Pagi yang cerah di ketinggian pegunungan membawa jiwa dan raga ke panggung indah alam, di mana sinar matahari perlahan menyoroti perbukitan yang membentang, serta puncak Rinjani yang tersingkap oleh kabut. Udara yang kaya akan oksigen di pegunungan menjadi sumber energi dan vitalitas, menjadi semangat untuk memulai hari dengan semangat.
Hannah, perempuan pemilik telur naga di hidungnya itu memancarkan seri di wajahnya saat sedang menyapu balkon paviliun. Dari lantai dua, ia bisa melihat sosok Gian sedang mengenakan sepatu di tepi serambi kayu rumahnya yang berada di satu kawasan dengan paviliun. Lantas perempuan itu segera turun ke bawah untuk menyapanya.
“Mau berangkat?” tanya Hannah basa-basi.
“Uhm,” singkat jawaban yang dilontarkan oleh Gian sembari mengikat tali sepatu.
“Sarapan dulu, yuk!”
“Emangnya kamu udah masak?” tanya Gian tanpa menatap sang empu.
“Belum, sih. Tapi ada roti tawar, selai…”
“Itu punya paviliun.”
“Ah?” Kemudian Hannah tertawa canggung. “Iya… iya bener. Nanti aku bayar, kok.”
“Nggak perlu.” Gian berdiri menggantungkan ransel di bahu kirinya. “Aku makan di kantor aja nanti sama yang lain.”
Lantas pria itu pergi begitu saja dengan sikap dinginnya yang terkesan tidak ramah tanpa ada sedikit basa-basi atau apapun itu. Hannah menghempaskan napasnya yang bertenaga. Ia sudah terlalu sabar menghadapi sosok Gian selama puluhan tahun sebagai teman sedari SMA.
“Dokter itu… kenapa dia tinggal di sini? Maksudku… paviliun-mu penuh, tapi kamu paksakan dia tinggal di kamar yang nggak pernah kamu buka untuk siapapun.”
Kalimat panjang Hannah menghentikan langkah Gian. Pria itu tertegun sejenak sebelum akhirnya menoleh bersama tatapan datar yang tak bisa ditafsirkan itu.
“Dan ternyata dokter relawan lain tinggal di villa lain. Bukan di sini,” lanjut Hannah.
“Kiana… dia berangkat paling akhir, nggak barengan sama rombongan.”
“Tapi kenapa harus di sini. Kamu tau paviliun ini penuh, apalagi sampai dia pakai kamar lima…,” Hannah mengedikkan bahu. “…kamar kakakmu.”
Gian memicing di balik wajahnya yang tenang. “Kamu sudah melewati batas, Hannah.”
Hanya sepatah kalimat, Gian pun melenggang pergi. Ia seolah tak ingin membahas banyak hal. Agaknya pembahasan tersebut cukup sensitif baginya. Tak juga memberikan respons konyol.
“Uhm?” Hannah membelalak saat sebuah benda kecil berwarna hitam terjatuh di rerumputan hijau saat pria itu melewati turunan menuju pintu pagar.
Perempuan berambut pendek itu mendekat dan meraih benda yang ternyata adalah sebuah earbuds. “Kamu masih bergantung dengan ini?”
“A-akh…” Gian memikik sampai menunduk sembari memegangi telinga kirinya. Lantas ia menoleh dengan wajah murka.
“M-maaf.” Hannah panik. Ia mengembalikan benda tersebut sambil mengerjap saat pria itu merebut dengan kasar dari tangannya.
Tampak Gian sedang kembali mengenakan earbuds di telinga kirinya lagi. Gurat rona wajah tampannya pun sedingin benua Antartika, membuat Hannah terpaku cemas. Apalagi saat pria itu melayangkan tatapan padanya.
“Pasti sakit sekali,” sambung Hannah.
“Sudah berapa kali aku bilang… jangan melewati batas.” Gian memberikan ultimatum dengan suara seraknya.
“Maaf. Aku hanya mau mengembalikan karena tadi jatuh.” Hannah membasahi bibir bawahnya. “Aku nggak akan ulangi lagi. Hidup dengan bantuanmu sudah membuatku bersyukur.”
Tanpa ada satu kata yang terucap dari bibirnya, Gian pergi meninggalkan Hannah di tempat menuju mobil pick up double-cabin yang terparkir gagah di depan kawasan paviliun-nya yang luas dan asri. Hannah menatapnya dari kejauhan sampai mobil tersebut menghilang dari pandangannya.
Perempuan berambut pendek itu merapatkan jaketnya sambil menghela napas pelan. Embun yang dihasilkan menggambarkan betapa abstrak suasana hatinya pagi itu.
“Kenapa dia nggak pernah berubah?” Hannah bertanya-tanya. “Nggak berperasaan.” Kemudian ia mendecakkan kakinya ke bumi. “Enggak… Kenapa Gian nggak pernah sekalipun melihat ketulusan aku?”
^^^
Selama proses perkenalan dari tim relawan, Bayu hanya bisa termangu dalam sepi. Pikirannya berkelana ke antah-berantah saat tau bahwa perempuan yang ia dekati adalah seniornya. Selain sebagai relawan, Kiana juga dipastikan akan turut membimbingnya sebagai dokter magang.
Sosok Bayu yang ceria itu mendadak murung dan tak banyak bicara.
“Jadi, kita langsung mulai saja, ya. Nanti kalau ada pasien, bisa kita saling menangani,” kata kepala klinik.
“Baik. Terima kasih sambutannya.” Kania membalas dengan hangat mewakili tim relawan.
“Sama-sama. Kita juga berterima kasih banyak atas program keren yang dicanangkan rumah sakit hebat. Jadi, kebetulan pasien kami kebanyakan adalah warga sekitar dan juga pendaki.”
Semua menangguk mengerti.
“Nanti kalau ada yang perlu diketahui lebih lanjut, beberapa dokter kami sudah lama tinggal di sini seperti dokter magang kamu, Dokter Bayu.”
Sontak seluruh mata tertuju pada pemuda yang sedang melamun. Kemudian Bayu terhenyak panik sehingga menimbulkan gelak tawa, begitu juga Kiana.
“Dokter Bayu, sakit?” tanya rekannya.
“E-enggak.” Dia menggeleng.
Karena hari itu tidak ada pasien, jadi tim relawan melihat-lihat sekitar klinik dan juga mempelajari apa saja yang biasa mereka tangani dan pendekatan lainnya. Pun Bayu juga sempat menjelaskan, namun tidak begitu bersemangat seperti biasanya sehingga banyak yang berasumsi jika dirinya sedang tidak enak badan.
“Buat Dokter Kiana.”
Kiana yang sedang bersantai di jam istirahat itu tercengang saat tiba-tiba ada se-cup minuman di hadapannya. Ia melongok ke samping, lalu terkekeh saat melihat seorang pria berbalutkan sneli itu sedang berlutut.
Kiana menerima minuman tersebut. “Terima kasih. Duduk!"
“Ya?”
“Sini!” Kiana menepuk bangku di sampingnya.
“M-maksud saya… minuman itu sebagai bentuk permintaan maaf saya.” Bayu menyesal. “Saya bener-benar nggak tau kalo kakak ini dokt… Aakh!” Ia merutuki dirinya sendiri.
Kiana tertawa. “Aku juga nggak tau kalau kamu juga dokter. Karena sama-sama nggak tau, fair, kan?”
“Tapi…”
“Ah… aku mau coba ini. Minuman apa ini?”
Seketika Bayu langsung duduk di samping Kiana dengan semangat penuh untuk menjelaskan budaya daerahnya tersebut. Ternyata pancingan Kiana berhasil juga.
“Namanya es sarang burung. Jajanan ini banyak ditemui di Lombok. Dulu beneran bahan bakunya sarang burung tapi karena mahal, jadilah diganti dengan bahan lain. Tapi khusus Kak…” Bayu menepuk mulutnya sendiri sehingga memicu gelak tawa Kiana. “Maksud aku… Dokter Kiana. Khusus dokter, aku carikan asli sarang burung yang saya beli asli sarang burung di Lombok pas jemput pendaki.”
Kiana membelalak. “Kamu beli jauh-jauh?”
“Kemarin aku beli banyak buat stok di kulkas, mau kasih Dokter Kiana juga.”
“Trus… kok bisa…”
“Ah, saya barusan pulang ke rumah buat ambil satu buat Dokter Kiana.”
“Makasih banyak, ya. Pasti mahal banget.” Kiana berseri-seri.
Ia lantas mencicipi minuman menyegarkan tersebut. Selain sarang burung yang sudah diolah berbentuk seperti agar, di dalamnya juga ada buah kelengkeng dan selasih. Kiana tak hentinya memuji kesegaran minuman dan juga usaha Bayu yang luar biasa.
Namun seri di wajah Kiana tak bertahan lama saat ponselnya di atas meja terus bordering. Kiana juga mematikannya berulang kali.
“Diangkat aja dulu, Dok, teleponnya,” kata Bayu.
Kiana hanya tersenyum tipis. Kemudian menepi sejenak ke bawah pohon. Ia menyesal karena tidak memblokir nomor tersebut sejak sebelumnya.
“Kenapa lagi? Bukannya kita udah selesai? Itu, kan, yang kamu mau?”
“Kenapa marah?”
Kiana menggertak, “Kamu mau minta uang pengembalian WO, kan?”
“Iya. Kenapa dikirim ke kamu. Aku udah bilang, kan, kalau aku tuh pinjam seluruh uang yang kamu pakai untuk bayar WO dan akan aku ganti setelah jadi spesialis, berarti uang yang kamu bayar itu adalah uangku, seharusnya kembali ke aku.”
“Mana ada kaya gitu?” Kiana berdecak kesal. “Pernikahan pun nggak terjadi, kenapa kamu masih mau pakai uang itu, dasar mata duitan, mokondo, tukang selingkuh!” Ia memekik dengan berbagai u*****n di akhir kalimat bersamaan dengan matanya yang tersentak saat seseorang lewat di hadapannya. Kebetulan posisi jalan berada di atasnya.
Gian dan dua polisi hutan lain sedang berpatroli di kampung sekitar.
Kiana bergerak canggung, kemudian memilih untuk berjalan cepat meninggalkan tempat sekaligus meninggalkan rasa malu saat sedang memaki orang lain.