"Masuklah, jangan anggap rumah sendiri,"
Lelaki itu, ya, dia yang tadi siang ada di kafe itu!
Aku hampir jantungan saat melihatnya sudah ada di lobi kantorku. Faktanya aku lupa akan janji sepihak yang dilakukan oleh mulut bodohku ini, bekerja dengan setumpuk naskah membuatku melupakan segalanya.Bahkan aku masih ingat saat teman-teman divisiku menatap kami dengan tatapan menggoda, yang lebih parah saat Kuncoro datang, semuanya jadi terlihat dramatis. Seolah-olah aku menjalin hubungan romansa dengannya dan selingkuh dengan laki-laki lain tepat di depan matanya. Saat itu aku lekas memvonis Kuncoro kalau dia terkena overdosis naskah romance.
"Kau tinggal sendiri?" lelaki itu membuka sekat dingin di antara kami.
"Hm, memangnya kau melihat orang lain di dalam apartemenku ini?" aku memandunya menuju ruang tengah.
"Kukira kau tinggal bersama mereka?"
Tubuhku lekas berbalik dan menatapnya dengan satu alis terangkat tinggi, "Siapa?"
"Dua temanmu?"
"Anggi dan Inggrid?" spontan hidungku berkerut aneh. "No, mereka bukan temanku."
Kali ini alisnya lah yang terangkat tinggi, "Kenapa?"
"Apa?"
"Kau, kenapa tak mau berteman. Kukira mereka cukup layak."
Gezzz... cerewet!
"Aku, kau, dia, mereka atau siapapun pasti pernah mengalami suatu hal yang berdampak negatif pada diri masing-masing. Dan pengalaman yang membuat kita lebih berhati-hati terhadap apapun, termasuk dalam hal pertemanan. Dan kurasa tidak ada seorang teman yang meninggalkan temannya dalam keadaan mabuk kemudian menitipkannya pada orang asing."
Oh ya Tuhan, untuk apa aku berbicara panjang lebar pada orang sepertinya?
"Duduklah, aku akan mengambilkanmu minum. Oh ya, kau mau kopi atau air dingin?"
Dia berhenti sejenak sebelum menempelkan bokongnya pada sofa antikku. "Aku mau s**u, kalau boleh."
"Tentu,"
"Dari sumbernya langsung?"
Sialan! Mulut kotor sialan!
"Terjunlah dari jendela," ucapku sebal.
Jangan ikut syok, cukup aku saja yang dibuat syok oleh si sialan itu. Aku kira dia akan membawaku makan malam ke restoran mahal, kafe ternama atau semacamnya tapi mobil sialan yang dibawanya malah berbelok ke apartemenku! Dan kalian ingin tahu apa jawaban bodohnya saat kutanya? Dia bilang, 'Aku ingin makan malam dan aku ingin kau yang memasaknya langsung sebagai permintaan maafmu padaku.' Aaah si b******k itu! Aku jadi mengeluarkan isi dompetku untuk berbelanja di supermarket.
"Kenapa kopi?"
"Aku lupa kalau persediaan s**u di lemari es-ku sudah habis."
"Kalau begitu kenapa tidak membiarkanku untuk meminumnya langsung dari sumbernya!?"
Dia gila, tidak waras, otak c***l!
"Kau sudah pernah mandi pakai air kopi panas?"
"Aku lapar, kapan kau akan mulai memasak?"
Dasar tidak nyambung! Aku menatapnya bengis, namun dia sama sekali tak peduli, atensinya hanya tertuju pada acara berita di TV.
___________________________
Dia tidak memperkenalkan dirinya, dan aku pun malas menanyakannya, tepatnya tidak mau tahu tentang dirinya. Sekarang dia sedang duduk di atas kitchen island, menontonku sedang memasak. Ck, benar-benar orang aneh.
"Kau tidak takut kalau aku melakukan sesuatu padamu?" kalau boleh kunilai, suaranya itu terdengar berat dan kelam tapi enak didengar.
"Kau tak akan berani melakukan apapun kalau perlu kuberi tahu." kataku.
Bukan sombong, tapi aku tahu kalau dia tak akan melakukan apapun padaku. Karena kalau dia memaksudkannya, sudah pasti ia akan melakukannya sejak awal.
"Apa yang membuatmu merasa begitu percaya diri?"
Aku berbalik dan menatapnya, spatula terangkat di tangan kananku. "Pertama, kalau kau bermaksud untuk mencelakaiku, kau pasti sudah melakukannya dari kemarin malam. Kedua, kau bisa membawaku ke tempat yang tidak aku ketahui, tapi kau justru membawaku ke apartemenku. Ketiga, spatula ini mungkin bisa menebas hidung mancungmu. Dan terakhir-" aku menunjukkan layar ponselku, tertera nomor panggilan darurat ke pihak kepolisian di sana, "-aku tinggal menggeser layar hijau maka polisi di seberang jalan akan datang, juga aku sudah mengaktifkan GPS."
Apa yang lucu? Kenapa dia justru tertawa seraya menutup wajahnya? Apa dia seorang psikopat?
"Aduh bagaimana ini? Ternyata kau lebih pintar dari yang kuduga."
Senyum miring itu, sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana? Kapan?
"Aku lapar sekali." katanya.
"Sudah selesai, bisa bantu aku?"
Kedua alis lebatnya bertautan, "Apa?"
"Di rak itu, kau bisa mengambil piring dan menatanya di atas meja?"
"Sure."
Aku baru sadar kalau dia memiliki tubuh tinggi dan tanpa jasnya ia terlihat HOT. Sialan, aku kesulitan mencari kata yang tepat selain hot.
Sekarang kami sedang duduk, kulihat dia sedang memejamkan mata, entah apa yang dia lakukan tapi hatiku berdoa semoga masakanku tidak akan menjadi bumerang untuk mempermalukan diriku sendiri.
"Ini enak,"
Astaga, bibir sialanku langsung tersenyum saat dia mengatakan 'ini enak' dengan ekspresi datar seperti itu.
"Ya. Apapun yang berlabel gratis akan terasa enak. Percayalah." kataku sarkastik.
Dia mengangguk setuju, memasukkan lebih banyak pasta kedalam mulutnya. "Kau suka memasak?"
Kepalaku bergoyang ke kiri dan ke kanan, "Tidak, tidak, bukan suka, tepatnya karena tuntutan perut dan aku terlalu pelit mengelurkan isi dompetku untuk sekedar membayar seorang pekerja rumahan."
"Tinggal dengan orang tua bisa dikatakan lebih irit." ia menyampaikan argumennya.
Dan aku kembali beropposite, "Aku sedang belajar mandiri kalau kau ingin tahu."
Aku sudah pernah mengatakan kalau aku sangat benci kepalanya!
"Agak terlalu dipaksakan, kurasa."
"Apa?"
"Kau mencoba menjadi mandiri dan dewasa sebelum waktunya. Karena dilihat dari sisi manapun kau masih kekanakan."
Aku melotot, "Aku tak butuh pendapat ataupun komentar darimu. Dan... cukup habiskan makananmu kemudian lekaslah pulang!"
Aku marah, benar-benar marah, sungguh. Bagaimana bisa orang asing sepertinya menilai diriku. Dia tak tau apapun!
Srek!
Dia berdiri dengan piring di tangan kanannya dan juga gelas di tangan kirinya. Apa yang akan dia lakukan? "Kau sudah memasak, jadi aku akan mencuci piring." dia menarik piring kosong di depanku, juga gelas yang belum kuteguk sekalipun.
Manisnya, kami jadi terlihat seperti pasangan romantis yang saling bahu membahu dalam segala hal. Aku memasak dan dia yang mencuci piringnya, aku yang menyapu dan dia yang akan mengepelnya. Kalau begitu aku akan merendam baju-baju kotor agar dia yang nanti mencucinya. Astaga, apa yang aku pikirkan?!
Aku berjalan ke lemari es, mengambil air mineral dari sana dan meneguknya. Kalau dilihat dari sisi ini, dia terlihat layak untuk dijadikan seorang suami. Tapi jika mengingat otak mesumnya, maka jangan berharap banyak. Keran sudah dimatikan, aku lekas membantunya mengelap piring dan gelas sebelum kumasukkan lagi ke dalam rak.
_____________________________
Dia tak lekas pulang, entah apa yang membuatnya bertahan di sini. Aku tak peduli, tak ada barang berharga yang dapat ia bawa kalau-kalau aku ketiduran nanti, kecuali buku koleksi dan juga dompet di bawah kasurku, tapi kupastikan dia tidak tahu kalau aku menyimpannya di bawah kasur.
"Kau punya banyak koleksi buku bagus."
"Hm," jangan berharap banyak saat aku sudah sibuk dengan DVD di depanku. Aku suka film Thailand, mereka lucu, tema yang mereka garap tidak pasaran dan juga sangat menghibur.
Dari sudut mataku kulihat dia masih setia berdiri di sana, membelai punggung buku-buku kesayanganku. "Kau mendapatkan semua ini dari penulis-penulis yang kau tangani?"
"Sebagian, ya. Tapi lebih banyak dari buku-buku itu kubeli dengan uangku sendiri. Buku yang hebat layak diberi apresiasi, aku tak akan segan menguras isi dompetku untuk mendapatkannya walau si penulis dengan baik hati menyodorkan yang gratis."
"Sherlock Holmes, aku tak percaya kalau kau menyukai genre buku seperti ini."
"Oh tidak, jangan sentuh! Letakkan kembali pada tempatnyaaa..." aku lekas melompati sofa yang tadi kududuki dan berlari ke arahnya, mengamankan barang berhargaku. Ini sedikit terdengar berlebihan tapi memang seperti itulah aku.
"Berlebihan!"
"Tidak, ini wajar. Kau akan melakukan apapun untuk barang berhargamu." kuletakkan kembali novel itu ke tempatnya, "aku membelinya untuk hadiah ulang tahun Ayah."
Dia memiringkan kepalanya, kukira dia berniat menciumku, dadaku sudah berdegup kencang saat dia tiba-tiba berbisik, "Sudah jam 9, aku harus pulang."
Sial, ternyata dia melihat jam dinding yang menggantung di atas tembok tepat di belakang tubuhku. Astaga, apa yang aku pikirkan? Sepertinya aku tertular penyakit Kuncoro karena menenggelamkan diri terlalu dalam pada naskah romance. Aku tersenyum menggunakan seperempat hatiku, "Tak ada orang yang menahanmu lebih lama di sini, kalau perlu kuingatkan."
Dia pergi ke sofa untuk mengambil jas yang ia letakkan di sana. "Terimakasih, lain kali aku akan mengundangmu makan malam di rumahku."
"Tak perlu repot-repot, tapi terimakasih sudah berniat mengundangku."
Ini akan menjadi gayung bersambut kalau dia membalas perkataanku lagi, tapi syukurlah karena dia tidak melakukannya. Aku mengantarnya sampai depan pintu. Dia pergi setelah mengucapkan selamat malam, aku hanya membalasnya dengan anggukan.Semoga ini yang terakhir, aku tak mau berurusan lebih jauh lagi dengan orang sepertinya. Aku juga bersyukur karena tak tahu namanya, jadi tak ada alasan untukku mengingatnya. Ah aku lelah, tidur lebih awal mungkin dapat memperbaiki moodku.