ULTIMATUM

2603 Words
Pov: Rained Seminggu terakhir gue dijejali pekerjaan oleh abang gue, gue kira direktur itu bos, ternyata gue masih aja jadi pekerja, dikerjain abang sendiri. Meeting dengan tim marketing nggak menemukan jalan keluar, gue merasa harga promosi dibantu selebriti ngabisin modal dan hasilnya nggak memuaskan. Jujur saja gue nggak suka promosi pamer-pamer ala mereka, kayak basi aja gitu. Mengenai renovasi, sama aja, gue nggak ketemu feelnya semua desain yang diajukan arsitek-arsitek di Andromeda desainnya kaku menurut gue. “Lebih baik kamu terbang ke Bali lihat suasana di sana, sudah banyak yang berubah. Sepertinya bukan desain kami yang kaku, kamu aja yang referensinya terlalu barat.” Saran tajam Abang membuat gue meringis, karena gue masih se-enggak mampu itu buat terbang ke Bali. Memori di sana terlalu mengakar di kepala gue, kalau membaui Bali, gue ingat mama. Setelah meeting-meeting dan meeting, seperti biasa gue mengakhiri hari gue di klub. Kali ini bareng Bedun. Karena dia tim marketing kantor kami dan dia satu-satunya bapak-bapak nggak ada tanggungan. Iya dia udah bapak-bapak tua, tapi belum menikah, masih senang mabuk-mabukan kayak gue. Nggak bangga seharusnya, tapi gue seneng aja karena gue bukan satu-satunya manusia bergelimang keharaman di kantor ini. Menurut gue, dari dulu sejak gue punya problem menyusun tesis gue mulai kecanduan alkohol,tapi kalo minum pertama kali diajarin abang gue , waktu itu kami sama-sama hancur, yang dipeluk bude dan pakde hanya Austin, gue dan abang perlu mencari sesuatu yang hangat, ternyata alkohol menghangatkan kami. Waktu itu Sora pikir gue mati, padahal gue mabok. Dia berlutut di depan gue yang terkapar di lantai sambil dia nangis. Rok SD dan kepang rambutnya yang masih jelas di benak gue. “Kenapa semua orang mati sih?” isaknya pada cowok yang baru nyobain alkohol oplosan sampai pingsan. Gue ceritakan itu ke Bedun. “Lo tahu nggak, pertama kali gue minum air haram ini pas SMA. Gue langsung pingsan, herannya gue nggak jera minumnya.” Gue mengangkat satu sloki di antara gue dan Bedun, kami sedang melihat lantai dansa. Gue teguk setengah sloki, dan berdaham setelah meminumnya. “Tau nggak gue pertama kali minum ini karena ngejagain cewek gue.” Dia mendesah berat matanya menerawang kosong ke arah lantai dansa, nggak seperti gue yang sedang mencari mangsa, dia malah seperti kehilangan sesuatu di antara perempuan-perempuan sexy di sana. Tiba-tiba dia menoleh ke gue dan gue agak kaget diplototin. “kakak lo, si Jullie yang nyekokin minuman pertama kali ke gue.” “Wah dosa jariah kakak gue.” Siapa sih di keluarga gue yang nggak tahu kehidupan kakak dulu, kami semua pernah melihat video dia ditonjok mantan pacarnya dan berita-berita tentang perselingkuhannya. Tapi sampai hari ini kami semua nggak ada yang berani-berani ungkit video itu ke Abang, Bude, Pakde bahkan ke kakak sekalipun, kami semua tahu kakak sudah nggak kayak gitu lagi. Kami akan menghancurkan keluarga besar kami kalau sampai masa lalu kakak itu keluar dari mulut kami bertiga. Amit-amit kami diasingkan kakak sendiri. Sejak papa dan mama meninggal Kak Jull udah kayak mama kami, Abang menggantikan sosok papa buat kami. Jadi nggak ada alasan untuk kami ngancurin keluarga kami sendiri kan? Mata gue tiba-tiba ketemu sama cewek montok seksi yang joget-joget di tengah lantai dansa, kayaknya dia mabok parah sampai nabrak-nabrak sekelilingnya. “Wah tuh cewek kebablasan kayaknya..” Bedun tertawa hampa. “Lo suka kan sama cewek-cewek bablas?” sindirnya bercanda, lalu nada bicaranya tiba-tiba berubah serius. “Jangan deh Rain, nanti lama-lama lo yang bablas.” Gue menyeringai, nggak biasanya ni orang menasehati gue. “Apa sih lu, gue nggak kayak lu ya! Era malas kencan lo kelamaan, patah hati lo kelamaan, buat apa cobak ke klub kalo nggak bawa pulang cewek? Udahan deh meratapi mantan yang sudah punya anak dua.” Bedun adalah korban ditinggal nikah mantan, dia kalo nggak diajak gabung kerja di Andromeda pasti udah kelayapan di jalan-jalan sambil pegangin sandal, manggil-manggil nama Zia. Gue nggak percaya sih ada cowok kecintaan gitu sama satu perempuan, padahal kan dia bisa move on, ini boro-boro move on, ngeliatin cewek aja nggak mau, gue sengaja kenalin sama temen gue juga dia nggak mau. Udah cita-citanya jadi bujang lapuk kali. Bedain sama gue ya, gue mau bujang sampai tua, gue nggak akan melapuk. Muka Bedun jadi semakin lesu, kelabu, mendung. Dia kenapa? Apa gue salah bicara? se-sensitif itukah dia dengan mantannya? AH, cemen ah, apaan bapak-bapak baperan. Setelah gue menyinggung mantannya dia jadi diam. Ketika gue mulai nggak nyaman di diemin temen, gue memutuskan untuk turun, tapi sebelum itu dia manggil gue. “Rained..” suaranya mendayu banget, sampai-sampai gue kira dia mau baca puisi buat gue. Dia menatap sloki yang sudah kosong dengan mata yang tak kalah kosongnya. “Apa Jullien nggak cerita ke elo, alasan gue batal nikah sama sahabatnya?” “Nggak mau tau juga sih, jadi nggak nanyak gue.” “Gue HIV Rain! Gue selingkuh, sekali aja, gue selingkuh sama cewek yang gue temuin di klub. Gue relain Zia karena gue nggak mau egois, dia berhak melanjutkan hidup tanpa gue. Seandainya aja lo tahu gue ngejalanin hidup karena gue masih idup aja Rain. Nggak ada hal-hal yang ingin gue ingin raih di dunia ini. Semuanya udah habis di masa lalu, udah di makan habis sama virus di tubuh gue.” Dia berusaha tersenyum melihat gue. “Tapi kalo lo mau gabung jadi ODHA kayak gue, bisa sih, gue bisa sharing obat buat lo.” “Anjing,” pekikku karena syock. Dia terbahak. “Lo pucet Rain. Takut ya?” ***** Gue ngerti sekarang kenapa begitu sulit untuk Bedun buat move on dari Zia. Zia cewek yang lurus, meski dia pemabuk karena ikut-ikutan kakak gue, tapi dia bukan cewek murahan, dia nggak pernah melakukan hal lebih jauh dari ciuman dengan Bedun. Dan Bedun dikutuk Tuhan, dia melakukan hubungan itu sekali, naasnya langsung kena azab Allah. Kalo dibilang ini ujian hidupnya Bedun, kalo gue sih lebih baik mati daripada jadi ODHA. Ya itu kalo gue ya, kan gue lemah. Nggak kayak manusia kuat di luar sana yang bisa memikul virus jahat itu di tubuh mereka. Gue pulang dengan tubuh kuyuh, cerita Bedun tadi ngebuat gue nggak mood, gue lemes, karena ingat dosa-dosa gue. Bedun baru bobok sekali aja udah kena virus itu, gimana gue, yang setiap malam ceweknya ganti. Sebelumnya gue nggak pernah mikirin dosa, nggak setelah cerita soal bedun ini gue dengar. Ini pertama kalinya gue pulang ke rumah sebelum tengah malam. Bude sedang duduk duduk, film india kesukaannya pun masih diputar di tv. Kacamata bertengger di tulang hidungnya, lirikan mematikan menyeringai dibaliknya. “Kesambet jin apa kamu pulang jam segini?” Setelah dari klub gue wajib banget kumur, makan permen, bahkan merokok sedikit untuk menghilangkan bau-bau alkohol dari mulut gue. Tapi kadang nggak mempan. “Kamu minum ya?” tanya bude ketika aku dengan percaya dirinya datang menghampiri dan menyalaminya. Aku tidak bisa beralasan. Dia memukul bahuku pelan. “Sudah diam di sini dulu, Bude cari Austin.” “Kok Austin Bude?” Aku duduk di sebelah Bude, saat aku duduk Budenya malah berdiri. “Dia hafal ayat ruqyah.” Lah. Gue mau di rukiah? Gue kan nggak kerasukan. Gue nungguin Bude sambil kepala gue rebahin di punggung sofa yang rendah, gue menengadah ke siling rumah yang tinggi. Masih teringat dulu waktu papa membangun istana impiannya ini, dia begitu semangat turun sendiri memastikan pilar-pilar besar bak buckingham palace terpasang tegak menjulang, bedanya cat rumah ini dibuat lebih cerah. Apalagi waktu kak Jull dan Bang Lukman nikah, dia bangun kamar kamar baru untuk cucu-cucunya. Seandainya papa tahu kalau umurnya pendek pasti dia nggak akan melakukan hal sia-sia itu. Rumah ini terlalu besar buat kami. Gue kembali menegakkan diri ketika Austin turun dari tangga. Lalu Bude pun datang dengan segelas s**u. “Minum susunya.” Gue mendesah berat. Siapa sih yang minum s**u? Dikira gue masih bocah tantrum yang setiap kali pergi ke dapur nyari s**u? s**u gue beda ya sekarang, alah kalo gue kasi tahu bude, pingsan dia nanti. Malas berdebat gue teguk aja s**u buatannya sampai habis. Lah lambung gue terasa mau meledak, padahal minum s**u doang. Mata gue membesar menatap bude. “Ini s**u apa sih bude. Aku langsung mual.” “Kamu itu kalo minum amer aja, mual, muntah, nggak ada komen apa-apa, padahal s**u itu kan sehat.” Bude mengambil gelas dari tangan gue. “s**u yang bude kasi khusus ngilangin pengar. Diberitahu Jullien.” Austin menuruni anak tangga dengan setelan anak pesantren khasnya dia. Mukanya lempeng, dia cuma melihat sekilas ke Bude dan gue. Duduk di kursi berjarak dari kursi kami. “Bude udah bilang ke Rain?” tanyanya. Gue menoleh ke Bude, sepertinya ada sesuatu yang serius yang gue belum tahu. Muka gue seketika sepet, mengkerut. “Kan dari kemarin-kemarin aku sudah minta bude buat medical check up ke Malaysia.” Mata Austin berputar malas. “Lo doain bude sakit apa gimana? Ini bukan soal kesehatan pakde, bude.” “Soal kesehatanmu.” Aku memundurkan kepala dua centi ke belakang. “Aku sehat.” tandasku tidak terima dibilang sakit. Austin menaikan telapaknya. Somplak laganya kaya dia yang paling tua di sini. “Biar Ostin aja yang bilang ke Rained bude.” Bude mengangguk nurut. Gue nggak berhenti-hentinya melirik ke dua orang ini bergantian. “Rained gue mau ta’aruf.” Gue diem dulu, mencerna dulu, beberapa saat, gue menunggu rautnya berubah jadi badut, karena gue yakin dia sedang ngerjain gue aja. Ustad-ustad gini adik gue tetap aja jail. Tapi makin ditunggu, mukanya makin serius. Eh, ini seriusan? Gue melihat bude, meminta kepastian. “Kamu nggak salah denger kok, adikmu memang mau ta'aruf, dia minta izin ke kamu. Gimana?” Gue tertawa dingin “Lo jangan gila, baru kemarin Romeo married.” Romeo dan Gue beda dua tahun sedangkan dengan Austin ini rada sedikit jauh, dia lima tahun di bawah gue, karena itu dia dekat banget sama Bias, usia mereka tidak berjarak jauh, obrolan seputar game juga yang bikin mereka dekat. “Pelan-pelan dulu kenapa sih, nafas dulu kita. Main nikah-nikah aja lo. Burung lo belum selesai masa pertumbuhannya tuh.” Bude menepuk lenganku agak keras sehingga gue berdesis nggak jelas. “Kamu itu ngomongnya suka sembarangan, hargailah bude di sini, kalo ngomong berdua aja sama adikmu boleh senoh-noh gitu, kalo ada bude, orang tua begini, bicara dijaga. Apa harus bude ajarin lagi hal-hal seperti itu?” noh kan panjang jadinya. “Lagian Ta’aruf itu beda sama nikah. proses perkenalan dulu…” Bude ternyata juga nggak tahu-tahu amat soal Ta’aruf. “Iya kan Ostin?” Austin, nama adik gue Austin. “Ta’aruf itu proses berkenalan dalam islam, untuk menuju pernikahan.” Gue pun akhirnya menyilangkan kaki dengan rileks. Gue pikir Ta’aruf sama kayak akad. “Oh, jadinya lo mau kenalan sama cewek, gitu? Susah banget. Kenalan aja kenapa mesti ijin gue.” Gue aja tiap malam kenalan sama cewek baru terus besoknya lupa namanya siapa. “Untuk serius, untuk pernikahan,” terangnya dengan nada agak ditekan. “Oke, dia siapa? cewek mana?” Di saat itu tatapan mata Austin tidak lagi meremehkan dia memandangi bude seperti meminta pertolongannya. “Jadi adikmu ini berguru dengan salah satu Ustad dari Gontor, sekarang Ustadnya itu punya pondok sendiri di Garut. Ustad Rasyid namanya, beliau berniat mengenalkan anaknya, Namanya Husna Humaira, Austin meng-iyakan gurunya dan dia sudah mulai berkomunikasi dengan Husna.” Gue heran kenapa berat banget si kancrut ini ngejelasin ke gue soal Husna Husna ini. “Ya bagus kan, sudah jalanin aja dulu kenalan, tapi jangan sampai maksiat.” a***y paling bener emang gue. “Lo masih kecil, masih 21 tahun pikiran lo belum dewasa, bagaimana mencari nafkahnya, anak istri lo nanti dihidupi dengan apa, sedangkan datang ke kantor aja lo nggak pernah, Bang Lukman juga pasti bingung kalo lo tiba-tiba nikah. Iya kan? kenalan aja dulu, chill aja gitu…” “Insyaallah gue akan khitbah ke Garut pertengahan tahun, akhir tahun nikah. Kalo diizinin bulan depan gue udah mulai ngajar di pondok Ustad Rasyid.” Astaga naga akhir tahun? Kenapa nggak bisa pelan-pelan sih? Setegang itu birahi adek gue ini? Apa perlu gue ajarin Austin supaya kayak gue gini? Aku memijat-mijat kepalaku, pertengahan tahun tinggal empat bulan lagi. Lalu? menikah? Adik gue yang masih kecil ini mau nikah? “Menikah itu bukan soal umur, Rained, dewasa juga bukan tentang umur,” ujar bude. “Tentang umur lah Bude.” Gue menyela pendapat bude, suara gue agak melengking, bude tersengal kesannya gue membentak. Gue segera menurunkan nada bicara gue. “Siapa bilang dewasa itu bukan tentang umur? tubuh, otak, sistem ditubuhku kita berkembang berdasarkan usia Bude. Kalo semua bukan tentang umur, bayi akan keluar dari perut ibunya berdasarkan tingkat emosionalnya, bukan tentang perkembangan sistem jaringan di tubuhnya. Semua tentang umur. Berapa banyak perempuan dan anak yang jadi korban dari pernikahan dini? Menikah itu soal mantap secara finansial dan mental. Logisnya anak usia 21 tahun yang cuma bolak balik kajian, pengalaman di luar sana tuh membentang dan Austin ini belum tahu beratnya bekerja, itu bagaimana? Dia mau mengajar katanya? Berapa gaji dari ngajar, bisa nggak untuk kebutuhan lo dan keluarga lo nanti. Mau numpang sama mertua? Astaga Austin nikah itu bukan perkara segampang itu.” Austin terdiam. “Ya lalu pernikahan buat kamu apa Rained? Austin masih lebih baik dia berani maju melangkah, kamu gini-gini aja sampai kapan? Sampai bude mati?” Lah kok dibalikin ke gue sih? “Kamu jangan khawatir soal bagaimana adikmu akan menafkahi istrinya, papa kalian meninggalkan harta yang lebih dari cukup untuk dia dan anak-anaknya. Lagian Bude sudah bicara sama Bang Lukman.” “Bang Lukman mau aku dan istriku belajar ke Yaman setelah menikah.” Pilihan yang bagus, kalau seperti itu artinya dua-duanya dengan terang-terangan bersandar sepenuhnya pada keluarga. “Kalo kayak gitu lo belum siap kan? Lo sekolah aja dulu, finansial cukup baru ambil anak orang. Nggak bisa ya kayak gitu? Di Islam tuh gimana sih?” “Susah ngomong sama orang yang kerjanya zina mulu.” Mata gue melotot nggak ekspek kalimat itu akan keluar dari adik lucu gue yang dulu gue sayang-sayang. “Apa bedanya sama lo yang menikah cuma karena pengen tidur sama cewek?” Gue bangun, tangan gue dipegang bude. Menghalangi kepalan gue terayun ke hidung adik gue tersayang. “Mending gue, gue tahu kapasitas diri gue, gue hati-hati melangkah, bukan karena gue takut nikah, nggak, gue nggak takut nikah. Gue nggak mau orang yang gue cintai menderita bersama gue.” “Sudah Rained, Ostin minta maaf sama Abang, tidak seperti itu. Bude minta tolong ke kalian, jangan gini.” Bude setengah terisak. “Ayo duduk, bicarakan baik-baik.” “Lagian aku heran kenapa aku harus izin Rained! Dia aja nggak pernah ada di rumah, dia nggak tahu apa-apa soal aku.” Makin panas gue sama adik gue ini. “KAMU NGGAK AKAN NIKAH KALO RAINED BELUM NIKAH.” “Apa?” Aku menoleh keras ke Bude. Apa lagi ini. Aturan apa ini? “Bude bercanda..” suara Austin bergetar. “Ngomong apa aku ke Kiai Bude? Ngomong apa aku Husna?” Air mata Bude tumpah, dia menangis. Bahunya kuyuh, nggak tega gue melihatnya serapuh ini. Meski mata gue masih nyala menatap adik gue, tapi hati gue patah dan rapuh karena bude. “Abdul, bude nggak mau kamu kayak Abdul. Kamu harus jauhin semua itu Rain. Bude mohon… bude minta tolong, sanget sama kamu. Kalo kamu mau liat bude panjang umur, kamu harus nikah. Itu satu-satunya cara supaya kamu berhenti dari semua yang kamu lakukan sekarang.” Diremas kuat-kuat tangan gue, lalu Bude meninggalkan kami. Gue berhadapan sama Austin, masih kesal, sayangnya kadar kekesalan gue dikalahkan olehnya, sepertinya dia seribu kali lebih kesal karena kemungkinan rencananya gagal karena gue. Austin pasti tahu, sulit buat gue menemukan perempuan, apalagi menikah. Menikah sama artinya dengan bunuh diri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD