Gian sedang berkutat di depan sebuah laptop inventaris perhutani untuk merekap hasil evaluasi kerja selama sebulan terakhir. Ia tampak serius di balik kacamatanya. Namun, pesonanya juga memikat banyak mata. Bahkan para staf di Balai Taman Nasional pun tampak mencuri-curi pandang terhadapnya.
Tapi Gian tidak pernah peduli, meski ia tau itu.
Setelah menyelesaikan tugasnya, pikiran abstrak itu membawa jemarinya untuk mengetik sebuah nama di sebuah laman pencarian.
Mata Gian yang semula teduh bagai telaga yang tenang, kini seolah beriak, sebuah batu terlempar di atas permukaan bening itu. Membuat kecipak. Ketika ia menulis nama Dokter Kiana Lukis Senja, Sp. B, ia cukup syok atas hasil berita terkini.
Dokter Kiana Lukis Senja memutuskan untuk berhenti memandu acara sore, ‘Halo, Dokter’ karena kepergok selingkuh di hotel?
Dokter Kiana Lukis Senja yang terkenal ramah dan menyenangkan saat memandu acara kesehatan itu ternyata mencampakkan kekasihnya sehingga pernikahan mereka yang seharusnya berlangsung tiga bulan yang akan datang pun harus kandas. Hingga saat ini, wartawan juga belum bisa menemui pihak terkait untuk dimintai keterangan, termasuk mantan tunangannya yang merupakan seorang dokter residen.
Gian tergugu dalam kesunyian. Ia mengais hipotesa dalam-dama terkait situasi tersebut. Namun, tak berlangsung lama karena anak buahnya sudah menghampiri.
“Ayo, Ndan!”
“O-oh… Ayo!” Gian segera menutup laptop dan melepas kacamata. Segera ia mengenakan topi untuk menemaninya patroli sekitar kampung.
Sebetulnya Gian bukan asli orang Lombok atau Sasak, tapi ia sudah lama sekali menetap di sana sekaligus bertugas menjaga alam Lombok yang luar biasa ini.
“Kalau kita nggak dapat pembalak kemarin, pasti udah banyak pohon yang mereka babat!” seru Erik, junior kerja Gian.
“Mereka udah jadi buron setahun belakangan ini. Pintar sekali mereka mempermainkan kita, tapi kita pun juga sekarang jauh lebih pintar,” kata Gian sambil berjalan bersama sesekali membalas sapaan warga yang mayoritasnya bekerja sebagai petani.
“Semua juga berkat ketua tim kita, Komandan Gian Rimba Cakrawala!” Erik mengacungkan ibu jarinya.
Gian terkekeh. “Kita kerja sama, jangan gitu.”
Kemudian fokus Gian mendadak tergugah saat mendengar sayup-sayup suara orang memaki. Untuk memastikannya, Gian membuka sedikit earbuds-nya—sedikit saja. Ia lantas menepuk satu bahu Erik sebagai sebuah isyarat jika dirinya berjalan lebih dulu.
“Ada apa, Ndan?” Erik pun mengekor.
Kemudian Gian menghentikan langkahnya di sebuah jalan turunan, lalu mundur tiga langkah ke belakang. Ia menemukan sumber suara gaduh tersebut. Seorang perempuan mengenakan blazer putih di bawah pohon yang posisinya berada di bawah jalanan itu.
“… dasar mata duitan, mokondo, tukang selingkuh!”
Lantas kedua pasang mata itu sama-sama terkejutnya. Sempat saling memandang dalam suasana canggung, diiringi dengan selir angin yang melambai mesra di antara keduanya.
Sambil menggaruk pelipisnya yang tak gatal, Kiana lantas berbalik, pergi meninggalkan Gian yang masih termangu di tempat bersamaan dengan Bayu yang memanggilnya dari kejauhan.
“Dokter Kiana!”
“Iya… t-tunggu Dokter Bayu!”
Gian masih terus memandangi perempuan berambut panjang yang rambutnya dikuncir bagai ekor kuda yang menjuntai cantik dan sedikit bergelombang di bagian bawahnya itu sampai hilang dari pelupuk mata karena masuk ke dalam klinik.
“Kenapa, Ndan?” tanya Erik.
“Nggak ada apa-apa. Aku cuma mau liat katanya ada relawan dari Jakarta,” jawabnya santai.
Klinik Rinjani.
Erik melihat lagi papan yang menampilkan nama klinik tersebut sembari mengangguk-angguk kecil. “Ah… iya saya juga udah dengar dari Bayu.”
“Mereka orang asing. Jadi, kita juga harus tetap waspada sama mereka supaya tidak melanggar apapun.”
“Siap, laksanakan!”
Keduanya melanjutkan perjalanan keliling kampung untuk memastikan keamanan Gunung Rinjani dan sekitarnya. Gian juga dengan tanggap membantu petani tua yang kesulitan menaikkan hasil kentang ke atas mobil pick-up dengan tangan kekar dan kakinya yang panjang.
“Tampi asih,”
“Pade-pade,” balas Gian dengan senyumnya yang merekah cerah pada petani tersebut. Sebetulnya Gian tak begitu cakap menggunakan Bahasa lokal, tapi ia tetap berusaha mempelajarinya. “Nanti setelah ini bisa langsung datang ke klinik supaya minta diberikan obat nyeri lutut.”
Pria tua itu mengangguk-angguk, menerima saran Gian dengan baik.
“Dokter-dokter di sana baik-baik,” sambungnya dengan ramah. Berbeda sekali saat Gian dengan berpapasan dengan orang-orang lain di sekitarnya.
“Yang bener, Kak?”
“Uhm?”
“Enggak… aku dengar katanya ada dokter dari Jakarta yang agak bermasalah.” Erik bersedekap sembari menyipit melawan sinar matahari yang memantul ke arahnya. “Bukan bermasalah… apa, ya? Pokoknya ada dokter yang kabur dari masalah.”
Gian menyatukan alisnya sembari berkacak pinggang. “Apa maksudmu?”
“Komandan nggak tau?” Erik membisik pelan. “Katanya ada dokter yang selingkuh sampai dikeluarkan dari acara TV, trus datang ke sini sebagai alasan dia keluar dari program itu. Padahal karena dia sendiri yang merusak…” Mata Erik membelalak saat Gian menarik mulutnya.
“Kamu penjaga hutan apa penjaga komplek?”
Erik lantas meminta ampun bersamaan dengan Gian yang melepas tangannya.
“Lagian kamu nggak tau apa yang terjadi, kan?”
“Iya, sih.”
“Barangkali dia yang difitnah… kita nggak tau!”
“Iya, Ndan”
“Gian!”
Pria tampan itu lantas menoleh saat namanya dipanggil oleh rombongan ranger pecinta alam yang sepertinya hendak berlatih atau mereka ingin mendaki bersama. Sebab, tidak ada kabar yang tidak baik dari atas sana.
Gian menghempaskan napasnya pelan, sesuatu tersirat di balik embun abstraknya.
“Kalian mau naik?” tanya Gian.
“Iya. Kapan-kapan kita naik bareng, kita masih tunggu kamu gabung,” kekeh pemimpin ranger bernama Rama yang merupakan penjaga hutan yang berada di bawah yayasan swasta.
Pun Gian hanya membalasnya dengan senyuman tipis bersamaan dengan rombongan tersebut yang berhamburan pergi dari hadapannya.
“Masih tunggu kamu gabung?” Erik menerka. “Komandan mau gabung sama mereka? Mau melepas pekerjaan mulia ini?” Ia menghela napas pelan. “Iya, sih, ranger kaya mereka juga mendapatkan izin buat menjaga gunung dan hutan, tapi… kenapa ngajak Kak Gian yang sudah resmi di bawah kementrian lingkungan hidup dan kehutanan.”
Gian memijat keningnya yang berdenyut sejenak, lalu merangkul juniornya yang banyak sekali bicara itu. “Erik,”
“Ya, Kak?”
“Kayanya kamu perlu mengatur pikiran, deh. Nggak semuanya harus kamu pertanyakan dan pikirkan. Otakmu nanti overload.”
Erik lantas tertawa innocent. “Benar juga. Saya bayak mikirin yang nggak perlu, ya.”
“Banyak banget.” Gian mengangguk-angguk. “Ayo, lanjut!”
^^^
Di sore hari yang teduh, Bayu sedang duduk berdampingan dengan dua teman dokter magang lainnya. Mereka sedang mengikuti arahan dokter pendamping demi meningkatkan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat.
“Nanti kalian juga bisa belajar dan bekerjasama dengan para relawan yang luar biasa dari Earl Jingga Medical – Jakarta.”
Kemudian mata bening Bayu mengarah pada sosok yang di pandangannya menjadi yang paling berseri-seri. Matahari sore seolah menyinarinya dengan utuh.
“Mereka juga bisa memberi umpan balik positif dan konstruktif kepada Peserta untuk memastikan pencapaian dan tujuan internsip,” lanjut Dokter Ali—dokter pendamping.
Selepas beberapa patah kata, akhirnya sore itu berakhir dengan cepat. Bayu tak ada jadwal jaga malam, sedangkan Kiana juga sama. Lantas pemuda itu buru-buru menghampiri Kiana sampai harus membelah beberapa pendaki yang sedang meminta surat rujukan ke klinik tersebut demi mengejar perempuan manis tersebut.
“Dok…” Bayu menghentikan seruannya secara mendadak saat berada di depan klinik.
Semua terjadi begitu saja ketika melihat Kiana tidak sendiri. Ya, ia memang bersama teman-teman relawan lain, tapi mereka telah berbalik arah, menyisakan Kiana dengan seorang lelaki gagah di bawah temaram jingga, Gian.