“Nggak nyangka kalo kita bisa ketemu di sini lagi, Sha,” celetuk Bram, menyembunyikan rasa kaget yang sedari tadi sejak dia menatap wajah Tisha keluar dari rumah Laras. Dia ingat benar bahwa semalam memang Laras membicarakan soal kakaknya, tapi wanita itu tidak menampakkan batang hidung selama acara. Juga, tidak ada bahasan tertentu tentang nama kakak Laras karena semalam mereka memang fokus pada acara pertunangan.
Tisha menarik napas, mengumpulkan ketegaran yang menghilang entah kemana saat mobil melaju ke jalan, menjauh dari kota mereka.
Dengan gampangnya dia bilang ketemu lagi di sini, bahkan ketika aku muak bertemu dengannya.
“Sha, kenapa kamu diam aja?” tanya Bram, melirik ke arah Tisha yang memejamkan mata sejenak.
“Udah nggak usah berbasa-basi lagi. Aku ini calon kakak iparmu.”
Bram melirik ke arah Tisha. Meski wajah itu masih dia ingat, sangat dia ingat. Namun, sepertinya Tisha memang sangat membencinya.
“Maafkan aku, Sha. Aku—“
“Diam, aku tidak ingin kata maaf tentang apapun. Hari ini aku mulai bekerja setelah cuti beberapa waktu dan nanti akan ada manager baru di kantorku. Aku tidak mau terlambat bekerja!”
Untuk menyebut nama pria di sebelahnya, Tisha merasa sangat muak. Sepanjang perjalanan, dia tidak menyebut nama Bram. Pria itu seolah mati di hatinya. Namun, lima tahun mati-matian melupakan dan sekarang tiba-tiba melihatnya, rasanya luka itu kembali ditaburi garam. Perih.
Bram terdiam mendengar ucapan Tisha yang ketus. Dia mencoba menurut dengan mengemudikan mobil menuju ke luar kota. Sesekali, Bram melirik ke spion untuk mencuri pandang wajah Tisha yang lebih cantik dari enam tahun yang lalu.
Enam tahun yang lalu? Ah, Bram kembali menatap ke depan. Luka itu pasti sangat menganga di hati Tisha. Bahkan kata maaf dari mulut Bram pun tidak ingin didengar oleh Tisha.
Satu setengah jam mereka melakukan perjalanan tanpa percakapan. Tisha sampai tertidur di dalam mobil. Bram menghentikan mobilnya ketika sampai di pelataran kantor yang disebutkan oleh Tisha.
“Sha, udah sampai,” ucap Bram. Tangannya mendekat perlahan ke pipi Tisha, tetapi dia ragu.
Tisha membuka matanya lalu mengerjapkan sebentar kedua mata yang baru saja terbuka itu dan kemudian segera membuka seatbeltnya. Tanpa berpamitan pada Bram, Tisha turun begitu saja dari mobil dan berlari masuk ke dalam gedung yang bertingkat itu.
“Sial, terlambat lima menit,” gerutu Tisha, mengumpat keadaan pagi tadi sambil berjalan masuk ke lift.
“Sha—“
Bram menghentikan pertanyaan yang mengusik di otaknya. Ya, tentang Kayla. Entah kenapa rasa penasaran mendorongnya ingin menanyakan hal itu, tapi melihat Tisha yang tidak menggubris panggilannya, Bram hanya diam, tidak melanjutkan.
Tisha turun dan berdecak saat menyadari rambutnya terurai dan karet rambutnya tidak ada. Sementara, dia terlalu malas untuk kembali ke mobil yang masih berhenti di belakangnya.
“Pasti karetku jatuh di mobil waktu aku ketiduran tadi. Huh, andai aku naik bus, tentu tidak akan terlambat seperti ini,” gerutunya lagi, lalu keluar dari lift ketika pintu terbuka.
“Sha, kamu tumben telat,” sambut Gita, sahabat satu ruang kerjanya, mengalungkan tali ID card milik Tisha lalu membantunya mengambilkan sepatu jinjit yang ditinggal oleh Tisha di ruangan untuk acara khusus di kantor. Hari itu, mereka akan menyambut manager baru yang datang dari luar kota.
“Iya. Ada masalah tadi pagi. Aku kan berangkat dari rumah Mama sama Papa di luar kota. Kayla harus sekolah di sana, trus dia ngambeg kalo aku nggak nganterin,” sahut Tisha memaparkan kejadian tadi pagi.
“Oh, jadi kamu udah bawa Kayla ke sana? Mereka udah nerima Kayla?” berondong Gita dengan mimik takjub.
“Alhamdulillah udah. Malahan, mereka yang minta Kayla sekolah di sana. Ya, karena bibi Ranti sekarang udah sakit-sakitan, kasihan juga sih. Jadinya, aku setuju Kayla sekolah di sana. Trus, Kaylanya juga mau,” papar Tisha, menyisir rambutnya yang kusut.
“Syukurlah kalo gitu,” sahut Gita, tersenyum.
Gita, selama ini yang memegang rahasia Tisha. Dia mengetahui semua cerita Tisha tentang Kayla. Anak yang dia lahirkan tanpa ayah dan ditolak oleh keluarganya. Dia ikut bersyukur saat keluarga Tisha sudah terbuka hatinya untuk menerima cucu mereka. Tidak ada yang namanya anak haram. Apalagi, Tisha mengatakan bahwa dulu ayah biologis Kayla mabuk ketika menidurinya sewaktu perpisahan sekolah.
“Kamu beruntung, Sha. Managernya belum dateng. Jadi, nggak ada sanksi untuk keterlambatan kamu,” ujar Gita, melirik ke arah jam di dinding.
Para karyawan masih menunggu kedatangan sang manager baru. Sudah sejak pagi tadi mereka sengaja datang lima belas menit sebelum waktu bekerja agar bisa mempersiapkan semua untuk menyambut manager baru.
“Oh, lega kalo gitu,” sahut Tisha, duduk dan menghela napasnya.
“Kuncir rambut kamu, mana?” tanya Gita, melihat rambut Tisha terurai begitu saja, tidak dirapikan seperti biasanya.
“Jatoh tadi,” sahut Tisha enteng. Dia bisa beli ikat rambut nanti di mall kalau sempat. Ikhlasin aja, toh benda itu tidak lagi penting sekarang karena dia tidak akan lagi mencarinya di mobil Bram.
“Siap-siap! Manager baru mau datang berkenalan sama kita!” teriak salah satu karyawan pria yang berkeliling untuk memberi peringatan pada teman-temannya.
“Ah, ayo, Sha. Kita ke depan pintu!” ajak Gita, menarik tangan Tisha.
“Tampan,” bisik para karyawan perempuan ketika seorang pria memasuki pintu utama dan langsung masuk ke dalam ruang rapat. Sebelum itu, sang manager baru terhenti ketika melihat Tisha yang menunduk melihatnya.
Dia melewati Tisha begitu saja dan langsung masuk ke dalam ruang rapat.
“Fyuh,” ucap Tisha lega.
Degup jantungnya tadi sempat berdetak begitu tahu siapa yang menjadi managernya.
“Kenapa pucet?” tanya Gita.
Tisha heran sekali kenapa sahabatnya itu selalu memergoki apa yang dia rasakan. Tisha hanya menggelengkan kepala, tapi Gita mengejarnya sampai masuk kembali ke ruangan mereka bekerja.
“Sha, cerita, kamu langsung pucet lho, begitu lihat manager itu,” celetuk Gita, melongok ke pintu. Padahal, tidak ada siapa-siapa di sana.
Tisha mengambil kertas dan mulai mencoret-coret seperti kebiasaanya. Sebelum menggambar di layar monitor, dia lebih sering memakai kertas-kertas untuk design aksesories dan baju. Tisha tidak mengindahkan pertanyaan Gita yang masih berdiri di sampingnya. Gita menarik dagu Tisha agar wanita itu menatap padanya.
“Sha, KAMU KENAPA?” tanyanya mengeja pertanyaan yang tadi sempat terlontar.
“Nggak apa-apa,” sahut Tisha, memaksakan senyum. Namun, dalam hati dia kaget juga dengan manager baru.
“Latisha.”
Suara itu membuat jantung Tisha nyaris copot. Gita dan Tisha bersamaan menoleh ke arah sumber suara. Ya, manager baru bernama Liam Santoso itu, sedang berdiri di ambang pintu, menatap tajam ke arah Tisha yang mati-matian menelan salivanya.
“I-Iya,” sahut Tisha, meletakkan semua yang telah dia pegang untuk berdiri memenuhi panggilan managernya.
“Kamu terlambat lima menit di absen. Seharusnya kamu tahu sanksi apa yang harus kamu lakukan,” ujar Liam ketus.
“Tapi saya free—“
“Aku tidak perduli kamu karyawan tetap atau karyawan freelance, kamu tetap harus mengikuti aturan saya ketika ada panggilan kerja!” bentak Liam dengan wajah sinisnya ke arah Tisha yang sekarang rautnya memucat, menambah pias wajah putihnya.
“B-Baik,” sahut Tisha.
“Aku beri sanksi hari ini kamu harus lembur. Ada beberapa produk yang memerlukan design dan itu harus kamu kerjakan hari ini juga!”
Pria itu, menyerahkan setumpuk kertas ke tangan Tisha dan membuat Tisha terbelalak dengan apa yang harus dia kerjakan. Derap langkah Liam terdengar meninggalkan ruangan Tisha. Rasanya lutut Tisha lemas usai pria itu berlalu.
“Sha, kamu sih, pake telat! Makanya bangun pagi kek, atau pake—“
“Git, kamu nggak ngerti apa yang terjadi tadi pagi,” potong Tisha.
“Maaf, Sha. Trus, kenapa itu manager baru ketus banget ya?” gumam Gita, masih dengan kebingungan akan sikap sang manager yang langsung memberi sanksi tanpa sungkan pada Tisha.
“Kamu kenal, Sha?” tebak Gita.
Tisha hanya mengangkat kedua alis dan menghela napas, meninggalkan rasa penasaran dalam diri Gita. Tisha tak memperdulikan pandangan aneh Gita, lalu kembali ke tempat duduknya, tidak menyangka, pria yang dulu melekat di benak karena mengukir masa lalu tidak baik di bangku sekolah Tisha, sekarang malah menjadi managernya. Tisha merasa kesialan bertubi-tubi datang padanya.
“Tapi cakep juga sih itu manager.”
Tisha melirik pada Gita yang bergumam sambil membuka laptopnya. Dia pun melemparkan berkas-berkas yang tadi diberikan oleh Liam ke meja Gita.
“Makan tuh ganteng. Ganteng-ganteng serigala, dia kasih aku kerjaan banyak. Bakal nggak pulang ini,” gerutu Tisha dongkol.