HMD - 3 (SEBUAH FOTO MASA LALU)

2020 Words
"Hah?" Dara lelet jika ditanya soal status. "Kamu udah punya pacar?" tanya Mas Kenan terkekeh melihat ekspresi Dara, ia perlu jawaban bukan hanya 'Hah' saja. "Enggak punya Mas, gak ada yang naksir" ucap Dara santai, mengelap tangannya dengan tissue. Kenan dan Dara segera duduk dan menikmati makanannya dengan tenang sambil makan Kenan memperhatikan Dara yang asyik menikmati makanannya. Kenan pernah jatuh cinta. Sekali seumur hidupnya. Bukan ia tidak menyukai wanita lalu berbelok menyukai lelaki, bukan. Tetapi Kenan takut patah hati. Dan ketika melihat seorang Dara Valentina, jiwa tertantang ya cukup bersemangat, ia tahu mungkin ada beberapa lelaki yang akan menjadi saingannya. Tapi Kenan tak perduli, siapapun pilihan Dara, yang penting Kenan sudah mencobanya. Jika gagal, bukan jodoh namanya. Kalau bisa disatukan, Kenan akan sangat bersyukur. Ia yakin Mamanya juga akan menyukai Dara. Dara keheranan melihat Kenan yang melamun. "Mas Kenan, ada masalah?" tanya Dara. "Ia Ra. Masalahnya disini" tunjuk Mas Kenan pada jantung. "Mas Kenan sakit jantung? Astaga, mau dibawa ke rumah sakit?" Dara ketakutan. "Gak usah, obatnya cuman 1 kok" ucap Mas Kenan tersenyum. "Apa itu Mas?" tanya Dara mengusap Dadanya merasa lega. "Kamu jadi pacar saya" batin Kenan. "Obatnya saya aja yang tau Ra.... Kamu udah makannya?" tanya Mas Kenan. "Sudah Mas, sampai habis gak bersisa Mas. Enak semuanya" puji Dara jujur. "Kalau kamu suka datang aja kesini terus. Gak usah bayar" ucap Mas Kenan. Dara menggeleng, "Gak baik saya minta gratisan, saya ada kok uangnya. Masa disuruh gak bayar, nanti Mas Kenan rugi dong". "Kamu ini lucu banget ya, buat kamu aja, khusus!" ucap Mas Kenan. "Tapi kan...." ucapan Dara dipotong Kenan tanpa perlu menunggu Dara selesai mengucapkannya. "Gak ada tapi-tapian. Mau makan siang malam disini gak apa-apa. Mau ketemu saya disini diluar jam kerja? Saya ada, kadang jam 8 malam disini sampai jam 10 malam" ucap Mas Kenan, "Yaudah yuk kita balik". "Yuk" ucap Dara. Kenan segera menarik lembut tangan Dara, Dara pikir mungkin Mas Kenan tipe yang humble ke semua pegawai. Tapi, waktu dia tanya sudah punya pacar Dara sudah was-was. Takut Kenan jatuh cinta kepadanya. Jangan sampai terjadi dan semesta mengizinkan Kenan mencintainya. Dara tidak mau menyakiti hati laki-laki yang mencintainya. Dia bukanlah wanita baik-baik. Masa lalunya, siapa yang menerima?. Siapa yang siap menjadikannya kekasih atau bahkan pacar dan lebih parahnya menjadikannya Istri? Sementara Dara sudah tak punya apapun yang bisa dibanggakan selain sifat kuat dan pantang menyerah, dan juga.... Wajah yang lumayan cantik. Itu lumrah, cantik dimakan usia juga wajah Dara akan berubah tua, Dara tak berharap banyak dengan hidupnya dimasa depan. Baginya, cukup bisa bekerja dan hidup saja sudah cukup. Tak pantas ia bahagia padahal dirinya sudah tak berhak bahagia. “Dunia penuh kebahagiaan itu, hanya untuk manusia yang tak punya dosa….” itulah yang terbersit didalam pikiran Dara. Dan Dara, bukan manusia tak berdosa, jadi tidak berhak untuknya berbahagia. ~ Sesampainya di kantor, Kenan membukakan pintu mobil untuk Dara, bukannya keluar dari Mobil Dara malah melamun. Beberapa karyawan kantor K Art masih ada yang ada diluar kantor, dan mereka semua mengarahkan pandangan kearah Kenan yang terlihat sangat berbeda sikapnya dengan Dara. "Ngelamunin apa sih Ra?" tanya Mas Kenan, menyentuh bahu kiri Dara hingga Dara tersentak kaget, refleks menyilang kan tangannya menutupi tubuh bagian depannya. "Hey, kenapa Ra?" Mas Kenan kebingungan melihat Dara yang terlihat trauma. "Gak kenapa-napa kok Mas" Dara tersenyum kaku segera keluar dari mobil. "Kamu duluan aja Ra kedalam, saya ada urusan sebentar" ucap Mas Kenan. "Baik Mas" ucap Dara lalu menggangguk sopan ke arah Kenan, ketika Dara berbalik, Kenan memanggilnya. "Dara....". "Iya Mas?" tanya Dara heran. "Nanti besok-besok absen pakai kalung identitas ya, saya lupa kasih tau kamu. Kartu identitas kamu nanti dikalungkan dileher boleh, atau di jepit disaku seragam boleh" ucap Kenan tersenyum kikuk, melihat Dara yang ingin bertanya kartu identitasnya belum diberikan Kenan segera berbicara lagi, "Kartunya nanti ambil di ruangan saya". "Oh iya, tempat absennya di dekat mana Mas?" tanya Dara. "Di dekat pot bunga besar, dari luar kita masuk emang enggak kelihatan, jadi kamu harus fokus di dinding kiri ya" ucap Kenan mengingatkan. "Oh okey, berarti besok baru saya absen ya?". "Iya Ra" ucap Kenan, "Sudah, kamu masuk sana". "Ok saya masuk ya Mas?". Setelah Kenan mengangguk dan mempersilahkan Dara masuk, Darapun berjalan menuju kedalam kantor, Kenan melajukan mobilnya menuju ke suatu tempat. Mata Dara fokus ke samping pot bunga besar dikiri tembok putih K Art. Dan ia pun melihat mesin deteksi barcode untuk identitasnya, karena tidak ada tempat untuk absen sidik jari disini. Dara yakin mesin ini harganya gak murah. "Dara...." panggil Dimas ketika berpapasan dengan Dara yang sudah berjalan beberapa langkah, berbalik dari mesin absen. "Iya Mas Dimas?" Dara menghentikan langkahnya. "Boleh minta nomer hape kamu gak?" tanya Dimas. "Oh, boleh Mas" Dara positif thinking, berpikir mungkin Dimas perlu kontaknya kalau suatu waktu ada yang harus dibicarakan lewat chat, tanpa tatap muka. Dimas menyerahkan ponsel kamera 3 nya pada Dara, Dara ketikkan nomernya disana dan mensave dengan nama kontak 'Dara K Art'. "Ini Mas Dimas" ucap Dara menyerahkan hape Dimas kembali, Dimas menerimanya dan menaruh disaku bajunya. "Makasih Ra, kamu udah makan siang?" tanya Dimas. "Sudah Mas tadi keluar sebentar...." Dara menganggukan kepalanya, "Kalau gitu aku keruangan duluan ya Mas, permisi" ucap Dara sambil tersenyum hangat, lalu setelahnya sedikit membungkukkan badannya sopan ia berbalik berjalan menuju ruangannya. Senyum Dimas tersungging disudut bibirnya. Dimas jarang tersenyum, dan melihat Dara tersenyum manis kepadanya tadi, jantungnya makin cepat berpacu. Jangan salahkan perasaan Dimas yang terlalu cepat, hati orang siapa yang bisa mengendalikan?. "Dikasih Lo nomer hapenya?" tanya Devan menghampiri Dimas. "Iya nih" ucap Dimas menunjukan kontak dengan nama Dara. "Widihh, pesona Lo Dim, Dim!" ucap Devan heboh. "Pesona apaan?" tanya Via yang tiba-tiba datang dengan wajah penasaran. "Pesona Dimas, Beb. Ganteng banget dia" ucap Devan merangkul kekasihnya itu. "Pantes aja Erlin naksir" goda Via melirik Erlin yang ekspresinya datar saja. "Jangan gitu Beb, mereka gak saling suka, jadi jangan jodoh-jodohin orang" ucap Devan. "Via kan iseng" ucap Via manja memeluk pinggang Devan posesif. "Iya yang iseng jodohin orang tapi buktinya kami gak jadian-jadian juga satu tahun dijodohin...." celetuk Dimas bersedekap d**a sedikit risih karena Via ngeceng-in dia melulu sama Erlin. Erlin menggelengkan kepalanya menatap Via sedikit mencibir lalu berlalu dari sana. "Eh, Erlin! Tungguin aku dong!" Via menyusul Erlin dan menggamit lengan kanan Erlin sahabatnya itu. "Lo gak takut diam-diam Erlin beneran naksir Lo, Dim?" tanya Devan memandangi kekasihnya dan Erlin yang sudah menjauh dari mereka berdiri. "Gak lah, Erlin cuek. Bukan tipe dia sih gue. Erlin juga gak pernah marah kan tiap dijodohin ke gue. Kalau marah baru dia punya perasaan. Erlin kan cuek" ucap Dimas berjalan meninggalkan Devan. "Waduh! Dim gue belom selesai ngomong!" Devan menyusul lelaki tinggi itu. Dara asyik mendesign gaun rancangannya, selain pandai mempoles wajah orang, Dara juga pandai menggambar. Jika punya modal, mungkin dia juga buka usaha butik. Sekaligus restoran yang tadi ia lihat yaitu milik Kenan, bermimpi tidak salah bukan?. Dimas melewati ruangan dimana Dara berada didalam ruangan tersebut. Matanya menangkap sosok gadis cantik itu sedang asyik menggambar sesekali tersenyum melihat ke arah kertas yang ia gambar tadi, Dimas sedikit tinggi, jadi ia sedikit membungkukkan badannya melihat dari pintu kaca ruangan Dara. Kenan berjalan santai menuju ruangannya, ia harus melewati ruangan Dara dan berniat menatap gadis itu dari pintu sebentar. Belum sampai berjalan kearah sana, Kenan mengenali sosok Dimas yang tersenyum menatap ke dalam ruangan Dara berada. Ada perasaan tak suka terselip dalam hati Kenan, tapi ini di kantor, tidak sepantasnya ia menunjukan sikap yang aneh-aneh kepada karyawannya. Sambil memasukkan kedua tangannya disaku celana kiri dan kanan, Kenan menanggapi banyak sapaan dari karyawannya yang kebetulan melewatinya. Matanya masih menatap awas pada Dimas yang terlihat mengetuk pintu ruangan Dara, sampai akhirnya Dara keluar. Mereka terlihat berbincang bersama. ~ Dimas memberanikan diri mengetuk pintu ruangan Dara. Tersenyum, hatinya yang deg-degan menyapa Dara. Dara tersenyum lalu keluar dari ruangannya. "Lagi sibuk Ra?" tanya Dimas tersenyum kalem. "Oh enggak Mas, tadi aku asyik gambar aja. Kenapa ya, Mas Dimas?" tanya Dara tersenyum. "Kalau boleh, besok malam aku ajak kamu keluar mau gak Ra?" tanya Dimas. "Hmm.... Maksudnya?" tanya Dara bingung. "Bareng yang lain juga kok. Kita mau nonton. Kamu mau ikut gak?" tanya Dimas. "Oh, boleh Mas. Besok malam kumpul dimana ya?" tanya Dara. "Aku jemput kamu aja" ucap Dimas, "Hmm.... Kalau diizinin". "Oh gitu. Ok Mas, nanti aku sharelock aja yah alamatnya lewat chat" ucap Dara tersenyum. "Ok kalau gitu. Makasih ya Ra, selamat bekerja lagi. Aku mau ke ruangan lagi ya" ucap Dimas. "Ok Mas Dimas, sama-sama. Selamat bekerja juga" ucap Dara tersenyum manis. Berbalik, Dimas senang bukan main, ia bukannya sengaja berbohong, tapi demi kenyamanan Dara yang terlihat canggung, ia mengatakan ke Dara kalau yang lain yaitu Devan, Via, dan Erlin akan ikut. Padahal itu hanya sekedar karangan Dimas belaka, kalau tidak begitu, Dara malah menolak atau canggung dengannya. Dimas hanya berniat mendekati dulu, jika diterima, dan Dara suka padanya juga, itu bonus. Pesona Dara memang sekuat itu, gadis mungil tidak terlalu tinggi dari Via tapi lebih pendek dari Erlin itu tak bisa berhenti berkeliling dipikiran Dimas. Dara Valentina Oona, gadis yang selalu ia akan ingat namanya, barangkali nanti akan mengucapkan ijab kabul dengan Dara, setidaknya Dimas tahu namanya. Dimas bukan tipikal orang yang peduli dengan nama lengkap seseorang, cukup tahu namanya dan ia baik, Dimas akan mengingat nama panggilannya, tapi tidak dengan Dara, susah untuk menjelaskan perasaannya yang baru tumbuh ini, Dara baru beberapa hari bekerja di K Art namun pesonanya melebihi seorang Kenan dimata Dimas. ~ Dara pandangi Dimas yang mulai menjauh dari hadapannya, segera ia berbalik, namun ketika melirik ke kiri, Kenan sudah dihadapannya. "Astaghfirullah.... Mas Kenan ngagetin aja!" ucap Dara. "Serius banget sama Dimas bicaranya. Bahas apaan?" tanya Mas Kenan. "Oh, diajak nongkrong sama rekan yang lain Mas. Bukan apa-apa" ucap Dara. "Jangan terlalu akrab sama laki-laki" ucap Mas Kenan. "Oh, kenapa ya Mas?" tanya Dara kebingungan. "Lelaki itu jahat" ucap Mas Kenan sedikit mendekat ke arah telinga kanan Dara, masih memasukan tangannya ke saku celana kanan kirinya. "Kalau lelaki jahat, cuman satu Mas di dunia ini...." ucap Dara tersenyum hambar. "Jangan positif thinking terus. Nanti kamu sakit hati" ucap Mas Kenan berlalu dari hadapan Dara. "Tapi kan Mas Kenan juga Laki-laki?" Dara mengetukkan jarinya ke dagunya beberapa kali, tak mau ambil pusing, ia segera masuk ke ruangannya. Memfoto hasil gaun gambarannya, dan meng-uploadnya ke Sosmed. Kenan berjalan sedikit jauh dari ruangan Dara. Lalu menghentikan langkahnya. "Kalau lelaki jahat, cuman satu Mas di dunia ini". Ucapan Dara tadi maksudnya apa ya? Siapa lelaki jahat yang Dara maksud? Apakah orang itu menyakiti seorang Dara berlebihan? Gadis secantik itu, bisa-bisanya dilukai seenaknya oleh laki-laki lain?. Kenan berbalik dan mendapati pintu ruangan Dara sudah tertutup, Dara sudah masuk ke dalam ruangannya lagi. Kenan segera berjalan mengambil Kartu Identitas milik Dara berkalung tali hitam. Digenggamnya lembut, lalu iapun berbalik menuju ruangan Dara, dan memberikan kartu tersebut pada Dara. Dara terima Kartu Identitasnya itu, tersenyum hangat sambil mengucapkan terimakasih pada Bosnya itu yang sudah mau mengantarkan ini kembali ke ruangannya. "Jangan lupa Ra, kita jadi ke Panti kan?" Mas Kenan memastikan. "Oh iya, ya ampun. Saya hampir lupa. Nanti saya kirim alamat rumah ya Mas" ucap Dara. "Oke yasudah, saya balik ke ruangan saya lagi ya?". Dara tersenyum sambil mengangguk. ~ Di gedung Sun E, dalam satu ruangan, Gavin duduk disofa, mengangkat satu kakinya keatas sofa, satunya dilantai. Ia sibuk membuka akun sosmed i********: di akun keduanya. Ia sengaja menjelajahi akun pencarian. Hanya satu akun yang ia cari saat ini.... Akun sosmed seorang Dara Valentina Oona. Sejak tadi ia tak dapat menemukannya. Dan scrollnya terhenti pada akun i********: bernama 'DValentinaO' Gavin segera membuka akun tersebut. Benar, itu adalah akun milik Dara, karena Bio-nya tertulis akun i********: K Art. Tak ada foto Dara, mungkin sudah dihapus dan hanya gambar pemandangan saja. Tapi satu foto paling pertama diposting ditahun 2015, terdapat gundukan kecil dengan nisan, namun namanya sengaja diburamkan oleh Dara. Bertaburan bunga-bungan tabur diatasnya. Terlihat seperti.... Makam. Tapi bukan makam orang dewasa. Gavin mencoba mengingat-ingat saat bersama Dara, dan.... Ia ingat sesuatu. Apa mungkin? Kalau benar bagaimana?. Gavin makin pusing memikirkan foto tersebut. "Gavin, ayo pulang. Jadwal kamu besok masih padat" ucap Sheila yang melihat Gavin terlihat pusing. ~BERSAMBUNG~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD