Part 7

1032 Words
Seminggu sudah Arif beristirahat dirumah, ia mulai bosan hanya makan dan tidur tanpa aktifitas lainnya, sudah rindu rasanya suasana pasar, jajanan pasar, nasir rames, pecel lontong dan canda tawa sesama pedagang. Ia membersihkan diri dan bersiap untuk pergi ke pasar hanya untuk survei, melihat lihat suasana pasar dan mengecek data pesanan offline dan online. "Sudah rapi sekali, apa hari ini mau kepasar pak,Sudah lebih baik kah kondisimu sekarang? Kok sudah mulai ke pasar lagi apa pinggangmu gak sakit" Cecar Lastri pada suaminya yang sudah rapi dan duduk di meja makan untuk sarapan pagi. "Iya bu, aku dah bosen dirumah terus kerjaanya cuma makan tidur badanku malah pada pegel semua gak cuma yang bekas operasian tapi seluruh badan rasanya kaku, aku cuma sebentar kok nanti di pasar cuma mo liat warung sama ketemu temen pasar, kangen dah lama gak ketemu" "Oh ya sudah kalau gitu, kirain dah mo kerja lagi. Perlu aku temenin gak nih sekalian aku pengen beli kebutuhan dapur juga" "Boleh, yasudah sana siap-siap cepetan. Zaina diajak sekalian kasian kalo dititipin ke mbahnya lagi" "Iya.... " Sahut Lastri dari kamarnya. "Zaina ayok nduk mandi dulu kita mau jalan-jalan kepasar nemenin bapak" Lastri memandikan Zaina dan mempersiapkan segala sesuatunya yang perlu dibawa ke pasar. "Ayok pak kita dah siap" "Owh ya ... Yuk berangkat" Sambil menggandeng Zaina, Arif bergegas keluar. Mereka ke pasar naik motor, kali ini bukan Arif yang didepan melainkan Lastri yang mengendarai motornya karna Arif belum pulih benar. Hari menjelang sore Arif mengajak istri dan anaknya pulang, jam menunjukkan pukul tiga sore. Toko akan tutup jam empat sore, ada tiga karyawan yang masih beberes mengurus barang yang baru datang. "Yuk kita pulang Zaina, dah sore nih bapak dah capek ... Masih belum sehat betul" Ajak Arif pada anaknya, namun sebenarnya ditujukan untuk Lastri yang sedang memangku Zaina. "Ya sudah kita pulang dulu, besok gampang kesini lagi, kamukan masih harus banyak istirahat pak" Lastri yang mengerti arah pembicaraan Arif segera beranjak dari duduknya dan mengajak pulang suaminya. Sesampainya dirumah Arif segera membersihkan diri begitupun juga dengan Lastri dan Zaina. Arif bersiap ke masjid untuk sholat ashar sementara Lastri duduk diteras ditemani Zaina. "Aku pergi dulu ke masjid ya ... " "Iya... " Jawab Lastri singkat. "Zaina sayang ... Bapak mo ke masjid kamu ikut nggak? " Arif menawari putrinya untuk ikut ke masjid "Gak lah pak aku mau main aja sama temenku Dwi mo sepedaan" Jawab Zaina. "Oh ya sudah ... Kirainmo ikut wong biasanya kamu nginthili bapak ke masjid, hati-hatiya nanti main sepedanya. Bapak berangkat dulu" Arif berangkat ke masjid dengan berjalan kaki. Dijalan ia berpapasan dengan Zamil. Mereka ke masjid bareng. "Rif ... Aku mo ngomong sesuatu tapi takut salah, kalo gak ngomong lebih salah lagi jadi bingung ... " "Mo ngomong apa sih mas kok kayaknya serius gitu, ngomong aja jangan sungkan kaya sama siapa" "Tapi ini maaf lo yaaa rif, aku mo cerita soal desas desus selentingan kabar soal istrimu si Lastri. Katanya kamu kecelakaan karna lagi nyari dia yaaa ... Memangnya kemana istrimu saat itu Rif" "Oh itu mas, dia ketemuan sama temennya mo bahas arisan katanya, diaudah jelasin semuanya ke aku kok, dah clear semuanya" "Ehmmmmm gitu ya... Tapi ini maaf ya Rif kata istriku itu tetangga sebelah desa ada yang liat istrimu sama laki-laki lain loh lagi makan berduan gitu dan keliatannya mesra loooh. Maaf yaaa " "Iya ga papa mas, kapan itu kejadiannya? Sudah lama atau baru kemarin? " "Ya itu dah lama si Rif dari sebelum kamu kecelakaan, katanya dia naik ke mobil si lelaki itu dan turun dipinggir jalan" "Oh gitu ya ... Coba nanti aku selidiki apa benar itu Lastri, sama siapa dia? ' Tanpa terasa mereka sudah sampai di depan masjid. Hati Arif masih bimbang apakah Lastri menghianatinya atau tidak. Dirumah dia selalu bersikap manis dan tidak mencurigakkan, sikapnya wajar seperti biasa. Tidak ada yang aneh dan berubah. Ting ... Bunyi notifikasi pesan masuk di hape Lastri. "Lagi apa sayangkuh ... Gimana kondisi Arif" Lastri tersenyum membaca wa dari Wira, dia dengan cepat membalas chatnya Wira. "Alhamdulillah baik ay ... Arif dah mendingan sekarang, hari ini dia ke pasar tapi aku yang nganterin sama Zaina juga ikut, kita pulang jam tiga tadi. Kamu lagi dimana? " "Masih kerja ini ... Kapan kita ketemu lagi, Mas dah kangen banget sama kamu, dari kemarin kamu sibuk terus ngurusin si Arif" Balas Wira, tak lupa dia menambahkan emoticon sedih dan menangis. Lastri tersenyum sendiri saat membaca balasan Wira, dia membayangkan wajah Wira yang sedih dan membuatnya ketawa karena lucu. Wira terkadang kekanak kanakan kalau sedang bersamanya, manja dan itu yang selalu membuat Lastri susah melupakkan Wira dan selalu terbayang wajahnya di pelupuk matanya. "Lagi wa sama siapa bu kok kayaknya seneng banget sampai gak nyadar kalau aku dah didepanmu" Tanya Arif menyelidik. "Aaaah biasa ... Dari temen ajah. Ngajak ketemuan lagi bahas yang kemarin, karena belum selesai hari dah sore jadi pada pulang takut kemaleman di jalan" Jawab lastri berbohong pada suaminya, seulas senyum manis tak lupa ia sunggingkan untuk suaminya. Ia mengekori Arif yang masuk ke dalam rumah dan mengambil sajadah dari tangan suaminya untuk diletakkan di mushola kecil rumahnya. "untuk makan malem kamu pengen makan apa pak? " Arif tidak menyahut dan hanya diam saja sambil berjalan menuju ruang tengah dan duduk termenung disana. Pikirannya terganggu dan hatinya gelisah sejak bertemu Zamil dijalan tadi waktu mau ke masjid sholat ashar. "pak, ditanya kok diem aja? mo makan apa buat makan malam nanti? malah melamun sore-sore gini, gak baik tau .. . " "eh iya .. . gimana .. . gimana .. . kamu ngomong apa tadi? " "mo makan apa buat makan malam? apa baso langganan aja biar seger, cuaca mendukung lagi .. . buat makan baso" "boleh deh, gerimis kayaknya ya diluar? untunglah tadi gak kegerimisan pas pulang dari masjid" "iya gerimis .. . cucok inih buat makan baso biar anget gak kedinginan, Zaina pasti suka banget." "coba kamu wa aja biar disisain buat kita, takutnya habis dijalan kalau gak kasih kabar pak gendut" "oke siap bos, laksanakan" Arif melihat istrinya yang gembira dan terlihat baik-baik saja hatinya seolah menyangkal jika Lastri menghianatinya lagi seperti beberapa tahun yang lalu. Dia mencoba untuk berdamai dengan hatinya walaupun sulit dirasa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD