KADO DARI PACAR

1791 Words
Pov : Sora Selanjutnya ayah baca doa. Seperti biasa panjang banget dan aku rasa kepanjangan untuk sekala temen-temenku yang imannya siang sore doang. Lalu acara kembali acara bebas, dan kebiasaan di teman-temanku setiap ada pesta ulang tahun ada buka kado bareng. Pertama-tama dulu di acara ultahnya Sarah teman sekelas kami tiga tahun lalu ketika kami kelas sebelas, terus berlanjut seperti ritual di setiap pesta ulang tahun teman-teman sekelasku. Aturan main “buka kado bareng”, yang sedang berulang tahun akan memilih kado yang ingin dia buka, entah itu karena spesial, karena unik, atau karena bungkus kadonya yang bagus. Buka kado biasanya dilakukan tepat sebelum acara selesai. Dan biasanya kado-kado temanku nggak ada yang beneran kado… Agar mengirit waktu, karena sudah lumayan malam, Uti dan Kakung sudah pulang juga, jadi supaya ayah besok nggak telat ngantor aku memutuskan buka tiga kado aja. Supaya adil aku pilih ukuran yang paling besar, sedang, dan kecil. Jodi menyodorkan kadonya yang berbentuk kotak seukuran genggaman tangan. “Ini spesial ya, dibukanya terakhir aja.” Aku tersenyum centil. “Ah, nggak sabar.” Dia tergelak. Mengusap rambutku, teman-teman bersorak gemes pada kami. Kami memang pasangan terfavorit sih di kelas. Pertama aku buka kado yang paling besar, ternyata itu kado punyanya Christ, sahabat Jodi. Agak mencurigakan karena kadonya lumayan berat. Christ tersenyum jahil padaku, tangannya merangkul Jodi dan berbisik lalu mereka berdua terbahak. Setelah ku sobek bungkus kado yang indah, aku kecewa dengan isinya yang adalah sebuah setir mobil. Semua temanku terbahak. Nggak ada satupun teman-temanku yang nggak tahu kalau aku tuh, nggak bisa nyetir mobil, padahal pengeeeen banget bisa nyetir. Aku serius kok belajarnya, sampai les mobil tiga kali, mana diajarin ayah yang super galak, percuma nggak bisa kayak nggak bakat aja gitu… “Ini sarkas banget sih,” kataku menunjukkan setir itu pada teman-temanku yang berkumpul, sebagian dari mereka sudah pulang karena ini sudah lumayan larut. Meyda sudah tiduran di salah satu sofa dekat tempat ibuk dan ayah duduk. Kedua orang tuaku memperhatikan kami dari jarak jauh. Ibuk ikut tertawa melihat hadiah yang kudapatkan. “Supaya lo belajar nyetir. Kata Jodi lo kalo nyetir sering banting kiri, nah lo belajar tu supaya bisa nyetir lurus pake itu dulu.” Aku mengerutkan dahi. “Apaan sih Jod, mana ada nyetir cuma bisa banting kiri?” Dengan yakin Jodi balas, “Ada. Kamu kan gitu.” Kami semua tertawa. Lanjut ke kado berikutnya, aku membuka kado yang paling kecil terlebih dahulu, ekspektasiku masih tinggi nih, semoga isinya nggak ngeprank lagi. Mengingat teman-temanku pada ajaib semua., mereka nggak pernah kehabisan ide untuk ngerjain aku. Sreek-srek, bunyi bungkus kado dilepas dan ternyata, empat kotak bulu mata extension yang tinggal di lem aja langsung nempel seharian. Vanya mengangkat tangan sebelum aku bertanya kado itu milik siapa. “Sekali-sekali pakai eyelashes lah, biar manusiawi lu,” katanya ditimpali tawa kecil anak-anak lain. “Gunting aja gunting bulu mata lo, pakai bulu mata yang gue kasi, supaya sama kayak kita-kita…” Vanya mengepit lengan Anina, dan mereka memberikan gerakan kompak mengedip-ngedipkan mata mereka. Ibuk merawat setiap jengkal tubuhku, dia mantan makeup artist, kecantikan dan perawatan is number one buat Ibuk. Waktu umur 6 tahun ibuk menggunting bulu mataku, dia percaya karena hal itulah sekarang bulu mataku jadi kayak bulu mata unta. Padahal ayah pernah cerita, kalau bulu mata mama Rosa persis bulu mataku. Yah, apapun itu, setidaknya bulu mata ini nggak bikin aku menderita pakai eyelashes seperti teman-temanku yang lain. Lagian ayah bilang di islam itu haram. Dan kado terakhir, bercover kuning blink blink, aku membukanya dengan hati-hati. Aku melirik orang yang kuingat membawa kado ini. Lian sedang dipeluk dari belakang oleh Aska, mereka lagi mengumbar kemesraan, maklumlah pasangan LDR, sekalinya ketemu harus banget nempel supaya satu dunia tahu mereka baik-baik aja. Anyway Aska kuliah di Seattle, dan pasangan inilah yang mencetuskan triple date ke Bali. Lian tersenyum penuh arti ketika kadonya aku buka. Aku menyobek cepat kado terakhir itu karena sebenarnya aku nunggu banget buka kado dari pacarku, yang akan aku buka setelah tiga kado aneh ini. Aku yakin kado ketiga ini nggak akan kalah aneh dengan kado sebelumnya. Tarang…. bikini dong! Benda yang sudap pasti nggak akan pernah coba-coba aku pakai. Aku mengangkat atasan bikini itu dengan meringis. Bikini motif nanas paling aneh sedunia, dari mana Lian dapat motif seaneh ini? “LIAN!!!” “Kita kan mau ke Bali beb.” Dia menarik tangan Aska agar pelukan cowok itu lebih kuat di pinggangnya. “Lo harus liat ada buku juga loh…” Aku melirik tempat duduk orang tuaku yang agak jauh dari tempat kami membuka kado. Untungnya ibuk dan ayah lagi fokus liatin hp, sambil ibuk berceloteh seperti sedang membujuk ayah. Kening ayah merengut-rengut berusaha mencerna celotehan ibuk. Syukurlah mereka nggak mendengar masalah Bali…Bali ini, aku beneran lagi malas berdebat sama Ayah. Aku mengangkat buku kecil dari dalam kotak kado yang sama dengan bikini. Ada buku ukuran A6. Buku Resep Ciuman Enak. Iuuu. Aku melengos “Lo ngasih apaan ini?” “Dih lo sendiri kan yang punya rencana akan lepas perawan bibir lo.” Aku seketika melotot dan meletakkan telunjuk di bibir. Tapi terlambat semua temanku sudah tergelak. Aku seketika melihat ayah, bukan Jodi tapi Ayah! Beliau masih berbincang dengan ibuk sambil menyesap pelan-pelan kopinya. Hah…, lega rasanya. Jodi mendekat dan merangkulku. “Gue yakin kalo lo tahu seromantis apa kami, lo semua bakal iri sih.” Dia mengedarkan telunjuknya pada semua teman-teman. “Romantis itu bukan hanya ciuman ya, yang paling penting saling memahami pasangan kan? Buat apa romanti-romantisan tapi ngejalanin hubungannya nggak sehat, cemburu sana sini, nggak saling support. Kalo kami sih juara soal saling support.” Jodi menaik turunkan alisnya. Aku tersenyum. Ya gimana ya, kalo dibilang hubungan kami saling memahami ya pasti iya, kalau di hubungan yang lain itu pondasinya saling percaya di hubungan kami pondasi utamanya adalah toleransi. Tapi kami berjalan di atas selaput es tipis, kami sama-sama tahu ujungnya jurang, pilihannya kami mau lompat atau bertahan. “Ini kado ku. Bisa tolong buka sekarang?” Aku bertepuk tangan senang. Kadonya pacarku berbungkus pink, dengan pita warna hitam, cantik. Dibungkus cantik dan rapi, seukuran mainan rubiks. Aku buka nggak sabar, dalam sekejap cantiknya terburai dan menyisakan kotak coklat, kado ini sangat ringan. Aku mengerling penuh ancaman. Awas aja kalau dia ngerjain aku! Dia tersenyum malu-malu. Aku membuka kotak coklat tersebut dan tidak menemukan apapun selain kertas cacah yang disesakkan dalam box. “Kamu kasih aku apa sih?” “Usaha dong cantik..” suaranya amat mendayu bikin bulu kudukku meremang. Dia tidak pernah sok romantis gini, aku masih melihatnya awas, sambil sesekali ngadukin kertas cacah di dalam box seukuran rubik tersebut. Ketika melihat kilauan itu aku seketika meletakkannya kembali di meja. Aku menganga, dan menampar mulutku sendiri. Syok, tidak bisa berkata-kata, selain mata melotot dan gelengan tidak percaya adalah reaksiku. Dia tersenyum manis. Dengan tenangnya dia mengambil cincin dari dalam box tersebut dan memakaikan cincin itu ke jari manis tangan kananku. Teman-temanku langsung heboh. Yang pada mencar langsung mendekat melihat kami. “WAH…” “FIWIT, MANTAP SAHABATKU,” teriak Christ “Ahhhh, maniiiissss banget sih Jod!” gumam para cewek. Tepukan celetukan, memenuhi ruangan, aku membeku, antara senang dan takut, lalu ada perasaan syock juga. Aku nggak nyangka dia seberani itu untuk ngelamar aku secepat ini. Kami bahkan tidak pernah berani-berani membicarakan pernikahan. Aku selalu bilang ke Jodi kalau kita jalanin aja dulu. Aku tahu kami jalan di tempat, tapi bukankah semuanya masih rumit? “Selama ini banyak yang ngeraguin hubungan kita kan? Kamu tahu aku cinta sama kamu sebanyak kamu cinta sama aku, aku berusaha setara Sora, cincin ini sebagai keseriusan ku, aku mau meyakinkan kamu bahwa bagaimanapun mereka meragukan kita, aku janji dan pastikan sama kamu bahwa kita berdua pasti punya masa depan. Kita nggak jalan di tempat seperti yang selama ini kamu katakan ke aku. Setahuku aku nggak pernah jalan di tempat.” Aku cuma bisa menganga, nggak bisa berkata-kata. Tapi ini tuh maksudnya apa? Kita kan belum merencanakan apapun. “Tapi kamu belum lulus kuliah Jod..” aku mencicit parau. Nggak bisa bohong, kalau menurutku ini tuh kecepatan. Dia terkekeh, tawa penuh dan sempurna di wajahnya, dia terlihat bahagia bahkan dia terkesan lega karena sudah mengutarakan maksudnya. “Aku belum mau ngajakin kamu nikah juga.” Dia mengelus kepalaku. “Aku tahu kamu masih punya cita-cita, aku juga masih punya cita-cita, lulus kuliah, kerja, beli rumah dulu untuk kita. Ini cuma bentuk komitmen aku aja ke kamu. Aku hanya ingin kamu dan semua orang di ruangan ini tahu kalau aku tu serius sama kamu. Kita punya masa depan Sora, dan aku berjanji akan melangkah ke sana sama kamu, nggak sama orang lain.” “Wwuuuuhuuuuuuu….” Teriak anak-anak yang lain. Dengan hati-hati aku menoleh ke tempat dimana orang tuaku duduk. Aku tidak melihat ayah dan Meyda di sana. Aku sedikit merasa lega. Ibuk berdiri di belakang kerumunan teman-temanku, dia tersenyum, tapi senyuman miris yang tidak bisa diartikan sebagai senyuman bahagia atas cincin dan komitmen yang baru saja dikatakan Jodi di hadapan teman-temanku. Sewaktu ibuk berjalan menghampiriku, kami semua menahan nafas, padahal kami semua tentu tahu ibuku tidak akan memukulku. Tetap saja rasanya mengerikan. Aku sangat ingin mendengar, setidaknya satu orang saja dari anggota keluargaku mendukung kami. Ibuk harapanku satu-satunya, orang yang akan senantiasa meluluhkan hati ayah cuma ibuk. Aku mau menangis ketika dia berjalan perlahan, hanya menghampiriku. Dia mengelus pipiku, berbisik dengan suara agak terlalu lirih. “Ibuk, ayah dan Meyda pulang duluan ya kak. Nikmati pestanya.” Dia melirik Bias. Adik lelakiku itu sedang melipat tangan di d**a, dan aku tidak bisa bilang mimik wajahnya menunjukkan suka cita. Dia melengos pergi ke area salah satu sofa lanjut memainkan game di handphonenya. “Nanti kakak pulang sama Abang ya.” Tidak menungguku berkata-kata, ibuk mencium pipiku. Dia mengangguk pada Jodi lalu pergi dari kafe meninggalkan acara pestaku. Aku dan Jodi saling pandang. Untuk menghilangkan keraguanku, Jodi menarik tanganku mencium punggung tanganku. “I love you,” bisiknya pada kulitku. Aku terdiam, sampai dia menatap mataku, aku tergagap membalasnya, “I Love you too.” Nadaku parau menahan air mata. Aku tidak pernah menjawab ungkapan cintanya dengan keraguan seperti tadi. Hanya saja, cincin ini benar-benar membebaniku untuk saat ini. Bagi Jodi mungkin hanya cincin, tapi buat orang tuaku dan setiap mata yang melihat kami malam ini cincin ini berarti besar, berarti ikatan, sementara aku sendiri masih sulit menjawab pertanyaan. “Kalo lo Shalat Jodi nungguin nggak? Kalo lebaran Jodi ke rumah lo nggak? Kalo Natal lo diundang ke rumah Jodi?” Aku kira cincin ini terlalu cepat kugunakan, tapi aku tidak ingin mengecewakan Jodi, jadi aku pakai saja cincin ini tanpa banyak bicara. Ngumpulin uang saku buat beli cincin emas kayak gini tuh nggak gampang, aku nggak mau jadi pacar nggak pengertian. Aku sangat menghargai usahanya. Aku mencintainya. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD