PIE STRAWBERRY

2208 Words
Setiap malam gue mimpi buruk. Semalam gue bermimpi didatangi cewek sexy mirip Mila tapi dengan rambut warna merah, cewek itu pertama-tama mengedipkan mata mengundang gue untuk mendekat, naluri lelaki gue yang nggak bisa di tantang, langsung aja datangin si cewek rambut merah mirip Mila itu. “Hai.,” sapanya kegatelan sama gue. Lo gatel gue garuk. Dia mengulurkan tangan lebih dulu, bak gentleman di film-film kolosal gue mencium punggung tangannya. “Siapa namamu nona manis?” “HIV, namaku HIV.” Jreeeng! Gue langsung bangun, dan mengutuk mimpi gue sendiri. Sebelum itu, kemarin lusa gue juga mimpi di kejar-kejar virus sebesar gunung yang mau giling gue, gue kegiles sampe peot. Astaga, mimpi gue…, gue rasa lama-lama gue akan mati di dalam tidur kalo mimpi gue terus-terusan kayak gini. “Kenapa?” Bang Lukman nggak biasanya dia masuk ruangan gue. “Kelihatan stres berat lo padahal Brussel udah beres kan? Sudah tidur semalam?” Gue menggeleng lemah. Gue mengeluarkan dokumen pajak yang harus dilihat Abang gue. “Ada staf yang memalsukan pendapatan, teken pajak, keuntungannya buat dia. Gue suruh Andri untuk cari tahu lagi. Untuk benahi ini kemungkinan kita rugi sampai 200jt bang.” Gue menghela nafas, sementara dengan gerakkan seorang raja Abang gue duduk di kursi depan gue dengan tenang. Dia kelihatan risih dengan lengan bajunya yang jatuh. “Bali udah bikin gue pusing, di rumah bude bikin gue pusing, kayaknya paling bener gue balik ke luar deh Bang, Indonesia nggak bersahabat banget sama lifestyle gue.” Bang Lukman terkekeh. “Lo enak ketawa aja Bang, itu Austin mau taaruf-taaruf itu apa cobak? Gue jadi kena imbasnya, Bude nuntun gue nikah dan tes..” Sebelah alis Bang Lukman terangkat. “Tes Hiv,” lanjutku. Bang Lukman menahan tawa. Nafas gue makin berat karena kesal, respon orang-orang di sekitar gue memang bener-bener menyebalkan. Kayak hidup gue itu candaan aja menurut mereka semua. “Gue kira lo disuruh tes DNA sama Bude.” Bisa-bisa tes DNA. Dia nggak sadar apa, gue adik yang paling mirip sama bininya. Gimana bisa gue tes DNA, gue semurni berlian titisan bapak gue Sandy Rochman. Sambil mempelajari beberapa print out yang diberikan, dahi Bang Lukman mengkerut dalam. “Semua ini harus didiskusikan dengan bu Sri dulu. Coba deh telpon Romeo tanyakan konsultan pajaknya, kemarin dia sempat ada kasus seperti ini. Setelah diskusikan ini ke Bu Sri, buat janji dengan mereka, kabarin ke saya.” “Baik pak.” Bang Lukman, kalo udah ada kata “Saya” artinya dia udah berubah mode dari Abang jadi Chairman. Dia mendorong kembali print out yang rasanya susah payah gue persiapkan untuk dia lihat dalam hitungan detik doang. “Abang tahu kamu nggak minta pendapat ke abang, tapi sekedar saran aja, perusahaan ini masih butuh kamu, kalo kamu HIV itu akan ada dampaknya kan ke kita.” Aku lantas menutup wajah menyembunyikan wajah kesal, membungkam keinginanku untuk meneriaki manusia di depanku ini. Gue kalo ngacungin jari tengah ke suami kakak gue, termasuk durhaka nggak ya? “Kamu tuh sebenarnya takut nikah atau takut HIV?” Aku nggak pernah seberani itu, tapi aku terpaksa melotot ke Abangku sendiri. “Dua-duanya lah Bang!” Bukannya marah dia justru tertawa. Tok.Tok.Tok. Bang Lukman sudah berdiri dari kursinya waktu buk Dewi, asisten gue mengetuk pintu, karena kebetulan pintu terbuka jadi gue bisa melihat dia membawa goody bag bertuliskan the Labil bakery. “Ada apa bu Dewi? Nggak liat apa saya lagi ngobrol sama Bos besar.” Buk Dewi tersenyum sopan, “Ini yang kirim Bos Besar juga.” Dia melintasi ruangan diringi tatapan kami berdua menuju meja gue. Dia meletakkan goody bag tersebut. “Dari Sora.” Bu Dewi tersenyum penuh penghormatan pada Bang Lukman. “Maaf ya pak, titipan buat bapak nggak ada.” Bang Lukman tersenyum sinis. “Kalo sama Rained saya kalah spesial.” Dia berdiri lalu berjalan santai meninggalkan ruangan. Sementara gue masih mencerna kedatangan goody bag bertuliskan nama toko kue teraneh yang pernah gue dengar. “Udah ya bos, saya ingetin jadwal ketemu Rudi jam tiga.” Gue memejam kan mata, menyusun setiap perintah yang gue terima, dari bang Lukman sampai Bu Dewi. Baru kali ini, di kantor gue sendiri yang sekretarisnya ibuk-ibuk kepala 4. Iya, kalo secantik Luna Maya sih gue oke, tapi ini sih sebelas dua belas Tika Panggabean versi sar’i. Abang gue sengaja banget, gue rasa pasti pilihan sekertaris ini atas campur tangan Jullien Gweny si nenek sihir. Ya Allah hamba ingin sekertaris yang sexy dan enak dipandang. Tunggu dulu, dalam rangka apa nih Sora belikan kue dari toko aneh ke gue. Gue memeriksa handphone dan baru melihat pesannya tertimbun chat pekerjaan, teman kencan dan teman SMA. Dia pakai foto profil strawberry cake, gue kira akun bodong, tahu gitu kan gue jadikan prioritas. Gue baca pesannya, om, Sora kirim strawberry pie, pas di rumah om, om kan nggak sempet nyobain salah satu menu andalan di toko kue ku. Om Aku punya toko kue on line sekarang, yeeee… (emoticon senyum dengan deretan gigi) Lihat emoticon di akhir pesannya gue ikutan tersenyum. Gue langsung telpon aja si empunya pesan. Lamaaaaaa sekali gue mendengar dengung sampai rasanya mau putus asa baru diangkat. “Ini kuenya kamu yang buat?” langsung aja gue bertanya. “Assalamualaikum dulu kek…” Dia mengkritik sopan santunku. “Waalaikumsalam, dah kan. Sekarang jawab ini ceritanya gimana kok bisa ada toko kue?” Dia tertawa renyah. “Tuh kan Om tuh, nggak ada peduli-pedulinya sama aku.” Seandainya gue tahu lo berubah ujud jadi kayak gini, pasti gue peduli setengah mati sama Lo. “Nah, aku tu juga nggak tahu ya, kenapa kamu nggak pernah mention aku serajin dua dik-adikmu yang lain, aku loh, berharap banget kamu minta modal sama aku kek, kayak Bias dan Meyda morotin aku tiap ada maunya.” “Mereka kan bocah.” “Kamu udah nggak?” “Nggak. Aku udah bisa cari uang sendiri.” “Meyda dan Bias juga cari uang sendiri, minta uang ke aku itu cari uang sendiri loh…” Dia tertawa. “Oke aku minta yang lain aja deh dari om. Boleh nggak?” Gue tersenyum miring. Pengaruh otak yang udah capek beberapa hari ini karena tuntutan menikah menikah menikah tes, tes dan tes jadinya gue tiba-tiba kebayang Sora pose sexy di depan gue, merayu rayu gue minta dicium bibir coral ke pink-pinkan itu. Duh gimana enaknya cicipin tu bibir. “Om, aku kan udah kirimin sogokan duluan tuh. Jadi om harus mau kali ini nggak boleh nolak.” Sama aja ternyata, Sora, Bias, Meyda, sama aja ujung-ujungnya nuntut. “Om tolong bujuk ke ayah biar izinin Sora dan teman-teman, liburan ke bali dong…” Enak banget sih suaranya empuk gitu, ada manja-manjanya. “Iya nanti om bilangin.” Anjing enteng banget gue nge-iyain cewek. Sekarang gue tahu kelemahan gue, seharusnya gue tahu hal ini dari dulu sih, emang satu-satunya kelemahan gue terletak pada cewek yang meminta dengan suara manja. “Seirus om…, iya om, makasih om. Om paling baik deh.” Seakan gue bisa melihat wajah cerianya, sampai gue tersenyum sendiri, abis itu pusing, bagaimana caranya ngomong sama Abang? “Eh tapi tergantung kue nya, kalau aku suka aku bantuin ngomong ke Bang Lukman, tapi kalo rasanya kurang, mohon maaf, aku beritahu dulu ya, seleraku tinggi, aku nggak sembarangan menilai makanan itu layak aku makan atau nggak.” “Gilah, kue gue direndahin…” celetuknya ketus, bikin gue tambah gemes. Jadip pengen banget ngobrol sambil liat orangnya. “Om gue mau pergi sama pacar gue, kalo emang om nggak suka kue gue, nggak apa-apa, gue buatin kue setiap hari sampai om suka sama kue yang gue buat. Terserah lah om. Yang penting Sora harus pergi ke Bali!” Gue diam beberapa saat mencerna kata “pacar” yang terasa menggelitik perut, bikin mau muntah mendadak. Ya, siapa si anjing yang beruntung dipanggil pacar sama ponakan gue? “Hmmm.” Gue berusaha santai, padahal sebenarnya ada rasa panik yang menggelitik punggung gue. “Aku liat waktu dulu ya, nanti aku kabarin kalo sudah ngomong sama Bang Lukman.” “Om aku harusnya pergi besok, aku alasan masih ada acaranya Om Romeo sama pacarku, aku udah bohong ke dia, aku merasa bersalah banget, aku nggak pernah bohongin dia kayak gini.” Kayaknya dia sedang menangis deh, aku mendengar isakan tertahan setiap dia bicara. “Om aku dan pacarku udah merencanakan ini dari tahun lalu.” Coba deh, pikirin, sama pacar ke Bali itu kira-kira kalo cowoknya nggak berniat busuk, mau ngapain, Main air? Kulineran? Apa nonton pertunjukan tari? Gue yakin kalo cowok normal nggak akan ngajakin ke Bali buat melakukan aktivitas tersebut, gue yakin, ah. Gue gedeg banget mikirnya. “Sora, buat gue lo tu masih Sora yang harus gue jagain. Gue ngerti banget apa alasannya ayah lo belum kasi ijin.” “Om sama aja.” Tit. Ya Allah, belum aja gue selesai ngomongnya. Kayak ditampar bocil rasanya. Gue liatin handphone gue masih nggak percaya telpon gue dimatikan ketika gue baru aja mau jadi om yang baik, yang menasehatinya. Gue pernah beberapa kali punya hubungan sama cewek seusia Sora mereka memang punya mood swing yang aneh menurut gue. Nggak salah ponakan gue punya toko kue bernama the Labile bakery. Gue mengamati pie strawberry yang dia kirimkan. Gue rencananya mau foto kuenya dan mau kirim ke dia. Tapi gue menemukan pesan dari Sora yang ternyata belum gue baca. Minggu lalu pas di rumah om, aku sengaja bikin kue buat om, tapi om kayaknya buru-buru banget, nggak sempet cobain buatanku. Semoga suka, Aku tersenyum, bisa banget buat gue syok habis itu senyum-senyum najis, ponakan yang satu ini. Udah nggak jelas suruh-suruh, terus marah-marah, ah sekarang gue ngerasa spesial benget nih. Gue membawa kue pemberian Sora ke pantry yang kebetulan dekat dengan divisi Teknik dan desain. Bang Untung, Site Engineer kelihatan sedang mengaduk-aduk kopi dengan pandangan menerawang ke kabinet. Dia lagi ngitungin apa di sana yak? “Bang,” sapa gue menuju ke deretan piring, mengambil satu dan mengambil pisau potong. Setiap gerakan gue diikuti oleh tatapan Bang Untung. “Enak tuh, bisa kali bagi ke gue dikit.” “Nanti Bang gue cicip dulu, kalo nggak enak baru gue bagi sama lo,” balasku tanpa memperhatikan dia mendekat ke meja island. Duduk di kursi sebelah, semnatara aku masih berdiri memotong kue. “Hati-hati banget motongnya, se-spesial itu kah kuenya, atau Soranya yang spesial untuk Om Rained?” “Kok lo tahu ini dari Sora?” “Tulisannya,” Bang Untung menunjuk tulisan di goody bag yang tergeletak di dekat sink. “Tapi kalo dipikir-pikir lo cocok sih Rain sama Sora, Kalian kan nggak ada ikatan darah, secara agama kalian sah untuk menikah, daripada anaknya jadi murtad, Lukman kayaknya lebih pilih lo lah jadi mantunya.” Aku berhenti memotong kue, dengan nada agak kesal aku bertanya, “Lo ngomong apa sih Bang? Mabok lo kepagian deh kayaknya.” Bang Untung kadang-kadang ikut gue dan Bedun ke club tapi ya gitu dia sanggupnya minum dua scotch aja, abis itu yang repot gue. Satu gigitan pertama pie itu, mata gue melebar. Kelembutan cream dan kerenyahan pastry dipadu dengan strawberry yang segar pecah jadi satu di mulut gue, stress gue langsung hilang. “Gila, ini enak banget Bang…” “Masak sih, coba dong.” Dia sudah siap dengan sendok, langsung ingin mencungkil pie yang begitu indah dan bernilai itu. Gue menepis sendoknya. Segera gue amanin kue gue. “Ini punya gue, gue udah bilang kan kalo nggak enak baru gue bagi.” “Pelit bener lo, nggak soal saham, soal beginian juga lu pelit bener.” Dia melihat gerakan tanganku yang begitu hati-hati kembali memotong kue. “Lo beneran suka kuenya atau orangnya sih Rain?” Mata gue membesar. “Bang Sora itu ponakan gue. Meski gue nggak ada ikatan darah, tapi dia keluarga gue.” Bang Untung tertawa sambil menggeleng-geleng. “Gue sih jadi lo, gue ajak nikah, cewek bahenol dan sesexy Sora. Siapa sih yang nggak mau, daripada gue liat ponakan cantik gue dinikahi cowok b******k mending sama gue kan.” Dia masih terbahak-bahak. “Rain yang suka sama Sora itu buuaaaaanyyaaaak banget, termasuk anak gue. Tapi dia dari SMP udah pacaran sama satu cowok. Dan Lukman kemarin cerita ponakan lo dikasih cincin sama pacarnya, kayaknya mereka akan serius deh. Sampai hari ini Sora masih ngambek sama Lukman.” Gue memelankan tempo mengunyah gue. Dan bengong mendengar informasi dari Bang Untung. Gue heran ada apa sih sama keluarga gue, kenapa semua orang ngebet banget pengen nikah, kalo kayak gini gue kan akan jadi bulan-bulanan Bude dan Kak Jull. Oh, jadi si Sora mau ke Bali buat Setor duluan ke cowoknya, sebelum nikah. Yang gue tangkap dari Bang Untung mereka beda agama. Kayaknya nih mereka rencana buat anak duluan. MBA kan biasanya tidak bisa ditolak oleh orang tua. Semua akan ditoleransi kalo sudah kepalang tanggung seperti itu. Dan apa gue akan membiarkan? “Bukan urusan gue lah, lagian Sora udah gede juga. Lo harus ajarin Bang Lukman, jangan jadi strict parent anak seusia Sora semakin dikekang semakin membangkang.” Lagi-lagi si Untung tertawa, tapi kini sambil mengangkat gelasnya dan bersiap pergi. “Maksud lo gue papa yang baik ya buat anak gue? Mohon maaf Rained, bulan lalu bini gue nemuin kondom di celana anak gue.” Dia berdecak. “Anak jaman sekarang memang beda, terlalu terpapar teknologi.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD