Bab 3 : Doctor

1221 Words
Senin Senin adalah hari yang paling aku benci dari hari lainnya. Macet di mana-mana dan jangan lupakan segunung naskah yang harus aku cek di awal pekan. Selasa Kuncoro membuat ulah, ada banyak taburan mawar di area meja kerjaku. Sial, kalau saja ini bukanlah pekerjaan yang aku senangi, mungkin aku sudah resign dari dulu."Hellen, apa kau suka bunganya?" Kuncoro masih memasang tampang bodohnya. Astaga, apa dia tak punya kesibukan lain selain menggesekkan bokongnya di tepi mejaku dan menabur bunga di atasnya?"Aku belum mati, Coro. Jadi berhentilah menabur bunga di mejaku!" "Anggi bilang kau suka bunga-" Anggi! Oh, yeah, dia salah satu orang yang paling suka ikut campur dalam masalah hidupku. Sebaiknya dia dipindahkan dari divisi naskah horor agar aura hitam hilang dari dirinya. Rabu Aku berharap tidak ada hal buruk di hari rabu ini. Dan baguslah, sampai malam tiba semuanya berjalan dengan normal. Kuncoro tak membuat ulah, seharian ini dia sibuk memburu penulis nakal yang molor menyerahkan deadlines mereka. Kamis Ini fase terberat, aku kurang tidur dan juga ada setumpuk naskah yang belum aku selesaikan, beberapa diantaranya sudah melayang alias tak layak untuk diterbitkan.Astaga, aku tak habis pikir dengan penulisnya! Namun jika melihat gaya bahasa yang ia gunakan, kurasa dia anak SMP atau anak yang baru masuk SMA. Coba lihat percakapan ini, "Loe tauk gak sich? Aq benci beud ma dy!" sial, mataku jadi iritasi melihat tulisan semacam itu. Jum'at Aku hampir mati kebosanan, kebanyakan naskah yang masuk memiliki tema dan alur yang mirip. Aku jenuh, apa tidak ada yang fresh?Aku mengecek kembali tumpukan naskah, mengambil satu diantaranya secara acak. "A letter". Sebuah judul yang cukup menggelitik tanganku. Jika isi naskah ini bergenre religius, seharusnya ini tak berada di mejaku, Hani yang memegang genre naskah semacam itu. Sabtu Ini sudah menjelang malam, dan aku masih berkutat dengan naskah yang kemarin. Hatiku tidak mau meninggalkannya, bahkan saat makan pun aku tetap tidak bisa meninggalkan naskah sialan itu.Aku yakin bahwa penulis naskah ini adalah orang yang hebat, mempunyai knowledge yang amat sangat luas mengenai psikologi dan juga medis. Dan yang membuat napasku tercekat karena si penulis sialan ini berhasil menjabarkan plotnya dengan sangat menakjubkan.Aku... menjadi frustasi. Aku jadi ingin menghabiskan isi kulkas untuk meredam omong kosong ini. Minggu Seharusnya ini menjadi hari Hellen. Aku biasanya merancang apa yang akan aku lakukan untuk membunuh waktu. Pun biasanya merancang apa yang akan aku makan, start dari menu breakfast, lunch dan dinner.Aku juga biasanya menyiapkan list film yang akan aku tonton. Aaah... tidak ada yang lebih baik dari hari Hellen. Tapi nyatanya, semua rancangan itu tidak berjalan dengan baik, aku terkapar, aku sekarat, aku seperti mau mati dan ini gara-gara naskah sialan itu. Aku masih belum menyelesaikan bagian terakhirnya. Aku tak siap.Aku... astaga, siapapun tolong datang dan bawa aku ke rumah sakit! Teeeet...Kalau telingaku tak ikut sekarat seperti perutku, maka aku mendengar suara bel apartemenku berbunyi. "Helleeen... kami datang!"Thanks God, kau mengirim mereka di saat yang tepat."Helleeen kau di mana?" suara Anggi melengking seperti biasanya, untuk kali ini tak apa, aku tak membencinya, justru aku bersyukur saat mendengar lengkingannya, sungguh. Susah payah kuangkat tanganku ke udara, "Di sini, aku di sini, heeey..." ♪♪♪ Rumah sakit adalah pilihan paling buruk dalam hidupku. Infus sudah terpasang, jangan tanyakan bagaimana rasa sakitnya saat jarum itu menembus kulitku."Kapan dokter akan datang?" nyawaku serasa sudah di ujung tanduk. "Entahlah Nona, rapat belum selesai, sepertinya satu jam lagi." Demi tuhan, ini benar-benar gila! Lalu apa bedanya dengan aku mati di bawah kolong meja makan dan mati membujur kaku di atas ranjang pasien. "Apa sama sekali tidak ada dokter jaga? Satu pun?" Inggrid memprotes, sudah ada 4 sudut siku-siku muncul di keningnya. "Sebentar, sepertinya ada satu, tapi saya tidak bisa menjamin kalau beliau akan datang ke sini." Kali ini Anggi yang meledak, "Kau tidak lihat kalau teman kami sedang sekarat? Cepat panggil dokter itu atau perlu aku yang menyeretnya kemari?" Astaga, aku benar-benar merasa tersentuh dengan aksi heroik mereka. Bibirku tak bisa tersenyum karena tidak mau menghianati perutku yang- astaga... rasanya sakit sekali, seperti ada ribuan jarum yang menghujam. Ini bukan karena efek naskah kacangan, tapi aku benar-benar -oh, God.- aku baru saja melihat malaikat pencabut nyawa di depanku. Anggi dan Inggrid sudah menjadi patung sejak pria berjas putih itu memasuki kamar rawat ini. "Ap- aaaah... ya, Tuhaaan, perutku!" sialan, dia terlalu keras menekan perutku! "Apa yang sudah kau makan?" Kenapa aku harus bertemu dia lagi? Dalam keadaan seperti ini? Hari yang cukup buruk. "Mana aku ingat! Lagipula kenapa kau menanyakan apa yang sud- aaaah..." aku berujar sebal dengan setengah berteriak kesakitan. "Ini adalah hari Hellen, jadi dia akan memakan apapun yang ada di dalam lemari esnya. Err... saat kami datang, pantry sudah seperti kapal pecah dan kami menemukannya di bawah kolong meja makan." Itu memalukan, aku benci mulut Anggi! "Sepertinya hanya ada satu masalah pada perutmu." sekarang dia sedang memeriksa denyut nadiku. "Suster, tolong ambilkan tas hitam di ruanganku." "Apa dokter Arka membutuhkan sesuatu yang lain?" "Tidak, cepatlah!" Sejenak aku melupakan rasa sakitku. Mataku sedang mengawasinya, meneliti detail dirinya. Hmmm... jas putih, wajah tampan, tubuh tinggi dan gaya rambut yang seperti itu? Tch, tipikal dokter muda yang sering aku lihat dalam film-film korea atau dalam novel-novel romance. "Ambilkan satu set jarum di dalam sana." Heh? Sejak kapan suster ini kembali dan apa yang akan dokter sialan ini lakukan padaku dengan jarum-jarum itu?"Apa yang akan kau lakukan?" aku berusaha mengambil kembali lenganku yang sudah berada dalam genggamannya. "Diamlah kalau kau masih mau hidup!" "Aaaargh..." Rasanya sakit. Bayangkan, ada lima jarum yang menancap di bagian tubuh- Duuuut - ini melegakan, sungguh. Perutku perlahan mulai membaik setelah mengeluarkan gas- oh tidak, aku menatap horor sosok yang masih duduk di sampingku."Ini bau! Kenapa kau tidak menutup hidungmu, orang aneh!"Astaga, apanya yang lucu? Apa menurutnya mendengar suara kentut itu adalah hal yang menyenangkan? "Dari baunya, aku yakin kau habis makan telur busuk!" "Tutup mulutmu!" Menyebalkan, dia masih bertahan dengan kekehannya. "Sebaiknya kau istirahat di sini sampai besok." kini tubuhnya berbalik menatap Anggi dan Inggrid yang sedang mengibaskan tangan di depan hidung mereka. "Dan kalian sebaiknya pulang, terimakasih sudah membawanya tepat waktu ke rumah sakit." "Baiklah Hellen, kami akan pulang dan kalau besok kau perlu jemputan maka hubungi saja kami." aku mengangguk seraya melambaikan tangan ke arah mereka berdua. Sekarang tinggal dokter itu yang masih bertahan di sini, kamar rawatku. "Aku tidak tahu kalau kau seorang dokter." Kalau tak lupa, namanya Arka. Dia tengah menaikkan alisnya padaku, "Itu ucapan ke 150 dalam satu minggu ini. Apa wajahku terlalu tampan untuk ukuran seorang dokter?" Aku memutar bola mataku, "Jangan membuatku muntah di bajumu lagi," kataku sarkas, aku mengetuk jariku di dagu dengan ekspresi memberi penilaian padanya dan dia sedikit tertarik untuk mendengarkan apa yang hendak aku ucapkan. "Tentu saja kau akan memilih profesi ini mengingat otak m***m-mu, DOKTER!" "Ini pekerjaan yang menyenangkan," ia berkomentar. "Tentu saja, bagaimana tidak? Di sini ada banyak s**u," Mulut bodoh! "Dan ada banyak keju kalau kau mau tahu." Arka menambahkan. Aku cemberut dan lekas memalingkan muka, aku tak mau dia melihat wajahku yang memerah karena malu. Pasalnya keju yang ia maksud dalam ucapannya tadi adalah sebuah konotasi. "Sebaiknya kau tidur dari sekarang karena setiap jam sepuluh ke atas akan ada sesuatu yang mungkin bisa menyulitkanmu untuk menutup mata." "Aku tak takut!"Aku tidak sedang membual, aku memang tak takut dengan hal-hal yang seperti itu. Dia pergi setelah mengacak rambutku dengan senyum miringnya. Aku membencinya!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD