7. Kopi Malam

1182 Words
“Kenapa?” tanya Kiana sinis pada pria gagah di hadapannya—keduanya saling berpapasan. Gian berada di jalanan turun, hendak naik ke atas, sementara Kiana berada di posisi yang lebih tinggi. Gian terkekeh. “Apanya yang kenapa? Kita cuma papasan.” Kiana mengembuskan napasnya pelan, memutar bola matanya malas, lalu memilih untuk melenggang pergi setelah sempat tersenyum, menyapa Erik yang ada di samping Gian. Namun, baru saja mengambil beberapa langkah, ia lantas mengerem. Kiana menoleh. “Kayanya kita harus ngopi di Kopi Paviliun.” Gian turut menoleh. Kemudian menunjuk dirinya sendir. “Aku? M-maksudmu ngopi sama aku?” “Uhm!” Gian tertawa kecil. “Tapi kenapa? Apa kita sedekat itu buat ngopi bareng?” Kiana berdecak kesal. “Ada yang harus aku omongin supaya kita nggak semakin dekat,” tutupnya ketus. Erik yang ada di samping Gian pun membelalak setelah mendengar kalimat Kiana. Kemudian ia menyenggol lengan seniornya. “Ini bahaya!” “Apa, sih?” “Ini waktu maghrib yang sakral. Omongan-omongan di gunung bisa berevolusi menjadi sebuah kenyataan karena adanya daya tarik spir…” Kalimat Erik terhenti saat menerima tatapan intimidasi dari Gian. Lantas pemuda itu menutup rapat mulutnya. “Saya bener-bener harus melatih mulut saya lebih banyak lagi.” ^^^ Paviliun Sembalun. Kiana menetap di sebuah paviliun yang desainnya sangat teduh dan menenangkan. Semuanya serba kayu dan kayu yang digunakan sangat berkualitas. Paviliun tersebut berada di tanah hijau yang lapang, bersebelahan dengan rumah kayu yang ukurannya lebih kecil—rumah tinggal Gian. Setiap Kiana keluar pintu kamar di lantai dua, maka ia akan melihat maha karya Sang Illahi. Gunung Rinjani tampak gagah di antara langit luas. Pun pada malam hari, saat Rinjani tak terlihat, masih ada keteduhan lain yang dirasakan. Misal semilir angin malam yang lembut, suara serangga yang bersahutan, lampu taman keemasan yang menerangi sudut pekarangan yang hijau. Tampaknya, paviliun tersebut selalu dijaga dengan baik. Di lantai satu—tepatnya di samping resepsionis, ada sebuah kafe sederhana dengan interior yang sama. Semua serba kayu, lampu yang tidak terlalu gemerlap. Sungguh mencerminkan suasana pedesaan yang teduh, ditambah kursinya yang terbuat dari perpaduan kayu dan rotan. Kopi Sembalun disebut juga Kopi Madu,karena rasa dan aromanya seperti madu. Dengan Fine Robusta dan diolah tepat, mereka menyebutnya kopi sehat. “Matur tampi asih,” ucap Kiara pada pelayan yang mengantarkan secangkir kopi ke mejanya. “Satu cangkir buat saya.” Tiba-tiba seorang pria tinggi dalam balutan jaket hoodie abu dan celana pendek itu masuk ke dalam kafe sambil mengacak-acak rambut choppy undercut yang tetap saja rapi. Kiana tercenung dalam beberapa waktu saat sedang menyeruput kopi. Pasalnya, ia baru melihat sosok Gian dalam balutan pakaian santai yang di matanya terlihat lebih keren. Gian yang dingin itu justru tampak friendly dan bersahabat. “Mau ngomong apa?” “Ah?” Kiana mengerjap saat tersadar jika Gian sudah duduk di hadapannya. Lantas ia berdeham. “Aku cuma mau ngomong… tolong pura-pura nggak dengar apapun.” “Soal tadi siang, di bawah pohon klinik,” sambung perempuan itu lagi saat Gian mengerutkan kening sambil menyeruput kopinya. Pria itu meletakkan cangkir ke atas tatakannya. “Kenapa aku harus pura-pura nggak dengar padahal aku dengar?” “Karena itu bukan sesuatu yang penting.” “Kalau nggak penting, kenapa kamu rewel?” Sejujurnya Kiana sudah mulai merasakan guncangan emosi. Tapi ia berusaha menahannya dengan senyuman manis. “Lupain aja. Yah… lupain.” Ia lantas pasrah, menyeruput kopinya demi meredam amarah. “Ngapain maksa?” gumam Gian cukup kencang. “Lupain aja apa yang kamu dengar waktu aku telepon dan maki-maki orang tadi siang!” tegas Kiana penuh penekanan. Gian masih terkekeh. “Tapi kenapa? Apa urusannya sama aku?” Ia mencondongkan tubuhnya ke meja agar lebih dekat menatap mata Kiana yang indah bagai bulan sabit. “Aku nggak punya orang untuk aku bagi semua hal nggak penting itu. Buat apa aku ada di dalam urusanmu? Hah?” Kiana memejamkan matanya untuk menetralisir amarahnya. Kemudian saat matanya terbuka, ada api yang hendak tersulut namun tampak samar. “Wah… kayanya kita beneran nggak cocok.” “Masa, sih?” ejek Gian dengan wajah sinis menyebalkan. “Bisa nggak, sih, kamu nggak usah nge-jawabin mulu?!” pekik Kiana sampai bangkit dari duduknya. Pun Gian juga agak kaget tapi tetap santai. “Aku punya pendapat, kenapa nggak aku utarakan?” “Aissh!” Kiana kembali duduk sambil memijat keningnya yang berdenyut. “Aku nggak tau kamu benar-benar nggak peduli atau apa… tapi kehidupan pribadiku lagi jadi sorotan. Jadi, aku mau menjaga semuanya sampai reda dan aku bisa mengembalikan namaku jika diperlukan.” “Terus…” “Aku minta tolong, Gian!” sambar Kiana memekik hingga berhasil menghentikan Gian dan jawabannya. Matanya tampak sedang memohon dengan sungguh-sungguh. Gian mengamatinya dalam beberpa waktu, lalu menghela napasnya dengan pelan. “Oke. Kalau gini, kan, jelas. Kamu benar-benar minta tolong sama aku.” “Dasar…” Kiana hendak memaki, namun segera mengulum bibir. Berdecak kesal sambil membuang wajahnya sejenak. “Dari tadi, kek!” lanjutnya. “Kamu nggak bilang minta tolong, sih,” kekeh Gian lantas meminta sesuatu pada pelayan. “Tumbek dan teman-temannya masih ada?” “Adanya tinggal kue kering aja sama Goro-goro, Amak.” “Tolong Goro-goronya dihangatkan, biar mood-nya bagus setelah makan jajanan lokal,” lanjutnya. “Nggak usah!” ketus Kiana menenggak kopi sampai habis lalu pergi begitu saja. Gian sempat panik dengan tindakan implusif Kiana. Ia juga tidak mengira jika perempuan itu sangat sensitif. Tapi Gian tidak pula menghentikan. Hanya menatap meski merasa ada yang mengganjal. “Kakimu… udah baikan?” seru Gian lagi. Perempuan itu pun menatap kakinya sejenak sebelum menoleh. “Udah baikan.” Kemudian kembali berlalu, meninggalkan Gian di tempat. ^^^ Sambil menatap bulan sabit yang bersinar, Gian menikmati Goro-goro yang sudah dihangatkan tadi di serambi rumahnya sendirian. Kemudian matanya tak sengaja menoleh ke sebuah ruangan di lantai dua sana yang lampunya bahkan sudah dimatikan. “Dia langsung tidur?” gumamnya lantas menggigit camilan khas Lombok tersebut. “Kak Gian!” Gian melebarkan matanya saat melihat pemuda datang dengan motor bebeknya sampai ke hadapannya. “Jangan ajak aku makan mi malam-malam, Bayu. Dasar dokter gadungan!” Bayu terkekeh. “Tau aja. Aku bawa banyak mi.” Gian menggeleng. “Aku masih mau menjaga gunung untuk waktu yang lama.” “Aku nggak bisa tidur ini.” Bayu duduk di sisinya. Kemudian arah matanya mengedar ke bangunan paviliun di sampingnya. “Cari Kiana?” terka Gian. Bayu menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. “E-enggak.” Gian tertawa. “Kamu buat kesalahan di klinik?” Bayu lantas mengangguk dengan semangat, kemudian bibirnya mengerucut seperti bocah yang kehilangan mainannya. Itu semakin menggelitik Gian. “Bukannya kamu kemarin semangat banget ketemu Kiana.” “Karena aku belum tau kalau dia seniorku di klinik, Kak.” Bayu merengek. “Makanya aku kepikiran terus walaupun udah minta maaf.” “Emangnya kamu ngapain?” tanya Gian sambil menggigit makanannya. “Sok dekat. Sok kenal. Sok asik…” “Emang kamu kaya gitu, kan, anaknya.” “…sama salting juga masalahnya, Kak.” Gian yang sedang asyik mengunyah itu mendadak menghentikan aktifitasnya, menatap Bayu dengan mata yang melebar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD