Perfect! Sebenarnya satu kata itu tidak cukup untuk menggambarkan perasaanku terhadap tempat tinggal baruku. Aaah... terimakasih untuk Nadine yang sudah banyak membantu dalam dekorasi ruangan.Mungkin tidak semewah tempat tinggal Anggi, tapi aku sangat puas dengan tempatku yang sekarang. Tidak hanya karena harganya yang miring, tempatnya lebih luas, lebih nyaman dari tempatku yang dulu. Hal paling utama yang aku syukuri karena letaknya tak begitu jauh dari kantorku, aku hanya perlu naik ojek sekitar 15 menit untuk sampai ke sana.
Bicara tentang kantor, aku jadi teringat naskah waktu itu, aku belum sempat menyelesaikan bagian akhirnya. Dari penilaianku, ini penilaian seorang editor terhadap sebuah tulisan, bukan penilaian subjektifku, ingat itu baik-baik. Dari beberapa segi atau sudut pandang sebagai seorang editor, aku menilai naskah itu layak untuk ditindak lanjuti alias berhak masuk ke meja redaksi dan naik cetak.
Beruntung sekali karena aku menemukan amplop yang pernah dikirim oleh penulisnya bersama naskah ke kantor penerbitan kami, naskah itu rupanya sudah masuk sejak 4 bulan lalu dan baru muncul ke permukaan berkat pemilihan acak yang aku lakukan waktu itu.Di amplop itu hanya tertera alamat si penulis saja, karena biodatanya sudah ia sertakan bersama di dalam naskah, itu sudah pasti. Aku memutuskan untuk menemui penulisnya langsung di kediamannya karena aku tak memiliki nomor ataupun emailnya. Mungkin agak sedikit memalukan saat aku meminta copyan naskahnya lagi dengan alasan naskah yang lama sudah menjadi bubur dan terimakasih pada bencana banjir air wastafel yang sudah melenyapkan semuanya.
Aku membongkar isi tasku, kalau tak salah aku sudah memasukkan amplop berisi alamat itu ke dalam tas. Semoga penyakit pikunku tidak kambuh. "Ini dia!" aku bernapas lega, kalau ini sampai hilang maka berakhirlah, perasaan bersalah akan selalu menghantui tidurku selamanya. Bukan bersikap berlebihan, tapi ini menyangkut tanggung jawab dan profesionalitas seseorang dalam pekerjaannya. "Hunian SuperBlock, tower 5 Lantai 10, nomor 1009."
Secara teknis kaki-ku lekas berlari ke luar untuk memastikan bahwa apa yang tertera di amplop ini dan apa yang tertera di luar memanglah sama.
“Tidak mungkin!” Sekarang, apa? Apakah aku langsung mengetuk pintu rumahnya dan menjelaskan maksud kedatanganku padanya tanpa basa-basi lagi? Tidak, tidak, itu sangat tidak sopan. Seperti ciput, tubuhku langsung kembali masuk ke dalam rumah.
Ponselku? Di mana aku meletakkan ponselku? Astaga, belum berumur 50 tahun saja sudah sepikun ini, bagaimana nanti? Mungkin aku melupakan hidungku juga kalau tidak menempel erat di tempatnya."Ini dia!" ponsel sialan ini rupanya bersembunyi di balik bantalan sofa. Mungkin ponselku tahu kalau pulsanya akan kupakai jadilah ia bersembunyi. "Angkat, angkat, ayolah Nadine!"
'Halo...?'
"Nad! Syukurlah, kukira kau akan mengubur ponselmu."
'Ada apa? Kau menganggu, kalau kau ingin tahu!'
Dari suaranya yang kesal bisa kupastikan dia sedang berada di pantry dan sedang membuat resep baru."Kau sudah memberitahuku tadi, terimakasih-" aku yakin dia akan semakin kesal. "-jangan ditutup! Aku ingin bertanya sesuatu padamu."
'Helleeen...' ia kembali mengerang kesal.
"Baik, baik, aku akan bicara pada intinya. Errr... apa yang akan kau lakukan untuk berkenalan dengan tetangga baru?"
'Tetangga baru? Aku akan membuat makanan dan mengiriminya, itu langkah yang sangat tetap untuk berkenalan, kurasa,'
"Oke baiklah, tapi... makanan apa yang harus aku buat?"
'Apa saja, kau bisa membuat kue atau membuat makan malam, terserahmu ingin membuat apa, Hellen.'
Nadine benar-benar sedang tidak bersahabat, "Terimakasih sudah mau menerima panggilanku, selamat sore dan semoga resepmu berhasil."
♪♪♪
Aku membuat makanan ringan, ada beberapa cupcakes yang kubawa di box kecil ini. Sial, ini seperti uji nyali, baru pertama kalinya aku dibuat gugup begini hanya karena ingin mengetuk pintu rumah salah satu penulis.Tarik napas, hembuskan. Aku mensugestikan diriku agar tetap santai. Oh, aku sangat tidak mau mempermalukan diriku di depan siapapun.
Teeeet....Bel sudah berhasil aku tekan, sekarang hanya tinggal menunggu respon dari pemiliknya. Semoga dia bukan orang yang cerewet maupun jutek.
"Siapa?"
Dari suaranya aku sangat yakin kalau penghuni apartemen ini bukanlah seorang wanita, dia seorang pria! Atau bisa jadi dia adalah suami dari penulis naskah itu? Ya, mungkin saja."Hai, aku tetangga baru di sebelah rumahmu-"
"Apa maumu?"
Sepertinya dia bukan orang yang ramah, "Aku membawakan cupcakes untukmu, sebagai tanda perkenalan." aku mengambil satu langkah maju, mencondongkan tubuhku tepat di depan intercom seraya menunjukkan box yang kubawa.
Klik!Sudut bibirku tertarik ke atas saat mendengar suara pintu yang dibuka oleh tuan rumahnya. Baguslah, sepertinya dia sedikit luluh setelah melihat cupcakes cantik buatanku."Selamat mal-"
Bloody f*****g neighbor! Aliran darahku tiba-tiba saja berhenti, aku tidak bisa membayangkan sepucat apa diriku saat melihat penampakan di depanku."Kenapa wajahmu berubah jadi jelek setelah melihatku?"
Aku menggeleng, "Hanya syok, dari sekian banyak penghuni di gedung apartemen ini, dan dari sekian ribu orang penulis hebat, tapi kenapa harus kau?"
"Mungkin karena Tuhan terlalu mencintai kita." katanya sarkasme, ia sedikit menggeser tubuhnya, "Mau masuk atau tetap berdiri di sana seperti orang bodoh?"
Aku mendengus, "Sure, I'll be in."
Mataku tak bisa diam selagi kakiku berjalan mengikuti si tuan rumah. Dari apa yang terpampang di depan mataku, aku yakin dia tipe orang yang maniak kebersihan.Dugh!Aku menabrak punggungnya. Keras. Sial!
"Letakkan sandal kotormu di rak itu dan ganti dengan sandal khusus yang tersedia di sana."
"Maniak kebersihan huh?" aku mengejeknya, dia hanya diam namun jari telunjuknya menuding lurus tepat ke sebuah rak di samping pintu masuk tadi. "Baiklah, baiklah, baiklah, dokter!"
Aku sudah melakukan apa yang dia perintahkan, memakai sandal bodoh di kakiku. "Di mana aku bisa meletakkan ini?"
Dia menoleh, air mukanya seperti sedang berpikir, "Bawa kemari."
Gila! Sebenarnya dia ini apa? Aku jadi sedikit meragukan jenis kelaminnya setelah melihat betapa mengkilap dan lengkap peralatan dapur miliknya. Dia sedang mengikat apron bunga-bunga lucu di tubuhnya. Aku jadi tergugu, ini lucu, sungguh. "Letakkan saja di meja dan duduklah."
Jadi sebelumnya dia sedang memasak makan malam huh? "Kau tinggal sendiri?"
"Apa kau melihat orang lain di sini?"
Ah orang ini, menyebalkan sekali! "Oh, jadi kau sedang balas dendam atas ucapanku waktu itu? Baiklah, kita seri, satu sama."
Itu lucu! Aku menatap gelas yang terpajang di lemari kaca penyimpanan perlatan makan miliknya. "Jangan sentuh apapun, letakkan kembali gelas itu pada tempatnya." Ish! Apa orang ini mempunyai mata di balik rambut hitamnya? Kutaruh kembali gelas kelinci cantik itu ke tempat semula dengan kesal."Wajah gelasnya menghadap ke kaca, bukan ke dalam. Dia bisa sesak napas nanti."
"Oh, astaga, apa kau menderita OCD?"
Mataku kembali bergerilya, menatap dengan lebih teliti setiap benda yang ada di ruangan ini. Semuanya rapi, tidak ada benda yang tidak berada pada tempatnya, tidak ada benda yang tersimpan dengan posisi tak teratur. Melihat semua ini membuat sisi jailku tergelitik, tanganku terulur menyentuh vas bunga yang tak jauh dari jangkauanku, memutarnya sedikit ke kiri. Aku ingin lihat apa dia menyadari perubahan kecil ini?
"Kau sudah makan malam?" ia sudah selesai, apron yang tadi dipakainya sudah tak melekat di tubuhnya, tergantung rapi di tembok samping lemari es. "Putar vas itu kembali seperti semula, sedikit ke kanan-" ia berkata setelah selesai meletakkan dua piring yang dibawanya di atas meja dengan wajah sebal.
"Jadi kau benar-benar mengidap OCD?" aku berjalan mendekat, mengambil kursi dan duduk bersebrangan dengannya. Ada omelette lezat di depanku.
"Seperti yang kau katakan, aku, kau, mereka, atau siapapun pasti memiliki masa lalu. Dan masa lalu yang mengubah kita menjadi sosok hari ini, besok atau mungkin sampai nanti."
Kepalaku mengangguk setuju, aku dan dia tak jauh beda, kami memiliki cacat dalam kehidupan sialan ini. "Ini enak," aku mengutip kata-katanya waktu itu.
"Ya. Apapun yang berlabel gratis akan terasa enak. Percayalah." Ia kembali membalas apa yang aku katakan dulu padanya. Astaga, dia mengingat tiap detail ucapanku? Apa OCDnya ikut andil dalam ketajaman daya ingatnya juga? Itu konyol. "Kau pindah kemari karena ingin dekat denganku?"
"Uhuk!" ia menyodorkan gelas padaku. Sial, apa yang baru saja dia katakan? "Kau bisa membuatku mati karena pertanyaan bodohmu, dokter." Aku mendengus kesal seraya mengelap ceceran air dari mulutku. "Ingin dekat denganmu kau bilang? Jangan membuatku muntah di punggungmu untuk yang kedua kalinya."
"Lalu?"
"Apa?" kenapa darahku selalu mendidih setiap kali bicara dengannya? Menyebalkan sekali! "Dengar, terjadi sesuatu dengan apartemen lamaku pasca malam naas di rumah sakit waktu itu. Dan sepupuku berada di tower dua, dia bilang ada tempat kosong di tower 5 lantai 10 dan harganya tak begitu menguras isi dompetku maka di sinilah aku." Hebat, aku bisa bicara dalam satu tarikan napas seperti tokoh fiksi kesukaanku, Hermione.
"Tidak heran," ia berkomentar tidak jelas. Aku hanya mengangkat bahu acuh. Seperti Deja'vu, ia berdiri dari duduknya seraya membawa piring serta gelas kosong di masing-masing tangannya. Ia akan mencuci piring.
Tidak, aku tidak akan melakukan hal yang dia lakukan saat makan malam di rumahku minggu lalu. Aku justru duduk di atas marmer seraya menatap dirinya yang mulai membuka kancing lengan kemejanya kemudian menggulungnya hingga siku. Kalau ingatanku masih bagus maka bisa kusebutkan namanya adalah Arka. Dia mulai menyalakan keran wastafel, mengambil spoons yang sudah dilumuri sabun dan mulai menggosok piring, gelas serta perlatan memasak yang kotor.
"Kenapa kau tidak menyewa pekerja rumah tangga?" Arka melirik dari sudut matanya, ia tak lekas menjawab, entahlah, mungkin dia sedang memikirkan alasan yang tepat.
"Aku tak mengizinkan siapapun untuk masuk ke dalam wilayahku."
Dia serius? "Oh, astaga, jangan bilang kau melakukan mal praktek di sini? Aborsi? Really?"
Kulihat dia mematikan keran, kemudian mulai menata piring, gelas dan peralatan lainnya di rak kecil untuk menuntaskan sisa-sisa air. Ia berbalik, dan sekarang apa? Kenapa dia menatapku seperti itu? Oh sial, apa dia tersinggung karena ucapanku tadi? Sepertinya selera humorku memang benar-benar menyedihkan.
Sesuatu terjadi pada lidahku, rasanya seperti terkena lem perekat hingga menempel di atas langit-langit mulutku. Dan ada apa dengan tubuhku? Kenapa rasanya kaku hanya karena menatap manik kelam miliknya.Dia mendekat, sekarang sudah berada tepat di hadapanku, tubuhnya kini mulai dicondongkan ke depan, dekat, lebih dekat, semakin dekat. Astaga! Aku sampai lupa caranya bernapas. Apa yang baru saja terjadi? Dia... mencium pipiku?
Aku mendorong tubuhnya sedikit ke belakang untuk membuat jarak tapi rasanya percuma karena dia tetap berada di titik yang sama, mengurungku dengan kedua lengan besarnya, "Apa yang baru saja kau lakukan?" aku sudah berusaha membuat suaraku terdengar normal tapi kurasa gagal.
"Memakan sisa omelette di pipimu,"
"Hah?" Apa otaknya sudah terbalik?
"Di luar sana, kau tidak akan pernah tahu kalau ada banyak orang yang mau melakukan apapun untuk mengisi perut mereka."
Iris cokelatku bertemu dengan iris kelamnya dan aku baru benar-benar mengamati lautan hitam itu, sangat hitam dan tak ada cahaya. Namun entah kenapa aku merasa kalau itu adalah suatu kelebihannya, yang membuatnya terlihat memukau dan indah.
"Kau tahu?" ia berbisik.
Dadaku berdegup kencang, sial. "Apa?"
"Bokongmu sudah menggores marmerku, Nona." ia berkata dengan nada jenaka versinya, dan itu sangat menyebalkan menurutku.
"Minggir!" kataku sebal seraya mendorongnya cukup keras.
Arka terkekeh, bukan kekehan yang menyenangkan di telingaku. "Kau mau makanan penutup dengan sentuhan bioskop? Aku punya pop corn dan juga DVD bagus, aku yakin kau akan suka."
"Itu terdengar menyenangkan?" kataku tak yakin.
Dia tersenyum miring. "Tunggu di ruang tengah, aku akan gergabung setelah beganti baju dan setelah itu akan ada pop corn, soda dan kemudian kita akan menonton film yang bagus."
Apa dia baru saja mengedipkan matanya padaku? Oh, astaga, aku bisa gila jika harus berada di sekitarnya dalam waktu yang cukup lama. Apa aku masih mau menawarkan sebuah kerja sama atas naskahnya dengan kantor penerbitan kami? Neraka sudah di depan mataku, Tuhan.
"Aku harap kau tidak sedang berfantasi tentang tubuhku."
"Sial, kenapa kau suka sekali membuatku kaget!"
Seperti yang ia katakan sebelumnya, berganti baju. Tapi aku tidak tahu kalau ganti baju menurut versi otaknya adalah seperti ini, memakai celana katun dengan atasan sebuah singlet saja."Mendapat pemandangan bagus?" ia membuat lelucon atas tubuhnya.
Aku mendengus seperti biasa seraya memberikan tatapan 'jangan gila!'Entahlah, aku tidak tahu apa yang aku lakukan saat ini adalah hal yang benar atau salah. Pop corn dan dua botol kaleng soda sudah ada di atas meja, aku duduk di sisi kiri sofa seraya menunggunya selesai memasang kaset pada DVD player miliknya.
"Ready?" Dia membawa remotenya, sekarang dia duduk tepat di sampingku namun sedikit ada jarak.
"Um, yeah." Dan dia mulai menekan tombol play pada remotenya, seketika TV di depan kami menampakkan gambar. "Love & Other Drugs? Romance kriminal?"
Dia meneguk sodanya seraya melirikku dari ujung matanya. Sama sekali tak ada niatan untuk menjawab. Aku menyerah, satu-satunya jawaban hanyalah mengikuti alur film ini sampai habis. Tapi sejauh ini aku tidak bisa konsentrasi pada film di depan sana, "Tidak bisakah kau pakai bajumu, dokter?" karena mataku merasa terganggu, sungguh. Setiap 3 menit sekali aku selalu mencuri pandang ke arahnya dan itu tidak baik untuk kesehatan mataku.
"Aku tidak tahan panas."
"Apa kau mempunyai masalah dengan kulitmu? Bahkan aku bisa merasakan dingin AC sampai ke tulangku!"
Dia pergi ke kamarnya, mungkin. Kukira dia akan kembali dengan kaos atau semacamnya yang lebih layak disebut baju. Tapi lagi-lagi aku salah, dia datang dengan membawa selimut tebal dan ia lemparkan padaku."Apa ini?"
"Kau bilang kau kedinginan." katanya datar.
Aku memutar mataku kesal. Tak ada gunanya berdebat dengan orang aneh sepertinya. Tubuhku sudah cukup hangat karena selimutnya dan seperempat hatiku menggumamkan terimakasih."Apa yang kau lakukan?" aku berseru panik saat tiba-tiba ruangan menjadi gelap.
"Tidak ada bioskop yang terang."
"Okay?" ujarku skeptis. Kemudian mataku kembali fokus ke layar kaca.
OH, BLOODY f*****g MOVIE! Hanya tiga kata itu yang mampu lolos dari mulutku. Film yang awalnya kukira bertema kriminal atau semacamnya, ternyata adalah film dewasa. Aku bersingut untuk menatap dokter aneh itu, namun dengan cepat pula tangannya memutar kepalaku kembali ke layar kaca.
Oke, aku harus menenangkan diriku terlebih dahulu, dan meyakinkan kalau aku sudah sangat legal untuk melihat adegan panas di depan. Tapi sial, aku tak biasa. Maksudku, aku merasa malu pada diriku sendiri. Sudut mataku kembali melirik pada Arka yang duduk tak jauh dariku, ia terlihat biasa saja. Mungkin baginya hal sacam itu sudah lumrah, apalagi dia berprofesi sebagai seorang dokter. Pengetahuannya tentang s*x maupun bagian dari tubuh manusia sudah tak taboo lagi.
"Semua laki-laki memang b******k sepertinya!" mulutku berseru saat melihat sang aktor utama sedang bermain panas dengan istri bosnya sendiri. Kulihat Arka sedang menatapku, sebuah tatapan yang meminta penjelasan atas statement'ku barusan. "See, mentang-mentang dia seorang pria tampan, lalu dia berpikir bisa memainkan antenanya tak tahu tempat."
Arka menggeleng, "Kau tidak bisa menghakimi orang dengan semudah itu hanya karena melihatnya dengan teropong kecilmu, Nona."
"Pardon?"Arka mengambil napas sebelum berbalik padaku dan berbicara bahwa semua orang mempunyai alasan untuk setiap hal yang terjadi dalam hidupnya dan dia juga bilang kalau setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah walau tak tahu kapan dan bagaimana prosesnya.
"Okaaay? Let’s us see, apa yang akan terjadi pada aktor tampan Jemie dan antenanya itu!" Aku kembali menoleh dan hatiku menggeliat tak nyaman saat tatapan kami bertemu. Dia masih memandangiku dengan tatapan konfrontasinya? "Apa?" tanyaku kikuk. Kepalanya menggeleng. Dasar orang aneh!
Atensiku kembali fokus pada layar di depan dan mulai menikmati alur ceritanya. Aku cukup terkesan dengan perjuangan Jemie untuk mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih layak dari sebelumnya namun justru berakhir menjadi sales obat. "Aku suka bagian itu!" Seruku saat melihat wanita bernama Megie baru saja menghantam kepala Jamie dengan tasnya. "Seharusnya dia bisa memukulnya lebih keras lagi." imbuhku dan Arka semakin menatapku nyalang. "Heeey, dia baru saja mengintip seorang pasien yang sedang mengkonsultasikan suatu gejala dibagian payudaranya! Dan seandainya aku jadi Megie. Aku pun akan memukulnya seperti itu, atau mungkin lebih dari itu kalau aku tahu lelaki itu bukanlah seorang dokter, melainkan seorang sales obat yang c***l!"
Arka tak memberi tanggapan, ia hanya memutar manik kelamnya. Mungkin dia lelah berdebat denganku. "Aku kadang berpikir apa melakukan hal itu tidak menjijikan?" mulutku kembali mengoceh, mengomentari adegan ciuman yang melibatkan lidah?
"Entahlah. Mau mencobanya?"
Sontak kepalaku berputar dramatis ke arahnya. "Ouch, disgusting!"Kami kembali fokus pada layar kaca di depan namun sama sekali tak mengurangi kecanggungan yang menguar di antara kami."Dokter, ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Bicaralah."
"Aku sudah membaca naskahmu," Dia menoleh. Aku tak bisa menebak ekspresinya karena cahaya yang sangat minim ini.
"Lalu?"
"Hmm... dari penilaianku sebagai seorang editor, karyamu cukup bagus dan akan semakin bagus kalau melakukan beberapa revisi. Maaf, ini terdengar sangat tidak kompeten melihat kelalaianku, naskah yang kau kirim sudah lebur karena bencana banjir air wastafel di apartemenku. Aku jadi tidak bisa mengabarimu mengenai naskahnya,"
Untuk kedua kalinya aku menoleh, dan Arka masih pada posisi yang sama. "Sebenarnya aku belum menyelesaikan bagian akhrinya dan juga tak sempat melihat biodata penulisnya. Aku mendapatkan alamat dari amplop yang dikirim penulis bersama naskahnya. Dan ini mengejutkanku saat tahu kaulah penulisnya."
"Jadi?"
Aku mengubah posisi dudukku menghadapnya, "Penerbitan kami memberi penawaran kepada penulis untuk mencetaknya. Jika kau setuju maka aku akan memberikan salinan kontrak kerja dan menerangkan beberapa point penting tentang penerbitan kami."
Kini atensinya tak lagi tertuju padaku, ia sedang menatap langit-langit ruang tengah ini. Keadaan berbalik, sekarang aku yang sedang menatapnya. Dan televisi sedang menonton kami.
"Tidak-"
"Apa?"
"Aku tidak bisa,"
"Tapi kenapa?"
Kepalanya kembali menoleh padaku, dan degupan di dadaku terasa menyakitkan hanya karena menunggu sesuatu keluar dari bibirnya. "Sudah jam 9, pulang dan istirahatlah."
Aku menghela napas, untuk pertama kalinya ada seseorang yang menolak naskahnya naik cetak. Yang tidak habis pikir, kenapa dia mengirimkan naskahnya kalau tak mau dipublikasikan? Oh, benar, dia seorang dokter. Dengan profesi itu, dia memiliki penghasilan jauh lebih tinggi daripada aku, jadi rasanya sangat masuk akal kalau dia menolak publikasi naskahnya. "Terimakasih atas makan malam dan juga bioskopnya, dokter." ada nada marah di suaraku tapi sepertinya dia tak menyadari itu.
"Aku akan mengantarmu sampai depan-"
"Tidak perlu," kataku sambil lalu. Aku marah, tapi aku tak tau marah pada apa. Ini tidak masuk akal. Aku benci perasaan ini. Sandal bodoh miliknya sudah aku letakkan (baca: kulempar) kembali di tempat semula.
Dari sudut mataku aku melihat Arka sedang berdiri di belakangku, bersedekap d**a seraya menyipitkan matanya tak suka. Aku tak peduli, sandal kodok kesayangan sudah membalut kakiku. Sebelum menutup pintu, tubuhku kembali berbalik dan menatapnya.
"Kau meninggalkan bokongmu?" ia bertanya dengan lelucon bodohnya. Aku hendak menimpali tapi tak ada suara yang keluar dari mulutku, justru aku terlihat bodoh karena selama beberapa menit hanya membuka dan menutup seperti ikan lohan.
Astaga, tidak seharusnya aku marah padanya hanya karena dia menolak untuk mempublikasikan naskahnya pada penerbitan kami. Dia berhak atas naskahnya, dan berhentilah bersikap kekanakan, Hellen! Gezzz... aku baru saja membuang napas dalam, sekarang aku sudah bisa menatap manik kelamnya. "Selamat malam, dokter."
"Malam." Dan semua omong kosong ini akhirnya berakhir.