Bab 4 : Flood

1542 Words
Senin Tidak mungkin! Setelah keluar dari rumah sakit tadi pagi aku lekas pergi ke kantor tanpa pulang dulu ke apartemen dan inilah jadinya, aku melupakan segalanya dan berakhir jadi bencana."Bloody f*****g monday!" Mataku seperti lepas dari tempatnya dan kakiku basah seketika.Aku mengerang saat melihat banyak sampah makanan yang menggenang di ruang tengah. Aku ingat sekarang, sebelum Inggrid dan Anggi membawaku ke rumah sakit kemarin, mereka sempat membasuh muntahan di wajahku dan aku yakin mereka lupa menutup kerannya lagi. Itu sumber bencana banjir di apartemenku ini. Baiklah, apa yang bisa aku lakukan sekarang? Perutku lapar, tubuhku lemas dan mata sialan ini sudah amat berat ingin dikecup sang mimpi. Lagi-lagi aku mengerang, frustasi dengan keadaan sialan ini. Hari senin memang tak pernah bersahabat denganku, selalu saja ada masalah yang terjadi.Menyinggung sumber masalah, sepertinya aku ingat sesuatu. Sumber di atas sumber, yaitu naskah sialan itu! Ah... di mana aku meninggalkannya? Oh tidak, aku lekas berlari ke ujung ruangan dekat tong sampah. Kertas menggenang di mana-mana, dan aku harus memungutnya satu persatu namun sayang sekali, saat aku mengambilnya, kertas-kertas itu sudah seperti bubur. Bahkan tintanya sudah hilang, dan demi Tuhan, aku menyesal karena kemarin tak sempat membaca bagian akhirnya.Mataku kembali menatap sekeliling dan mendesis, 'Aku tak mau membereskan semua kekacauan ini!' kemudian melenggang ke kamar, setelah memastikan bahwa kasur yang kududuki saat ini bebas dari bencana banjir, aku segera mengambil ponselku di dalam tas dan mulai mencari kontak ibu. "Halo, ibu. Apa kabar?" 'Baik, kau sendiri bagaimana, Nak? Baik-baik saja?'Mungkin ini akan membuat ibuku sedikit cemas tapi aku benar-benar tidak bisa berbohong padanya.'Nak? Apa yang terjadi di sana? Kau sakit? Pulang saja ke rumah kalau kau sakit.' Oh sial, aku jadi rindu pelukannya. "Aku sudah baik-baik saja. Kemarin Anggi dan Inggrid membawaku ke rumah sakit, hanya gejala masuk angin, jadi ibu tidak perlu khawatir." terdengar helaan lelah dari ujung saluran, mungkin ibu sedang tak minat untuk mendebatku."Bagaimana kabar Ayah?" 'Dia sedang bahagia,' "Benarkah?" 'Hn, Ayahmu mendapat dokter terapi yang setipe dengannya dan tadi siang mereka pergi memancing bersama. Kau tau, Nak? Ayahmu langsung memintaku untuk memasak ikannya malam ini juga.' Aku tertawa mendengar cerita ibu, ayah sedikit sensitif semenjak ia terserang struk ringan, emosinya pun selalu berubah-ubah dan mudah tersinggung. Tapi saat mendengar cerita tadi sepertinya ayah sudah kembali ke kepribadiannya yang dulu, periang."Hellen turut senang mendengarnya, dan semoga Ayah lekas sembuh seperti sedia kala." aku diam, menimbang-nimbang keputusanku untuk bercerita pada ibu atau tidak. "Errr ibu, ada yang ingin Hellen katakan. Berhubung kak Nico sudah tinggal jauh di negara entah di bagian mana, jadi aku hanya akan meminta persetujuan dari ibu seorang." 'Apa sayang? Katakan saja, jangan ragu-ragu untuk cerita pada ibumu ini.' "Aku-" 'Apa kau hamil?' Huh? Pemikiran dari mana itu? Aku akan memperingatkan Daniel untuk meniadakan channel tak berguna dari televisi di rumah kami. Ibu overdosis drama kacangan."Tidak, ibu salah paham! Demi Tuhan, aku tidak hamil." 'Oh syukurlah, ibu sudah menyiapkan inhaler kalau dugaan ibu tadi benar-benar terjadi.' Tolong jangan racuni otak polos ibuku, televisi!!!"Tidak ibu, aku hanya ingin meminta izin ibu untuk menjual apartemen kak Nico."Aku tak mendengar suara ibu, ugh... jangan-jangan ibu marah padaku karena ide konyol itu. 'Sudah 10 tahun lebih, tak disangka kalau apartemen peninggalan kakakmu itu sudah sangat tua, memang sudah sewajarnya kalau kau pindah ke apartemen yang baru.' Aku memang sudah berencana pindah sejak akhir tahun lalu tapi masih belum menemukan alasan yang masuk akal untuk meninggalkan apartemen ini. Banyak cerita yang terjadi di sini, lebih banyak tentang kenangan milik kak Nico. Aku merasa sedikit bersalah jika menjualnya, tapi aku juga tidak mau membelenggu kebahagiaan kak Nico dengan semua omong kosong sialan ini, dia laki-laki baik dan dia pantas bahagia. 'Bagaimana dengan dananya?' Dana? Ya, aku butuh dana. Mungkin setelah ini aku akan mengorbankan isi dompetku untuk membeli pulsa, menelpon ke luar negeri tidaklah murah. Dan sialnya kak Nico tidak memakai aplikasi gratisan seperti line, kakao, WA atau bbm. Apalah hidup kakak laki-lakiku itu, sangat monoton. "Aku punya sedikit tabungan, mungkin sisanya akan pinjam pada bank atau membayarnya secara angsuran. Kemungkinan terkecil aku akan meminta donasi pada kak Nico." 'Kalau kau menelpon kak Nico, bilang padanya untuk memberi donasi pada adik bungsunya!' Aku mendengar suara Daniel berteriak. Aaah... bocah tengik itu, hidupnya selalu mencari donasi, kalau tidak pada Nico ya padaku! Pernah sekali dia menjadi parasit di apartemenku selama dua bulan karena tak berani pulang ke rumah setelah memecahkan mug keramik kesayangan ayah."Aku akan menyampaikannya kalau aku tak lupa," aku bisa membayangkan bagaimana mulut adik lelakiku sedang berkomat-kamit saat ini. 'Big sis,' sialan, dia mengambil alih ponsel dari ibu. "Kau tak akan bisa merayuku, Daniel. Aku sendiri sedang diujung tanduk sekarang!" 'Tidak, aku tak meminta donasi padamu. Aku hanya ingin menyampaikan pesan kak Nadine, dia akan menikah akhir pekan ini, dia memintamu untuk hadir dan jadi pengiring pengantinnya.' "Kau tidak bisa merusak mood-ku lebih buruk dari ini, bocah sialan! Tadi siang aku baru saja bertemu dengannya di kafe." Aku mendengar tawa adikku meledak. Menjengkelkan, aku benci memiliki adik kelewat jail sepertinya. 'Daniel berikan ponselnya pada ibu, dan berhenti membuat lelucon seperti tadi. Suatu saat kalau memang sudah waktunya, kakakmu juga akan menikah dan memberikanmu keponakan.'Perasaan senang yang muncul saat ibu memarahi Daniel kini musnah begitu saja saat beliau kembali menyinggung kata pernikahan dan calon keponakan.'Halo, Nak, kau masih di sana? Haloo...' "Ya, bu." 'Sudah jam sepuluh malam, kau harus tidur. Oh, ibu lupa, kalau nanti masih kekurangan dana, Ayahmu bilang bisa menjadi donatur cadangan.' Mentari kembali terbit di wajahku, "Baiklah." 'Heeey sepertinya aku mendengar suara girang di seberang sana!' demi Tuhan, aku benci suara cerewet Daniel! 'Jangan hiraukan adikmu, tidurlah, besok kau harus pergi kerja kan?' "Mmm ... sampaikan salamku untuk Ayah. Selamat malam ibu, aku cinta kalian." 'Selamat malam, Nak. Kami juga mencintaimu.' Setelah itu baru kumatikan. Bocah tengik Daniel tak akan mampu merusak mimpi indahku tentang gambaran apartemen baru yang jauh lebih layak huni dari ini. ♪♪♪ Selasa Ini hari yang baik, mentari tersenyum cerah menyambutku dan jalanan menuntunku ke jalan yang lurus, alias tidak terlalu macet. Aku sudah menelpon kak Nico saat sarapan tadi, dia sedang dalam mood yang bagus sepertinya. Dari intonasi suaranya aku bisa menebak-nebak kalau dia sedang senang entah karena apa aku tak mau mengorek-ngorek lebih lanjut. Maksudku, belum saatnya. Kak Nico memberikan dukungan penuh saat aku bilang akan menjual apartemen bersejarahnya, bagusnya dia akan memberikanku beberapa dollar untuk apartemen baruku nanti. "Hellen, kau suka bunga?" Kuncoro tak akan bisa merusak moodku hari ini, aku tersenyum padanya dan mengangguk."Bunga apa?" "Bunga Bank!" Kataku sambil lalu. Kuncoro mendadak mati berdiri selama beberapa menit. "Aku akan berusaha keras!" Astaga, sepertinya otak Kuncoro benar-benar rusak parah. Rabu Pekerjaan menyita seluruh waktuku, aku belum sempat mencari apartemen baru.Errmm... mengenai banjir dua hari lalu, airnya sudah surut dan aku mengeluarkan isi dompetku untuk membayar seseorang untuk membersihkannya. Kamis Nadine, dia sepupuku dari pihak ibu. Sejak kemarin aku mengungsi di rumahnya selama apartemenku sedang dalam pembersihan. Sebenarnya itu hanya alibiku, pasalnya lokasi apartemen Nadine lebih dekat dengan kantorku, dan aku tak perlu mengeluarkan uang untuk pergi bekerja karena kafe milik Nadine tepat berada di ujung jalan. Sial, aku menjadi parasit seperti Daniel. "Berapa harga apartemen di sini?" Aku baru saja selesai mandi dan langsung bergabung dengan Nadine yang sibuk membuat makan malam untuk kami. Dia menoleh setelah mendiamiku selama beberapa menit, "Ini bukan apartemen elit, Hellen. Harganya tak terlalu tinggi, tapi ya cukup nyaman." "Justru itu yang aku cari." "Kau berniat pindah? Lalu apartemen lamamu bagaimana?" suatu keajaiban melihat sepupuku mengabaikan masakannya dan lebih memilih menatapku. "Aku akan menjualnya." "Nico bagaimana?" "Aku sudah menelponnya, dia setuju." Makanan sudah siap, Nadien tak lagi bertanya apa-apa padaku. "Kau selalu sukses memanjakan lidahku." ujarku serius, aku tak pernah bohong tentang keahlian memasaknya yang sangat jitu, bahkan aku juga belajar padanya. "Hmmm, apapun yang berlabel gratis pasti enak." "Hahahaha..." tawa sumbang keluar dari bibirku saat mendengar cibiran telak darinya. Nadine melemparkan kata-kata yang selalu kuucapan, sialan. "Err, Nadine bisakah kau bertanya pada marketing executive apartemen ini untukku? Siapa tahu saja ada yang kosong, aku akan sangat senang kalau itu ada." "Baiklah." Ia berkata setelah meneguk air minumnya, "Aku ngantuk," "Kau akan menabung lemak, Nadine!" sindirku dan dia mengendihkan bahu acuh. Sebelum tubuhnya benar-benar masuk ke dalam kamar, ia kembali menoleh padaku, "Hellen," "Hm?" "Jangan lupa cuci piring setelah makan." kemudian tubuhnya menghilang, pintu tertutup dan mimpi buruklah dia! Aku mengerang kesal, malas sekali mencuci piring malam-malam begini. Tapi kalau kutinggalkan sampai besok pagi dan Nadine bangun lebih awal maka petaka akan datang, suara lengkingannya bisa tembus ke lubang semut kalau kalian ingin tahu! 'Kau sudah memasak, jadi aku akan mencuci piring.'Astaga, kenapa aku jadi teringat kata-kata dokter sialan itu! Lupakan, lupakan, dia tidak berhak menyita waktuku, tidak sedikit pun! ♪♪♪ Sabtu My lucky day! Nadine tadi menelponku, ia bilang ada tempat kosong di tower 5, lantai 10. Tak apa, sepuluh adalah nomor keberuntunganku.Tidak banyak barang yang aku bawa ke apartemen baru, hanya TV, koleksi buku beserta lemarinya, lemari es dan juga sofa antikku. Selebihnya aku tinggalkan semua, oh aku lupa, Mario juga ikut bersamaku. Kami tak terpisahkan, always together forever. Besok pasti akan jadi hari yang melelahkan, mungkin aku akan meminta Nadine untuk membantuku mendekor ulang tempat tinggal baru ini. Dia memiliki selera yang bagus dalam seni designs, dan aku akan merasa terbantu jika dia mau melakukannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD