Mandi

1320 Words
Dara sudah selesai dengan tugasnya di area kamar bagian depan, ia baru akan masuk ke kamar bagian dalam ketika hatinya kembali berdebar. Sesungguhnya ia takut. Takut akan sosok Bram yang saat ini ada di dalam kamarnya dan mengharapkan bantuan darinya. Dara tak tahu bantuan apa yang bisa ia berikan pada lelaki yang sepertinya masih muda itu. "Ya Tuhan, semoga saja Tn. Bram tidak memintaku melakukan hal-hal yang aneh." Do'a yang Dara ucapkan sebelum ia melangkahkan kakinya masuk ke ruangan lain. Kembali gadis itu dibuat takjub ketika langkahnya sudah memasuki area dalam kamar, sebab ia melihat sebuah pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tampak sebuah ranjang besar, sangat besar menurutnya karena gadis itu belum pernah melihat ranjang sebesar itu sebelumnya. Kaca-kaca jendela dengan gordennya yang begitu mewah. Pintu-pintu kaca yang sepertinya tersambung ke luar balkon. Ada dua pintu kaca di ruangan itu yang Dara lihat. Lalu hiasan-hiasan di dinding, juga beberapa pajangan di sudut-sudut kamar seperti standing lamp yang terlihat unik bisa dibilang kuno, dan sebuah jam besar yang juga sama kunonya berdiri di sudut kamar dekat pintu kaca pertama. Ruangan itu sama luasnya seperti ruangan pertama tadi. Dara sampai bingung apa yang harus ia lakukan di ruangan itu sebab tak terlihat sosok Bram di sana. Gadis itu akhirnya mengedarkan pandangan, mencoba mencari sosok lelaki sang pemilik rumah yang saat ini Dara tinggal di dalamnya. Ia memberanikan diri melangkah ke arah pintu kaca. Benar dugaannya jika pintu kaca itu tersambung ke arah balkon kamar. Ia menyibak kain gorden dan mencoba mengintip ke arah luar, tetapi tak ditemukannya sosok lelaki itu. Akhirnya ia kembali ke tempatnya semula. Baru ia sadari ketika ia masuk ruangan itu tadi, ternyata dirinya berdiri di dekat dua buah pintu. Pintu pertama yang dekat dengannya, daunnya terbuat dari kaca dengan sistem geser untuk membukanya. Tebakan Dara itu adalah walk in closet, tempat lelaki itu menaruh segala jenis pakaian, dari baju hingga aksesoris penunjang lainnya. Satu lagi adalah pintu kayu berwarna cokelat muda. Dari posisi Dara berdiri saat ini, terdengar suara air jatuh ke dalam bak mandi berasal dari dalam. Pintunya yang terbuka sedikit membuat suara itu terdengar jelas. Sepertinya Bram berada di dalam kamar mandi. Tak ingin mengganggu waktu lelaki itu di dalam sana, Dara memilih untuk membersihkan apapun benda yang bisa ia bersihkan. Namun, ketika langkah kakinya baru akan menuju sebuah televisi besar yang menggantung di depan ujung tempat tidur, sebuah suara memanggilnya dari arah dalam kamar mandi. "Kamu cepat bantu aku ke sini!" perintah lelaki itu mengejutkan Dara. "Apa?" gumam gadis itu. "Apakah aku harus ke dalam sana? Memang apa yang harus aku lakukan pada seseorang yang sedang mandi?" tanyanya sendiri. "Cepat!" seru lelaki itu lagi. Belum juga Dara mendapatkan jawaban atas kebingungannya, kini ia dipaksa untuk tetap masuk ke sana. "B—baik, Tuan," sahut Dara yang mendadak merasa gugup dan panik. Gadis itu segera berbalik arah menuju pintu berdaun coklat muda yang sedikit terbuka di belakangnya. Segera buka pintunya dan hampiri orang itu. Begitu suara hatinya meminta ia agar melakukan segala sesuatunya dengan cepat tanpa berlama-lama. Mau bagaimana pun posisinya di rumah besar itu dirinya hanyalah sebagai alat penebus hutang suaminya —Anton. Dara menundukkan kepala ketika masuk ke dalam kamar mandi. Ia tidak berani mengangkat kepalanya sebab tak ingin atau lebih tepatnya tak berani menatap wajah Bram nantinya. Gadis itu bingung sebab lantai yang ia pijak terlihat begitu luas. Penasaran dengan apa yang ia rasakan, membuatnya mengangkat kepala untuk melihat area dalam kamar mandi tersebut. Lalu, untuk kesekian kalinya lagi-lagi ia terpesona akan keindahan ruangan yang saat ini ia lihat dan berdiri di dalamnya. Gadis itu sudah tak bisa lagi berkata untuk menggambarkan betapa luas, bagus, indah, dan entah kata apa lagi yang pantas ia berikan untuk menilai sebuah kamar mandi itu. Ya, hanya kamar mandi —tempat orang membersihkan diri bahkan melakukan hajat lainnya, tetapi si empunya rumah membuat tempat itu tidak hanya berfungsi demikian, ia sengaja membangun dan mendesain ruangan itu sebagai ruangan yang tidak akan membosankan. "Apakah kamu masih akan berdiri di sana dan terbengong-bengong seperti orang bodoh!" hardik suara lelaki dari arah sebuah ruangan lainnya. Dara terkejut dari lamunannya dan berusaha mencari sumber suara. Gadis itu melangkah melewati kaca besar dan panjang dengan wastafel di bawahnya, ke sudut ruangan kamar mandi yang ternyata ada ruangan lain di mana terdapat sebuah bathtub bersebelahan dengan ruangan kecil lainnya yang tertutup sebuah pintu kaca, ruangan shower. Dara terpaku di tempatnya berdiri ketika melihat sosok lelaki tampan dengan tubuhnya yang atletis berdiri di sebelah bathtub dengan handuk di pinggangnya. Lelaki itu memang terlihat dewasa, tetapi Dara melihatnya seperti seorang pemuda dengan usia dua puluh tahunan. Usianya empat puluh tahun menurut informasi yang ia tahu tentang lelaki di depannya itu. Tapi, saat ini ia melihat sosok lelaki muda dengan wajah tampan berkharisma ditambah tubuhnya yang terjaga baik. Apakah sungguh lelaki di depannya ini adalah Bramantyo Aldebart? Seorang pengusaha tua, kaya raya, yang terkenal dingin dan kejam serta maniak akan tubuh perempuan? "Mau sampai kapan kamu menatapku seperti itu?" ucap Bram dingin. "Ah, eh, iya Tuan, maaf!" lirih Dara yang kemudian menundukkan kepalanya, takut. Dara benar-benar merutuki kebodohannya. Bagaimana bisa ia menjadi gadis bodoh yang terpesona akan ketampanan tubuh lelaki di depannya. "Kemari, cepat. Aku sudah lama menunggumu dari tadi." "I—iya, Tuan!" Dara menyahut cepat. Kemudian ia berjalan mendekat ke arah lelaki itu. Tanpa malu atau segan, Bram melepas handuk yang menutupi pinggangnya di hadapan sang gadis. "Astaga!" pekik Dara yang kemudian menutup mata dan memalingkan wajahnya. "Apa yang kamu lakukan?" tanya Bram heran, yang melihat gadis itu teriak dan berbalik badan. "T—tuan, maaf apakah Anda tidak malu memperlihatkan tubuh Anda pada orang lain terutama di depan seorang perempuan?" "Kenapa? Apakah kamu malu? Apakah kamu belum pernah melihat tubuh lelaki sebelumnya?" Pertanyaan Dara yang malah dibalas banyak pertanyaan oleh Bram. Dara menggeleng cepat. Ia memang belum pernah melihat tubuh polos lelaki sebelumnya seperti yang saat ini terjadi di depannya. "Benarkah?" Bram menatap semakin heran. "I—iya, Tuan." Dara terbata dengan tangan yang masih menutup wajahnya. "Kalau begitu, mulai hari ini kamu harus terbiasa. Sebab aku akan memintamu untuk membantuku membersihkan tubuhku setiap pagi sebelum aku berangkat kerja dan saat sore atau malam hari ketika aku pulang." Seolah sebuah topik ringan, Bram begitu santai menjelaskan. "Apa?" gumam Dara yang terdengar oleh lelaki di depannya. "Sudah, cepat bantu aku untuk keramas sekarang!" seru Bram yang kemudian masuk ke dalam bathtub yang sudah penuh dengan air hangat dan busa sabun. Tubuhnya ia tenggelamkan sehingga hanya sekitar d*da ke atas saja yang tampak. "B—baik, Tuan," ucap Dara akhirnya. Gadis itu merasa jika kedua matanya telah ternoda dengan tubuh polos Bram yang sempat ia lihat tadi. Pemandangan takjub saat ia melihat ruangan kamar satu dan kamar yang lain, serta ruangan kamar mandi yang saat ini ia berdiri, ternoda dengan pemandangan indah lainnya. Pemandangan indah dari pahatan sempurna yang Tuhan ciptakan pada tubuh seorang lelaki yang belum pernah kedua matanya lihat selama hidupnya. Bagaimana bisa? Itu juga yang sepertinya menjadi pertanyaan Bram saat ini. Sembari menikmati tangan lembut sang gadis di kepalanya, lelaki itu tengah memikirkan hal aneh tersebut. Info yang didapat dari Lian, Dara dinikahi oleh Anton sekitar tiga bulan yang lalu. Dengan alasan yang sama yakni sebagai penebus hutang kedua orang tuanya, gadis itu menikah dan tinggal bersama lelaki paruh baya tersebut. Tak mungkin pikirnya, selama tiga bulan tinggal bersama dengan Anton, Dara tidak pernah sekalipun melihat tubuh suaminya t*lanjang. Apakah mereka melakukan hubungan suami istri dalam mode cepat, sebab Anton yang sudah tidak mengenal kata foreplay atau pemanasan lagi dikarenakan usianya yang sudah tidak sanggup bermain lama? Berpikir demikian malah membuat Bram tiba-tiba emosi. "Sial!" umpat Bram pelan. Dara mendengar umpatan lelaki tersebut, tetapi memilih diam sebab tidak tahu kenapa lelaki itu tiba-tiba marah. "Setelah ini kamu gosokkan semua badanku!" perintah Bram dengan nada sedikit kesal. "Apa?" Kembali Dara memekik sebab terkejut dengan perintah selanjutnya yang Bram ucapkan. "Ya Tuhan, apalagi ini? Aku harus menyentuh tubuhnya?" batin Dara mengiba. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD