JEMBATAN

1635 Words
Pov : Sora “Manis, kenalan dong…” serunya dari dalam mobil. Aku sudah menunggunya lima belas menit. Aku bukan seseorang yang sabar menunggu, biasanya telat sepuluh menit aja aku sudah cabut, ini semua karena dia, dia adalah semua pengecualian yang ada di hidupku. Senyumku seketika merekah menyambut wajah oriental kesayanganku. Dia berkedip dari jendela mobilnya. Aku berjingkrang berlari kecil masuk ke mobilnya. “Dah Sifa…” aku melambai ke pada Sifa yang sedang bergelut dengan barang bawaannya. “Dah Sifa” Jody mengukit nada suaraku. Sifa melambai, “Hati-hati dan ingat pesan Om Lukman.” Pesan om Lukman itu adalah, No Kiss, no touch! Aku memukul bahunya dengan sayang. “Kamu telat lima lima belas menit. Lain kali aku nggak toleransi ya! lain kali kamu nggak jemput tepat waktu aku minta dianterin sama cowok lain” mana ada cowok lain di hidupku! Selain itu kata To-Le-Ran-Si sudah jadi jembatan buat perbedaan kami, aku dan dia seringkali menyeberangi jembatan itu, bertanya-tanya siapa di antara kami berdua yang akan lebih dulu merobohkan jembatan itu. Lalu dia mengacak rambutku. “Maaf ya aku nganterin mama ke gereja dulu. Pas kamu telpon aku lagi dijalan, kan kamu yang bilang nggak boleh nelpon kalau sedang nyetir.” Wajahnya berseri banget, kulitnya putih, mata sipit, rambutnya jatuh, wangi tubuhnya juga sangat fresh. Pasti dia baru saja mandi, biasanya dia latihan basket, ngumpul dulu sama temen-temen kampusnya baru ketemu aku jadi biasanya dia tuh lepek, tapi aku tetap suuuaaayang sama dia. Sudah kubilang kan aku sudah menoleransi semuanya… “Dan kamu lupa ngucapin sesuatu ke aku!” Bola matanya mengerling ke atas, seakan jenuh. Aku kan nggak tahan lihat member BTS yang merengut. Ku usap wajahnya karena gemes. Dia hampir menggigit tanganku. Aku segera menarik tangan ke d**a. Kenapa dia jadi buas? Aku ngeri. Dia terkekeh “Nanti aja aku ngucapinnya, biar berkesan dan nggak gampang untuk kamu lupain.” dia kembali mengedipkan mata. “Sekarang bilang mau dianterin abang driver kemana nih?” Alisnya turun naik nggak jelas banget. “Ke altar gimana?” Aku tertawa, aku tahunya pelaminan… “Ke butik dulu yuk, tante Zya sudah nelponin, butiknya mau tutup, aku harus ambil gaun untuk nanti malam.” Aku kembali memeriksa Hpku, membalas pesan yang dikirim tante Zya. “Kamu tahu kan alamatnya?” “Tahu sayangku.” Aku tersenyum senang mendengar kata “sayang” untukku. Kami pun menuju ke butik tante Zya. Setelah mama memutuskan berhenti dari pekerjaannya menjadi makeup artist, tante Zya sadar dia nggak punya keterampilan yang sama dengan mama, dia dan sahabat mama yang lain yaitu tante Kloe membuka sebuah butik dan alhasil tanpa diduga, Everyone Dresses sekarang jadi salah satu butik terbaik di Jakarta. “Sempat istirahat nggak?” tanyanya menoleh sebentar padaku. Kami telponan sampai jam tiga pagi, dia pasti khawatir. Aku mengangguk, karena sebelum kerja aku sempat tidur dua jam. “Cuma dua jam sih tapi lumayan, kamu sendiri gimana? Bukannya ada kuliah hari ini?” “Dosennya nggak hadir, jadi aku cuma ngerjain tugas aja tadi di perpus terus pulang, dapet tidur lumayan, baru ke sini.” Dia benar benar menoleh, mata sifitnya terlihat bersedih dengan tampang letihku. “Ya udah kamu tidur aja dulu, kasian pacarku yang lagi ultah saking semangatnya lupa tidur.” Kenapa sih ada orang yang nggak bisa bikin bosen ngeliatinnya? Aku menarik nafas hingga rasanya aku mencuri oksigen semua orang dan menghembuskannya dengan suara, Hufff. “Emang aku nggak salah pilih pacar, kamu ngerti banget.” Aku mulai merebahkan kepala. “Janji aku nggak akan curi curi cium pas kamu lagi tidur, jadi kamu bisa tidur dengan nyenyak.” “Kamu pasti ada niat, mangkanya ngomong kayak gitu.” “Yah, ketahuan deh.” Kami sama-sama tertawa, suara tawa kami kalau digabung jadi nada irama yang ingin selalu aku dengar seumur hidupku. **** Aku langsung pulang ke rumah setelah mengambil dress dari butik tante Zya. Kami tidak punya banyak waktu untuk makan bareng atau nonton. Sesampai di rumah, Ibuk sedang di area laundry mempersiapkan pakaian yang akan digunakan seluruh anggota keluarga nanti malam. “Assalamualaikum.” Aku menghampirinya dan mencium tangannya. “Bekelnya dimakan?” “Iya,” jawabku, memberikan tas berisi gaun yang akan aku kenakan nanti malam. Ibuk membukanya dan melebarkan gaun tersebut ke udara “Kakak pasti cantik banget pakai gaun ini.” Dia tersenyum, matanya menerawang membayangkan sesuatu. Dia melihatku yang sedang bersandar di tembok. “Kak rambutnya nanti biar ibu saja ya yang kepangin.” Aku merengut, “Nggak buk, Sora sudah besar, setiap hari ulang tahun ibuk terus yang kepangin rambut Sora, Sora mau pakai gaya sendiri.” “Nggak mau harus ibuk yang kepangin, ibuk sudah beli pitah yang cantik banget, cocok sama gaun ini. Boleh ya?” Ibuk memelas “Pitahnya dipakai ke rambutnya Bias aja buk.” Bias sedang membuat milkshake di dapur, melongokkan kepala ke arah kami. “Nggak buk.” Bias meringis menolaknya. “Kamu kok gitu sih kak sama ibuk, padahal ibuk kan ingin kamu ingat sama ibuk. Nanti di setiap foto ulang tahun mu, kamu akan teringat ibuk yang selalu kepangin rambut kamu, ibuk ingin punya momen kecil yang bisa kamu ingat kalau nanti ibuk nggak ada.” Ah jadi sedih deh sama ibuk. “Ibuk kepangin aku aja, rambutku nggak kalah bagus kok.” Bias tiba-tiba datang meralat penolakannya dengan segelas milkshake di tangan. Tidak ada seorangpun yang boleh membuat ibuk sedih, kalau itu terjadi maka dia harus menghadapi Biaskah Sadewa, si atlet yang belum genap 17 tahun tapi ototnya sudah kayak mas-mas gym. Aku lantas memeluk ibuk. “Iya buk, iya, ibuk aja yang kepang, asal jangan dibuat aneh-aneh ya. Aku siap jadi princessnya ibuk.” Akupun meralat penolakanku, entah karena takut pelototan Bias atau karena ibuk sedih di acara ulang tahunku, yang jelas aku tahu cara menenangkan ibuk dengan sebuah pelukan. **** Sejak kecil ibuk sering sekali memakaikanku pakaian princess jadi sedikit banyak hal itu mempengaruhi gaya busanaku yang sangat feminim. Pakaianku selalu punya unsur bunga-bunga kecil, kupu-kupu, renda-renda, rumbai, kebanyak orang risih melihat caraku berpakaian, mereka mengira aku tampil terlalu show off, tapi begitulah aku. Aku menyukainya dan merasa PD, toh Jody selalu bilang aku cantik kok. Tampilan kali ini di acara ulang tahunku ke 20 tidak kalah menarik dari pesta ulang tahunku ke 19. Aku bergaya seperti Katniss Everdeen di acara karnaval yang diadakan presiden snow di Kapital. Sayang sekali tante Zya tidak meninggalkan efek api yang membakar di bagian bawah gaunku. Jadi gaun ini berwarna merah dan hitam, dengan taburan manik-manik seperti bintang. Ibuk menata rambut ku cantik tersanggul dengan kepak-kepang seperti putri-putri kerajaan inggris. Untung saja ibuk tidak memakaikan Tiara di kepalaku, melainkan pihat cantik berwarna merah.., aku seperti kado natal dengan pitah yang menjuntai sampai ke punggungku. Sedangkan keluargaku yang lain menggunakan warna merah senada. Ibuk selalu suka keluarganya tampil dengan pakaian yang kompak. “Tunggu, perhiasan kakak mana?” tanya ibuk. “Ibuk aku nggak mau pakai perhiasan deh kayaknya.” “Nggak apa-apa biar tambah manis, bukan pamer tujuannya. Supaya pas, soalnya lehernya kakak terlalu jenjang keliatannya kosong kalau nggak pakai kalung. Yang kecil, dulu pernah ibu belikan di tante Amy itu mana ya kak?” “Di lemari Sora di laci kecil buk.” Aku menunjuk walking closet di mana laci kecil dan terdapat kotak-kotak perhiasan di sana. “Kakak berapa kali ibuk bilang, perhiasannya ditaruh di brankas.” Aku nggak suka meletakkan apa-apa di brankas. Akupun mengenakan kalung tersebut. “Tuh kan cantik?” “Aku kayak kado natal buk.” “Enggak ah. Happy birthday kakak.” Lewat pantulan cermin ibuk menatapku, matanya berkaca-kaca. Mengusir perasaan haru, dia segera mengecup pipiku. “Ibuk harus liat si bontot bandel itu, tadi pas ke kamarnya dia belum mandi masih bau cat.” **** Aku nggak pergi bareng Jody, aku pergi bareng ayah, ibuk dan adik-adikku. “Kakak sudah telpon oma?” “Sudah, tapi oma lagi di london kan.” “Minta hadiah sono kak.” Bias menyenggol lenganku. Kami naik mobil BMW iX1 yang biasa digunakan ayah. Kami hanya punya dua mobil dan Ayah sedang menyetir, matanya sekali waktu menatap spion di atas untuk memperhatikan kami. “Enggak ah, yang penting aku sudah sampaikan aja undangan hari ini ke oma.” Nanti kalau minta kado, aku haru mendengar kekecewaannya lagi, di mata Oma tuh, aku dan keluargaku selalu salah. Aku memperhatikan orang tuaku di kursi depan. Aku tahu ada sesuatu diantara Oma dan mereka. Oma tidak menyukai Ibuk dan Ayah, dulu sekali Oma ingin mengambilku. Aku bersyukur itu tidak pernah terjadi, karena aku tidak tahu hidupku tanpa ibuk dan ayah. “Kak Jody manah? nggak pernah nyampek rumah deh kayaknya akhir-akhir ini.” Meida bersandar lelah di bahuku, efek begadang menyiapkan kado ulang tahunku. “Dia sibuk, baru selesai UTS. Di pesta nanti kamu pasti ketemu kok, tapi jangan dipalakin pacarku!” “Pacar kalian berdua tidak akan bebas dari pajak adik yang kubuat.” “Uuu enak aja” Bias menarik kepangan Meyda membuat Meyda sengak dan menendangnya lebih sepenuh hati. Dari kecil dua anak ini memang jarang sekali akur. “Adeeek…” Ibuk mulai memberikan sirine mengancam. “Dih, gue mulu. Ah. Bang Bias tuh buk!” “Kamu tuh jangan kebiasaan semua orang dipalakin.” Dia merengut, menyembunyikan wajah di balik bahuku, meminta perlindungan seperti biasa dari serangan ibuk. Karena ayang yang biasa membelanya tidak berkutik di depan ibuk. “Kakak juga kalau liat adiknya malakin Jody ditegur dong kak jangan dibiarkan.” “Cuma minta es poci kok buk…,” kataku membela Mayda, sebenarnya waktu itu dia minta dibelikan action figure oleh Jody, seharga 500rb. Dan aku sudah memarahinya, tapi Jody sepertinya senang kalau dia bisa diandalkan oleh adik-adikku. Sejak itu juga Meyda nggak pernah lagi ngisengin Jody, suruh Jody shalat jumat. Ibuk mendengus kesal. Tangan ayah terulur ke leher ibuk, membelai-belai tengkuk ibuk. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD