Tanggung Jawab

1298 Words
Suasana canggung sangat kental terasa di dalam mobil Bram. Pria itu melirik, melihat kaca tengah yang ada pada mobilnya. Tampak di belakang sisi kirinya, dia memperhatikan Tisha. Sesekali, Bram juga melihat gadis kecil yang ada di sisi wanita itu tanpa sepengetahuan Tisha. Entah kenapa, dia seperti mengenali bentuk wajah Kayla yang sekilas sedikit mirip dengannya. “Bram, lampu merah, astaga.” Nyaris saja, Bram melanggar lampu lalu lintas jika Laras tidak memperingatkannya. Terdengar suara ban berdecit karena rem yang mendadak. Bram pun menghela napas kaget. Dia baru tersadar bahwa dia sedang mengemudi setelah berkali-kali melihat ke belakang di mana Tisha dan Kayla berada di sana. “Kenapa sih, Bram? Ada masalah? Dari tadi kamu kayak diem aja,” sungut Laras, mengelus d**a dan memperhatikan pria di sebelahnya. Sementara itu, Tisha tampak sedang mengelus kepala Kayla yang sampai mengenai bagian belakang kursi kemudi saat mobil berhenti dengan tiba-tiba. “Maaf," jawab Bram singkat. Lalu, menoleh ke belakang. "Kalian nggak apa-apa, kan?" Bram merasa tidak enak karena telah lalai dan hampir membuat mereka celaka. Tanpa menjawab, Tisha terlihat hanya menggelengkan kepala sedikit, lalu menatap ke luar jendela mobil. Suasana setelah insiden itu menjadi hening. Biasanya, sepanjang perjalanan Laras mengobrol banyak dengan Bram. Namun, kali ini Bram tidak banyak bicara. Seperti saat Laras bertanya tentang alamat tempat kerjanya, Bram hanya menjawab singkat. Saat ini, Bram menjadi tidak fokus sepanjang perjalanan. Pikirannya terbang ke tahun-tahun belakang yang telah dia lalui, terutama bersama Tisha, sampai mobil itu berhenti di sebuah bank. “Bram, aku turun dulu. Titip Kak Tisha sama Kayla ya.” Laras berpesan pada Bram dan kemudian menoleh ke belakang. “Kak, kamu bisa pindah ke depan!" ujar Laras, tapi Tisha menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Nggak usah. Aku di sini aja nemenin Kayla.” Laras pun mengangkat kedua bahunya, lalu keluar dari mobil. Dia sedikit geli saat melihat Bram malah seperti sopir taksi di depan sendirian dengan kakak dan keponakannya di belakang. Lambaian tangan Laras mengiringi kepergian mobil Bram. Hening di dalam mobil. Kayla menangkap ketidaknyamanan ibunya di dalam mobil itu. Dia seringkali menatap wajah tegang sang ibu. “Mama, Mama yakin mau berangkat kerja?” tanya Kayla yang bingung dengan keheningan itu. Aura di dalam mobil seperti sangat tidak nyaman. Anak itu mampu merasakan hal tersebut. “Iya, Sayang. Kamu jangan khawatir, Mama baik-baik saja. Kamu sekolah aja yang bener ya, Nak!” pinta Tisha dengan senyuman di balik maskernya. Dia tidak melepas maskernya sedikit pun, bahkan sekalipun merasa pengap. Tisha tidak ingin jika Bram sampai melihat wajahnya. “Sekolahnya di TK depan itu ya, Kay?” tanya Bram membuka suara saat mendengar ucapan Tisha. “Iya, Om. Udah deket,” sahut Kayla. “Oke, wah berani ya, nggak ditungguin mama kalo sekolah,” puji Bram, ingin mengetahui reaksi Tisha. “Iya, Om. Mama kan harus kerja karena mama harus bayar sekolah aku, beliin keperluan sekolah Kayla, mainan Kayla, terus nabung juga buat masa depan aku.” Anak seusia Kayla yang sering dicekoki kalimat-kalimat bijak oleh Tisha, menjadi kenyang akan pemikiran Tisha tentang masa depan. Sebagai single parent, dia memberi Kayla pengertian bahwa dia harus mencari rejeki dan menabung demi ke depannya. Tidak mudah membesarkan anak sendirian. Setidaknya begitulah yang dirasakan oleh Tisha selama ini. “Mama kan, kerja sendirian. Kayla nggak punya pap—“ “Kayla, udah mau sampai. Kamu pakai topinya, jangan sampai ketinggalan biar nanti nggak dihukum! Masa hari pertama udah ngasih kesan buruk,” timpal Tisha, dengan cepat menghentikan ucapan Kayla. Sontak saja Kayla jadi mencari topinya yang ternyata dia duduki. Setelah mengambilnya, gadis kecil itu lalu mengibaskan dan kemudian memakainya dengan manis. “Udah, Mama.” Tisha pun tersenyum, lalu merapikan topi dan dasi anaknya agar terlihat sibuk. Dari kaca tengah mobil, Bram tampak memperhatikan setelah memberhentikan mobil tepat di depan gerbang sekolahan. “Yuk, kita keluar!" Tisha membuka pintu mobil, lalu menunggu anaknya keluar dari mobil setelah mengucapkan terima kasih pada Bram. Dia pun merengut pada ibunya. “Mama, kenapa nggak sopan sih sama Om Bram?” Kayla bertanya sambil menautkan kedua alis dengan dahi berkerut. “Nggak sopan, gimana ya, Kay?” Tisha pura-pura tidak mengerti maksud pertanyaan putrinya. “Kenapa merengut gitu sih, Ma? Kata Mama kalo bilang terima kasih harus pake senyum.” Omelan Kayla membuat Tisha menghela napas. Mau tak mau dia pun mengulangi ucapannya disertai dengan senyuman yang tidak dia lakukan sebelumnya. “Udah yuk, Sayang! Sebentar lagi gerbang sekolah kamu tutup lho. Kamu buruan masuk ya! Ingat, perhatikan apa yang diajarkan ibu guru ya, oke? Jangan lupa, bekalnya dihabiskan!" Kayla pun mengangguk, lalu keluar dari mobil dan melupakan gerutuannya tentang diamnya sang ibu selama di dalam mobil. Dia mencium punggung tangan Tisha yang dibalas dengan ciuman oleh wanita yang telah membuka maskernya itu. Tisha hendak mengikuti langkah putrinya masuk melewati gerbang sekolah. Namun, gadis kecil itu berhenti mendadak di depannya dan menunjukkan wajah sok tegas ala anak-anak. “Kay berani sendiri, Mama. Nggak perlu ditungguin, nanti Mama telat ke kantornya.” “Oke, Kay. Pinter ya, anak baik.” Tisha tersenyum. Merasa bangga akan sosok putrinya yang bisa begitu pengertian. Setelah hampir tak terlihat oleh pandangan Tisha, Kayla berbalik. Melambaikan tangan pada Tisha yang masih menunggunya hingga masuk ke dalam sekolahnya yang baru. "Sekarang bagaimana ini? Masa aku cuma berdua aja sama Bram di mobil." Tisha merasa cemas. Dia pun mulai mengenakan kembali masker yang sempat dilepasnya. "Pokoknya aku nggak mau bareng sama dia. Lebih baik aku naik bus daripada harus diantar Bram." Setelah memutuskan hal itu, Tisha mengembuskan napasnya dengan kasar, lalu berbalik dan seketika wanita itu terperanjat saat Bram ternyata sudah berdiri di samping mobil dengan tangan dilipat di depan d**a. Ketika pandangannya bertemu dengan pandangan mata Bram, sorot kebencian kembali tampak di kedua matanya. “Kamu bisa lanjut sendiri, aku naik bus aja. Maaf kalau tadi sudah merepotkanmu." Tanpa menunggu jawaban Bram, Tisha pun melangkah pergi. Namun tanpa dia duga, Bram tiba-tiba meraih tangannya hingga langkahnya terhenti. "Lepaskan!" Tisha coba melepaskan dengan sekuat tenaga. Akan tetapi, semua yang dilakukannya percuma karena Bram tak membiarkan genggamannya terlepas hingga wanita itu terpaksa harus ikut masuk ke mobil. "Keluarga kamu sudah menitipkan kamu. Jadi, mau bagaimanapun juga aku harus tetap mengantarmu sampai tujuan. Lagi juga tujuan kita searah." “Nggak! Pokoknya aku mau naik bus!” Tisha tetap menolak sampai sedikit berteriak. “Denger, aku harus tanggung jawab sama keluarga kamu. Kalau nanti kamu kenapa-kenapa, pasti aku yang akan disalahkan oleh mereka. Sudah nggak usah nolak, pokoknya aku akan tetap mengantarmu, Ti-sha,” ujar Bram mengeja nama wanita itu dengan tekanan dan sorot mata yang tajam. Tisha menahan diri untuk tidak marah. Dia rapuh saat ini. Ya, kenapa Bram menariknya untuk masuk kembali dan bahkan pria itu sudah mengetahui namanya? Ah, bodoh sekali, Laras jelas sudah menceritakan tentangnya pagi tadi. Dia merasa konyol dengan masker yang sudah dia kenakan sejak tadi hanya untuk menutupi wajahnya. Tanggung jawab? Kata-kata Bram terngiang di telinga Tisha saat mau tak mau dia menerima tawaran Bram. Sebenarnya dia ingin sekali tertawa saat mendengar pria itu berkata demikian. "Kenapa baru sekarang dia menyadari apa arti ‘tanggung jawab’, terlambat!" Tisha merasa semakin kesal. Hatinya bergetar. Merasakan sakit yang seketika menjalar hingga ke seluruh tubuhnya. Bagaimana tidak, sudah enam tahun berlalu dan Tisha sendirian menghadapi segalanya, semua yang membuatnya down. Semua orang mengecapnya sebagai perempuan yang tidak punya akhlak, apalagi harga diri! Hingga membuatnya terpaksa harus pergi ke luar kota demi menyembunyikan aib yang dia tanggung sendiri. Pria itu kini mulai menyalakan mesin mobil setelah berhasil memaksanya. Tisha pun bersumpah jika ini adalah terakhir kalinya dia menuruti keinginan lelaki itu. Dia sampai menggigit bibirnya, menahan amarah hingga rahangnya ikut mengeras saat melirik sinis wajah Bram yang ada di sebelahnya. "Kenapa? Kenapa dia harus kembali hadir dalam hidupku?" Tisha hanya mampu berteriak dalam hati. Coba bertanya pada Tuhan, walau jawaban itu mustahil dia dapat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD