bc

Ukiran Luka Tisha

book_age18+
1.8K
FOLLOW
11.6K
READ
forbidden
family
HE
single mother
drama
addiction
like
intro-logo
Blurb

Kepulangan Tisha selama enam tahun untuk menghadiri pertunangan adiknyamembuka luka yang belum juga mengering. Pria yang sedang melingkarkan cincin di jari manis sang adik, ternyata adalah pria yang enam tahun yang lalu pernah membuatnya terpaksa harus pergi dari keluarga untuk menutup aib yang telah dia lakukan.

Kayla, anak berusia lima tahun, dia bawa pulang itu adalah buah dari perbuatan yang dilakukan oleh tunangan adiknya, Bram.

Bagaimana Tisha menghadapi semua kenangan yang memaksanya kembali teringat dengan lukanya? Akankah dia bisa melanjutkan kebohongan yang terlanjur dia ciptakan untuk menutup aib itu, atau dia harus menguak semua demi sang anak?

chap-preview
Free preview
Luka yang Kembali
Latisha merasakan dadanya mulai bergemuruh. Rasanya begitu menyesakkan hingga membuatnya sakit. Sakit yang begitu menghujam saat kedua netranya menatap seorang pria tampan sedang melingkarkan cincin di jemari manis adiknya, Laras. Laksana tertusuk sembilu ketika Tisha mendengar ucapan cinta yang diucapkan oleh dua insan di depan para saudara yang menghadiri pesta pertunangan itu. Kedua mata Tisha menghangat dan tetesan air mata tak terbendung lagi, membasahi kedua pipinya. “Mama ....” Panggilan itu menyadarkannya, Tisha segera berupaya menghapus air mata yang membasahi pipi agar tidak terlihat oleh Kayla, anak perempuannya. Meski jauh di lubuk hati, masih terasa begitu menyakitkan melihat kenyataan yang dia saksikan. Namun terlambat, gadis kecil itu sudah melihatnya. “Ada apa, Nak?” sahutnya parau. Kayla menatap kedua mata ibunya bergantian dengan pandangan kebingungan. “Kenapa mata Mama basah? Mama nangis? Apa karena lihat Om itu pasang cincin ke jari tante Laras? Mama pengen Om itu juga kasih cincin ke Mama?” tanya gadis kecil itu dengan sangat polos. Masih menatap Tisha penuh tanda tanya. “Kalo iya, nanti Kayla bilang ke Om itu—“ Sungguh, rasanya semakin menyakitkan saat mendengar celotehan polos Kayla. Membuatnya sampai menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan untuk menenangkan diri. Meski begitu, Tisha tidak dapat membalas pertanyaan-pertanyaan anak perempuannya agar air matanya tidak kembali tumpah. Dia hanya mampu menggelengkan kepalanya dengan lemah sambil memaksakan diri untuk tersenyum dan bersikap bahwa dirinya baik-baik saja di hadapan anaknya. “Mama nggak apa-apa, Nak. Mama Cuma terharu lihat mereka,” potong Tisha, mengusap pucuk kepala gadis kecil dengan rambut panjang yang dikepang, usai dia berhasil menenangkan diri. Untunglah, Kayla tersenyum dan kembali menatap ke arah sepasang kekasih yang sekarang sedang tersipu karena celetukan para saudara yang menggoda mereka. Namun, hati Tisha bertolak belakang dengan suasana di ruangan itu. Dia hanya mengintip kebahagiaan keduanya dari balik pintu. Kemudian, dia memandang anaknya dengan miris. “Andai kamu tahu siapa lelaki itu, Nak.” *** Pagi itu, Tisha dikejutkan dengan dering alarm yang membangunkannya di pagi hari. Dia harus segera menyiapkan keperluan anaknya. Setelah pulang dari kota lain selama enam tahun dia tidak pulang, kali ini dia kembali karena undangan pesta pertunangan semalam yang menghancurkan hatinya. “Bram,” desisnya, memijat kepala yang terasa berdenyut saat menyebut nama tunangan sang adik semalam. Tisha tidak menyangka jika pria yang semalam bertunangan dengan adiknya adalah pria yang telah membuat hidupnya hancur berantakan. Meninggalkan aib yang harus dia tanggung sendiri hingga keluarganya jadi membencinya dan karena itulah, Tisha harus pindah ke luar kota untuk menyembunyikan aib itu demi nama baik keluarganya. Tisha menatap anak kecil yang sedang tidur pulas di sampingnya. Dia tersenyum. Malaikat kecil itulah yang membuatnya bertahan hidup. Dia selalu menyembunyikan lukanya dari hadapan Kayla. “Mama pengen kamu selalu ceria, Nak.” Sebuah kecupan mendarat di kening gadis kecil yang masih berselimut dengan guling kecil yang tidak pernah dia lepas selama tidur. Gadis kecil itu menggeliat perlahan, kemudian kembali tidur dengan pulasnya. Tisha kini beranjak dari duduknya dan memasuki kamar mandi. Rencananya, hari ini dia akan mendaftarkan Kayla ke sekolah di kota itu karena ibunya meminta Kayla untuk menemaninya di rumah yang sekarang sepi itu. Semula, Tisha sangat bahagia karena ibu dan ayahnya telah menerima Kayla. Karena mereka adalah kakek dan nenek Kayla, maka kasih sayang mereka pun tumbuh dengan melihat cucu mereka. Tisha merasa bersalah pada ayah dan ibunya. Mereka harus mengalahkan ego mereka saat melihat betapa besar dan cantik cucu mereka sekarang dan menyingkirkan perasaan malu terhadap apa yang terjadi waktu itu. “Sha, Mama dan papa sekarang kan udah pensiun. Jadi, kami ingin agar Kayla sekolah di sini. Kamu juga kan bisa mencari pekerjaan di sini,” pinta Astrid, ibu Tisha waktu itu. Waktu di mana dia melihat Kayla datang untuk pertama kalinya setelah pergi selama 6 tahun lamanya. Rahman dan Astrid ingin merawat cucu mereka karena merasa sayang pada cucu yang belum pernah mereka lihat sejak lahir. Ternyata, dia memiliki paras secantik ibunya dengan hidung yang mancung dan membuat Astrid teringat akan masa kecil Tisha. Selain itu, naluri kakek dan nenek yang ingin selalu dekat dengan sang cucu membuat mereka menepis kekecewaan mereka pada Tisha, anak pertama yang telah membuat mereka malu, lima tahun yang lalu. Tragedi pengusiran anak tidak tahu malu karena hamil di luar nikah itu, menguar sudah melihat kehadiran bocah cilik dengan sikap lucunya. “Boleh, kan, Sha?” ulang Astrid menatap wajah Tisha yang ragu. “Setelah adikmu nikah nanti, kami hanya berdua di rumah. Jadi, ketimbang Kayla kamu titipkan ke bibimu yang sudah sakit-sakitan, lebih baik dia bersama kami,” imbuh Rahman, mendukung keinginan istrinya. Tisha menghela napas berat mendengar hal itu. Namun, perasaannya pun sedikit membuncah bahagia saat kedua orang tuanya menginginkan kehadiran anaknya. Gadis kecil itu diterima di keluarganya lagi. Sudah berkali-kali Astrid meminta hal itu, tapi rasanya berat bagi Tisha. Sekarang pada akhirnya dia luluh juga usai melihat kehadiran malaikat kecil yang lucu, berceloteh menghibur kedua orang tuanya di rumah hingga rumah yang telah lama sepi itu menjadi ramai karena adanya Kayla. “Tapi aku udah punya pekerjaan di luar kota, Ma. Kalo Kayla mau, dia bisa sekolah di sini dan aku bisa pulang seminggu sekali,” ujar Tisha, meski berat meninggalkan anaknya, tapi ibunya kukuh ingin Kayla agar dirawat bersamanya. Selama ini, Tisha tinggal dengan bibinya di luar kota dan wanita itu yang merawat Kayla hingga besar. Namun, sang bibi seringkali kambuh penyakitnya hingga Tisha harus berpikir dua kali untuk menitipkan anaknya yang semakin besar dan aktif pada Ranti, bibinya. “Ya begitu juga boleh,” sahut Astrid melebarkan senyumnya. Pada akhirnya, dengan seribu rayuan, Tisha berhasil membuat Kayla untuk bersekolah di kota kelahiran Tisha dengan iming-iming setiap minggu akan dibawakan mainan. “Mama, apa Mama mau belikan Kayla boneka baterai kalo Kayla sekolah di sini?” tanya Kayla lagi. Dia tertarik dengan perkataan ibunya tentang mainan impian selama ini. “Iya, Mama belikan, tapi Kayla harus nurut sama kakek dan nenek di sini, ya?” pinta Tisha, menggenggam erat tangan anaknya. “Iya,” sahut Kayla dengan senyum termanisnya. Meski berat, Tisha akhirnya meninggalkan anaknya untuk bekerja di luar kota. Dia berpikir bahwa bisa pulang satu minggu sekali demi sang anak. Bisa saja dia mencari pekerjaan di kota ini, tapi ada satu hal yang dia hindari. Ya, siapa lagi kalau bukan Bram, calon suami adiknya. Dengan bekerja di luar kota, dia tidak akan sering bertemu dengan lelaki itu.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
68.2K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook