Pov : Sora
Jodi sudah menunggu dengan kemeja dan celana serba hitam, membuat kulitnya yang putih terang mencolok seperti bohlam. Ah silau aku. Yang nggak nahan itu, mata sipitnya sih. Gemes. Pacarku sering dibilang mirip Suga BTS, padahal aku tuh ngerasa dia lebih mirip Mingyu Seventeen.
Aku hampir melompat-lompat girang ketika melihatnya berdiri di depan pintu masuk. Seharusnya nggak perlu menungguku, dia bisa masuk lebih dulu menyapa teman-teman kami. Tapi dia selalu mendahulukan ku daripada apapun, jadi wajar lah aku secinta itu sama dia.
Aku merentangkan tanganku minta digenggam dan tolong jangan di lepaskan ya, mas-mas boyband ganteng yang nyasar di hatiku, meskipun kamu bukan boyband aku tetap cinta kok.
Dia menyambut uluran tanganku. Digenggamnya tangan kananku dengan tangan kirinya, sementara dia mengulurkan tangan untuk menyalami kedua orang tuaku. “Om Tante.” Dia memeluk adik-adikku dengan ramah “Hai bro, sist.”
Aku nggak pernah merasa pengen banget tendang Bias seperti hari ini. Sementara pacarku yang cute itu dengan ramahnya menyapa dia malah jutek banget, pake acara buang muka dan ngelongos pergi gitu aja. “Sehat om tante?” tanya Jodi pada kedua orang tuaku dengan pandangan bergantian pada ibuk dan ayah.
Ayah hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Ibuk yang selalu menutupi kekakuan ayah menjawab, “Sehat dong. Mama gimana? Lama nih tante nggak ketemu mamamu, kayaknya lagi banget ya?”
Pacarku tersenyum malu-malu, dia menggaruk tengkuk, dia manis sekali kalau lagi malu. Tanpa sadar kedua tanganku jadi memegangi pergelangan tangannya. Mata ayahku langsung meruncing, kukira dia akan menebas pergelangan tangan Jodi. Aku melepaskan tangan Jodi, aku takut sekali lihat mata ayah.
“Mama lagi sibuk di gereja tante, sebentar lagi paskah.”
Ayah menghela nafas, ku lihat bahunya naik, tertahan, lalu kembali turun dengan lunglai. Aku bisa melihat beban apa yang tertahan di pundak itu, aku bisa membaca pikirannya, aku tahu apa masalah kami. Tapi aku bertahan untuk pura-pura bodoh soal itu.
Ibuk juga tidak banyak reaksi, dia menepuk lengan Jodi. “Salam ya, kalau pas waktunya nanti tante mau ketemu mamamu.”
“Iya tante, udah lama rasanya sejak kita ke kolam rame-rame.”
Ibuk tertawa. “Itu kalian masih smp.”
“Sayang.” Ayah mengingatkan ibuk agar tidak terlalu asik ngobrol. Ayah mengelus punggungnya. Ibukku hari ini cantik sekali, rambutnya yang warna merah mentereng di tengah gemerlap, matching dengan gaun dan pitah di rambutku. Mungkin ibuk memang merencanakannya.
“Tante dan om duluan masuk ya, ada Uti dan Kakungnya Sora.”
Mereka pun ke dalam lebih dulu dari kami. Meyda dan Bias sudah masuk lebih dulu.
Aku kembali menempelkan telapak tanganku di telapak tangan Jodi. Lalu jari-jarinya mengunci jari-jariku. Membawanya ke bibir dan mengecupnya singkat. Lalu dia memberikan senyuman yang berarti. Aku justru menangkap kepercayaan dirinya yang mengendur, mungkikah dia menyadari perlakuan ayah tadi?
Aku ingin menghentikan apapun yang sekarang ada di benaknya, aku nggak akan ijinin apapun merusak hari bahagiaku. Aku merapatkan tubuh, memeluk lengannya. Semoga dia mengerti bahwa apapun yang terjadi aku nggak akan meninggalkannya.
Dia menepuk tanganku yang menggelayut di lengannya, “Happy Birthday pacar.”
“Terimakasih pacar.”
Dia menarik lengannya, memindahkan posisi tangannya untuk merangkul bahuku lebih dekat. Ini adalah jarak terdekat kami. Jarak terdekat yang kami sepakati bersama. Kalau ditanya keinginanku sih, aku ingin dipeluk Jodi, aku ingin dicium Jodi, aku ingin benar-benar merasakan kulitnya, tapi selalu ada ayah berdiri di antara kami. Aturan ayah selalu berdengung seperti sirine peringatan yang menyala di kepalaku. Aku memberitahunya batasan-batasan yang diberikan ayah pada anak perempuannya, tapi ku rasa itu hanya berlaku padaku, mengingat Meyda nggak ada aturan yang bisa menjeratnya. Jodi memahami itu, dia menghargai batasan-batasan itu. Dia selalu kompromi dengan apapun situasiku.
*****
Hampir semua teman-teman kami datang. Teman Jodi, temanku Juga. Rasanya selama hidupku aku selalu sama dia, jadi sudah pasti kami satu pertemanan. Karena terlalu ramai aku hanya sebentar saja menyapa keluargaku dan lebih banyak menyapa teman-temanku. Kami menertawakan kekonyolan kami, beberapa temanku bernyanyi dengan band yang disewa ibuk. Tentu saja jangan ragukan makanan yang dipilih ibuk, dia melakukan tiga kali foodtesting untuk acaraku yang mungkin hanya akan menghabiskan waktu empat atau tiga jam saja, beberapa temanku menyanjung-nyanjung makanan di acara itu. “Jangan salah, semua yang menyiapkan baginda ratu di sana. Udah ketemu ayah ibuk kan kalian?”
Sita dan Hanif mengangguk, “Gue tiba-tiba speak delay diajak ngobrol sama ibuk lo. kek Ariel versi middle ege.” Si Hanif melirik ibuk dengan ujung matanya. “Mau sih gue, kalo-kalo lo butuh ayah tiri.”
“Gila ya! Gue cewek lo Hanif!” Setengah berteriak Sita menyenggol rusuk Hanif dengan keras. “Nggak pantes banget mulut lo. Lagian mama kandungnya Sora kan sudah meninggal.”
Hanif menganga syok. “Mamak tiri toh, oh….” Dia kembali lagi melihat ibuk.
Enek aku sama pembahasannya. Aku tersenyum meringis, Hanif memang bukan teman sekelas sih, ceweknya Sita yang teman sekelas ku.
“Gue heran, itu semua yang ngumpul satu meja keluarga lo?” tanya Sita memutar telunjuknya di area meja dimana keluargaku sedang menikmati makan malam.
Aku mengangguk. “Ada ya keluarga kayak keluarga lo, semuanya sempurna. Adik lo juga, tuh, aduh..” Sita memegang jantungnya. Ah, ternyata nggak jauh beda sama pacarnya.
Anina bergabung dan nimbrung obrolan nggak penting soal keluargaku. “Gimana Sora, bisa nggak gue jadi adik ipar lo?.”
Aku meringis.
“Kalo ayah Lukman butuh tambahan istri, gue boleh lah jadi stok cadangan juga nggak apa-apa lah. Gila ya. Keluarga speak artis semua.” Anina juga mengarahkan pandangan ke arah keluargaku.
“Keluargaku biasa aja sih,” aku menanggapi dengan sangat jujur. Karena menurutku keluargaku sebiasa itu, entah bagaimana cara mereka melihat kami.
“Jujur, sebagai cowok gue bisa memahami beban Jodi. Berat banget pasti nambah satu kursi di meja itu.” Hanif melirik Jodi yang lagi asik main pingpong dengan lengan kemeja yang di singsingkan. “Cari yang setara lah Sora, minimal kalo nggak setara keyakinannya, setara keluarganya.”
“Maksud lo apa?” intonasi ku agak lebih naik. Setara-setara mata lo aja nggak setara tuh!
“Sorry, Sora Hanif memang lagi ngelag, tugas kuliahnya lagi banyak banget.” Sita akhirnya langsung mendorong pacarnya menjauh dari jangkauanku sebelum ku robek mulutnya. kujadikan beneran setara matanya.
Aku mengarahkan pandangan ke keluargaku, Ayah melambai padaku. Ide buruk memang mengajak mereka ke acara ultahku. Seharusnya ini khusus untuk aku dan teman-temanku saja. Keluargaku suka jadi bahan gunjingan teman-temanku. Seringkali aku mendengar pertanyaan-pertanyaan nyeleneh seputar mereka. Nggak kehitung lagi berapa kali teman cewekku meminta dikenalin ke Bias, bahkan ada yang sampai kurang ajar curi-curi pandang ke ayahku, kan gila! Nggak tahu aja mereka kalo ketemu ayah pasti disuruh tes hafalan juz 30.
Mbak Lintang dan Om Romeo datang membawa kado sebesar gaban yang susah dibawa dalam pelukan Om Romeo. Om Romeo meletakkan kado di meja terdekat. Mbak Lintang lebih dulu menghampiri dan memelukku. “Selamat ulang tahun Sora sayang…”
Aku mengelus punggungnya. “Thank calon manten.”
Om Romeo yang berikutnya memelukku, dia nggak canggung mencium pelipisku. “Cantik sekali malam ini, pasti dipaksa ibuk kan dandan kayak kado natal gini?” Dia melihat dandanku dengan mata turun naik.
Mbak Lintang dan Om Romeo akan menikah minggu depan. Mereka berdua baru setahun pacaran, nggak kayak aku dan Jodi yang udah pacaran dari SMP baru berani rangkul-rangkulan aja, Om Romeo dan Mbak Lintang melaju kencang langsung ke pelaminan. Om Romeo sudah sering bawa Mbak Lintang ke rumah, kata Bias Om Romeo nggak punya modal bawa ceweknya pergi nonton atau keluar makan, kencannya di rumah terus, karena itu juga kami sekeluarga udah akrab banget sama Mbak Lintang kayak bukan mbak-mbak’an, kayak udah keluarga sendiri aja rasanya.
“Itu kado dari Om Meo tersayang…”
“Berkat bantuan siapa bisa dapet kadonya?” Mbak Lintang menyeringai ingin banget diakui usahanya oleh calon suami.
“Kamu dong, sayang aku number one, is the best.” Suka sekali Om Romeo memberikan Julukan asal yang buat enek. “Asal tahu Sora, itu usaha banget dapetinnya ya, awas aja dijual ke orang, jangan beritahu Meyda nominalnya nanti dia nagih gue dengan harga yang sama pas hari ulang tahunnya. Itu KitchenAid Artisan Black Tie.”
“WAAAA… SERIUS, THANKS OM..” Aku langsung lompat ke pelukan Om Romeo. Itu adalah mixer yang benar-benar aku pengenin dari jaman bahelak. Hanya dicetak 500 di dunia.
“Barangnya seken sih, tapi kondisinya masih bagus banget, kata mantan pemiliknya, baru dua kali pemakaian.”
“Beneran makasi ya Om, aku nggak akan tanya harganya deh. Sumpah!.” Aku menggenggam tangan Mbak Lintang. “Aku nggak tahu lagi, gimana om Romeo kalo nggak ada mbak Lintang. Thanks a lot mbak.”
Mbak Lintang terbahak. Dan seketika di rangkul calon suaminya.
“Itu kan dari Om Romeo, dari mbak Lintang mana?”
Om Romeo memutar bola matanya. “Sama aja anak-anak kakakku!”
“Tuh.” Mbak Lintang menunjuk pot dengan rangkain bunga yang cantik. “Kayaknya terlalu heboh ya aku kirim ke sini? Nanti aku minta kurir langsung kirim ke rumah aja ya.”
“Nah, itu lebih baik. Terimakasih Om dan Mbak.”
Tangan jahil Om Romeo penasaran dengan pitahku yang panjang. “Bukan kado natal deh, kayak hadiah doorprize.”
“Apa sih om jangan di tarik dong. Dimarahin ibuk, ini ibuk yang nata rambutku.”
Tangan Om Romeo segera ditarik calon istrinya. “Jangan jail! Tahu loh moodnya Sora kayak roller coaster.”
“Terimakasih pujiannya calon tante.”
Sebelum pergi, Om Romeo berbalik dan berbisik dengan suara jail. “Rained pulang.” Lalu dia nyengir iseng. AKu tahu banget arti cengirannya. “Penasaran aku, kamu masih ngintilin Rained kayak dulu nggak ya.”
Aku terkekeh. “Nggak mungkinlah.”
Romeo menyeringai, jarinya mengayun maju mundur di depan wajahnya. “Lo belum tahu aja pesona Rained.”
Sorry aja sekarang aku sudah punya pacar. Walau begitu aku tetap merasakan sengatan aneh di dadaku. Aku segera menggeleng. Dan berjalan kembali pada kekasihku.
Mc acara membuka acara ulang tahun dengan memanggilku ke panggung. Lalu kue super besar yang tentu saja bukan aku yang buat. Datang dengan kereta dorong. Kue tiga susun penuh dengan mawar dan pita-pita, pasti ibuk deh yang pesan. Sifa juga bawa kue yang ada bentuknya seperti simbol toko kami dan ada tulisan The Labil Bakery lucu banget.
Orang tua dan keluargaku diminta bergabung bersama untuk tiup lilin. Ibuk merangkulku, sementara Meyda memeluk pinggangku erat. Ayah dan Bias berdiri di belakang, mereka berdua kan paling jangkung. Uti dan Kakung berdiri di dekat Om dan Mbak Lintang.
Ada yang kurang sih, “Tunggu…” Aku menghentikan mereka ketika akan bernyanyi “happy birthday”. Aku mencari-cari, eh ternyata dia di sana, berdiri agak sedikit terpinggirkan oleh teman-temanku yang lain. Aku menariknya bergabung bersama kami.
“Oke-Oke” Om Romeo mundur sedikit, terlihat canggung dan geli mendapatiku menarik pacar ke sebelah orang tuaku. Om Romeo melihat ke belakangku, aku tidak mau lihat arah pandangan om, karena dia pasti memperhatikan ayah.
“Happy birthday to you….”
Lagu itu dinyanyikan dan aku tiup lilin.