Ayah sedang menungguku di depan pintu, Shoot Gun tergantung manis dipinggang sebelah kirinya. Saat itu aku merasa kalau dunia ini akan berakhir. "Ini tidak akan berjalan dengan mudah. Kau akan menjadi tahanan Ayah sampai ia puas dengan sesi tanya jawabnya." bisikku di samping Arka. "It's oke," sahutnya tak keberatan. Tangan kiri Arka masih melingkar dipinggangku dan hal itu semakin membuat hidung Ayah keluar asap, aku yakin itu. "Kalian berdua, masuk!" seru Ayah dengan suara tegasnya. Tubuhku berjengit saat lampu ruang tengah mati, pandangan kami seketika menjadi buram. Ayah bergabung dan mendudukkan dirinya di sofa seberang setelah menyalakan sebuah senter. Oke, biar kuberi tahu. Ayahku memang agak berlebihan dalam segala hal, contohnya saja saat ini. Bahkan Ayah membuat sel tiruan d

