Panggil saya, Mas!

1799 Words
Setelah balik ke kantor kini Lily dan rekan-rekannya meneruskan pekerjaannya mereka yang tertunda tadi. tentunya dengan teliti dan hati-hati Lily mengerjakan laporan keuangan bulan ini dan tak lupa ia pun mengeceknya sekali lagi sebelum Lily memberikan laporan itu kepada direktur keuangan. Waktu pun terus berlalu, tanpa terasa jam dinding yang berbentuk bulat itu telah menunjukkan pukul lima sore. itu tandanya jam pulang kerja pun sudah tiba. "Ly?" panggil Febby pelan. "Temenin gue ke superhero mart dong! mau nggak?" ajak Febby lalu mengambil tas di atas meja dan memakainya. Lily terlihat berpikir sebentar, ia lalu menganggukkan kepalanya tanda setuju. "Ayo dah kebetulan gue juga mau beli sabun nih!" jawab Lily, ia lalu mengajak Febby untuk keluar ruangan, karena kebetulan rekan kerja mereka semua juga sudah pada pulang. termasuk Selvy yang buru-buru keluar lantaran ada urusan penting satu jam lagi. Kini Febby dan Lily sudah berada di parkiran, mereka berdua pun berboncengan dengan menggunakan sepeda motor matic milik Febby. sekitar dua puluh menit mereka pun sudah tiba di supermarket terbesar di kota Jakarta itu. "Kita kemana dulu nih Feb?" tanya Lily, ia lalu mengarahkan pandangannya ke arah sekitar. netra bulat Lily sibuk meneliti sekelilingnya barangkali hari ini ada diskon besar-besaran. Febby terlihat tengah mengetuk-ngetukan jari telunjuknya ke arah pipi seraya berfikir. "Kita ke tempat sabun dulu yuk Ly?!" ajak nya kemudian. Lily pun mengangguk, dengan tangan kanannya yang mendorong troli ia pun berjalan menuju rak rak yang memajang berbagai macam kebutuhan pokok itu, termasuk shampo, sabun, dan pasta gigi. "Ly?" ucap Febby setengah berteriak. "Gue kesana dulu ya?" tunjuk Febby pada rak rak yang memajang keperluan wanita seperti sabun pencuci muka, pelembab dan toner. Lily mengangkat ibu jari dan jari telunjuknya membentuk sebuah lingkaran. "Oke" ucap Lily singkat, ia lalu kembali menciumi berbagai aroma sabun cair yang terpajang rapih di rak. Ya, Lily ini memang tipe orang yang sangat teliti dalam hal apapun, termasuk dalam urusan memilih sabun mandi ia hanya mau menggunakan sabun mandi dengan aroma yang menyegarkan dan tahan lama. Ponsel dalam tas Lily pun berdering, dengan sigap Lily pun langsung mengangkat panggilan tersebut. "Assalamualaikum, siapa ya?" Tanya Lily di balik sambungan telepon. "Apa nomor saya tidak kamu simpan?" Tanya pria itu lalu menghela nafasnya kasar, dari nada bicaranya sepertinya pria itu terlihat kesal saat ini. Ya, Lily tahu sekarang siapa yang tengah menelpon dirinya saat ini. "Oh, Pak Ken? ada apa ya Pak?" tanya Lily kemudian. "Saya ingin bertemu denganmu!" ucap Ken singkat. Lily pun kembali menaruh sabun yang tadi ia pegang ke dalam rak. "Mau apa ya Pak?" tanya Lily terlihat gugup, lagi-lagi saat pria itu mengajaknya bertemu entah mengapa hati Lily menjadi berdesir hebat. "Saya ingin mengantarkan motor mu Ly!" Benar sekali seharusnya Lily memang mengambil motor itu di bengkel, tempat Ken menitipkan motornya yang mogok tiga hari yang lalu. "Maaf pak, kalau gitu saya ambil aja motornya sekarang. saya boleh minta alamat bengkelnya pak?" tanya Lily kemudian. "Kamu dimana sekarang?" bukan menjawabnya, Ken malah kembali melontarkan satu buah pertanyaan. "Saya sedang berada di superhero mart pak." ucap Lily menjelaskan. Ken pun mengatakan akan menjemput Lily ke superhero mart itu, dan sesuai rencana tadi pagi bahwa malam ini Ken akan mengajak Lily berbelanja berbagai macam sayuran. Lily pun mengangguk, ia menyetujui ajakan Ken karena memang Lily pun sekalian ingin mengambil motornya. setelah selesai memilih berbagai macam kebutuhan, Lily dan Febby pun mengantri di depan kasir. "Ly? yakin lo mau nunggu Nino di sini?" tanya Febby sekali lagi. pasalnya selama mengantri tadi Lily berkata akan menunggu sang adik menjemputnya di sini dengan alasan ia tak mau merepotkan Febby, jika harus mengantarkannya pulang sebab rumah mereka yang berlawanan arah. "Iya udah lo tenang aja." jawab Lily singkat, kini ia terlihat tengah membalas pesan seseorang pada ponselnya. Lily terpaksa berbohong, ia tak mungkin berkata jujur pada Febby bahwa ia tengah menunggu Ken saat ini. Febby pun mengangguk, ia lalu membawa beberapa kantong plastik belanjaannya dan berjalan menuju parkiran motor. tak berapa lama Lily pun melihat Febby sudah pergi dari tempat ini. Lily yang sudah lama menunggu pun akhirnya memutuskan untuk masuk kedalam lagi, ia memilih menunggu pria itu di salah satu food court yang ada di dalam. ia lalu memesan satu gelas es kopi gula aren dan meminumnya. "Maaf menunggu lama." ucap Ken lalu duduk di samping Lily, tanpa basa-basi ia lalu mengambil alih gelas di tangan Lily dan meminumnya. Ihh, kok dia minum satu gelas sama gue sih? sama aja ciuman dong itu mah. Lily berkata seperti itu dalam hati. "Haus banget ya Pak?" ucap Lily setengah mengejek, bagaimana tidak? es kopi yang barusan ia pesan bahkan sudah habis tak tersisa. Ken hanya menoleh dan tersenyum. "Ayo kita belanja sayuran sekarang!" ajak Ken. "Atau kamu masih mau minum disini?" tawar Ken kemudian. Lily pun menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak usah Pak, ayo belanja sekarang aja!" ucap Lily lalu beringsut dari duduknya. Kini Ken dan Lily pun terlihat tengah mendorong troli bersama, jika dilihat mereka ini seperti sepasang suami-istri saja. dengan Lily yang fokus memilih berbagai jenis sayur dan buah, sementara Ken berjalan di belakang Lily sembari mendorong troli itu. "Pak Ken mau saya masakin apa besok?" tanya Lily dengan tangan kanannya yang sedang memegang satu buah kentang. sepertinya Lily ingin membuatkan pria itu 'sambal goreng kentang' besok. "Ly?" panggil Ken lirih tepat di samping telinga Lily. "Apa Pak?" jawab Lily singkat, karena refleks Lily pun menolehkan wajahnya dan, Tatapan mata keduanya bertemu dengan jarak yang begitu dekat. dari jarak seperti ini Lily dapat melihat jelas wajah tampan Ken. Terutama rahang pria itu yang di tumbuhi bulu-bulu halus sehingga membuat tangan Lily menjadi ingin menyentuhnya. oh, demi apapun Ken terlihat sangat macho jika seperti ini. "Mulai sekarang jangan panggil saya Bapak lagi!" ucap pria itu lalu mengambil alih kentang di tangan Lily dan memainkannya. Lily pun mengerutkan keningnya bingung. "Memangnya kenapa Pak?" tanya Lily kemudian lalu membuang pandangannya kearah sekitar. bisa-bisanya di saat seperti ini Lily berpikiran ingin mengelus rahang pria itu. "Saya bukan Bapak kamu!" ucap Ken kesal, tak tahukah Lily sedari tadi sudah banyak pasang mata yang memperhatikan mereka saat Lily memanggil Ken dengan sebutan 'bapak'. "Mulai sekarang panggil saya, Mas!" titah Ken kemudian. "Ma--ss?" ucap Lily terlihat ragu. ia lalu kembali menatap pria tampan itu. Ken pun mengangguk mantap. "Iya, Mas bisakah mulai sekarang panggil saya Mas?" tanya Ken sekali lagi. ia lalu menatap dalam manik mata wanita cantik didepannya ini. "Baiklah, Ma-ss." ucap Lily sedikit gugup, ia lalu menundukkan pandangannya pada pria itu. ditatap seperti itu oleh Ken membuat hati Lily kembali berdesir. Pria itu pun refleks mengelus lembut puncak kepala Lily seraya berkata. "Good girl!" Ken lalu tersenyum puas, karena Lily mau menuruti permintaannya. Saat itu juga Lily merasa pasokan oksigen di tubuhnya berkurang, ia merasa kesulitan bernapas saat ini. diperlakukan seperti itu membuat jantung Lily berdetak lebih kencang. mungkinkah ini efek dari kelamaan menyandang status sebagai seorang jomblo. hanya dengan usapan di kepala saja bisa membuat jiwa Lily seakan melayang. "Ya udah kita pulang sekarang yuk Mas, sudah malam ini." Lily lalu mengajak pria itu segera ke kasir membayar barang belanjaan mereka, mengingat waktu yang semakin malam ia tak mau membuat sang Ibu menjadi khawatir. Ken mengangguk, ia lalu ngantri ke kasir dan membayar semua belanjaan mereka tadi. Lily terkejut saat ternyata Ken berkata akan mengantarkan nya pulang, dan mengatakan salah satu orang suruhannya sudah menunggu mereka di depan gerbang kompleks perumahan Lily dengan mengendarai motor matic milik Lily. () () () "Makasih ya Mas, maaf ngerepotin." ucap Lily saat sudah berada di depan kompleks perumahannya. "Nggak masalah, ini kunci motormu!" ucap Ken lalu memberikan kunci itu pada Lily. "Saya eh aku pulang dulu Mas." ucap Lily lalu mulai menyalakan mesin motor maticnya itu. Ya, di dalam mobil tadi mereka berdua sepakat tidak lagi menggunakan bahasa formal saat berbicara. "Hati-hati Ly!" ucap Ken lalu memperhatikan Lily hingga masuk kedalam rumah yang letaknya memang tidak jauh dari gerbang komplek itu. Kebetulan rumah Lily hanya berjarak enam rumah dari gerbang komplek ini. () () () "Widih ngeborong lo kak?" tanya Nino saat melihat kantong plastik yang tersangkut di motor sang Kakak. Lily menoleh sekilas. ia lalu mengambil beberapa belanjaan itu dan memberikannya pada sang adik. "Tolong taruh dapur No!" titah Lily, lalu dengan santai ia pun mengayunkan langkahnya menuju kamar. "KAK?" teriak Nino kencang. "Berat woy ini!!!" gerutu Nino kesal, meski begitu Nino tak pernah membantah apapun yang diperintah sang kakak padanya. ia lalu berjalan ke dapur dan membawa belanjaan itu. "Kenapa sih No udah malam masih teriak-teriak aja?" tanya Bu Endang, yang kebetulan saat ini sedang berada di dapur. Ya, sebelum tidur Bu Endang selalu rutin minum vitamin, ini atas saran kedua anaknya. mereka ingin Bu Endang sehat selalu karena hanya Bu Endang lah orang tua yang mereka punya saat ini. Nino lalu menaruh kantong plastik yang ia bawa di atas meja makan. "Belanjaan kakak nih Bu," ujar Nino lalu mengambil satu botol air mineral dari dalam kulkas dan meminumnya. Bu Endang pun mengernyitkan dahinya bingung. tidak biasa Lily berbelanja sebanyak ini, dan ini juga kenapa harus membeli sayur di superhero mart padahal di Mang Usman jauh lebih murah harga sayuran itu. "Sekarang kakakmu kemana No?" tanya Bu Endang sembari menata sayur dan buah-buahan yang ada di dalam plastik agar masuk ke dalam kulkas. Nino yang sudah berjalan menuju kamarnya pun menoleh. "Kak Lily ada di kamar Bu," jawab Nino singkat, ia lalu menutup pintu kamarnya pelan. Bu Endang terus menyusun seluruh belanjaan yang dibeli Lily tadi, hingga pukul sembilan malam Bu Endang pun memutuskan untuk masuk kedalam kamarnya, sepertinya beliau sudah mengantuk saat ini. Sementara itu di dalam kamar Lily tengah tersenyum kala membaca satu pesan masuk, dari nomor yang ia beri nama 'Mas Ken' Ya, sejak permintaan Ken tadi Lily pun langsung memberi nama itu pada ponselnya. Mas Ken : Malam Ly? tolong masakin Mas ini ya besok pagi. - Sambal goreng kentang - Bihun goreng - Ayam bakar Lily : Malam juga Mas, iya siap Mas. Mas Ken : Besok Mas jemput kamu jam sembilan, di tempat biasa! Lily : Siap Mas Ken. :-) Beberapa saat Lily pun menjadi salah tingkah saat membaca pesan Ken yang menyebutkan dirinya sendiri dengan sebutan 'Mas' bukankah itu terlihat sangat manis. wajah Lily pun menjadi bersemu merah entah mengapa ia malah membayangkan bahwa ia akan menjadi kekasih hati Ken suatu saat nanti. Lily yang tersadar akan pemikiran nyeleneh nya pun langsung memukul kepala dengan keras. Laki orang tuh! gila aja lo Ly, kayak nggak ada cowok lain aja sampe ngebayangin pacaran sama laki orang! gerutu Lily dalam hati, menyesali pikirannya yang aneh itu. Lily langsung mematikan lampu pada kamarnya dan mengganti dengan lampu tidur. padahal besok hari sabtu dan Lily pun libur kerja tapi sepertinya malam ini Lily ingin tidur lebih awal. Lily tak ingin telat bangun esok hari karena ia harus memasak untuk Ken dan mengantarnya ke apartemen pria tampan itu besok pukul sembilan pagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD