Liam, penghuni ruangan manager baru itu menyeringai dan membuka dompetnya dengan memutar kursi. Dia mengeluarkan sebuah foto seorang perempuan berbaju seragam SMU yang polos dengan rambut lurus panjang terurai di belakang.
“Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi, Tisha. Latisha ....”
Liam menatap wajah di foto itu dengan lekat, mengingat masa lalu yang dia ciptakan menyeramkan bagi Tisha. Buku yang basah, tas sobek, ikat rambut yang lepas dengan meninggalkan sakit di kepala karena tarikan yang keras, baju yang basah karena air comberan mewarnai masa SMU Tisha dan semua itu Liamlah dalangnya. Tisha sampai ketakutan untuk berangkat ke sekolah karena ulah Liam. Jika dilaporkan, Liam hanya kapok cabai seolah menyiksa Tisha adalah kebutuhannya.
Sampai ketika dia menemukan Tisha bersama dengan Bram, teman satu kelasnya, dia merasa sangat marah dan membuat gangguan pada Tisha semakin banyak. Ya, Liam terobsesi dengan Tisha dan sekarang dia menemukan perempuan yang selama ini dia cari karena selama enam tahun dia mengadakan reuni pun, perempuan berhidung mancung dan berkulit putih dengan kedua mata sipit itu, tidak pernah memperlihatkan batang hidungnya.
Liam memegang dadanya yang berdebar ketika mengingat Tisha ada dalam satu kantor bersamanya.
“Aku tidak perduli dia adalah karyawan freelance, dia harus kerja lembur hari ini, bersamaku,” desis Liam, menyeringai. Dia bagai menemukan harta yang paling berharga.
Kepindahannya ke luar kota, meski berat hati membuat Liam terpaksa mau ditempatkan di tempat baru karena sebelumnya dia bekerja di perusahaan lain. Ternyata, rasa berat itu sekarang berubah menjadi musim semi yang memekarkan bunga-bunga dalam hatinya. Ya, Tisha adalah tersangka yang membuat bunga-bunga itu mekar. Liam tidak lagi merasa berat. Ada sesuatu yang membuatnya sangat ringan dan senyumnya terkembang saat ini. Mungkin jika dia mewujudkan niatnya mengundurkan diri dari kenaikan jabatan waktu itu, dia tidak akan bisa bertemu dengan sosok yang dicarinya selama ini.
***
Bram membasuh wajahnya dengan air yang mengalir dari kran di wastafel tempat dia bekerja. Sungguh, hari itu dia tidak bisa berkonsentrasi bekerja, padahal ini adalah hari pertamanya bekerja di cabang perusahaan milik ayahnya.
“Kenapa, Pak Bram membatalkan pertemuan dengan klien penting hari ini?” desis para kepala divisi, heran.
Mereka tidak tahu bahwa ada sekelumit rasa yang terus mengganggu Bram sejak pagi tadi. Apa yang telah dia persiapkan untuk memulai pekerjaan, buyar seketika dengan kemunculan Tisha, bahkan dekat dengannya. Rasa itu kembali hadir, rasa yang telah mati-matian dia lupakan demi masa depannya.
“Tisha dan Kayla, kenapa mereka hadir di waktu yang salah? Siapa Kayla?”
Berbagai pikiran berkecamuk dalam kepala Bram. Dia memejamkan kedua mata, menggoyangkan kursi putarnya, tapi tidak juga dia temukan perasaan tenang. Semua hal membayangi dirinya. Dia semakin tidak konsentrasi ketika meraba usia Kayla.
“Lima tahun.”
Bram menyugar rambutnya. Sekarang ini, dia belum siap mengawali pekerjaannya. Padahal semalaman dia sudah mempersiapkan diri. Semua orang merasa aneh dengan sikapnya. Merasa anak pemilik perusahaan itu gugup atau enggan untuk bekerja. Bram tidak perduli. Dia belum mau memulai bekerja jika pikirannya terganggu. Mungkin satu atau dua hari setelah rasa shocknya tadi memudar dan itu mungkin akan kembali jika melihat Tisha.
“Aku benar-benar tidak bisa memulai,” ucapnya pada sang sekertaris perusahaan yang menanyakan tentang agenda hari itu.
“Apa kita harus menunda dulu sampai besok, Pak?” tanya gadis berkacamata yang seusia Laras, dengan sopan.
“Ya, tunggu sampai besok. Katakan pada para kepala divisi untuk mencancel rapat hari ini. Lakukan pekerjaan hari ini seperti biasa. Aku tiba-tiba sait kepala.”
Gadis itu menatap Bram dengan empati. Dia merasa mungkin pria itu sedang terkena sindrom nervous atau apa. Dia pun mengangguk dan mencoba untuk menghubungi para kepala divisi untuk mengatakan keadaan atasannya.
Bram meraih kunci mobil, lalu bergegas keluar dari ruangan, tidak dia tanggapi orang-orang yang bertemu dengannya.
“Masa bodoh. Aku juga tidak bisa bekerja dengan keadaan pusing ini.”
Dia masuk ke dalam mobilnya siang itu, lalu mengitari kota untuk mencoba menghilangkan pikirannya. Namun, apa yang dia lakukan sepertinya kurang berhasil. Dia tetap melajukan mobil ke arah pagi tadi dia mengantar Tisha.
Dia sendiri tidak mengerti kenapa memutar kemudia ke sana. Melihat tali rambut itu, Bram mendapatkan ide.
Siang itu, Bram sudah memarkir mobilnya di depan perusahaan tempat Tisha bekerja. Dia menunggu wanita itu keluar dari bangunan yang menjulang tinggi, tapi sampai sore Tisha belum juga muncul.
“Apa aku harus menemuinya?” gumam Bram yang mulai khawatir tentang Tisha. Juga ingin sekali menemukan jawaban tentang pertanyaan soal Kayla pada Tisha. Ponselnya berbunyi dan itu Laras. Bram mengangkat panggilan tunangannya itu.
“Ya, Laras?” sambut Bram.
Di ujung sana. Laras mengerutkan dahinya mendengar panggilan nama itu.
“Laras?” tanyanya mengulang, meyakinkan pendengarannya.
“M-Maaf, Sayang, ada apa?” ralat Bram. Tisha telah mengacaukan pikirannya sampai panggilan pada Laras pun tidak dia ingat.
“Oh, kukira kamu lupa memanggilku, Yang. Gimana hari ini? Lancar?” tanya Laras di ujung sana, menyempatkan diri di saat siang dia baru akan istirahat untuk makan siang usai menemui banyak customer.
“Lancar,” sahut Bram singkat.
Entah kenapa kehadiran Tisha membuatnya merasa aneh dan gugup saat dihubungi oleh Laras. Padahal, sebelum ini dia sungguh berniat akan mengakhiri masa lajangnya karena telah lama dia sendiri.
“Kamu kenapa sih?” tanya Laras, merasakan ada hal yang berbeda dari nada suara Bram.
Bram memejamkan kedua mata, menarik napas sejenak lalu mengembuskan agar dia merasa lebih relax. Sambil menatap ke kantor di mana Tisha bekerja, dia menjawab pertanyaan Laras.
“Aku Cuma lagi grogi aja tadi di depan para kepala divisi,” dustanya.
Sebenarnya, Bram belum jadi mengadakan meeting dengan kepala divisi sesuai dengan agenda hari ini. Di otaknya berputar tentang Tisha dan masa lalunya bersama wanita itu. Juga bayang-bayang tentang kehidupannya sekarang bersama anak gadisnya yang bernama Kayla.
“Bram!”
Bentakan Laras membuat Bram terkejut setengah mati. Dia mengelus dadanya karena seperti terbangun dari tidurnya memimpikan seorang Tisha.
“Iya, Sayang. Maaf, aku sibuk sekali. Di luar masih banyak karyawan yang harus diatur karena perusahaan cabang milik ayah ini baru dibangun, perlu pengaturan awal yang kokoh.”
“Ah, oke. Aku ngerti. Tadi aku bicara panjang lebar dan kamu Cuma diam, Bram. Jaga kesehatanmu.”
Untunglah, pengertian Bram membuat Laras meminta maaf atas segala sikapnya. Bram berhasil membuat Laras menyudahi panggilannya. Dia lalu kembali menunggu kemunculan Tisha hingga petang tiba.
***
Liam menatap Tisha dari ruangannya dengan lekat. Apalagi, melihat wanita itu sibuk sekali menyelesaikan design logo baru perusahaan fashion yang dia manageri sekarang ini. Jadi, sekarang Tisha bukan hanya mengerjakan design baju, tapi juga membuat logo. Sungguh hal yang baru bagi Tisha yang biasa membuat gambar manusia dengan pakaiannya.
“Gila, mana sendirian lagi?” gumam Tisha yang tidak sadar diperhatikan oleh Liam dari kamera CCTV yang menyorot tepat ke arahnya.
Waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam dan Tisha belum juga menyelesaikan logo yang selalu salah di mata Liam.
“Dia itu, dulu bully aku, sekarang ngerjain aku. Maunya apa sih?” gerutu Tisha.
Dia melempar mouse ke meja dan meluruskan pinggang yang sepertinya bengkok hanya dalam sesorean itu untuk mengerjakan apa yang diminta oleh Liam.
“Capek,” sungut Tisha.
Dia meletakkan kepalanya di atas meja, lalu memejamkan kedua matanya karena merasa sangat kelelahan. Tidak berapa lama, Tisha terlelap dengan posisi menelungkup di atas meja. Liam mengerutkan dahi melihat kelakuan Tisha.
“Tidur?”
Dia berdecak, lalu berjalan ke ruangan di mana Tisha biasa mengerjakan designnya. Biasanya, Tisha akan mengerjakan di rumah, tapi kali ini Liam tidak mengijinkannya untuk membawa pulang pekerjaan itu.
Liam berdiri di samping wanita yang tertidur pulas. Lalu menatap lekat bidadari yang nyata, bukan lagi dari kamera CCTV. Dia hendak mengelus pucuk kepala wanita itu, tapi keburu Tisha mengangkat kepalanya dan bangun. Terkejut melihat Liam ada di sebelahnya.
“P-Pak Liam?”
Tisha segera berdiri dan merapikan diri. Liam pun menarik tangan yang hendal terulur dengan gugup. Namun, akhirnya dia bisa menguasai diri.
“Heh, disuruh ngerjain tugas malah tidur. Mau jadi karyawan apa kamu itu?” sungut Liam kesal.
Dia menarik kertas yang telah rapi di printer lalu membawanya.
“Cukup. Kamu pulang sekarang. Aku antar,” ucap Liam dengan nada datar, meninggalkan Tisha untuk masuk ke ruangannya sendiri.
Tisha melongo mendengar ucapan Liam.
“Antar? Ada angin apa dia mau ngantar aku? Kenapa dia ‘baik’?” gumam Tisha, menepuk pipinya.
“Sakit,” ujarnya mengaduh karena itu bukanlah mimpi, Liam menawarinya kebaikan.
“Ayo cepat, aku tinggal nanti kalo kamu lambat. Malam-malam gini, bukan mau baik sama kamu, tapi karena aku bertanggung jawab pada karyawan biar tidak ada kejahatan di jalan yang membahayakan.”
“I-Iya,” sahut Tisha, lalu bergegas mengemasi barang-barangnya.
“Lumayan juga sih, bisa ngirit,” gumamnya, segera membawa tas dan menyambar jasnya keluar dari ruangan.
“Jalannya cepat sekali,” gerutu Tisha mengikuti langkah Liam keluar dari perusahaan. Hanya ada seorang satpam yang berada di depan, menawarkan Liam untuk mengambilkan mobilnya, tapi Liam ingin mengambil sendiri mobilnya.
“Kamu tunggu di sini,” pesannya pada Tisha.
Tisha berhenti mendadak dan menunggu dengan patuh di depan pintu perusahaan. Bram yang nyaris menyerah berbalik pulang, wajahnya berbinar melihat sosok wanita yang dia tunggu dari siang tadi. Tanpa menunggu lagi, dia pun turun dari mobil dan menyeberang, bergegas menemui Tisha dengan d**a berdegup kencang. Rasa itu, sekarang kembali lagi dia rasakan. Padahal sudah enam tahun berlalu dan sekarang kembali dengan rasa yang sama, bahkan lebih.
Rasa lemas menunggu tidak Bram rasakan lagi ketika melihat Tisha akhirnya keluar dari gedung itu. Dengan gugup, Bram memanggil Tisha.
“Sha.”
Tisha menoleh, tidak bisa menyembunyikan wajah kagetnya dengan kedatangan Bram di sana.
“Bram? Ngapain?” tanya Tisha ketus karena rasa bencinya mulai hadir lagi. Tangannya terkepal di samping. Sehari ini, dia bisa melupakan soal Bram, tapi pria itu malah muncul lagi.
“Aku mau jemput kamu pulang.”
Dengan memberanikan diri, Bram mengungkapkan maksud kehadirannya. Namun, niatnya pungkas ketika seseorang datang di belakang mereka.
“Dia bareng aku,” sahutan lelaki di belakang Bram membuatnya menoleh, tak kalah kaget ketika melihatnya. Dia sangat mengenal lelaki itu.
“Liam?” ucap Bram mendesis, nyaris tak bersuara. Lelaki yang sudah memasukkan kedua tangannya di saku, menatap nyalang pada Bram.
“Ya, dia bareng aku.”