Seperti apa yang Hafiz sudah katakan bahwa dia ingin bertemu dengan kedua orang tua Safiyya yang berada di Bandung. Dan hubungan keduanya pun memang sudah berjalan cukup lama, Safiyya pun sudah menceritakan soal hubngan dengan Hafiz kepada sang Ibu, tentu saja Ayahnya Abbas pun mengetahui jika putri semata wayangnya ini sudah memiliki kekasih hati.
Dan hari ini mereka berdua akan pergi ke Bandung mereka akan menginap semalam di sana, kebetulan Zarina sedang sibu-sibuknya dengan seala urusan kampusnya, sehingga gadis itu tidak merengek untuk ikut ke Bandung bersama sahabatnya. Jadilah Fiya tidak harus banyak beralasan agar sahabatnya tidak boleh ikut.
Sabtu pagi sekitar pukul sembilan Fiya sudah rapih dan siap untuk berangkat menuju kota Kembang, dimana kedua orang tuanya tinggal dan juga kota kelahirannya, dan untuk Hafiz pria itu sudah menunggu sang kekasih di halte bus, mereka akan berangkat kesana dengan menggunakan bus.
Tidak banyak yang mereka bawa, karena memang mereka tidak akan lama disana, besok pun mereka sudah kembali ke Jakarta, karena hari Senin keduanya sudah harus kembali ke kampus.
“Gue berangkat ya, Na?” Pamitnya kepada Zarina yang tengah menlihat Safiyya.
“Hati-hati ya, Fi. Salam untuk Ayah sama Ibu, bilang maaf gue gak bisa ikut balik nengok mereka. Soaalnya tugas-tugas gue udah deadline semua” sesal Zarina, sebenarnya gadis itu begitu merindukan Abbas dan Mira, yang sudah dia anggap sebagai orang tuanya sendiri.
“Pasti gue sampein, lo gak apa-apa kan gue tinggal?”
“Elah, emang gue anak kecil apa! Lo hati-hati, kabarin gue kalau sudah sampai!” Pesan Zarina dan di angguki kepala serta acungan jempol oleh Safiyya.
“Ya udah, gue berangkat ya, bye!” Pamit Fiya dengan melambaikan tangannya dan di balas dengan lambaian tangan pula oleh Zarina.
“Bye, hati-hati Fi!” Teriaknya.
Safiyya berjalan menuju hakte dimana Hafiz sudah menunggunya, semoga saja jalanan hari ini lancar.
“Maaf, nunggu lama ya?” Sesal Fiya kala dirinya sudah tiba di halte dan berdiri di samping Hafiz yang tengah terduduk.
Hafiz mendongakkan kepalanya menatap Safiyya lalu tersenyum manis ke arah gadi manis itu.
“Nggak kok, mau nunggu kamu sepuluh tahun lagi pun aku siap!”
Fiya memicingkan matanya dengan senyum yang tertahan. “Gombal saja terus!” Sahut Fiya malu-malu.
Bus pun tiba membuat percakapan keduanya terhenti dan mungkin akan berlanjut saat keduanya sudah terduduk nyaman di dalam bus. Mereka akan menempuh perjalanan yang cukup panjang, jika tidak terkendala dengan macet mungkin siang hari mereka sudah sampai di Bandung, tetapi jika macet selama perjalanan maka yang biasanya hanya empat jam perjalanan mungkin akan pertambahan beberapa jam tergantung kadar kemacetannya.
Safiiya menyodorka satu kotak makan yang berisikan roti dengan slai favorit Hafiz, Hafiz mengakat kedua alisnya. “Apa ini?”
“Sebenarnya buat sarapan, tapi karena sudah siang jadi yang buat camilan saja”
Hafiz pun mengambil kotak makan yang di berika Safiyya, lalu membukanya dan mengambil satu lembar roti di dalam sana. Memakannya dengan begitu nikmat. Safiyya tertidur dengan kepala yang bersandar pada sandaran kursi bus, bergerak ke kanan ke kiri karena bus yang sedang bergerak. Sudah hampir dua jam mereka menempuh perjalanan ini membuat kantuk pun menyerang para penumpang.
Hafiz yang melihat sang kekasih sudah tertidur dan nampaknya begitu tidak nyaman dengan kepala yang terus saja bergerak, Hafiz pun menuntun kepala Safiyya agar bersandar pada bahu kekarnya, dengan perlahan Hafiz memindahkan kepala Safiyya lalu menyandarkannya dengan nyaman di bahu kekarnya.
Hafiz tersenyum kala melihat wajah sang kekasih yang terlhat begitu tenang dan damai kala tertidur seperti ini, dan membuat kadar kecantikan di wajah Safiyya bertambah membuat Hafiz betah sekali memandangi wajah sang kekasih hati.
Senyum terukir indah di wajah tampan Hafiz, pria itu pun menyandarkan kepalanya pada kepala Safiyya, membuat mereka nampak begitu romantis di lihat. Perlahan tapi pasti, kedua mata Hafzi pun tertutup dan tak berapa lama Hafiz menyusul Fiya yang sudah terlelap.
Pukul satu siang bus sudah sampai di terminal Bandung, Hafiz terbangun lebih dahulu dan disusul oleh Safiyya, keduanya merenggangka otot-otot tangannya lalu menggelengkan kepala mereka karena rasa pegal yang melanda keduanya setelah tertidur dengan posisi terduduk membuat badan mereka tidak nyaman.
Mereka turun dari bus dan berganti denga taxi online yang Safiyya pesan melalui ponselnya. Karena berada di terminal membuat mereka begitu mudah mencari taxi online di sekita sini. Kedua sejoli ini pun sudah berada di dalam taxi online yang akan mengantarkan keduanya menuju rumah Abbas dan Mira yang tidak lain adalah orang tua Safiyya.
Sekitar kurang lebih setengah jam mereka menempuh perjalanan dari terminal menuju kampung halaman Fiya, kini mobil yang mereka tumpangi berhenti di halaman depan rumah Safiyya yang nampak begitu sejuk dan juga tenang.
Safiyya berjalan lebiih dulu lalu di ikuti oleh Hafiz dari belakang tubuhnya.
“Assalamualaikum, Ayah, Ibu!” Salam Fiya seraya memanggil kedua orang tuanya.
“Waalaikumsalam” terdengar suara wanita paruh baya yang menjawab salam Safiyya.
“Nak, sudah sampai” kata Mira dengan seulas senyum terlukis di wajahnya.
Safiyya menyalimi punggung tangan Mira dengan seulas senyum terlukis di wajahnya pula. Setelahnya gadis itu pun memeluk tubuh sang Ibu yang begitu sangat dia rindukan. “Fiya kangen banget sama Ibu!” Seru Fiya karena akhirnya dia bisa memeluk tubuh sang Ibu kembali setalah beberapa bulan ini dirinya berjauhan dengan kedua orang tuanya.
“Ibu juga kangen banget sama putri Ibu ini, hm!” Jawan Mira dengan raut wajah yang berbunga.
Mata mira pun menangkap sosok pria di balik tubuh sang putri, Hafiz tersenyum canggung begitu matanya saling bertubrukan dengan mata Mira, kepalanya pun dia tundukan sebagai tanda hormat kepada Mira.
Safiyya melepaskan pelukannya dengan sang Ibu, lalu memperkenalkan pria yang datang bersama dengan dirinya. “Em, dia Hafiz, Bu” kata Fiya memperkenalkan Hafiz kepada Mira.
Mira pun tersenyum. Dengan sigap Hafiz menyalimi pungung tangan Mira, “Hafiz, Bu” kata Hafiz.
“Ayok duduk dulu, kalian pasti lelah karena perjalanan yang cukup panjang” ucap Mira mempersilahkan keduanya untuk duduk, mungkin lebih tepatnya kepada Hafiz karena tamu di rumah ini adalah Hafiz.
“Ayah keman, Bu?” Tanya Fiya kala dirinya berjalan menuju sofa ruan tamu rumah ini.
“Tadi pamit mau shalat Dzuhur di Mushala, tapi sampai sekarang belum pulang, mungkin masih di Mushola”
“Ibu ambilkan minum dulu sebentar ya” pamit Mira lalu beranjak dari duduknya.
“Aku bantuin ya, Bu!” Kata Safiyya, namun sebelum gadis itu beranjak dari duduknya suara Mira lebih dulu mengintrupsi membuat Fiya menghentikan pergerakannya.
“Kamu temani saja nak Hafiz, masa tamu di tinggal sendirian, gak sopan atuh geulis!” Ujar Mira membuat Fiya tersenyum mendengarnya.
Fiya menyunggingkan senyumannya dan kembali mendudukan dirinya di atas sofa, sedangkan Mira sudah berjalan menuju dapur menyiapkan suguhan untuk Hafiz juga Fiya.
“Assalamualaikum” salam terdengar dari depan sepertinya Abbas yang baru saja kembali dari Mushola.
“Waalaikumsalam” jawab Safiyya dan Hafiz bersamaan lalu keduanya pun berdiri dari duduknya ketika keduanya melihat sosok Abbas yang berjalan masuk.
“Ayah!” Panggil Fiya lalu berjalan menghampiri Abbas dan menyalimi punggung tangan Abbas. Hafiz pun mengikuti Fiya dan menyalimi punggung tangan Abbas, Ayah dari Safiyya.
“Kalian sudah sampai, jam berapa sampai rumah?” Tanya Abbas begitu melihat puyriny dan Hafiz yang sudah berada di rumah.
“Baru saja, Yah!” Jawab Fiya.
Mira pun datang dengan sebuah nampan yang berisikan dua cangkir yang berisi minuman untuk Fiya dan Hafiz. “Ayah, baru pulang?” Tanya Mira dan menyalimi punggung tangan Abbas sang suami.
“Iya, tadi ngobrol-ngobrol dulu sama bapak-bapak”
Abbas tersenyum pada Hafiz, “duduk, Nak!” Ucapnya, dan Hafiz pun menunduka kepalanya dengan seulas senyum terlukis di wajahnya.
Mereka pun terduduk di ruang tamu kediaman Abbas, “Bagaiman tadi di jalan, macet?”
“Nggak, Pak. Jalanan cukup lancar tadi” jawab Hafiz.
“Tumben sekali weekend jalanan tidak macet”
“Mungkin orang-orang lebih senang berada di rumah, Pak, dari pada jalan-jalan keluar” jawab Hafiz.
“Ya, bisa jadi itu!”
“Ayah ganti baju dulu, kita makan siang bersama habis ini, kalian jadi menginap kan?” Tanya Abbas.
“Jadi dong Yah, kalau gak nginap bisa remuk badan Fiya, capek di jalan!”
“Bisa saja kamu, ya sudah, Ayah tinggal ke dalam dulu ya!” Pamit Abbas lalu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar untuk mengganti pakaiannya.
“Ibu ke dapur dulu” kali ini Mira yang berpamitan menuju dapu untuk menyiapkan makan siang keluarganya.
“Aku bantuin Ibu dulu ya, kamu tungguin Ayah disini sendiri gak apa-apa kan?” Tanya Fiya.
“Nggak apa-apalah, ya udah bantuin Ibu sana!” Suruh Hafiz.
Safiyya pun menyusul Mira ke dapur untuk membantu snag Ibu menyiapkan makan siang mereka. Sedangkan Hafiz terduduk di ruang tamu dan meminum jamuan yang di sediakan oleh Mira tadi. Tidak bisa di pungkiri bahwa dirinya merasakan haus dan juga lapar, karena saat perjalanan tadi mereka tidak makan apa-apa lagi selain roti yang Fiya bawakan tadi.