Secret 3

1004 Words
Safiyya masih menantikan pengumuman, apakah dia lolos tes kemarin atau tidak. Jika dia lolos tes online kemarin maka dirinya harus berangkat ke Jakarta untuk melakukan tes secara langsung di Universitas. Seharusnya hari ini sudah ada hasil nya dan akan di umumkan oleh pihak sekolah, tetapi sudah hampir jam 10 siang belum ada kabar apa pun yang Safiyya terima, membuat gadis itu menjadi galau.   Di sisi lain Zarina sedang bersantai di atas tempat tidur dengan sebuah drawing book di hadapan nya dan pensil yang sedang menari indah di atas kertas, apalagi kegiatan Zarina kalau bukan menciptakan sebuah hasil karya nya.   "Jangan galau mulu Fiya, gue yakin lo pasti lolos tes kemarin, dan kita akan meluncur ke Jakarta." Ucap Zarina tanpa mengalihkan perhatian nya dari kertas yang tengah di coret-coret.   Helaan nafas Safiyya keluarkan lalu menatap Zarina yang sedang asik menciptakan sebuah maha karya. Tak lama terdengar bunyi chat masuk pada grup sekolah nya.   Tring...   Selamat siang murid-murid. Berikut beberapa nama yang 'Lolos' tes online kemarin.   Jantung Safiyya berdetak tidak karuan, seperti sedang bertemu dengan sang mantan. Gadis manis itu mencari nama nya di antara beberapa nama murid di sekolah nya.   Kaget bukan main saat dirinya menemukan naman Safiyya Yasna di antara beberapa murid yang lolos tes kemarin, matanya seketika membulat sempurna, mulutnya menganga dan detik selanjutnya dirinya berteriak seraya melompat-lompat dan berhambur memeluk Zarina yang tengah asik dengan dunia nya.   "Huwaaa.. gua lolos Na, gua lolos.. yeay .. yeay, Ibuuu! Fiya lolos" teriak nya bahagia dari dalam kamar. Mencium pipi Zarina yang masih terpaku karena maha karya nya hancur akibat Safiyya yang dengan bar-bar memeluk dirinya.   Safiyya melepaskan pelukan pada tubuh Zarina dan langsung berlari mencari sang Ibu, dia ingin menceritakan kebahagiaan nya ini.   Brukk   Suara pintu yang di buka dan tertutup secara tidak santai membuat Zarina terlonjak kaget.   "Kamvrt si Safiyya!" Kesal nya karena Safiyya benar-benar membuat dirinya naik pitam.   "Ibuu!!" Teriak Safiyya saat sudah berada di luar kamar.   "Ibuu!" Teriak nya kembali karena tidak ada jawaban dari sang Ibu, Mira.   "Ih, Ibu kemana sih!" Safiyya mondar mandir mencari keberadaan Ibunya.   "Berisik Fiya! Lo ngapain manggilin Ibu sih, udah tahu Ibu lagi ngurusin Chatering hari ini" ujar Zarina sedikit kesal dengan ulah Safiyya. Membuat Safiyya memukul jidatnya sendiri, dia lupa kalau hari ini Ibunya akan mengurus usaha chatering kecil-kecilan milik sang Ibu.   "Ya ampun gua lupa, hehe" kekeh nya tanpa berdosa sama sekali.   Zarina menatap tajam Safiyya yang dengan santainya bilang lupa setelah teriakan menggelegarnya tadi dan juga menyebabkan hasil karya nya hancur sudah.   "Aaah pokok nya gua seneng banget Na!" Ujar nya kembali seraya mengenggam kedua lengan Zarina dan melompat-lompat dengan menaik turunkan lengan dirinya juga Zarina.   Gerakannya terhenti lalu menatap Zarina dengan tatapan kebahagiaan yang terpancar jelas di wajahnya "Gua harus siap-siap di suruh ke Sekolahan sekarang!" Ujar nya lalu melangkah kan kaki jenjang itu menuju kamar dan mengganti pakaiannya, karena saat ini dirinya tengah memakai pakaian rumahan.   Safiyya sudah rapih dengan pakaiannya, juga tas yang dia selempangkan pada bahunya.   "Na, gua ke Sekolah dulu ya, nanti tolong bilangin ke Ibu sama Ayah kalau mereka udah balik. Jangan lupa ya, Assalamualaikum" ucap nya panjang lebar membuat Zarina hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Gadis dengan kaos putih dan jeans hitam itu pun berlalu pergi meninggalkan rumah dengan segera.   Setelah kepergian Safiyya, Zarina menghungi sang Papa bahwa dirinya akan masuk Universitas yang sama dengan Safiyya tetapi berbeda jurusan. Yahya pun menanggapi nya dengan bahagia, pria paruh baya itu akan mengurus semua nya dari negeri orang ini.   Padahal Zarina sedikit berharap bahwa sang Papa bisa pulang terlebih dahulu untuk memberikan nya pelukan karena sudah lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) dan akan melanjutkan kuliah. Berharap sang Papa bisa mengurus segala nya secara langsung, tetapi itu hanyalah ketidak mungkinan yang akan terjadi.   Zarina mengembuskan nafasnya, fasilitas di rumahnya begitu lengkap dan terdapat ART yang bekerja di rumahnya, per ekonomian nya pun berbeda jauh sekali dengan Safiyya, kendaraan pun berjejer di garasi rumahnya, tetapi semua itu tidak membuat nya merasakan kebahagiaan.   Berada jauh dari sang Papa yang berada di Negeri orang dan Mamanya yang juga sudah pergi meninggalkan gadis malang itu untuk selama-lamanya. Membuat nya menjadikan kurang kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tua nya terutama sang Papa yang masih ada tapi terasa tidak ada baginya.   Zarina justru mendapat kan semua nya itu dari keluarga sahabatnya, rasa ke keluargaan, perhatian, kasih sayang orang tua, kebahagiaan, dia peroleh dari keluarga kecil sahabat nya ini.   Gadis itu merasa beruntung bisa di pertemukan dengan sosok Safiyya, kebahagiaan yang di berikan oleh keluarga Safiyya adalah hadiah dan anugerah terindah yang telah Engkau berikan kepada gadis itu.   "Assalamualaikum" salam Abbas dan Mira bersamaan   "Waalaikumsalam, Ibu, Ayah sudah pulang?" Tanya heran Zarina karena biasanya Mira akan pulang sore jika sedang mengurus chstering nya.   Ayah Safiyya dan Mira pun tersenyum dengan kepala yang di anggukan. "Dimana Safiyya, Na?" Tanya Mira seraya berjalan menuju meja makan mengambil gelas lalu menuangkan air mineral ke dalam gelas, setelah terisi Mira membawanya dan memberikannya kepada sang suami.   "Safiyya ke sekolah, Bu"   "Ke sekolah? Ada apa?" Tanya Abbas   "Fiya lolos tes kemarin Yah dan dia di suruh datang ke sekolah" tutur Zarina membuat kedua orang Safiyya mengucapkan syukur atas pencapaian sang putri semata wayang mereka.   "Alhamdulillah!" Ucap keduanya dengan raut wajah bahagia   "Kamu, mau ambil Universitas yang sama dengan Safiyya, Na?" Tanya Abbas   Zarina menganggukan kepalanya "Iya, Yah. Aku mau satu Universitas sama Fiya, hanya beda jurusan saja nanti" jawabnya   "Papa kamu akan pulang, Na?" Tanya Mira   Raut wajah Zarina berubah menjadi sedikit murung dengan kepala yang di gelengkan. Mira yang paham akan perasaan Zarina menatap sang suami lalu beranjak menghampiri Zarina dengan memasang senyuman dan mengangkat dagu Zarina dengan jemari nya.   "Biar nanti Ibu sama Ayah yang urus pendaftaran kamu ke Universitas, jangan sedih gini muka nya" ujar Mira penuh kelembutan   Zarina menatap wajah Mira dengan mata yang sudah berkaca-kaca dan siap meluncurkan cairan bening di sudut matanya, lalu memeluk Mira dengan erat.   "Makasih banyak ya Bu!" Ucap Zarina, Mira pun mengangguk di sela pelukan mereka seraya mengelus lembut punggung Zarina yang dia sudah anggap sebagai Putrinya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD