Safiyya dan Zarina sudah berada di sekolah, mereka sedang menunggu pengumuman dari guru bidang akademik yang mengurus para siswa/siswi untuk melakukan tes SMPTN (Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri).
Sebenarnya hanya Safiyya saja yang akan melakukan tes, untuk Zarina dia tidak akan mengukuti tes ini seperti yang gadis itu katakan, bahwa dirinya tidak akan mampu bersaing dengan otak nya yang pas-pasan.
"Duh lama, ke kantin dulu yuk haus nih gue!" Ucap Zarina karena bosan menunggu ke datangan guru yang sedang mereka nantikan.
Safiyya menganggukan kepala karena dirinya pun merasakan bosan terlalu lama menunggu tetapi yang di tunggu tak jua datang.
"Bentar!" Ucap nya pada Zarina lalu menghampiri salah satu temannya.
"Vit, kalau Pak Gun datang kabarin gua ya telpon atau chat, gua mau ke kantin dulu" ucapnya pada Vitri teman satu kelasnya yang juga sedang menunggu kedatangan Pak Gun
"Oke Fiya!" Safiyya tersenyum ketika mendapatkan jawaban dari Vitri dengan Ibu Jari yang gadis itu angkat.
"Makasih ya!" Safiyya pun menghampiri Zarina kembali menggandeng tangan Zarina dan berjalan menuju kantin sekolah.
Kedua gadis cantik itu mengambil jajanan berupa snack ciki kentang, coklat dan dua kotak s**u dengan rasa yang berbeda vanilla untuk Zarina dan coklat untuk Safiyya. Setelah nya mereka mendudukan diri di kursi pojok dekat kaca yang menyuguhkan pemandangan taman sekolah.
"Fiya, gak usah repot-repot ikutan tes deh, udah kita langsung daftar aja biar Papa yang urus?" Ujar Zarina bukan karena dia tidak percaya dengan kemampuan dari sahabatnya itu tetapi dia merasa kasian ketika Safiyya harus menunggu seperti ini terlebih lagi nanti dia harus menunggu pengumuman dan harus tes lagi nanti.
Safiyya tersenyum setelah menyeruput s**u kotak ditangan "Gua mau berusaha dulu Na, lagian gua gak mau repotin Papa lo dan lagi pula biaya kuliah itu mahal gua gak mau Ayah sama Ibu kepikiran nanti sama biaya kuliah gua" ujar Safiyya membuat Zarina mengembuskan nafas kasarnya.
"Safiyya sayang denger ya, lo gak usah mikirin soal biaya dan juga jangan mikir lo bakal bikin Ayah sama Ibu kepikiran, semua biaya kuliah lo di tanggung sama Papa"
Lagi-lagi gelengan kepala Safiyya tunjukan "Makasih loh Na, tapi gua mau berusaha dulu dengan kemampuan yang gua punya, dan lo kaya gak kenal Ayah aja, beliau gak akan mungkin nerima gitu aja. Dan gua pengen apa yang gua capai esok hari itu atas perjuangan dan usaha gua" jelasnya membuat Zarina tidak bisa memaksa Safiyya. Karena jika Safiyya sudah bertekad sesuai keinginan nya maka akan sulit untuk menggoyahkan itu semua.
Mereka asik dengan camilan di atas meja sampai bunyi ponsel Safiyta mengalihkan perhatian keduanya, dengan segera Safiyya mengangkat panggilan masuk begitu melihat nama Vitri yang tertera di laya ponsel nya
"Hallo, Vit?"
"..."
"Oh, oke gua ke ruang lab komputer sekarang, Thanks ya!"
"..."
Dan panggilan pun terputus. "Gua ke ruang lab komputer dulu ya, lo mau ikut apa nunggu disini?" Tanya Safiyya dengan tangan yang sibuk memakai tas gendong pada punggung nya kepada Zarina yang asik dengan camilan dan ponsel dengan merk buah apel yang tergigit ulat itu.
"Gue tunggu sini aja!" Jawabnya tanpa mengalihkan pehatian nya pada benda pipih itu yang menampilkan sosok pria-pria tampan di sana.
"Ya udah!" Safiyya pun sedikit berlari menuju ruang lab komputer. Karena tes pertama akan di lakukan secara online di sekolah masing-masing.
Sesampai nya di depan ruang lab dengan nafas yang terengah-engah Safiyya langsung bergegas masuk dan mencari tempat yang kosong, tak lama dirinya terduduk Pak Gun pun datang untuk memberikan intruksi kepada para siswa/siswi nya.
Keheningan menyelimuti ruangan ini, mereka semua khusu dengan apa yang ada di layar komputer. Semua sibuk dengan jari mereka yang menari di atas keyboard . Karena jika tahap ini mereka lulus seleksi makan mereka akan melanjutkan tes di kampus pilihan mereka masing-masing.
Hampir satu jam lebih mereja sibuk di depan layar komputer.
"Semoga hasil nya bisa membanggakan serta mengharumkan nama sekolah kita" ujar Pak Gun sebelum pergi meninggalkan ruang lab ini.
"Baik, nanti kalau sudah keluar pengumumanya Bapak akan beritahu pada kalian semua. Oke tetap semangat. Bapak permisi" pamit nya kepada siswa/siswi disini.
"IYA PAK!" Seru mereka yang berada di ruangan ini.
Lantas mereka membubarkan diri dan pergi dengan urusan masing-masing. Safiyya menghampiri Zarina yang masih setia menunggu dirinya di kantin.
"Duaar!" Teriaknya menganggetkan Zarina yang asik dengan ponsel di tangan
"Loh udah beres aja sih, sebentar banget?" Ujar Zarina membuat kedua mata Safiyya membulat dengan sempurna.
"Ngaco! Sebentar dari mana sih. Udah ah ayok pulang gua udah capek banget" ucap nya karena dirinya benar-benar lelah. Tanpa banyak kata Zarina berdiri mengikuti langkah Safiyya keluar dari lingkungan sekolah dan kembali ke rumah.
Keduanya sudah tiba di rumah Safiyya, rumah sederhana yang penuh kehangatan keluarga.
"Assalamualaikum" salam keduanya begitu memasuki rumah.
"Waalaikumsalam" jawab Mira dengan sedikit berteriak karena berada di dapur.
Kedua gadis itu pun melangkahkan kaki mereka menuju dapur dimana Mira berada.
"Bu, udah sibuk di dapur aja" kata Safiyya sambil menyalimi tangan Mira bergantian dengan Zarina
"Sebentar lagi kan Ayah pulang, dan sudah waktu nya makan siang juga." Jawabnya
"Kalian mandi dulu, ganti baju nsnti kita makan siang bersama" ujar Mira kepada kedua gadis berseragam Putih Abu itu.
Safiyya dan Zarina pun berjalan menuju kamar mereka, Safiyya lsngsung meraih handuk nya dan membawa baju ganti sedangkan Zarina malah mendaratkan tubuh nya di atas kasur empuk Safiyya.
"Jangan merem dulu lo, mandi dulu baru merem deh tuh!" Ingatkan Safiyya karena Zarina ini akan muncul rasa malasnya jika sudah berhadapan dengan kasur seperti ini.
"Hm" deheman Zarina pun terdengar di telinga Safiyya yanng melangkah menuju pintu kamar.
Tak lama Safiyya selesai dengan mandinya dan saat ini dirinya mengikuti Zarina yang sedang terbaring di atas kasur.
"Mandi dulu sana!" Kata Safiyya pada Zarina namun tidak ada jawaban apapun dari Zarina dan sidah bisa Safiyya pastikan bahwa sahabat nya ini sudah terlelap sedari tadi.
Safiyya hanya bisa menggelengkan kepala begitu melihat nafas yang teratur pada Zarina dan mata yang sudah terlelap pada alam mimpinya.
Safiyya yang merasakan kantuk menyerang matanya pun segera menyusul Zarina di alam mimpi, tanpa sadar dirinya pun terlelap dan menyusul Zarina yang sudah berada di alam mimpi, dengan tangan yang memeluk guling membuat kenyaman pada tidurnya.