Sepasang Kekasih

1789 Words
Pukul 04.00 pagi Lily sudah terbangun dari tidurnya bahkan sebelum adzan subuh berkumandang gadis cantik itu kini tengah berkutat di dapur. jari jemari Lily pun dengan terampil memotong beberapa buah kentang sebelum akhirnya mencuci kentang itu dan menggorengnya. Lily terlihat sangat cekatan saat melakukan hal itu, sebenarnya Lily ini pintar memasak itu terbukti saat dirinya tiga kali memenangkan lomba memasak yang diadakan di kompleks perumahannya saat itu. hanya saja rasa malas yang membuatnya jarang membantu sang ibu memasak di dapur. Bau masakan Lily pun menyeruak membuat siapa saja yang mencium aroma itu menjadi lapar seketika, begitu pun dengan Bu Endang. sesudah melaksanakan shalat subuh Bu Endang pun berniat membuat sarapan di dapur, tapi beliau dikejutkan oleh sebuah fakta yang beliau lihat pagi ini bahwa anak sulungnya sedang memasak di dapur dan bahkan beberapa menu makanan pun sudah tersaji di atas meja makan. Awalnya Bu Endang mulai curiga saat mencium bau harum masakan Lily, beliau terus mendesak mengapa Lily bisa bangun sepagi ini dan bahkan terlihat tengah memasak banyak makanan, untuk siapa masakan sebanyak itu? tanya Bu Endang berkali-kali pada sang anak. namun Lily hanya berkata bahwa ia akan makan-makan bersama Selvy dan Febby di kostan Febby nanti pukul 9 pagi. Bu Endang pun mencoba percaya lantaran setiap hari libur memang Lily ini selalu berkumpul dengan para sahabatnya itu. "Kok nggak bawa motor, Kak?" tanya Bu Endang saat melihat Lily sudah rapi dan membawa tiga buah paper bag berisikan berbagai jenis makanan yang Lily masak tadi. Lily langsung menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak Bu, aku naik mobil online aja." ucap Lily. ia lalu terlihat tengah membenarkan riasan wajahnya pada kaca yang menempel di dinding ruang tengah. Gile cakep amat ya gue, kalau dandan kayak begini. Puji Lily pada dirinya sendiri saat melihat riasan wajahnya di cermin yang begitu terlihat sempurna. "Bu, aku pamit dulu ya? assalamualaikum." ucap Lily sebelum keluar dari rumah, tak lupa Lily pun mengecup punggung tangan sang ibu dan menciumi seluruh wajah Ibunya itu. Bu Endang pun mengangguk. "Hati-hati ya Kak, jangan pulang malem-malem!" pesan Bu Endang kemudian. Lily hanya melambaikan tangan sebagai jawaban, tak lama ia pun sudah keluar dari gerbang rumahnya. Pintu kamar Nino terbuka, pria itu baru saja bangun dari tidurnya itu pun langsung berjalan menghampiri sang Ibu yang tengah berdiri di depan pintu. "Ngapain Bu berdiri di sini?" tanya Nino lalu mengangkat kedua tangannya ke atas dan menarik badannya menggeliat seketika. "Lagi liatin kakak kamu pergi." jawab Bu Endang lalu berbalik badan dan menatap anak bungsunya yang baru bangun dari tidurnya itu. Nino pun mengerutkan keningnya bingung. "Pergi kemana Bu?" tanya Nino penasaran. ia lalu mengikuti langkah kaki Bu Endang yang sedang berjalan menuju dapur. "Kerumah Febby, mau makan-makan mereka." ucap Bu Endang menjelaskan beliau lalu membuka tudung saji. "No? ini semua kakak kamu yang masak." sambung Bu Endang lalu mengambil dua buah piring lalu di letakkan di atas meja makan. Nino membelalakkan matanya seketika saat mendengar ucapan sang Ibu. "Tumben sih Bu kakak masak sebanyak ini?" ujar Nino tidak percaya. pasalnya kakaknya itu paling malas jika disuruh berurusan dengan yang namanya dapur. meski ia pintar memasak tapi Lily selalu menolak jika Bu Endang menyuruhnya memasak alasannya masakan Bu Endang paling enak, percuma Lily masak kalau tidak enak. begitu kata Lily. Bu Endang lalu mengendikan bahunya sekilas. "Ya udah No, ayo kita sarapan aja dulu." ajak Bu Endang pada anak laki-laki itu. Nino pun mengangguk, ia lalu mengambil lauk-pauk yang sudah tersedia di atas meja yang begitu menggugah selera makannya kali ini. meski belum mandi namun Nino sudah lebih dulu mencuci muka dan menggosok gigi, jadi tidak masalah kan jika berniat sarapan pagi lebih dulu baru sesudahnya Membersihkan diri. () () () Mobil mewah Ken pun kini sudah terparkir rapi di basemen. Ken lalu mematikan mesin mobilnya dan membuka seatbelt nya, begitupun dengan Lily ia pun melakukan hal yang sama. Suara pintu mobil terbuka, ternyata Ken telah lebih keluar dan saat ini ia tengah membukakan pintu itu untuk Lily. "Ayo Ly!" ajak Ken saat melihat tak ada pergerakan dari wanita itu. "Eh, iya Mas, makasih." ucap Lily lirih, lalu perlahan menapakkan kakinya yang jenjang itu, dan dengan sigap Ken pun mengarahkan tangan kanannya pada atas pintu mobil saat melihat Lily akan turun. Pintu mobil pun Ken tertutup, tanpa permisi pria tampan itu kembali menggenggam jari jemari Lily. mereka beriringan berjalan menuju private lift dengan tangan kanan Lily membawa tiga buah paper bag itu. Denting lift pun berbunyi, kini mereka sudah sampai di lantai paling atas tempat penthouse Ken berada. Suara pintu pun terbuka saat Ken baru saja menekan passcode pada unit apartemennya itu. kali ini tanpa disuruh Lily pun langsung masuk dan berjalan mengikuti pria tampan itu dari belakang. "Mas?" panggil Lily lirih. "Hmm … aku taruh makanan ini dulu ya?" tanya Lily lalu mengangkat tangan kanannya menunjukan tiga buah paper bag yang ia bawa tadi. Ken yang baru saja akan mendudukkan dirinya pun menoleh. "Tolong siapkan sekalian ya Ly? Mas belum sarapan." ucap pria itu lalu di menit berikutnya Ken memutuskan masuk kedalam kamar. Lily mengangguk, ia lalu berjalan menuju dapur. ini kedua kalinya Lily berada di sini di dapur mewah yang memanjakan sekali pengelihatannya. bagaimana tidak? perabotan rumah tangga yang komplit, mahal dan mewah ini pasti selalu menjadi impian seluruh wanita. sekitar sepuluh menit Lily pun sudah selesai menyiapkan makanan itu di atas meja makan. "Mau makan sekarang Mas?" tanya Lily saat melihat Ken berjalan mendekat, kali ini pria itu sudah berganti pakaian dengan hanya menggunakan atasan berbahan kaos tipis berwarna merah yang jelas memperlihatkan bentuk tubuh Ken yang kekar dan berotot itu, tak lupa Ken pun kini menggunakan celana pendek di atas lutut berwarna hitam itu. Ya ampun ganteng banget laki orang. gumam Lily terkagum dalam hati. Ken lalu mengangguk."Iya." jawab Ken singkat. ia lalu mendudukkan dirinya di atas kursi makan. Entah dapat dorongan dari mana Lily pun dengan sigap menyiapkan nasi beserta lauk-pauk itu di atas piring dan memberikannya pada Ken. lihatlah bahkan kini Lily terlihat seperti seorang istri yang telah melayani suaminya sendiri. "Kamu nggak makan, Ly?" tanya Ken lalu menyuapkan satu sendok makanan itu kedalam mulutnya. Ken terlihat diam sebentar dan tak lama ia pun kembali mengunyah makanan itu lagi. "Aku udah sarapan, Mas." Lily yang melihat ekspresi Ken saat makan pun menjadi bingung, apakah makanan yang ia masak tadi tidak enak? atau tidak sesuai dengan selera makan Ken yang notabene seorang pemilik restoran bintang lima. daripada penasaran Lily pun memilih menanyakannya secara langsung. "Mas? nggak enak ya masakan aku?" tanya Lily kemudian. Namun di luar dugaan di menit berikut nya Ken pun terlihat lahap sekali menyantap makanan itu, dan yang membuat Lily terkejut Ken langsung mengulurkan piringnya yang sudah kosong itu pada Lily. "Tolong tambah nasi sama sambel goreng kentangnya ya Ly!" titah pria itu lalu menyesap segelas air mineral yang ada di depannya itu. Lily menerima piring itu dan tanpa banyak bicara ia pun mulai menyendokan lagi nasi beserta lauk-pauk ke dalam piring. "Ini Mas." ucap Lily lalu menaruh piring itu lagi. Ken pun mengangguk, ia kembali menyantap sarapan paginya ini dengan nikmat. sepuluh menit kemudian Ken pun sudah menyelesaikan kegiatan sarapan paginya itu. "Masakan kamu enak." puji Ken saat mereka berdua sudah berada di depan tivi. Ya, selesai sarapan seperti biasa Lily langsung membersihkan dapur Ken dan tak lupa ia pun mencuci piring kotor yang ada disana, dengan Ken yang setia menemani Lily duduk di kursi makan. "Makasih Mas." ujar Lily lalu tersenyum. wanita mana yang tidak senang saat hasil masakannya dipuji seperti ini. "Ly? apa kamu punya kekasih?" tanya Ken lalu menoleh dan menatap dalam manik mata wanita cantik di depannya ini. Kekasih? jangankan kekasih bahkan dekat dengan pria saja baru kali ini Lily lakukan. Lily pun menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak punya Mas." jawab Lily singkat. saat teman-teman seusia Lily bahkan sudah sering berpacaran namun berbeda dengan Lily, ia tak pernah sekalipun dekat dengan seorang pria. masa mudanya ia habiskan untuk bekerja guna membantu sang Ibu menyekolahkan adik satu-satunya itu. Ken pun terlihat menyunggingkan senyum bahagianya saat mendengar jawaban Lily. "Apa kamu mau menjadi kekasih Mas?" tanya Ken tanpa basa-basi, pria itu lalu menatap dalam manik mata wanita di depannya ini. Jantung Lily berdebar lebih kencang, saat secara terang-terangan pria itu menawarkan satu permintaan yang beberapa hari ini selalu terlintas di kepala Lily. menjadi kekasih Ken? tentu ia mau kalau saja Ken ini seorang singel pasti Lily tak akan menolak ajakan pria tampan itu. Lily tidak menjawab ucapan pria itu, ia menundukkan kepalanya enggan membalas tatapan elang milik pria itu. sejujurnya ia pun mulai menyukai Ken tapi akal sehat Lily masih berfungsi ia tak mungkin menjalin kasih dengan seorang pria beristri. Melihat tak ada tanggapan dari wanita cantik di depannya ini Ken pun kembali bersuara. "Diam artinya iya!" Ken langsung memutuskan sepihak akan hal ini. Lily yang terkejut pun langsung mendongakkan kepalanya. "Ma--maksud Mas?" tanya Lily tergugup, ia tak bodoh untuk mengartikan kata 'iya' yang barusan saja Ken ucapakan. yang jadi permasalahan saat ini apakah mungkin ia akan menjalin kasih dengan pria ini yang jelas-jelas sudah mempunyai anak dan istri. "Kita ini sama-sama dewasa, tentu kamu paham apa yang Mas ucapkan tadi." ucap Ken lalu mengelus puncak kepala Lily dengan lembut. "Dengan kamu mau memasakkan masakan rumahan buat Mas, itu udah cukup bukti bahwa kamu juga memiliki perasaan yang sama pada Mas." Ken lalu menghela nafasnya sebentar. "Benar begitu kan, Ly?" tanya Ken memastikan. Lily pun mengangguk samar, apa begitu terlihat dirinya yang sudah mengagumi sosok Ken saat pertama bertemu? hingga pria ini pun begitu bisa membaca isi hatinya saat ini. "Tapi Mas--" tanya Lily ragu-ragu. "Anak dan istri Mas?" tebak Ken saat Lily terlihat tengah menggantung kalimatnya itu. "Iya." jawab Lily singkat. sejujurnya ia pun tak mau terjebak dalam hubungan rumit ini, namun hati manusia siapa yang tahu kalau ternyata Lily sudah amat nyaman berada dekat dengan pria tampan itu dan Lily pun tak bisa memilih di mana rasa cintanya ini akan berlabuh. "Kamu tenang aja, kita bisa rahasiakan hubungan kita ini dari mereka." ucap Ken lalu mengusap lembut pipi merah Lily dengan ibu jarinya. "Dan asal kamu tahu, sampai saat ini bahkan Mas tak pernah mencintai istri Mas sedikitpun." ucap Ken lalu menghembuskan nafasnya berat. ia lalu menceritakan semuanya kejadian yang menimpa dirinya selama ini pada Lily. satu hal yang tak pernah Ken lakukan pada orang lain. berada dekat dengan wanita ini membuat Ken merasa dihargai, ia merasa nyaman bahkan saat Lily dengan tulus mau melayaninya dan menuruti segala perintah Ken, sungguh Ken merasa benar-benar dihormati sebagai seorang pria. Lily pun dengan seksama mendengarkan kisah hidup Ken selama ini, setelah mendengar cerita Ken barusan Lily pun menjadi iba, dan entah bisikan saiton dari mana akhirnya Lily pun dengan senang hati menerima Ken menjadi kekasihnya saat ini. dari sinilah kisah asrama keduanya dimulai, hari ini Ken dan Lily sudah resmi menjadi sepasang kekasih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD