Cemburu

1984 Words
Tiba di gedung kantor tempatnya bekerja Lily lalu berjalan menuju lift. Ya, dilantai lima lah ruang kerja Lily berada. "Hai Ly?" sapa seorang karyawan pria pada Lily. "Baru datang? tumben?" sambung pria itu kemudian. tiga tahun menjadi rekan kerja Lily membuat pria itu paham sifat dan karakter Lily. meski Lily sering bangun kesiangan tapi ia tak pernah tak pernah telat tiba di kantor. namun sepertinya hari ini berbeda sebab Lily datang hampir saja terlambat. Lily yang dipanggil pun menoleh. "Hay juga Rey. iya nih tadi mampir dulu." balas Lily lalu tersenyum. Lily ini memang terkenal ramah dan mudah tersenyum. Lily tidak pernah pilih kasih kepada siapapun itu, baik yang sudah dikenalnya atau belum pasti ia akan tetap ramah. kini Lily dan Ray pun masuk ke dalam lift yang sama. Denting lift pun berbunyi, kini mereka sudah tiba di lantai lima. baik Lily maupun Rey langsung memasuki ruangan masing-masing. setelah sebelumnya Rey berkata ingin mengajak Lily makan siang di restoran bintang lima yang berada tak jauh dari gedung ini, dan Lily mengangguk tanda menyetujui ajakan rekanya itu. "Assalamualaikum, selamat pagi semua!" sapa Lily pada empat orang rekannya yang kebetulan sudah datang semua hari ini. "Wa'alaikumsalam, tumben sih Ly lo telat?" tanya Febby saat Lily sudah mendudukan dirinya di atas kursi. "Lo bangun kesiangan lagi ya?" tebak Selvy yang meja kerjanya tepat berada di belakang Lily. Lily menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak lah!" bantah Lily tegas. "Justru hari ini gue malah bangun jam 5 pagi." ucapnya dengan mengembangkan senyum manisnya itu. "WHAT?" pekik Febby dan Selvy secara bersamaan. sebagai seorang sahabat mereka paham betul watak Lily. shalat subuh saja Lily sering kesiangan. bagaimana tidak pukul 6 kurang lima belas menit saja ia baru bangun dari tidurnya. "Kok bisa?" tanya Selvy masih tidak percaya, mana mungkin Lily bisa bangun tidur sepagi itu. "Bisa lah, gue gitu lho!" jawab Lily jumawa, ia lalu memilih menyalakan komputer yang ada di depannya ini, daripada harus menanggapi ocehan kedua sahabatnya itu. jika Lily terus menanggapi ucapan mereka sudah dapat dipastikan rahasia Lily akan terbongkar bahwa beberapa hari ini ia tengah bersama suami orang. "Ly bagaimana ceritanya lo bisa bangun pagi?" desak Febby yang masih penasaran. ia lalu menyenggol lengan kanan sahabatnya itu. Belum sempat Lily menjawab, Direktur keuangan kini sudah berjalan keliling melihat kinerja para anak buahnya. alhasil semua karyawan pun kembali pada posisi masing-masing dan memulai pekerjaan mereka hari ini. Seperti biasa jika memasuki hari di akhir bulan pekerjaan para staf keuangan semakin bertambah, karena mereka harus menyelesaikan laporan keuangan yang berisikan penghasilan dan beban pengeluaran dalam satu bulan ini. Tepat pukul dua belas siang para karyawan pun memutuskan untuk istirahat makan siang lebih dulu. sama halnya Lily ia memilih menjalankan kewajiban dahulu sebagai seorang muslim, setelahnya baru pergi makan siang. alasannya Lily akan tenang saat makan siang nanti. "Udah Ly?" tanya Selvy saat melihat Lily baru saja keluar dari mushola kecil yang ada di lantai bawah. kebetulan hari ini Selvy dan Febby sedang kedatangan tamu bulanan, alhasil mereka berdua setia menunggu Lily di luar. Lily mengangguk, lalu memakai kembali sepatu pantofel miliknya yang berwarna coklat itu. "Ayok makan sekarang!" ajak Lily pada kedua sahabatnya itu. Baik Selvy maupun Febby pun mengangguk, kini mereka bertiga tengah berjalan menuju parkiran. "Lily?" panggil Rey, ia lalu berlari kecil menghampiri para wanita itu. Seketika langkah Lily pun terhenti saat namanya dipanggil. "Ada apa Rey?" tanya Lily pada rekannya itu. "Ehem …" Rey pun berdehem. "Tadi katanya kamu mau makan siang bareng aku?" ucap Rey kembali mengingatkan percakapan mereka saat di lift tadi pagi. Lily pun menepuk keningnya sekilas, ia lupa bahwa tadi pagi ia telah membuat janji akan makan siang bersama pria tampan di depannya ini. "Oh iya maaf ya Rey, aku lupa." ucap Lily menyengir tanpa rasa bersalah, karena telah berhasil membuat rekan kerjanya itu menunggu di parkiran terlalu lama. "Nggak apa-apa kok, Ly." jawab Rey santai. "Ayo kita makan sekarang!" ajak Rey pada Lily namun, "Ehem …" Selvy dan Febby pun berdehem keras. kini mereka berdua terlihat tengah melipat kedua tangannya di d**a. "Lo berdua udah janjian?" tebak Febby, lalu menatap kedua orang di depannya ini secara bergantian. Baik Lily maupun Rey pun kompak menganggukan kepala mereka sebagai jawaban. "Ya udah yuk! kita jalan sekarang nanti keburu habis jam istirahatnya!" ucap Lily lalu menggandeng lengan kedua sahabatnya itu. Mereka pun memutuskan untuk makan siang di restoran bintang lima yang terletak tidak jauh dari gedung kantor ini, dan Rey pun berjanji akan mentraktir mereka semua. siapa coba yang tidak senang di traktir makan siang di restoran bintang lima? bisa makan enak tapi tak harus mengeluarkan uang dari kantong mereka sendiri. sungguh apakah ini definisi dari rejeki anak sholehah? sepertinya mereka bertiga patut bersyukur hari ini. () () () "Kamu mau pesan apa Ly?" tanya Rey penuh perhatian, ia lalu menatap wajah cantik wanita di depannya ini cukup lama. Lily tidak langsung menjawab, ia terlihat tengah membaca daftar menu yang ada di depannya itu. "Aku mau ini aja deh!" tunjuk Lily pada salah satu tulisan yang ada dalam daftar menu itu. Ya, Lily memilih beef tenderloin salad, sebagai menu makan siangnya hari ini. Rey pun mengangguk, ia lalu menuliskan satu menu pesanan Lily pada secarik kertas di depannya ini. "Kalian berdua mau makan apa?" tanya Rey lalu memandang kedua rekannya itu secara bergantian. "Aku samain aja kayak Lily, oh iya minumnya jus strawberry ya?" ucap Febby senang. bagaimana tidak? dua kali sudah ia makan di restoran mewah ini, dan dua kali itu juga Febby tak pernah mengeluarkan uangnya sepeserpun. "Kalau kamu Vy?" tanya Rey, entah mengapa sedari tadi Rey merasa bahwa Selvy sama sekali enggan menatapnya. "Samain aja!" jawab Selvy singkat. ia lalu mengambil ponsel pintarnya yang ada di dalam tas dan memainkannya. Selvy benar-benar bad mood saat ini, ia kesal saat melihat Rey begitu perhatian pada Lily. tak tahukah Rey bahwa Selvy ternyata sudah menyimpan perasaan ini padanya cukup lama. Setelah menunggu hampir tiga puluh menit, pesanan mereka pun datang. kini mereka berempat tengah menikmati makan siang mereka, tanpa ada yang berbicara sama sekali. "Udah belum lo pada?" tanya Selvy pada ketiga temannya. saat ini ia tengah menandaskan sisa minumannya itu. "Udah yuk!" ajak Lily lalu beringsut dari duduknya, dan mengambil tas berwarna pink yang tadi ia bawa. Para wanita itu lalu berjalan lebih dulu menuju parkiran mobil, mereka pun meninggalkan Rey yang tengah izin pergi ke toilet sebentar. Lily merasa seseorang sengaja tengah menabrak pundaknya hingga ia akhirnya jatuh tersungkur. "Kalau jalan pake mata dong lo!!!" geram gadis muda itu marah, gadis itu terlihat membenarkan masker dan penutup kepalanya. "Lo yang harusnya jalan pake mata!" ucap Lily tidak terima atas tuduhan wanita itu jelas-jelas Lily sudah berjalan minggir tadi. ia lalu berdiri dan di bantu oleh sahabatnya Febby. "Udah salah nyolot lagi, lo!" hentak gadis itu. saat ini ia terlihat tengah merapikan pakaiannya. "Lo yang salah!!!" Lily tak pernah marah pada siapapun, namun jika ketenangan nya di usik seperti ini ia tak pernah takut. gadis ini seharusnya bisa bicara baik-baik maka Lily tak akan marah padanya. "Kenapa Lily?" tanya Rey dan Selvy secara bersamaan, kebetulan sebelum keluar dari restoran tadi Selvy pun izin ke toilet sebentar. "Luna? ngapain lo marah-marah sama temen gue?" tanya Selvy lalu mendekat kearah keponakannya itu. Ya, gadis cantik ini adalah Kaluna Auristela Roderick yang tak lain adalah putri semata wayang Ken. Luna? kek pernah denger nama ini tapi dimana ya? gumam Lily sambil mengingat-ingat nama itu dalam hati. "Ini temen lo Vy?" tanya Luna lalu melipat kedua tangannya di dadaa. Luna sudah terbiasa memanggil Selvy dengan namanya saja ya tanpa embel-embel 'tante' didepannya. "Iya." jawab Selvy singkat. "Kalian kenapa sih?" tanya Selvy penasaran lalu menatap Lily dan Luna secara bergantian seolah meminta penjelasan. Lily terlalu malas menanggapi ucapan gadis di depannya ini yang ia nilai terlalu bar-bar itu. Lily pun memilih diam saja sambil membersihkan sedikit kotoran debu yang menempel pada blousenya itu. "Kamu nggak apa-apa Ly?" tanya Rey penuh perhatian, ia lalu menarik pelan lengan Lily dan memeriksa bagian tubuh Lily apa yang terluka atau tidak. Lagi-lagi bentuk perhatian Rey pada Lily membuat hati Selvy menjadi panas. "Lo nggak apa-apa kan Ly?" tanya Selvy memastikan sekali lagi. "Ya udah yuk kita balik aja!" ajak Selvy pada sahabatnya itu. Lily pun mengangguk, ia menyetujui ajakan sahabatnya itu daripada harus berlama-lama dengan gadis itu yang tak punya sopan santun di sini. belum sempat mereka melangkah pergi tiba-tiba saja seorang pria tampan berjalan mendekat lalu memanggil salah satu dari mereka. "Selvy?" panggil Ken lalu mendekat kearah adik sepupunya itu. "Ada apa ini? tadi Luna bilang, ia di tabrak oleh temanmu?" tanya Ken kemudian. Lily membelalakkan matanya seketika, ternyata selain tidak punya sopan santun gadis di depannya ini juga tukang mengadu, lihatlah baru begini saja gadis itu sudah mengadu pada sang papi. "Luna tuh Bang!" tunjuk Selvy pada ponakannya itu. "Dia yang salah udah nabrak Lily tapi malah dia juga yang marah!" Selvy pun menjelaskan semuanya. apa yang ia dengar dari Febby barusan. Jika tadi Luna yang mengadu pada sang papi lewat pesan singkat yang Luna kirim lewat ponselnya, kali ini Selvy lah yang mengadukan perbuatan tidak sopan Luna pada sang papi. "Luna benar apa yang dikatakan Selvy tadi?" tanya Ken lalu menatap tajam anak gadisnya itu. ini salah satu sifat Luna yang tidak disukai Ken. putri cantiknya ini memang mudah sekali emosian dan tak pernah mau mengakui kesalahannya, sepertinya sifatnya ini ia dapat dari sang Ibu. "Orang dia yang salah sih Pi!" jawab Luna enteng, ia lalu bergelayut manja pada lengan sang papi. seperti biasa apapun kesalahan yang Luna perbuatan ia tak akan pernah mau mengakuinya dan meminta maaf. Lily sudah malas mendengarkan perdebatan ini, ia lalu mencolek pelan lengan Selvy, bermaksud mengajaknya segera pergi dari tempat ini. Selvy yang paham akan kode itu pun mengangguk. "Bang? gue pamit deh ya. lagian temen gue nggak apa-apa kok, iya kan Ly?" tanya Selvy Lalu melirik Lily sekilas. "Iya nggak apa-apa." jawab Lily singkat tanpa mau menatap balik pria bermata elang itu. Akhirnya mereka memutuskan untuk masuk kedalam mobil Rey, dengan Rey yang mengelus pundak Lily dari belakang seolah memastikan bahwa wanita yang ia suka sudah baik-baik saja. Tanpa disadari sudut hati Ken mengerang melihat Lily di perlakukan seperti itu oleh pria lain, jujur ia tidak terima melihatnya. katakanlah Ken cemburu melihat Lily akrab dengan pria lain. tapi Ken bisa apa? apakah mungkin pria itu adalah kekasih Lily? berbagai pertanyaan kini tengah menari-nari di kepala Ken. biarlah nanti Ken akan mencari tahu kebenarannya sendiri. begitu pikirnya. "Papi? kenapa bengong?" tanya Luna yang masih setia bergelayut manja pada lengan sang papi. Ken pun menoleh dan tersenyum. "Nggak apa-apa honey, sudah ayo kita masuk!" ajak Ken lalu merangkul pundak sang anak dan mengajaknya masuk kedalam restoran. Sementara itu di dalam mobil sedari tadi Lily memperhatikan gerak-gerik kedua orang itu. ternyata gadis itu adalah putri Ken, seorang pria yang beberapa hari ini terlihat bersamanya. Buset anaknya galak bener! bisa-bisa dilabrak nih gue kalau terus dekat sama bapaknya! disangka pelakor lagi nanti gue. gumam Lily dalam hati. Melihat sang sahabat yang terus memperhatikan abang sepupunya itu, akhirnya Selvy pun bersuara. "Dia itu Luna, anak kandungnya bang Ken." ucap Selvy menjelaskan. "Bar-bar banget Vy kelakuannya, gue aja sampai takut!" Febby yang sedari diam saja pun kali ini bersuara. "Cantik nggak sih Sel? mukanya nggak kelihatan ketutupan masker sama topi gitu." Sambung Febby kemudian. "Emang gitu anaknya, songong! Lo pada dengarkan dia manggil gue aja Selvy bukan tante." geram Selvy kesal, kalau tidak ingat akan kebaikan abang sepupunya itu rasanya Selvy enggan bersikap baik pada Luna. "Ya gitu cantik sih tapi kelakuannya bar-bar banget." ujar Selvy berapi-api menceritakan tentang Luna yang selalu membuat masalah. Sementara itu Lily sedari tadi hanya menjadi pendengar yang baik, tanpa menimpali ucapan para sahabatnya itu. melihat sifat Luna yang seperti itu, Lily pun menjadi takut. ia pun meringis membayangkan jika suatu hari nanti ia di labrak dan di tuduh menjadi hama dalam hubungan rumah tangga orang tua Luna. Ya, sepertinya Lily memang harus membatalkan janjinya yang akan membuatkan masakan rumahan untuk Ken.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD