Pov : Sora
“Kak kamu tahu kan cincin itu artinya apa?” tanya Bias ketika kami sudah di lama mobil menuju ke rumah. “Aku rasa kamu tuh circlenya itu-itu aja kak, kamu harus cari pertamanan baru, coba kenal sama cowok selain Jodi sekali aja supaya pikiranmu sedikit lebih terbuka. Jangan apa-apa Jodi, jadinya kayak gini kan. Kamu nggak bisa lepas dari dia.”
Aku memelototi adikku. “Aku memang nggak mau lepas dari dia, lagian kenapa sih? Dia bukan ngajakin aku nikah Bias, ini cuma cincin biasa!”
“Menurut lo mungkin gitu, tapi emang menurut temen-temen lo yang lain gitu kak?” Bias mendecak seperti Ayah. “Orang Indo kalo dikasih cincin ya maknanya cuma satu. Terus lo udah siap buat serius?”
“Gue selalu serius, dasar bocah, tahu apa sih lo masalah hubung cowok sama cewek, lo pacaran aja nggak pernah.”
“Yang jelas gue tahu kalo cewek sama cowok beda agama tuh nggak bisa nikah kak!” tandas Bias dengan suara tajam. Alisnya bahkan terangkat ketika mengatakan itu padaku.
Rasanya egoku sebagai seorang kakak terpancing, aku nggak terima Bias menyudutkanku seperti itu. “Cincin ini bukan cincin tunangan Bias! Lo kayak ayah susah dijelasinnya.”
Bias memejamkan mata ketika mobil berhenti di lampu merah. Dia mendengus berkali-kali, dia benar-benar kesal kepadaku. Padahal ini juga bukan masalahnya, aku tidak mengerti. “Suatu hari kalo lo jatuh cinta lo akan merasakan kok, apa yang gue rasakan.”
“Dan suatu hari gue nggak akan sebuta lo, pacaran sama orang yang gue tahu nggak akan ke surga yang sama sama gue.”
“Bias…”
Bias menoleh keras sebelum menekan gas. “Lo nggak bisa dibilangin kak, percuma aja gue ngomong, dan percuma juga lo jelasin hubungan impulsif lo itu ke gue.”
Tanganku mengepal di atas pangkuan, aku beneran menahan diri untuk nggak mukul kepala Bias. Sekali aja, agar dia nggak menghina lagi hubungan yang teramat sangat aku jaga di hidup ku ini. Naasnya karena emosi yang tidak terlampiaskan itu, pelupuk mata ku lah yang justru berkaca. Alhasil aku lah yang nangis. Bias sialan!
Hubungan ku dan Jodi nggak impulsif! Cinta dan perasaan aku ke dia nyata adanya, dia teman dan tempat paling nyaman untuk cerita. Cowok yang aku sayangi, cowok yang sepenuh hati dengan kewarasan ini ku jaga perasaannya. Aku tahu pasti, yakin seribu persen aku secinta itu sama dia.
Memang surga yang kami tuju tidak sama, tapi dunia yang kami rencanakan selalu sama…
****
Biasanya Bias akan merasa bersalah dan minta maaf, aku nunggu kata-kata maaf darinya tapi seperti yang dia bilang ke aku “percuma”. Bias cuma diem aja di sepanjang sisa perjalanan sampai kami sampai ke perumahan Permata Indah Regency, berbelok ke blok A-A dan mobil masuk ke garasi yang menjorok agak ke bawah di rumah nomor 225.
Aku sempat terdiam di mobil berusaha menenangkan diri, sementara Bias sudah lebih dulu masuk ke rumah lewat pintu garasi. Aku malas berdebat, malas sekali bertengkar dengan siapapun, energiku benar-benar habis. Semoga Bias atau Ibuk nggak memberitahu ayah soal cincin ini. Aku mencabut cincin itu dari jariku, tidak mau ayah menanyakannya.
Ternyata aku salah!
“Kakak..” panggilan itu segera membuat bulu kudukku merinding. Dia duduk di kursi kesayangannya di teras luar yang menghadap ke kolam renang. Teras itu hanya disekat tembok kaca dengan ruangan dimana tangga menuju lantai dua berada. “Ke sini dulu ayah mau bicara.”
Mampus. Jangan-jangan ayah tahu apa yang terjadi, jangan-jangan ayah lihat waktu Jodi memakaikan aku cincin di jari manisku? Kakiku rasanya berat untuk menuju ke tempat di mana ayah duduk.
Aku mendengar suara gelas dari arah dapur, ibuk di sana sedang menyiapkan sesuatu entah buat ayah, Bias atau mungkin dirinya sendiri, yang jelas bukan buat Meyda ataupun aku. Aku berdiri mematung, karena ingin buru-buru ke kamar, aku memilih tidak duduk. Tapi ibuk datang mengambil posisinya di sebelah ayah. “Kakak duduk dong ayahnya mau bicara kok berdiri aja,” kata ibuk dengan nada sedikit jenaka, jadi aku merasa lebih tenang. Ah, kayaknya ayah nggak akan marah-marah. Aku pun akhirnya duduk, di sofa yang berbeda dengan mereka.
Ibuk meletakkan mug di depan ayah, dari bau yang sangat kuat itu, pasti minuman jahe dan serai. Minuman herbal itu ayah minum untuk mengatasi insomnia, menurut ibuk ayah akan lebih segar keesokan harinya setelah minum minuman herbal tersebut. Artinya, dia nggak akan minum-minuman itu kalau harinya baik-baik aja. Artinya, hari ini nggak baik-baik saja, artinya, hari buruk ayah bisa jadi disebabkan olehku. Matilah aku.
“Ayah mau tahu hubungan kamu sama Jodi sejauh mana? Apa kalian sudah merencanakan sesuatu yang ayah dan ibuk nggak tahu?” intonasi ayah tenang, nggak ada sedikitpun nada marah dalam suaranya.
Kalau kayak gini rasanya aku bisa menjelaskan dengan kepala dingin ke mereka. “Ini tuh, bukan yang kayak ayah pikirin, Jodi nggak minta Sora buat nikah kok yah, Jodi cuma mau ngejelasin ke semua orang, Jodi tuh serius sama Sora.”
Ayah menelan ludah, jakunnya terangkat dan kembali turun, ketenangan di matanya retak, sehingga celah amarah bisa kulihat sembunyi di balik irisnya yang coklat. “Serius? lalu artinya serius itu apa?”
“Nggak main-main,” jawabku polos
“Nggak main-main?” jawabanku dikembalikan dengan intonasi nada tanya yang tajam dan mendesak.
Aku lantas tersengal. Ayah benar-benar marah. “Nggak main-main itu maksudnya suatu hari kalian akan nikah kan? Menikah kan? Kamu udah pikirin itu Sora?”
Aku menggeleng lemah, “Tapi Jodi masih kuliah ayah, Sora juga ingin punya toko kue sendiri.”
“Walaupun kamu belum mikir tentang masa depan hubungan kalian, jelas Jodi sudah memikirkan itu, kalau suatu hari kalian akan menikah mau kamu apakan iman yang telah ayah tanamkan sejak kamu kecil? Sora?” Ayah memanggilku dengan suara tegas, hingga aku tidak mampu untuk terus menunduk, aku menatapnya dengan terkaget. “Sora, apa selama ini ayah kurang mengajarkan agama? Apa kamu nggak mencintai Tuhan yang sama kayak ayah?”
“Nggak gitu ayah, aku juga nggak mau pindah kok yah.”
“Lalu kenapa cincinnya kamu ambil? Kamu bisa nolak kan?”
Aku tersengal dan akhirnya menangis. “Sora nggak mau Jodi kecewa yah…”
“Terus kamu senang melihat ayah kecewa?” Cara Ayah membalikkan pernyataanku jadi kalimat tanya menyakitkan sekali buatku, seolah apa yang kukatakan cuma bualan. Air mata pun berderai-derai jatuh ke pipiku.
Ibuk tidak mampu melihatku. Dia tidak pernah sekalipun memotong perkataan ayah ketika sedang marah, bahkan membantah ke ayah pun Ibuk nggak pernah melakukan itu. Jadi di sisi ayah dia cuma duduk dengan gelisah, aku melihat tangannya mengepal, dia ingin membelaku, dia tahu perasaanku.
“Pernikahan itu ibadah paling panjang yang ganjarannya surga Sora, disana tempat mengais pahala dan ridha Allah. Sebagaimana halnya shalat, menikah pun niatnya karena Allah. Menikah bukan diniatkan karena cinta, itu salah Sora.”
Ibuk menunduk lesu.
Bagaimana cara meyakinkah ayah kalau aku dan Jodi baik-baik aja, kami bisa menjalankan hubungan ini versi kami. Bagaimana bisa pernikahan dijalankan tanpa cinta? Bukannya apa-apa di dunia ini mesti pake cinta? Misalnya orang-orang yang menjalankan pekerjaannya karena pasion, bukannya itu juga cinta? Setahuku kebanyakan orang yang pernikahannya bahagia mereka jatuh cinta dulu. Jatuh cinta itu perlu kan? Aku rasa tidak ada manusia yang punya hak menentukan batasan atas cinta itu seperti apa. Aku sama sekali tidak sependapat dengan ayah.
“Ayah rasa kamu masih tidak memahami konsep pernikahan, dan hubungan yang serius itu seperti apa. Jadi ayah minta berikan cincin tadi ke ayah.”
Aku langsung melotot. “Nggak ayah, ini hadiahku, milikku!”
“Dan kamu anak ayah, anak yang ayah didik dan besarkan dengan agama, anak yang nggak akan ayah tinggalkan meski apapun yang terjadi, kecuali kamu yang milih ninggalin ayah, ibuk dan adik-adik.”
Seperti bom di dalam perasaanku, lantas aku seperti pecah belah di dalam sini. Bisa-bisanya ayah bilang begitu. “Ayah Sora nggak akan nikah lusa…”
“Ayah sudah bilang, kamu belum mengerti pernikahan itu apa. Jadi ayah minta tolong, agar tidak jadi fitnah di luar sana, berikan cincinnya ke ayah sekarang.”
Aku menggeleng, meski aku tahu aku nggak bisa membatah ayah. “Sora nggak akan pakai cincinnya kok, Sora janji.”
Ayah tetap menggeleng tegas.
Aku menangis terisak.
Ayah kembali memperingati. “Ayah minta cincinnya kak…, ayah nggak suka marah ke kamu. Berikan cincinnya ke ayah sekarang, atau Ayah yang telpon Jodi.” Aku segera menahan nafas sambil mengeluarkan cincinku.
Jangan bawa-bawa Jodi, ini cuma masalahku dan ayah.
Aku meletakkan cincin emas itu di atas meja, setelah itu dengan perasaan sangat kecewa, karena nggak ada satupun dari mereka yang bisa memahami perasaanku, mendukungku, atau paling tidak pura-pura bahagia untuk malam ini saja, mereka semua sama. Untuk pertama kalinya aku merasa sendiri di rumah ini, aku berlari menaiki tangga ke lantai dua, masuk ke kamar, dengan menghempaskan pintu keras-keras. Biar semua orang tahu, aku marah, sangat marah di hari dimana seharusnya aku bahagia.
Akhirnya malam ini aku sadar, bahwa keluargaku tidak merestui kami.
****