“Sayang banget Kak Tisha nggak kenalan sama Bram kemarin,” ucap Laras sembari memasukkan sesendok nasi dan sayur ke mulut saat mereka makan pagi di ruang makan.
Mendengar nama itu disebut oleh Laras, membuat Tisha pusing dan nyaris tersedak. Dia pun tidak menjawab malah memijat kepalanya yang berdenyut. Memang saat pemasangan cincin itu, Tisha memilih untuk masuk ke kamar dan tidak mengikuti acara hingga selesai begitu melihat siapa pasangan Laras. Dia tidak bisa menahan rasa sakitnya yang kembali terkoyak melihat wajah Bram.
“Mama sakit?” tanya Kayla yang siap dengan seragam sekolah barunya, melihat sikap sang ibu.
“Nggak, Nak. Lanjut makan, Mama antar kamu ke sekolah. Pokoknya hari ini kamu harus semangat ya! Ini kan hari pertama kamu sekolah.”
Tisha tersenyum, lalu mengusap kepala anaknya dengan lembut. Dia ingin sekali menemani anaknya setiap hari, tapi sayang keadaan tidak memungkinkan.
“Setelah itu, Mama pergi kerja?” tanya Kayla.
“Iya, Sayang.”
“Tenang aja, nanti ada tante Laras juga kakek sama nenek yang anterin Kayla,” ucap Rahman, yang disertai anggukan kepala Astrid.
Kayla jadi tersenyum senang dengan cinta yang selama ini dia rindukan. Dia memiliki sepasang kakek dan nenek, juga seorang tante. Semula, Kayla merasa iri pada teman-temannya karena memiliki keluarga utuh. Hanya saja, masih ada sekeping hati Kayla yang kurang. Dia tidak pernah mengenal sosok ayahnya.
“Kayla juga kepengen dianter sama ayah kayak temen-temen Kayla,” celetuk anak kecil itu, membuat satu ruangan terdiam, tak bisa menjawab.
Melihat situasi itu, Tisha tanggap dan langsung mengalihkan pembicaraan. “Kayla, nanti bekalnya dibawa. Lihat, Mama udah siapin nasi bento. Ini bentuknya lucu, kan?” tunjuk Tisha ke satu lunch box yang ada di depannya, sudah dia siapkan pagi-pagi benar untuk sang anak.
Benar saja, Kayla tampak takjub dengan kreasi sang mama. Dia terbelalak hingga membuat semua yang duduk di ruang makan tertawa dibuatnya. Polos sekali menatap nasi bento dengan kagum.
“Aaa, Mama ... ini cantik banget! Sayang banget buat dimakan,” celetuknya membuat mimik cemberut yang lucu.
Melihat ekspresi putrinya, Tisha menjadi sangat gemas dengan Kayla. Dalam hatinya, sebenarnya dia tidak ingin pergi meninggalkan gadis kecil itu, tapi bagaimana mungkin? Dia harus tetap bekerja.
“Eh, dia nanti nangis kalo nggak dimakan, Kayla. Dia dibuat untuk mengenyangkan perut kamu,” ujar Tisha mengusap pucuk kepala anaknya. Kemudian menutup lunch box dan memasukkannya ke tas bekal.
“Tapi Mama bikinin lagi ya kalo pulang?” desak Kayla menunjukkan jari kelingkingnya ke depan sang ibu.
“Iya, nenek juga bisa kok bikinin. Mama kan belajar dari nenek,” sahut Tisha melirik ke arah ibunya yang tersenyum-senyum melihat kelakuan sang cucu.
“Iya kah, Nek?” tanya Kayla memalingkan wajahnya ke arah wanita paruh baya yang langsung memasang ibu jarinya.
“Tentu dong,” sahut Astrid.
“Wah, besok bikinin yang Hello Kitty ya, Nek?” pinta Kayla.
“Boleh,” sahut Astrid bersemangat. Lama sekali dia tidak membuatkan bekal lagi untuk seorang anak. Tentu saja terakhir kali dia membuatnya saat Laras masih kecil dulu. Sekarang ini, Laras memang suka makan di kantin tempatnya bekerja. Dia pun enggan membawa bekal dari rumah sejak duduk di bangku SMP. Malu katanya.
Semua orang terkekeh di ruang makan saat Astrid menceritakan masa lalu mereka. Hati Tisha menghangat di ruangan itu. Dia kembali merasakan bagaimana rasanya memiliki keluarga. Namun, ketika mendengar suara klakson dari depan rumah, hatinya kembali sakit dan pikirannya mulai cemas.
“Itu Bram. Dia mau berangkat ke luar kota. Kebetulan, seminggu yang lalu dia dipindah ke pusat. Jadi, pagi ini dia jemput aku. Ma, Pa, Kak Tisha, aku berangkat kerja dulu ya. Hei, Kayla, nanti Tante temeni sepulang sekolah, ya? Tante jemput Kayla nanti.” Laras dengan cepat menghabiskan segelas s**u miliknya, lalu mengusap lembut poni Kayla dan mencubit gemas kedua pipi gadis kecil itu sebelum beranjak dari posisi duduk.
“Mama, nggak ikut nemuin Tante Laras sama Omnya?” tanya Kayla saat melihat Laras pergi dengan diantar oleh kedua orang tuanya menemui Bram.
“Nggak, Kayla. Mama kepengen nungguin Kayla habisin sarapan pagi aja di sini. Bentar lagi, kita berangkat. Kamu buruan habisin makannya!” Tisha menarik piring Kayla dan menyuapi anaknya itu demi mengalihkan pertanyaan yang tentu saja tak mungkin dia katakan alasannya. Sungguh, tangannya bahkan sampai bergetar saat mengetahui kedatangan Bram.
Dia mendengar suara pria itu dari dalam dan membuat segalanya kacau. Jantungnya berdetak hebat dan hawa dingin mulai terasa di telapak tangannya karena gugup saat namanya disebut oleh Laras.
“Iya, Kak Tisha datang kemarin, tapi dia nggak sempat ketemu sama kamu.”
Tisha pun harus meletakkan tangannya saat gemetar mendengar bahwa Laras menyebutkan kota di mana Tisha bekerja.
“Kalo gitu, bareng aja,” ujar Bram.
"Ya Tuhan, bagaimana mungkin aku bareng sama dia?" gumam Tisha memutar kedua bola matanya saat langkah Astrid mendekat ke ruang makan. Tepat di saat itu pula, Kayla selesai menghabiskan makannya.
“Sha, kamu bisa bareng sama Bram dan Laras, juga mengantar Kayla ke sekolah. Lebih hemat waktu dan Bram pun berangkat ke kota yang sama denganmu,” ujar Astrid.
Pagi-pagi, tawaran itu sudah membuat Tisha sampai mengeluarkan keringat dingin. Dia bermaksud menunggu pria b******k itu pergi, tapi ternyata semua orang malah memberikan ide buruk padanya.
“Ma, aku berangkat sendiri aja.”
“Sha, ini udah jam berapa? Kayla bisa terlambat berangkat ke sekolah kalo nunggu ojek online. Kurang lima menit, lihat!"
Astrid agaknya kesal karena merasa Tisha mengulur-ulur waktu. Padahal, sebentar lagi jika terlambat, maka gerbang akan ditutup dan itu bisa saja membuat Kayla ngambeg hingga besok sulit untuk mau berangkat ke sekolah.
“Ya udah, Kayla sendiri aja bareng sama Laras, Ma. Aku—“
“Mama, Kayla mau bareng Mama. Mama janji kan mau antar Kayla? Ini hari pertama, trus nanti Mama mau pergi seminggu,” rengek bocah kecil yang biasanya membuat Tisha senang, tapi kenapa pagi ini rengekannya begitu menyebalkan.
“Kayla—“
“Tisha, kamu jangan bikin semua orang terlambat! Lihat, Bram dan Laras udah nungguin!" sewot Astrid, berkali-kali melirik ke arah jam di dinding.
Tisha kembali memijat pangkal hidungnya, lalu karena terdesak, dia harus segera beranjak. Dia tidak mau karena hal itu, semua orang harus menjadi korban. Kayla menarik tangannya keluar, tapi Tisha tidak kehabisan akal dan meraih sebuah masker untuk menutupi wajahnya.
“Mama, kenapa pake masker?” tanya Kayla.
“Mama lagi flu, takut nanti semua orang tertular,” kilah Tisha.
Dia akhirnya menuruti Kayla. Dengan terpaksa melangkah ke depan rumah, walau sebenarnya enggan bertemu dengan Bram. Lelaki yang membuat dadanya berdegup tak karuan. Meski lelaki itu lebih tampan dari tujuh tahun yang lalu. Namun, nyatanya itu tidak membuat Tisha menyukainya seperti dulu. Dia meremas ujung baju yang dikenakan demi menahan amarah dan sakit yang dia rasakan saat ingatan masa lalu kembali mengusik pikirannya.
Bram pun cukup terkejut ketika melihat siapa yang keluar bersama dengan seorang gadis kecil dari dalam rumah tunangannya. Tisha tahu bahwa Bram sedang memperhatikannya. Dia langsung membuka pintu mobil dan menyuruh Kayla untuk masuk ke dalam.
“Ayo!” ajak Laras yang juga bingung dengan sikap kakaknya. Bram yang sedikit heran, akhirnya menuruti Laras untuk masuk ke dalam mobil setelah sebelumnya berpamitan pada kedua calon mertuanya.