D’LABIL BAKERY

1061 Words
Pov : Sora Saat akan jalan bekerja aku masih merasa gondong dengan ibuk dan ayah. Untungnya ayah dan Bias sudah lebih dulu pergi main tenis untuk mempersiapkan turnamen berikutnya, Meyda sudah berangkat sekolah, hanya ada aku dan ibuk. Biasanya ibuk akan merayuku dengan ribuan cara agar aku mau kembali ke meja makan untuk menikmati sarapan tapi hari itu dia tidak melakukannya, karena itu aku sedikit merasa diabaikan, aku jadi makin ngambek. Kami tidak punya supir, di rumah hanya ada ibuk, tapi aku terlalu gengsi untuk minta diantar ke Gedung Citra. Gedung Citra tempat dimana aku biasanya menyelesaikan pesanan kue-kueku. Gedung itu disewakan untuk banyak acara bahkan mereka menyediakan tempat masak besar yang lengkap dengan Kitchen Equipment. Untuk saat ini D’Labil bakery hanya mampu menyewa dapur, sedikit-sedikit kami sedang menabung untuk bisa punya tempat sendiri. Sebetulnya ayah menawarkan untuk mencarikan tempat buat kami, tapi aku menolak, karena mau benar-benar merintis usaha ini sendiri. Aku ingin melihat sampai mana aku mampu membesarkan usaha ini. Taksi onlineku sudah sampai. Aku bergegas turun ke bawah, berjalan melintasi ruang tengah, ruang makan dan space terbuka sambil berdoa ibuk tidak melihatku. Ada Neneng, dia sedang membersihkan rumput di dekat kolam ikan. Aku bersalaman dengannya, tidak ingin bertanya dimana keberadaan ibuk, biar saja, aku masih ngambek, aku nggak mau pamit sama ibuk. Aku menghela nafas, ternyata ibuk sudah ada di luar, dia meminta driver taksi online untuk pergi dengan membayar cast. Dia melihatku, mobilnya sudah di luar pagar. “Ayo kak, ibuk mau ketemu utie dulu. Dia mau berobat katanya.” Ibuk mengayunkan tangan meminta ku untuk masuk ke mobil. Dengan tampang jutek akupun tidak punya pilihan lain selain ikut dengan mobil ibuk. Anyway aku berulang kali belajar nyetir dan nggak pernah bisa lolos untuk dapat SIM. Aku nggak bisa parkir, ayah dan Bias frustasi, ayahku sampai mengeluarkan maklumat terakhirnya. “Udah kak kamu nggak usa bawa mobil bahaya banget, lebih baik kalau mau pergi diantar aja.” Tidak ada yang bisa menarik kembali keputusan ayahku. “Istigfar kak kamu jelek loh kalo manyun gitu,” celetuk ibuk ketika aku memasang seatbelt. Dia semakin semakin membuatku sebel. “Di belakang ibuk sudah bawakan bekal, nanti dimakan bareng Sifa ya.” Aku merasakan tatapan ibuk, tapi aku masih bersikeras tidak mau memandangnya. “Kak udah ya, kita buat suasananya enak hari ini, please perbaiki mood kakak. Ulang tahun ke dua puluh itu cuma sekali loh kak.” Meski aku tahu ibuk benar, tapi aku masih aja gondok masalah liburan ke Bali itu. Kami akhirnya diem-dieman sepanjang perjalanan. Sampai ke Gedung Citra, ibuk tidak membiarkan ku turun dulu, dia memegangi lenganku. Mau tidak mau aku terpaksa menatap matanya. Pas melihat wajah ibukku aku tahu nggak bisa marah lama-lama sama manusia yang paling aku butuhkan di dunia ini. “Kak terkadang ibuk dan ayah nggak bisa memberikan apa yang kakak inginkan, terkadang ibuk dan ayah bikin kakak kecewa. Tapi kak, Apapun keputusan ayah nggak akan mencelakai kakak.” Aku cuma bisa mendengus sambil merengut. Se-sepet-sepet-nya muka ku, ibuk masih mengelus pipiku lembut. “Udah sana, selamat kerja, i love you.” Aku pun turun dari mobil membawa bekal yang disiapkan ibuk. Belum jauh aku jalan, aku menyadari kesalahanku. Aku nggak bisa memperlakukan ibuk nggak adil seperti ini. Aku nggak bisa menyakitinya, kalau aku pergi gitu aja dia akan terluka, dan lukanya adalah lukaku. Aku berbalik menuju mobilnya. Ku ketuk kaca mobil, ibuk menurunkan kacanya, aku mendorong tubuhku masuk melewati jendela dan membiarkannya ciuman di pipi. “I love you to ibuk, ingat kata ayah nggak boleh main bom-bom car di jalan.” Dia tertawa, aku melihat beban yang memberatkan hatinya telah hilang, dan aku senang sekali melihat senyum ibuk. Akupun melambai pergi, menjadikan senyum itu sebagai suntikan energiku dipagi hari. Baiklah, akan ku ikuti kata ibuk. Kita buat suasana enak hari ini, dan mari jaga mood yang selalu berantakkan. Oh ya, toko kue onlineku adalah representasi diriku yang punya mood turun naik kek roller coaster. D’Labil bakery. **** Hari itu tidak terlalu melelahkan, semua bahan terkendali, kue-kue kami matang dengan sempurna, pesanan pun satu persatu diantarkan. Biasanya kami tidak langsung pulang, kami harus menunggu respon dari pelanggan, kami harus memastikan kae-kue kami sampai ke tujuan dengan kondisi baik, tidak rusak. Sifa masih menunggu beberapa orderan yang kurirnya belum datang mengambil, sementara pekerjaanku sendiri sudah selesai, aku duduk di lantai bersandar pada pantry. Jeda istirahat paling asik liatin sosial media. Kini semua orang sudah punya sosial media, termasuk ayahku yang cupu itu, meskipun isinya cuma gambar rumah dan gedung. Nggak sengaja aku menemukan sosial media Rainet Alvaros Rochman. Entah kenapa kami tidak saling mengikuti di sosial media padahal aku mengikuti semua sosial media keluargaku. Lihatlah apa isi sosial medianya. Pantas saja ibuk selalu naik darah kalau sudah berurusan dengan Rained. Isi sosial medianya tidak lain adalah klub malam, alcohol, perempuan, merokok, jalanan, kamar hotel, duh aku nggak tahan melihatnya. Kenapa ada orang yang bangga sama dosa-dosanya? Apa yang mau ditunjukin ke dunia sih? Apa nginep sama cewek pirang di hotel itu sebuah prestasi? Nggak kepikiran sih aku sama jalan pikirannya Rained. Aku meringis melihat salah satu tag dari temannya, dia sedang mabuk dicekoki minuman sambil memangku seorang penari skriptif. Jijik! Kira-kira kalau utie melihat ini gimana ya? ya Allah panjangkanlah umur Utieku tersayang. “Lagi liat apa, kasus pembunuh’an terbaru ya? horor banget muka lo.” Sifa mengintip ke layar hpku. “Ya Allah, kalau lagi ngeliatin cowok cakep muka lo yang sumringah dong! Emang siapa?” Dia kembali meneliti hpku. “Om gue, Rained.” Mulutnya langsung membentuk “o” paling bulat yang pernah kulihat. “Cakep gila anjjirlah. Coba om lo Arab sudah minta dijodohin gue.” Aku tergelak. Sifa keturunan Arab, keluarganya masih memegang tradisi perjodohan sesama arab. Kudengar dia pun akan dijodohkan dengan seorang saudara jauh dari Surabaya. “Gue heran lo punya om tiri yang cuakep-cuakep emang nggak pernah ada rasa ya? Kalau gue jadi lo, gue pasti oleng sih, nggak peduli sebaik apa pacar gue.” “Nggak Lah.” Aku meringis, merinding aja kepincut om sendiri tuh, gimana? Lama dia terdiam memandangi aku, “Emang lo yakin sama Jodi?” “Yakin dong. Jodi tuh nggak ada kurangnya di mata ku.” Dia memberikan pandangan sentimental. “Menurut gue sih, Jodi kurangnya syahadat aja.” Aku mendorong bahu Sifa sampai jatuh ke samping, dia justru tertawa. Seneng banget menertawakan hubungan orang. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD