SEMBILAN BELAS

925 Words
Andra dapat bernapas lega karena 'rahasia negara' miliknya itu akhirnya di temukan. Ia pun tidak jadi memecat karyawan tersebut. Dan beribu maaf juga di lontarkan dari karyawannya itu. "Kamu mau pesan apa?" Tanya Renata saat mendapati suaminya tersebut masih tetap terdiam. Andra tercegat dan kemudian menjawab pertanyaan suaminya itu. "Nasi goreng sosis" jawab Andra singkat. Sebenarnya Renata sudah tahu suaminya akan memesan itu, ia hanya ingin memastikan sekali saja. "Mama, aku mau pesan ice cream" pinta Dio sambal memainkan tisu di atas meja makan. "Pesannya nanti, habis makan nasi baru pesan ice cream" jawab Diana sekenannya sambil melihat-lihat isi menu.  "Nasi goreng sosis satu, nasi goring seafood satu, nasi tim satu, tongseng kambing satu dan mie goreng satu" ucap Diana saat seorang pelayan datang dan langsung menuliskan semua pesanan mereka. "Minumnya?" Tanya pelayan itu lagi. " Satu pitcher orang juice" jawab Andra. "Hore!!!" pekik Nafa dan Dio bahagia. Ia tahu betul kesukaan kedua keponakannya itu. Ia tersenyum dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling restoran makanan lokal tersebut. "Om Om Andra" Dio menepuk paha Andra cukup kencang untuk ukuran seorang anak berusia empat tahun. "Apa?" Andra menoleh ke arah keponakannya. "Om Andra dan Tante Renata kapan punya dedek?" Tanya Dio dengan segala kepolosannya. Renata langsung menoleh dan menatap bocah laki-laki polos tersebut.  Diana hanya dapat menahan tawa dari pertanyaan polos putra bungsunya itu. "Dedek apa sih?" Tanya Andra yang berusaha cuek. Ia enggan menatap istrinya. Ingatannya kembali ke malam ulang tahun Rakha penuh gairah itu. "Dedek apa ya?" Tanya Renata manis. Ya Anak kita lah! ucap Andra dalam hatinya. Tunggu . . . Anak kita?  bisik Andra dalam hatinya lagi. Mungkinkah Renata sebenarnya hamil namun ia tidak menyadarinya. Meskipun tidak 100% yakin bahwa istrinya akan hamil setelah kejadian itu, namun kemungkinan akan hamil pun tetap ada juga. "Dedek yang ada di perut tante" Dio menunjuk perut datar Renata dari kejauhan. Ia turun dari tempat duduknya dan berjalan menuju Renata. Ia duduk di antara Renata dan Andra. "Dedek yang di sini loh maksud Dio" Dio menunjuk langsung perut Renata.  Renata hanya terdiam melihat tingkah Dio sedangkan Andra menatap tajam tingkah keponakannya itu. "Dedek" ucap Dio sambal mengelus-elus perut Renata. "Belum ada dedeknya sayang" Renata menepis lembut tangan Dio dari perutnya. "Dedek sayang" bukannya melepaskan Dio justru mencium perut Renata. Dia benar-benar ingin sepupu rupanya batin Andra melihat bagaimana Dio menyayangi sepupunya yang masih berupa halusinasi itu. "Sudah kamu berdoa saja Om Andra dan Tante Renata cepat punya dedek ya, biar kamu bisa main bareng dengan dedekmu itu" ucap Diana. "Sini, Dio duduk di sini sebelah Mama" pinta Diana.  "Enggak mau" Dio menggeleng dan tetap duduk di antara Renata dan Andra. "Dio mau di sini, sama dedek" Dio memeluk perut Renata dan kemudian menciumnya lagi. "Mama, Dio mana?" tanya Nafa yang mendapati adiknya tidak ada di sebelahnya itu. "Kakak! Ada dedek loh di perut Tante Renata" pekik Dio pada kakaknya. Tanpa mencerna apa yang di katakan oleh adiknya. "Dedek" gantian Nafa yang sekarang memeluk perutnya dengan sayang. Andra hanya dapat meringis melihat kelakuan dua manusia kecil ini. "Belum ada dedek di perut Tante Renata, nanti kalau sudah ada pasti Om kasih tau" ucap Andra akhirnya. "Bener ya Om?" Dio menaikkan sebelah alisnya. "Pinky promise?" Nafa mengacungkan jari kelingkingnya. Andra menautkan kelingkingnya pada kelingking Nafa. "Pinky promise" jawab Andra dengan senyuman.  *** "Sudah dua hari Maresha tidak masuk kerja" ucap Reno sambil menyeruput teh herbal. Ia tidak meminum kopi kali ini karena ia merasa tidak enak badan. Terlebih ia merasa berat badannya naik dan harus segera di turunkan. "Dia izin, putrinya sakit. Dia pasti kelimpungan karena dia single parent" jawab Rino. Reno hanya mengangguk mendengar penjelasan saudara kembarnya itu. "Suaminya aku dengar pengusaha sukses ya. Kenapa dia memilih bercerai?" tanya Reno. "Mana kau tahu" jawab Rino cuek. "Mungkin mereka sudah tidak merasa cocok lagi dan memutuskan untuk berpisah. Sebanyak apapun uang, kalau memang sudah tidak cocok lagi ya mau di katakan apa lagi?" tambah Rino.  "Kamu tahu, gayamu berbicara seperti sudah berpengalaman padahal kamu masih sendiri" ucap Reno sambil tertawa meledek kembarannya yang menatapnya cemberut.                                                              *** "Si bawel ini kemana ya?" tanya Hendra pada Sita yang mendapati meja kerja Risty kosong selama dua hari. "Terakhir kali aku berkomunikasi dengannya itu ya kemarin lusa. Dia bilang sedang pergi tetapi aku tidak tahu apa dia pergi sendiri atau bersama temannya. Sekitar jam lima sore, ya sehabis pulang kantor pokoknya" jawab Sita sambil tetap fokus pada layar komputer kantornya itu. "Gak ada Risty kantor sepi juga ya" Hendra mengangkat bahunya cuek. "Biar pun  dia bawel dan kadang suka bikin masalah, rasanya tuh 'gak ada loe gak rame" gitu rasanya" ucap Hendra kemudian sambil mengambil kertas-kertas yang baru saja selesai di print. "Ngomong-ngomong, istri bos kita itu cantik juga ya" imbuh Sita. "Untung gak ada Risty, kalau ada bisa di cekik kamu" timpal karyawan lainnya.  "Eh tapi beneran loh, Bu Renata itu cantik. Sudah pernah lihat dari dekat belum. Aduh cantik banget! Bu Reva aja yang mantan istirnya itu kalah!" Sita menimpali. "Bu Renata cantiknya alami, wajahnya ayu banget pokoknya. Wajar sih kalo Pak Andra jatuh cinta. Udah gitu ya dia juga kan punya perusahaan yang maju banget" Sita semakin gencat membicarakan istri bosnya itu. "Cocoklah, Pak Andra ganteng, Bu Renata cantik. Anaknya kalo cowok pasti ganteng! Kalo cewek pasti cantik" ucap Sita bersemangat.                                                              ***      Chessa mengatur napasnya dengan susah payah. Setelah 'bekerja keras' selama 8 jam dari kemarin malam. Sebenarnya ia enggan melakukan pekerjaan kotor ini, namun ia harus melakukannya. Karena jika bukan dirinya, siapa lagi? "Maafkan aku, tetapi ini yang terbaik. Aku dan Dhea membutuhkannya. Lebih dari kamu membutuhkannya, Risty" ucap Chessa.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD