapih jam segini?” Zarina masih sibuk mengunyah rotinya yang tinggal satu suap lagi, gadis itu pun meneguk satu gelas s**u putih yang sudah dia buat tadi. “Gue buru-buru, pagi ini ada kelas agar kita sukses menjadi seorang desainer terkenal, gue harus buru-buru karena dosennya ada pagi ini jam delapan jadi gue harus buru-buru berangkat sekarang!” Zarina mengambil bukunya di atas meja makan lalu melambaikan tangannya pamit lenih dulu untuk berangkat ke kampus. “Gue duluan, Fi” pamitnya seraya berjalan sedikit cepat menuju rak penyimpanan sepatu. “Hati-hati, Na!” Teriak Safiyya begitu Zarina keluar apartemen Tinggalah Safiyya seorang diri di apartemen tengha menikmati roti berslaikan coklat, dan juga satu gelas s**u coklat.  Disaat dirinya tengah asik menikmati sarapan paginya ponsel Safiyya berdering menandakan adanya panggilan masuk, Safiyya sedikit mengkerutkan keningnya kala melihat sebuah nomor tanpa nama tertera di layar ponselnya. Gadis itu pun menggeser icon hijau pada layar ponselnya dan panggilan pun terhubung. “Assalamualaikum, Fiya!” “Waalaikumsalam, maaf ini siapa ya?” Tanya Fiya kala mendengar salam dari balik panggilan, terdengar dari nada suaranya nampaknya dia adalah seorang wanita paruh baya. “Ini Bunda, Nak. Maaf ya Bunda minta nomor kamu dari Hafiz” Safiyya membenarkan posisi duduknya, padahal Najma pun tidak akan melihat Safiyya, karena mereka melakukan panggilan suara dan bukan panggilan video. Ada-ada saja Fiya. Fiya berdehem sebelum menjawab Najma. “Bunda, aku kira siapa, maaf Bunda” ucap Safiyya merasa tidak enak. “Ada apa Bunda?” “Em, hari ini kamu kuliah sampai jam berapa, Nak?” “Hari ini jadwalnya sampai siang, Bun. Ada apa Bun?” “Cocok, kamu mau temani Bunda belanja sayang?” “Belanja?” “Iya, Nak, bisa kan?” “Bisa kok Bun, nanti pulang dari kampus aku ke rumah Bunda” “Baik sayang, Bunda tunggu di rumah ya, Nak!” “Iya, Bun!” “Ya sudah, Bunda tutup teleponnya kamu hati-hati di jalan ya, Assalamualaikum!” “Iya, Bun. Waalaikumsalam” Safiyya menghembuskan nafasnya lega, lalu jemarinya menari di atas layar ponsel menyimpan nomor Najma. Setelah itu Fiya melanjutkan lagi sarapan paginya. Gadis itu sedikit lebih santai karena kelas dia di mulai cukup siang. Di tengah dirinya menikmati sarapan, bel apartemen pun berbunyi manandakan adanya tamu yang berkunjung. Namun Fiya merasa bingung siapakah orang yang bertamu sepagi ini, karena ini masih pukul setengah tujuh pagi. Sebelum beranjak dari duduknya Fiya menghembuskan nafasnya menyimpan rotinya yang baru dia makan dua gigitan saja. Safiyya pun berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang sudah bertamu sepagi ini. “Hafiz!” Kaget Fiya karena ternyata yang datang sepagi ini adalah kekasihnya Hafiz. “Kamu kok?” Bingung Fiya kenapa bisa Hafiz berada di apartemennya, untung saja Zarina sudah berangkat lebih dulu ke kampus. “Aku gak di persilahkan untuk masuk!” Sindir Hafiz karena Fiya malah lebih banyak terkejut. “Ah, ya, ayok masuk” Hafiz pun masuk Fiya mengikutinya dari belakang lalu menutup pintu apartemen kembali. “Aku lagi sarapan, kamu sudah sarapan belum?” Tanya Fiya ketika keduanya sudah berada di dalam. Hafiz mengangguk-anggukan kepalanya. “Boleh, kenetulan aku memang belum sarapan” Safiyya pun tersenyum lalu berjalan lebih dulu menuju meja makan dan di ikuti oleh Hafiz dari belakang. “Kamu mau slai rasa apa?” Tanya Fiya. “Aku suka slai kacang” Safiyya pun mengoleskan skai kacang di atas roti lalu menutupnya dengan roti lainnya dan memberikannya kepada Hafiz. “Kamu kenapa ke apartemen, untung Zarina sudah berangkat?” “Aku tahu kok Zarina sudah berangkat, makannya aku samperin kamu kesini” jawab Hafiz lalu menggigit roti di tangannya. “Jadi kamu sudah ada di depan gedung apartemen?” Hafiz menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan Safiyya karena mulutnya sibuk mengunyah roti. Safiyya pun hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan alis yang terangkat satu. “O ya, Bunda ada telepon kamu?” Tanya Hafiz dan di jawab anggukan kepala oleh Safiyya. “Bunda minta tolong aku buat temenin belanja katanya” Hafiz menganggukan kepalany seraya menikmati roti miliknya. “Aku tahu kok, Bunda izin dulu sama aku tadi” “Nagapain Bunda izin dulu sama kamu?” “Bunda takut kalau kita ada janji untuk keluar berdua, jadi dia minat izin dulu sama aku buat pinjam kamu sehari” “Hish, pinjam!” Respon Fiya membuat Hafiz menyunggingkan senyumannya. Kini Hafiz dan Fiya sudah berada di halte bus dekat apartemen Fiya, selesai sarapan tadi mereka langsung memutuskan untuk berangkat ke kampus karena tidka baik berduaan bersama lawan jenis di dalam apartemen. Mereka pun tiba di kampus dan segera masuk ke kelas, ternyata sudah ada beberapa mahasiswa yang menghuni ruangan kelas ini, Safiyya mendudukan dirinya di kursi kosong yang biasa dia tempatin dan berdekatan dengan Siska. Tak lama Fiya duduk Ezra pun menghampiri Fiya dan duduk di samping gadis itu. Hafiz yang melihat kekasihnya di dekati oleh pria lain pun terus memperhatikan pergerakan Safiyya dan terutama Ezra. Lelaki yang menghampiri Safiiya kekasih hatinya. Fiya menolehkan wajahnya kala sebuah tas mendarat di atas meja dekat kursi Fiya. “Tumben banget lo, Zra?” Tanya heran Siska karena Ezra duduk di samping Safiyya. “Elah, kenapa sih gue kan pengen duduk deket Fiya, gak boleh?” Sahut Ezra pada Siska. “Ngegas mulu lo mah jadi cowok!” Protes Siska. “Kenapa, Zra?” Tanya Fiya yang merasa Ezra seperti ingin bertanya sesuatu kepada dirinya. “Gue pengen nanya sesuatu sama lo?” Safiyya mengkerutkan keningnya. “Nanya apa?” Belum sempat Ezra bertanya dosen pengajar pun sudah memasuki ruang kelas, membuat pria itu jadi mengurungkan niatnya untuk bertanya, dan lagi-lagi dia harus menunda pertanyaannya kembali. Pelajaran hari ini berjalan dengan lancar, dan ini sudah waktunya bagi para mahasiswa dan mahasiswi untuk kembali ke rumah masing-masing, tetapi kebanyakan dari mereka memilih untuk berjalan-jalan atau sekedar nongkrong di kampus.  Berbeda dengan Safiyya yang sudah berada di halte bus karena Hafiz sudah menunggunya lebih dulu disana. “Maaf ya lama” sesal Fiya. Hafiz tersenyum, bus pun tiba mereka segera memasuki bus dan duduk di kursi yang sama. “Tadi Ezra ngapain deketin kamu?” Tanya Hafiz penasaran atau mungkin cemburu. “Em, dia bilang sih mau nanya sesuatu sama aku, tapi belum sempat dia nanya dosen sudah masuk tadi, kenapa gitu?” Hafiz pun menggelengka kepalanya, Fiya menatap kekasihnya itu penuh curiga dengan mata yang memicing. “Kamu cemburu?” Goda Fiya seraya menusuk perut Hafiz. Hafiz pun hanya diam seraya mengalihkan pandangannya. “Cie yang cemburu!” Goda Fiya semakin menjadi. Fiya merangkul lenga Hafiz lalu menyandarkan kepalanya pada bahu kekasr Hafiz, “kamutidak perlu cemburu, kalau kata Dilan mah gini ‘cemburu itu untuk orang yang tidak percaya diri’ jadi jangan cemburu ah, lagian ya Ezra mungkin mau nanyain soal pelajaran atau mungkin ada hal lain yang harus dia tanyain sama aku. Kan kau sendiri yang bilang kalau hati kamu itu sudah terkunci, dan akulah pemilik kuncinya. Begitu pun dengan hati aku yang sudah terkunci dan kamulah pemegang juga pemilik hati aku” ujar Fiya. Membuat Hafiz mesem-mesem sendiri mendengar sang kekasih yang berbicara romantis seperti itu, sampai hatinya merasa berbunga-bunga.   Tangan hafiz pun menggenggam jemari lentik Safiyya,  dan senyum pun terbit di kedua bibir Safiyya dan Hafiz, Fiya mendongakan kepalanya menatap wajah sang kekasih yang tengah tersenyum membuat hatinya menghangat karena melihat lukisan indah di wajah sang kekasih.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD