"Maresha meninggalkan surat pengunduran diri" Rino melempar surat pengunduran diri karyawan yang baru sebulan bekerja di kantor mereka. "Heh? Mendadak gini?" tanya Reno sambil mengambil amplop cokelat yang barus saja di lemparkan Rino ke atas meja kerjanya. "Ia beralasan putrinya sakit parah dan ia harus pergi ke luar kota untuk pengobatan putrinya. Jadi ia rasa lebih baik mengundurkan diri ketimbang mengganggu jam kerjanya" ucap Rino saat Reno masih membaca surat pengunduran diri tersebut. "Mana Renata?" tanya Reno. "Belum datang" jawa Rino. "Pacaran sama Andra dulu mungkin" celetuk Reno asal. "Siang nanti Andra mau ke sini, jemput Renata makan siang. Makin hari makin kelihatan mesra ya. Meskipun awalnya ia terlihat tidak suka di jodohkan, tapi siapa sangka sekarang tiap makan siang berdua terus?" Rino mengangkat bahunya.
"Habis ini liburan berdua dan voila! Renata hamil!" celetuk Rino sumringah. "Kelamaan, Andra juga laki-laki normal. Aku nggak yakin Andra bisa menahan diri selama itu" ucap Reno.
***
"Jadi sampai hari ini gak ada yang tahu kemana perginya Risty selama seminggu?" tanya Andra pada sekretarisnya, Indah. "Tidak Pak, saya juga sudah tanya dengan rekan seruangan Risty namun tidak ada yang tahu kemana perginya dia" jawab Indah mantap. "Apa sudah coba telefon pihak keluarganya?" tanya Andra kemudian. "Dia benar-benar menghilang tanpa jejak?" Diana mencoba memastikan lagi. Indah mengangguk. "Kami belum mendapatkan kontak keluarganya pak. Setahu saya memang Risty masih tinggal bersama orang tuanya. Tidak indekos atau ngontrak di sekitar kantor pak" ucap Indah kemudian. "Kemana manusia itu? Melarikan diri dengan meninggalkan setumpuk pekerjaan begini. Kasihan Sita dan Hendra yang sekarang jadinya menghandle pekerjaannya" Andra menggeleng-gelengkan kepalanya itu.
"Yasudah kamu silahkan kembali bekerja, semoga saya dia cepat kembali ke kantor dan menuntaskan segala pekerjaannya itu" Andra mempersilahkan sekretarisnya itu untuk kembali bekerja. "Makan siang dimana kamu?" tanya Diana sambil dengan seksama membaca beberapa laporan penjualan perusahaan mereka itu. "Di luar, sama Renata" ucap Andra sambil tetap bekerja. Diana menutup map tersebut dan tersenyum menatap adiknya. "Kamu itu lucu ya" Diana melipat kedua tangannya di depan dadanya. "Dari kecil juga sudah lucu. Lupa kamu banyak yang rebutan mencium dan mencubit pipiku saat aku masih kecil dulu" jawab Andra dengan percaya dirinya sambil tetap bekerja. "Bukan itu maksudku" Diana memukul pelan bahu adiknya.
"Kamu tidak suka sama sekali dengan Renata, tapi sekarang kalian setiap makan siang selalu berdua" ujar Diana. "Ya masa suami istri gak boleh makan siang berdua" balas Andra dengan berusaha cuek. "Ya boleh lah! Hukumnya wajib malahan" Diana mengambil permen karet adiknya dari saku kemeja kiri Andra. "Tapi kan kasusnya ini berbeda, kamu tidak ada perasaan apapun dengan Renata tapi setiap hari pasti makan siang berdua. Jangan-jangan kamu mulai sayang dengan dia. Aku juga sejauh ini nggak melihat kamu bertingkah kasar padanya" Diana asik mengunyah permen karet rasa mint.
Andra terdiam sesaat. Ia mulai mempertanyakan dirinya sendiri. Maksudnya menikahi Renata awalnya adalah untuk membalaskan dendamnya dengan mantan istrinya dan menghukum Renata yang menurutnya mencampuri urusan pribadinya itu. Namun seiring berjalannya waktu, ia mulai menyadari adanya perubahan. Memang ia terkadang masih bersikap kasar pada Renata, namun ia juga menyadari tak jarang ia bersikap lembut pada istri cantiknya tersebut. "Kamu masih ingat kelakuan Dio beberapa hari yang lalu kan?" Diana membuyarkan lamunan adiknya itu. "Dia mau sepupu secepatnya" ucap Diana. "Aku juga mau keponakan darimu. Aku juga mau di panggil "Tante Diana" oleh anakmu" Diana menyikut adiknya itu.
Jika saja kakaknya tahu mereka sudah pernah melakukan, mungkin ia akan terus menghujani nya dengan pertanyaan-pertanyaan kapan adik iparnya itu akan hamil. "Sudah, aku harus menjemput Renata untuk makan siang" Andra membereskan meja kerjanya dan mengambil kunci mobil lalu pergi meninggalkan Renata. "Jangan lupa bicarakan proyek Andra Junior dan Renata Junior ya!" teriak Diana saat Andra sampai di ambang pintu. Andra menoleh dan melotot kesal pada kakaknya yang masih menertawakannya.
Renata masih sibuk bekerja sementara cacing-cacing di perutnya sudah meronta untuk makan siang. "Andra belum datang juga, mungkin macet ya?" Renata menatap jam di dinding ruangan kerjanya. "Ibu nungguin siapa?" tanya sekretarisnya usil. "Nungguin suami ya, Bu?" celetuknya lagi. Renata hanya dapat bersemu merah mendengar ucapan sekretarisnya itu. "Kamu itu, sudah kembali bekerja sana" Renata menjawab sekretarisnya itu. Dengan senyuman usil sekretarisnya kembali bekerja dan meninggalkan Renata. Ia dan kedua adik kembarnya cukup kelimpungan sejak Maresha memutuskan untuk mengundurkan diri karena anaknya yang sakit itu. "Maaf aku membuatmu menunggu" Andra masuk ke dalam ruangan istrinya dengan santai. "Tadi ada masalah kecil di kantor" Andra langsung duduk di sofa kesayangannya tanpa di suruh lagi.
"Masalah apa?" tanya Renata yang kembali melanjutkan pekerjaannya. "Karyawanku menghilang selama seminggu ini, dan tidak ada yang tahu kemana dia pergi" ucap Andra. "Beberapa pekerjaannya akhirnya aku serahkan ke rekan kerjanya. Aku kasihan melihat mereka yang harus bekerja double" ucap Andra sambil menghirup udara dingin dari pendingin ruangan. "Menghilang? Di culik? Melarikan diri atau gimana?" tanya Renata. "Aku nggak tahu, sekretarisku sudah mencoba mencari kabar tentangnya. Rekan kerja di ruangannya juga bilang terakhir kali berkomunikasi dengannya ya seminggu yang lalu setelah jam pulang kantor" jawab Andra yang mulai kepikiran oleh karyawannya yang hilang. "Ya meskipun dia sering kali membuat kesalahan-kesalahan dalam bekerja, tapi tetap saja kan dia bagian dari perusahaanku" ucap Andra yang mulai mengantuk karena dinginnya suhu ruangan tersebut.
Renata menatap suaminya yang mulai memejamkan matanya. Ia tersenyum melihatnya. "Dia pasti capek" ucap Renata yang kemudian bangkit dan berjalan ke arah suaminya itu. Andra sudah benar-benar menutup mata dan mengistirahatkan dirinya untuk beberapa saat. Renata menatap wajah suaminya yang tengah tertidur itu dengan dekat. Andra tiba-tiba terbangun dan kaget melihat istrinya ada di depan wajahnya. Dengan jarak yang sedekat itu, keduanya saling bertatapan dengan detak jantung yang tak karuan. "Mmmm maaf, aku tadinya mau bangunin kamu. Tapi melihat kamu tidurnya lelap, enggak jadi deh" ucap Renata salah tingkah.
Andra mengucek-ucek matanya. "Kalau kamu ngantuk, biar aku saja yang nyetir" tawar Renata sambil menatapnya prihatin. Manik mata istrinya itu dengan jelas menunjukkan raut kepedulian terhadapnya. "Gak usah, aku cuman mau istirahat sebentar kok" Andra kemudian berdiri. Renata bergerak ke kiri untuk memberikan Andra ruang. Dengan melakukan sedikit stretching Andra berjalan menuju kursi yang tersedia tepat di depan meja kerja Renata. Ia pun duduk di kursi tersebut. "Aku ke toilet sebentar" ucap Renata sambil mengambil beberapa lembar tisu.
Andra duduk di kursi tersebut sambil melihat-lihat ruangan kerja istrinya. Sebuah map berwarna biru tua tepat di hadapannya ia ambil dan ia buka. Iseng saja, pikirnya. Namun ia terkejut bukan main melihat isi dari map tersebut dengan tanda tangan Renata yang tertoreh di situ.