Pov: Sora
Aku kayak nggak diberikan kesempatan untuk menangisi hubunganku dan Jodi, setelah marah-marah sama ayah, aku nggak punya waktu untuk sebel sama seluruh keluargaku, karena tiba-tiba om Romeo udah mau akad aja. Semua keluarga dikerahkan, kami semua sibuk, repot dan ribet.
Agak bersyukur rasanya, kesibukan menyiapkan acara nikahan om Romeo membuat aku punya alasan untuk berkali-kali mengabaikan panggilan telepon Jodi, aku hanya mengabarinya lewat chat singkat saja. Aku nggak sanggup memberitahunya tentang reaksi kedua orang tuaku mengenai cincin itu. Bukan cuma itu, liburan kami ke Bali pun, kini terasa semakin mustahil.
“Kak sudah siap-siap?” Ibuk bertanya ketika aku baru saja sampai rumah setelah seharian, menerima banyak orderan. Sejak hari ulang tahunku, aku betah diem-dieman ke ayah. Aku tahu mendiamkan saudara sesama muslim apalagi orang itu adalah bapakku sendiri hukumnya haram, sama dengan makan babi dan minum alkohol, supaya dosaku ini bisa diringankan Allah, aku sengaja menghindar dari ayah, pura-pura sibuk supaya nggak ketemu. Nah, di acara keluarga seperti ini, aku nggak tahu lagi gimana caranya menghindar dari ayah.
“Siap-siap?” aku balik bertanya sambil jalan ke kulkas untuk mengambil minuman dingin.
“Loh, gimana sih kak, besok acara lamarannya Om Meo.”
Kutukampret, aku sampai nggak sadar waktu berjalan cepat banget. Tau-tau sudah menuju hari-H acaranya Om Meo dan Mbak Lintang.
“Kita kan udah janji sama Uti, akan nginep disana seminggu. Kamu lupa ya.”
Oh, Utiku sayang. Aku ingat banget, bahkan aku sendiri yang mengusulkan waktu itu saking excitednya dengan acara pernikahan Om Romeo. “Tunggau ayah pulang kantor, kita langsung cau ke rumah Uti.”
Rumah Uti sekarang kedengarannya kayak biasa aja di telingaku. Dulu sewaktu Kakek dan Nenci masih hidup, ibuk selalu menyebut rumah itu dengan rumah kakek, rumah Nensy, rumah Om Rained, sekarang setelah didiami oleh kakak dari kakek Sandy, ibuk selalu menyebut rumah itu sebagai rumahnya Uti dan Kakung. Kadang-kadang masih ada perasaan tersengal yang aneh di dadaku kalau mengingat kakek Sandi dan Nensy. Kepergian mereka terlalu tiba-tiba, sehingga perasaan kehilangan itu masih kadang bikin sesak, nggak kebayang dengan tiga om-om ku itu. Aku saja seringkali menangis kalau ingat mereka.
Dulu aku mengira mereka beneran kakek dan nenekku. Kemanapun mereka pergi, beli apapun mereka di mol, semuanya selalu include aku dan Bias, pas itu Meyda belum lahir. Sewaktu kecelakaan itu, kami semua beneran hancur, hancur banget. Ibuk, ayah, tiga om-om ku semuanya, Uti dan Kakung, juga Om Handi, semuanya. Kami nggak nyangka aja, kayak mimpi buruk. Kayaknya hidupku selalu anteng sampai Kakek dan Nensy pergi, rasanya kayak ada yang diambil paksa dari hidup kami. Khususnya Bias, dia jadi atlet karena dulu Kakek suka ajakin dia dan Om Rained pergi latihan tenis.
Ah, sedih rasanya balik ke rumah itu, selalu sedih buatku. Apalagi kami akan tinggal cukup lama di sana. Dulu pas kecil aku dan Bias sering banget menginap, seminggu, dua minggu dan pernah sebulan. Setelah mereka pergi, kami nggak pernah lama-lama disana, meskipun aku tahu, kamarku di rumah mewah kakek selalu ada.
“Apa aku boleh nggak ikut nginap buk?” tanyaku ragu-ragu.
“Kamu tega sama Om Romeo dan Mbak Lintang, Sama Uti dan Kakung?”
Aku tuh selalu jadi anak pertama yang kemana-mana jadi pusat perhatian di setiap acara keluarga, kayaknya kalau nggak ada Sora ada yang kurang di keluarga kami. Semua keluarga akan tanya “Sora mana?” Ibuk dan Ayah akan punya kerjaan berat untuk menjelaskan keabsenan ku. Dan kali ini bener-bener nggak mungkin untuk nggak dateng, pernikahan Om Romeo sama pentingnya dengan pernikahan ku sendiri, yang nggak tahu akan seperti apa. Aku rasa akan lebih penting pernikahan Om Romeo daripada aku. Aku kira ketika aku menikah nanti, ibuk dan Aya mungkin nggak akan datang.
Aku segera menggelengkan kepala. Pikiran buruk akan mendatangkan nasib sial. Pait.Pait. Pait.
“Kalau nggak mau semobil sama Ayah dan Ibuk, kamu bisa pergi sama Bias dan Meyda.” Ibuk mengelus lenganku, dia mengerti aku sedang menjaga jarak dengan ayah. “Ibuk ngerti kok kamu masih marah sama ayah, ibuk tahu kamu butuh waktu untuk memaafkan ayah. Tapi jangan lama-lama, ayah menderita loh kak di diemin kakak, dan menyakiti orang tua itu nggak baik.”
Malas membicarakan hal-hal kemarin yang buat kami bertengkar, membuatku menjawab pendek saja ke ibuk, “Ya udah Sora siap-siap dulu.”
****
“Guys-guys, nanti di rumahnya Uti-Kakung kalian mau tidur di mana? Aku nggak mau di pojok ya, deket kamarnya Om Rained, kamar itu berhantu kan?” seperti biasanya Meyda memecahkan kesunyian antara aku dan Bias.
“Lo tidur sama Ibuk dan Ayah aja.”
“Enak aja, nanti ibuk sama ayah nggak bisa cium-ciuman, mereka kan doyan banget cium-ciuman.”
Aku meringis melihat adik kecilku yang duduk di depan, sambil naikin kaki di dashboard mobil. Aku bisa menggambarkan dengan amat jelas di benakku, seperti apa reaksi ibuk kalo liat kaki Meyda kayak gitu. Mungkin karena aku lagi malas, Bias pun sama malasnya untuk marah-marah di sore hari yang macet itu jadi, ya kami biarin aja Meyda seenaknya kali ini.
“Kakak aja ya, yang di kamar pojok dekat kamarnya Om Rained?” Meyda memutar lehernya ke belakang, dimana aku duduk. Bias seperti biasa selalu jadi sopir.
“Kamu di kamarnya Om Rained aja, kalo nggak mau di pojok. Kamarnya Om Rained kan besar banget,” usul Bias. “Lagian apa yang ditakutin sih, Abang kan tidur sama Austin jugak, deket kamar pojok.”
“Nggak Bang, tetap aja kamar itu nyeremin tahu. Lagian kan Om Rained pulang.”
Jadi dia beneran pulang nih?
“Alah, nggak mungkin, Mau taruhan?”
“Nggak boleh taruhan haram,” Aku mengingatkan.
“Yang paling halal..” Bias bergumam nyebelin lagi. Bias memukul pelan lengan Meyda. “1 jt?”
“Boleh juga tuh,” Meyda nyengir penuh kesenangan, dia si paling mata duitan. “Tambah 500 lagi lah Bang, supaya dapetnya pas 3jt, lumayan kan?”
“Kalian bener-bener ya!”
Meyda memutar bola mata, mendengus lagi seperti ayah. “Kak beneran, kalo lo lagi badmood, ada masalah, mending semedi deh, lu tuh nyebelin banget tahu…, nggak asik!”
Aku memejamkan mata. Menurutku malah mereka semua lah yang menyebalkan. “Nggak usa repot-repot taruhan, Om Rained pasti pulang, Om Romeo yang bilang di acara ultah kakak kemarin. Biar kakak yang tidur di kamar pojok. Beres kan?”
Meyda seketika tersenyum penuh, sampai matanya berbinar seperti mata tuan crepes ketika melihat uang. “Beres banget.” Meyda menurunkan kakinya, tiba-tiba aja berubah jadi tenang. Sampai akhirnya kami sampai rumah Kakung. Dia menepuk bahu Bias. “Jadi ya, 1,5?”
“Ah, lo giliran probabilitas menangnya tinggi, ngotot. Ogah gue.”
“Abang ayolah bang…”
Bias tidak menghiraukan,
“Lagian besok minta aja sama Om Rained, ngapain taruhan.” Aku menengahi, sambil mengambil koperku di garasi mobil.
“Iya juga ya,” Meyda membenarkan sambil menurunkan koper berwarna ungu metalik turun tanpa dibantu siapapun.
Nggak lama mobil ayah memasuki pekarangan rumah Kakung. Aku cepat-cepat masuk. Malas berinteraksi.
****
Malam pertama menginap di rumah Kakung, Hebring banget, sampai aku lupa kalo lagi marah sama orang tuaku. Undanganlah, nelponin teman-teman mama. Memastikan kendaraan yang akan digunakan untuk ke acara lamarannya. Karena Wedding organizernya temen mama jadinya pada suka-suka hati ngerjain bingkisannya di rumah kakung, aku jadi harus ikut repot. Kamarku penuh tuh sama bingkisan untuk lamaran.
Alhamdulillah lamarannya berjalan lancar, tinggal acara midodareni, akad dan resepsi. Aku heran teman ibuk dan ayah tuh buanyuaak banget, aku rasa mereka deh yang nikah bukannya om Romeo. Tapi kalo dipikir-pikir mereka kan satu perusahaan, jadi ya temennya ayah temannya Om Meo juga.
Hari ini sebelum malam midodareni, Uti sepanjang hari kelihatan sedih. “Uti makan ya.” Uti adalah Budenya ibuk, kakak satu-satunya kakek. Setelah kakek meninggal, Budelah yang menjaga ketiga adik-adiknya ibuk. Nency, mama tirinya ibuk, mamanya Om Romeo sudah tidak punya keluarga ketika menikah dengan kakek. Jadi satu-satunya yang bisa diandalkan Om-om ku itu ya cuma Bude, Pakde, Ayah dan Ibuk.
Uti menggeleng lemah, ujung matanya berkaca-kaca. “Uti…” Aku mendekatkan diri memeluk lengannya yang lebih kurus dari terakhir kali aku gelandutan di lengannya. Kutempelkan kepalaku di pundaknya. “Uti jangan sedih, kakek dan Nency pasti lihat kok, Om Romeo akhirnya menikah dengan orang yang dia cintai.”
Uti mengusap pipinya. “Kamu harus tahu Sora, cita-cita setiap orang tua itu, melihat anak-anaknya menikah dan menemukan tambatan hati mereka.” Dia terisak lagi. “Mikirin itu sakit banget d**a Uti.” Uti terisak sambil terbungkuk.
Aku memeluknya. Uti perempuan tua yang kuat, rajin ibadah, dia tidak sering mengeluh sakit, kecuali memang benar-benar sakit, seperti saat ini, dadanya sakit katanya. Kasian Uti..,
Lalu tiba-tiba dia melepaskan pelukanku, ketika seseorang lewat di beranda dapur. Uti mengusap wajahnya dengan punggung tangan. Dia menoleh cepat padaku, “Uti tu sedihnya jadi nambah karena Rained nggak mau pulang.” Dia menghela nafas, “Kenapa ya Jullien nggak bisa gitu bujuk dia buat pulang, katanya sudah ditelpon berkali-kali tapi Rained…” nah, kalau membicarakan Rained wajah sedihnya berubah jadi kesal. “Ah, bocah buannndeeell men, muuemet aku.”
Uti nggak salah minta ibuk untuk minta Om Rained pulang? Rained kan kayaknya paling benci ibuk. Dia tuh, malah pernah sebut ibukku tuh penyihir di caption sosial medianya. Rained kan paling nurut sama Uti justru..,
Aku memegang tangan Uti, dia pun menghentikan gerakan tangan yang tadinya sedang potong-potong seledri.
“Uti, kenapa nggak Uti aja yang telpon Om?”
Dia menggeleng, sambil mengibaskan seledri di depan mukaku. “Kakaknya yang paling serem aja yang telpon ditolak terus, apalagi Uti.”
“Loh, Uti kan kesayangannya.” Uti merengut memukul bahuku dengan seikat seledri. “Kamu itu kesayangannya Rained bukan Uti.”
Aku? Nggak percaya sih, tapi pipiku tetap terasa panas karena perkataan Uti. Aku nggak spesial kok buat Rained, aku ya aku, kan sekarang kita udah lama nggak ketemu jadi aku rasa, kami ah…., bodo amat lah. Ngapain juga aku menjelaskan hubunganku dengan Rained. Semua karena Uti, nggak kok, aku nggak baper!
“Saran ku, Uti coba telpon Rained. Kalo Rained pulang setelah Uti telpon, Sora minta dibuatkan gudeg yang bisa dimakan sebulan penuh.”
“Alah, alah, nanti Ibukmu yang marah ke Uti karena masakannya nggak ada yang makan.” Uti dan Ibuk selalu saingan di meja makan, kalau Uti yang masak, ibuk nggak akan ikutan masak, pasti kalah sama masakan Uti. Masakan Uti tuh kayak masakan nenek yang hangat dan bikin kangen.
*****
Pas mau ke kamar mandi mau shalat subuh, cuma pakai tanktop dan celana kain panjang. Pintu ku tiba-tiba terbuka.
Cekrek!
Ampun aku lupa kunci pintu, tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Cepat-cepat aku memeluk tubuhku, menyembunyikan aurat.
“RAINED KAMAR MU BUKAN ITU, DI SANA KAMAR MU DI SANA…” Teriak ibuk. Aku tidak tahu pasti dimana dia berdiri sambil berteriak, yang jelas suaranya selalu terdengar dekat kalau sedang teriak.
Ibuk mengeluarkan kekuatan ekstra sekarang, karena ada dua orang yang bisa buat dia semarah itu. Rained dan Meyda.
“Oh aku pikir di sini kak. Santai..”
Aku membantu mendengar suara itu. Aku melihat sisi samping wajahnya dari celah pintu yang terbuka. Takut dia melihatku dengan pakaian tengtop ini aku melipir ke pojok. Tanpa membuka pintu lebih lebar dia menutup kembali pintunya.
Astaga Rained beneran pulang! Dan dia hampir aja masuk ke kamarku. Mukaku merah, tengkukku hangat dan bulu kudukku meremang. Aku mengusir pikiran aneh di kepalaku.
Ah Rained doang. Bisikku pada diriku yang gelisah.
*****