HMD - 4 (KENYATAAN MASA LALU)

2061 Words
Gavin segera menutup layar ponselnya. Yang masih menampilkan gambar yang membuatnya makin penasaran. Ia bukan tak lupa, tahun itu, tahun dimana ia meninggalkan Dara dan mengejar impiannya dan sekarang ia benar-benar menjadi sukses. Tapi melihat itu, rasanya gak mungkin kan Dara bermain dengan lelaki lain dibelakangnya?. Gavin termenung. Ia mengingat satu hal, dimana ia dan Dara melakukan itu, untuk pertama kalinya. Tapi Gavin tidak tahu, apa perbuatannya dengan Dara menghasilkan malaikat kecil apa tidak. Karena Gavin pergi begitu saja tanpa sudi mendengarkan Dara yang saat itu memintanya untuk tidak pergi. Apakah itu.... Anaknya dan Dara? Gundukan itu memang terlihat seperti makam. Kalau benar, berarti ia benar-benar manusia yang pantas untuk Dara lukai sampai ia puas. Lelaki b******n sepertinya hanya bisa merampas kebahagiaan seorang wanita yang dicintainya, meninggalkannya tanpa perduli bagaimana perasaan wanitanya. Gavin memijit kepalanya yang pusing, dan semua itu terlihat oleh mata Sheila. Sheila khawatir, ingin bertanya namun takut Gavin malah marah padanya. "Kamu, pusing Vin?" tanya Sheila. "Iya. Pusing berat, ada obat pereda sakit kepala nggak La?" tanya Gavin. "Sebentar" ucap Sheila merogoh tasnya, dan menemukan obat pereda sakit kepala yang biasanya ia telan ketika sedang pusing berat, "Ini Vin" Sheila menyerahkan sekaplet obat pereda sakit kepala beserta sebotol air mineral dihadapannya dikantong kursi kemudi Supir mereka. Gavin menerima obat dan sebotol air mineral yang diberikan Sheila. Lalu mengambil obat itu 2 biji, tanpa berpikir panjang menelannya seperti orang kelaparan. Sheila sudah hendak protes, namun melihat Gavin yang setelah menelan obat bersandar pada kursinya sambil memejamkan matanya mengurungkan niat untuk memarahi lelaki yang jadi artisnya, sekaligus orang yang ia cintai diam-diam selama ini. Gavin sosok yang ia suka selama 4 tahun mereka bekerja sama, meski Sheila adalah managernya, Gavin juga kadang melindungi Managernya ini dari serangan wartawan, yang terlalu bar-bar. Orang yang mengerti Sheila orang yang seperti apa.... Ya Gavin. Sheila tau, perasaannya mungkin salah. Banyak orang yang mengagumi dan memuja lelaki ini. Bahkan banyak orang yang lebih pantas disisi Gavin, lebih darinya. Tapi Sheila tak pernah bisa menghapuskan perasaan ini, malah semakin hari semakin bertambah, siapa tau Gavin memang menyukainya namun tidak berani mengatakannya demi kenyamanan seorang Manager seperti Sheila. "La, bantuin gue dong" ucap Gavin sambil memejamkan matanya. "Tolongin apa Vin?" tanya Sheila penasaran. "Tolong cariin mata-mata atau detektif paling bagus, yang Lo kenal ya" ucap Gavin. "Buat apaan Vin? Kamu mau nguntit cewek?" tanya Sheila menebak. "Gue perlu mata-mata bukan buat Lo tanya-tanya La. Tolong cariin gue secepatnya kalau bisa" ucap Gavin. "Oke" ucap Sheila segera mengambil ponselnya dan menelpon seseorang, sambil menelpon ia melirik Gavin yang masih memejamkan matanya bersandar dikursi mobil, setelah cukup lama berbincang, Sheila mematikan telponnya. "Gimana?" tanya Gavin matanya terbuka menatap Sheila sambil tetap bersandar. "Besok, kamu aku anterin ketemu dia" ucap Sheila. "Ok thanks banget ya La" ucap Gavin tersenyum. "Sama-sama Bos" ucap Sheila tersenyum membalas senyuman lelaki yang makin membuatnya jatuh cinta ini. Gavin kembali memejamkan matanya. Berharap kepalanya akan berhenti sakit sesudah ia sampai rumah nanti. ~ Dara sudah mengirimkan lokasi rumahnya lewat chat pribadinya bersama Kenan. Tak lama, deru mobil parkir di depan halaman rumah Dara. Dara yang sudah siap memakai dress selutut dengan lengan se-sikut model balon bermotif bunga-bunga putih dan dress tersebut berwarna Navy. Pas sekali ditubuh Dara. Setelah mengikat satu kuncir kuda tinggi-tinggi dan membiarkan poninya tetap on menutupi jidatnya, Dara keluar dengan tas selempang berwarna hitam, tak lupa ia mengenakan Stiletto lancip 10 cm berwarna hitam. Sedikit berjalan cepat ia membuka pintu. Ia hampir terjengkang kaget karena Kenan sudah di hadapannya membawa beberapa plastik besar yang Dara yakini tidak murah, banyak Snack, s**u UHT kotak beberapa kotak, dan juga plastik berisi sekotak kue brownies terkenal khas Bandung berisi 3 varian rasa didalamnya. "Ini buat Orang tua kamu Ra...." ucap Mas Kenan. Dara menerima dengan wajah cengo kebingungan. "Orang tua kamu lagi enggak ada di rumah?" tanya Mas Kenan memastikan. Dara menggeleng, "Gak ada Mas". "Oh ya sudah, yuk kita berangkat, nanti biar pulangnya enggak terlalu larut malam Ra. Enggak enak saya ajak anak gadis malam malam" ucap Mas Kenan. Dara mengikut langkah Kenan setelah mengunci pintu utama rumahnya. ~ Dara dan Kenan sudah tiba di Panti Asuhan yang menjadi tujuan Kenan bulan ini, atas saran dari Asisten di Restorannya, karena setiap bulan Panti Asuhan yang mendapat dana bantuan dan nasi kotak berbeda-beda. Asisten harus teliti mendata dan jangan sampai ada yang tidak kebagian mendapatkan nasi kotak, paket sembako, dan dana bantuan atas nama Kenan, Almarhum Yoga dan Keluarga mereka berdua. Sambil membagikan paket nasi kotak dan sedikit cemilan coklat serta s**u kotak kecil pada Anak-anak, Dara tersenyum melihat antusiasnya Anak-anak itu menerima bingkisan dari Dara yang juga kebagian tugas membagikan makanan tersebut. Kenan tak lupa mengabadikan momen itu ke dalam ponsel berkamera tiganya. Setelah puas membidik model cantiknya, ia kembali memasukkan ponselnya ke saku celananya. Ia segera mengambil amplop cukup tebal dari tasnya, dan langsung menyerahkannya kepada kepala Yayasan panti. "Terimakasih Nak Kenan, semoga Allah selalu memberikan Rezeki yang tidak putus, kebahagiaan yang terus datang, dan berjodoh dengan Nak Dara" ucap Ibu kepala Panti, Ibu Siti. "Ibu, jangan keras-jeras Bu, nanti ketahuan Dara. Saya kan belum pacaran Bu" ucap Mas Kenan cengengesan. Mencium tangan Bu Siti hormat. "Gapapa kedengaran, biar cepat halal" ucap Ibu Siti bergurau menepuk-nepuk pundak Kenan bangga. "Semoga bermanfaat yah Ibu, nanti setelah listnya sudah dapat semua, kita rolling ulang lagi Ibu. Tapi Inshaa Allah, lancar dan makin banyak nambah yang membantu saya menjalankan kegiatan tiap bulan ini ya Bu" ucap Mas Kenan. Dara memandangi Kenan yang memang terlihat berhati malaikat, dengan senyuman dan sifat ramahnya, Ibu Siti sampai menepuk pundaknya, bangga. Seandainya kala itu Gavin seperti Kenan, mungkin sekarang mereka sudah menikah dan punya 2 anak. Tapi itu semua hanya mimpi semata. Sosok Gavin gak akan pernah berubah. Sampai kapanpun. Dan Dara selamanya akan membenci lelaki itu. Lelaki b******k yang menyulitkan hidupnya. ~ Setelah selesai acara selesai, Dara dan Kenan segera berpamitan dengan semuanya. Dara bersyukur bisa ikut acara ini. "Mas, itu ada donatur lain selain Mas Kenan?" tanya Dara penasaran mereka sedang berjalan menuju mobil Kenan untuk pulang. "Ada Ra, sekitar 10 orang sama saya termasuknya" jawab Mas Kenan. "Ada minimalnya? Atau semacam berbagi tugas yang bayar nasi kotaknya siapa, snack-snacknya siapa, dan uang tunai siapa?" tanya Dara makin penasaran. "Kadang begitu Ra, yang pegang uangnya secara detail teliti belum ada. Saya cuman terima transferan, saya cairkan, saya dan asisten yang urus. Kamu mau bantu pegang keuangannya? Tiap bulan kamu ikut tur ke Panti-Panti yang lain". "Saya mau, dan saya juga mau jadi donatur, tapi donatur yang enggak besar Mas, sedikit aja gak sampai setengahnya uang Mas Kenan" ucap Dara. "Enggak masalah, malah uang kamu malah nambah berkahnya, rezekinya makin lancar. Percaya deh, bulan awal kamu ikut 200 ribu, bulan depannya kamu jadi naik 300 ribu bahkan 500 ribu. Ada aja rezekinya" ucap Mas Kenan antusias, "Gak apa-apa kok Ra kamu gak ikut jadi donatur apabila ada uang lebih meski 50 ribu pun itu sudah berarti bagi mereka yang membutuhkan Ra....". Dara benar-benar takjub dengan sosok Kenan atasannya ini. Wajah tampan, tubuh proporsional, cool, ramah, baik hati. Dara semakin nge-fans dengan atasannya ini. ~ Dara sudah siap dengan baju jumpsuit denim lengan baju sesiku, dibagian pinggangnya karet, celananya panjang semata kaki. Dara biarkan rambutnya dikuncir kuda agar rapi, poninya yang biasanya bertengger on, kini ia biarkan kesamping dulu. Ikat rambutnya kebetulan berpita jadi bagian atas kepalanya nampak pita hitam menambah kesan muda sosok Dara. Ya, seperti yang dijanjikan Dimas kemarin, mereka akan bertemu dan berkumpul dengan rekan yang lain, yaitu Via, Devan, dan Erlin. Dara bukannya nyaman dijemput, sebenarnya ia bisa pergi dengan motor scooter maticnya menuju tempat yang dijanjikan, tetapi Dimas tidak setuju dan bersikeras menjemputnya, mau tak mau Dara setuju dia dijemput Setelah mengirimkan lokasi alamat rumahnya pada Dimas, Dara menunggu kedatangan lelaki itu yang memang sudah berjanji menjemputnya. Dengan tas Sling bag hitam simpel berisi dompet dan handphonenya. Dara menunggu didepan Rumahnya. Sengaja diluar, karena takut Dimas menanyakan siapa yang ada dalam rumah ini. Dara bisa mati kutu kalau rekan kerjanya tahu masa lalunya, diusir dari rumah, dihapus dari Kartu keluarganya serta tidak dianggap anak lagi. Hidup sebatang kara dan masa lalunya memalukan. Siapa yang akan berteman dengan perempuan kotor, yang sudah pernah keguguran dan ditinggal pergi Kekasihnya?. Ia tak ingin masa lalunya terbuka lagi disini. Cukup sampai disana saja masa lalunya, biarkan ia hidup tenang disini. Meski hati kecilnya merindukan kasih sayang dan pelukan hangat kedua orang tuanya. Satu-satunya harta yang ia punya. Klakson mobil berhenti tepat didepan pekarangan rumah minimalis milik Dara ini. Rumah yang ia beli dari hasil kerja kerasnya. Pekarangannya sengaja ia tanami rumput sintesis, karena Dara takut malas ketika membersihkan pekarangan rumahnya. Dibagian depan teras, ada beberapa pot bunga berisi bunga palsu, namun hanya sedikit. Daripada mati karena tidak dirawat, jadi Dara sengaja membeli bunganya pun bunga palsu, sengaja dipajang disana agar terlihat makin cantik. Menambah kesan rapi dipekarangan. Segera Dara menghampiri mobil Pajero milik Dimas. Dimas segera keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Dara disampingnya. Dara mengira, sudah ada semua teman Dimas didalam mobil. Ternyata hanya dirinya yang baru dijemput Dimas. Mengerti arti raut wajah Dara yang kebingungan mencari rekannya yang lain. Dimas pun berucap bahwa Devan dan Via ada janji, sementara Erlin juga ada urusan. Jadinya Dimas menjemput Dara saja. "Gak apa-apa kalau kita pergi berdua Mas Dimas?" tanya Dara setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil. "Gak apa-apa kok Ra. Jangan panggil Mas. Panggil nama aja ya" ucap Dimas segera menyalakan mesin mobilnya, namun belum menjalankannya. "Oh maaf, oke Dim" ucap Dara. Dimas mendekati Dara, dengan jarak yang sangat dekat, Dara sampai memalingkan wajahnya. Membuat Dimas terkekeh, ia hanya ingin mengambil tali seat belt Dara, untuk dipasangkannya. "Seat beltnya Ra...." ucap Dimas meng-klik sabuk pengaman milik Dara. Dengan membetulkan posisi duduknya, "Maaf Dim, aku-". "Gak apa-apa Ra, maaf bikin kamu kaget ya" ucap Dimas segera memasang seat beltnya juga. "Sedikit...." Dara berucap jujur. "Maaf ya Ra, sekali lagi" ucap Dimas mulai menjalankan mobilnya. "Gak apa-apa Dim. Gak masalah, maaf juga kalau aku refleks dan bikin kamu merasa bersalah". "Gak apa-apa Ra. Aku yang salah, kamu sudah makan belum? Kita makan dulu yuk?". "Boleh aja Dim, kebetulan aku juga laper" Dara memegangi perutnya. Dara jujur, perutnya memang sudah lapar, tadi memang awalnya ia ingin makan dulu dirumah. Namun takut Dimas gak disangka tiba datang sewaktu makan, ia gak nyaman kalau merepotkan Dimas dan rekannya lagi untuk menunggunya makan. Lagipula nasinya hanya cukup untuk sendiri. Dara makan hanya 2 kali sehari, irit uang. Kalau boros, takut ia gak bisa beli makan diakhir bulan. Gajinya sudah lebih dari cukup, tapi Dara sadar kalau menabung juga penting, untuk masa tuanya. Ia tak pernah terpikir untuk menikah. Toh gak akan ada yang mau menikahinya dan menerima dirinya apa adanya, apalagi jika tahu masa lalunya yang menyedihkan. Hidup sendiri dengan tabungan dan mulai membuka usaha saja rasanya sudah cukup jika ia harus resign dari K Art. "Ngelamunin apa?" Dimas bertanya membuyarkan lamunan Dara. "Gak ngelamunin apa-apa Dim" ucap Dara tersenyum. "Oke, jangan ngelamun ya. Nanti kesambet" ucap Dimas membuat Dara terkekeh pelan sambil menggeleng. Dimas menepikan mobilnya disebuah Restoran. Setelah parkir dengan sempurna, Dimas membantu Dara turun dari mobil dengan membukakan pintu untuk wanita cantik ini. Tubuh Dimas benar-benar tinggi 190 cm-an, dan Dara hanya 160 cm setinggi ketiak Dimas saja. Mungil memang, tapi Dara tak perduli, toh mereka berteman, bukan pasangan. Sejak mereka masuk tadi puluhan pasang mata yang memang lagi berada didalam restoran memandang Dara dan Dimas. Entah takjub dengan pesona Dimas dan Dara. Atau karena mereka mereka mengira Dara dan Dimas adalah pasangan. Dimas memilih meja dipaling pojok. Dimas tau, Dara tak nyaman dipandangi puluhan pasang mata. Dimas segera mempersilahkan Dara duduk. Dimas lalu duduk dihadapan Dara. Pelayanan menghampiri mereka berdua, dan menanyakan apa menu yang mereka pesan. Sambil membaca menu Dara memperhatikan Dimas yang juga sedang membaca menu yang dipegangnya. "Pilih apa Ra?" tanya Dimas mengalihkan pandangannya pada Dara. "Aku, nasi goreng pedas special aja minumnya es jeruk ya" ucap Dara pada sang pelayan yang segera mencatatkan pesanan milik Dara. "Samain aja" ucap Dimas. "Oke, saya ulang pesanannya nasi goreng pedas special 2, minumnya es jeruk ya Kak?" ucap pelayan yang diangguki oleh Dimas dan Dara, "Baik. Tunggu 10 menit lagi pesanannya akan saya antar. Terimakasih". "Ok Kak, terimakasih...." ucap Dara ramah. Pelayan itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ramah, lalu permisi dari sana memberikan pesanan Dara dan Dimas pada koki resto, ia lalu melayani pelanggan yang lain. ~BERSAMBUNG~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD