Suasana pantai kala itu memang menyenangkan dengan hawa sejuk angin dan bunyi deburan ombak yang tidak membahayakan. Tisha mengoleskan sunblock di kulit Kayla usai mengoleskannya di kulitnya sendiri. Walau pikiran Tisha kacau bagaimana dia bisa menjelaskan pada Liam soal Kayla.
“Kenapa semua jadi begini?” gerutu Tisha yang menyesali keputusannya.
“Mama, kenapa piknik malah sedih gitu?”
Celetukan Kayla membuat Tisha tersadar bahwa ini harusnya menjadi suasana yang menyenangkan, bukan malah membingungkan Kayla.
“Nggak, Mama Cuma agak sakit perut tadi. Sekarang, nggak apa-apa, kok!” sahut Tisha, berkilah agar anaknya senang.
Benar saja, Kayla menerbitkan senyumnya dan berlari ke arah pantai usai selesai dengan krim pelindung cahaya matahari itu. Teriakan Tisha membuatnya makin senang. Mereka langsung bermain dengan air laut yang tenang.
Namun, kebahagiaan itu tidak berpijak pada semua orang. Liam benar-benar tidak menikmatinya. Sepanjang perjalanan tadi, dia masih terganggu dengan sosok gadis kecil yang bersama mereka. Namun, gadis kecil bernama Kayla itu selalu minta pertolongan pada Bram juga, setiap kali anak itu memanggil Tisha dengan sebutan ‘Mama’.
“Nak Liam, nggak ikut menikmati air pantai?” Pertanyaan Astrid membuat Liam tersentak.
“Eh, nggak, Tante.”
“Lupa nggak bawa baju atau gimana?” tanya Astrid lagi, mencoba mengenal pria yang tadi pagi dikenalkan padanya sebagai kekasih Tisha.
“Mau duduk aja di sini, Tante.” Liam sedikit menatap ke payung raksasa yang menaunginya dari terik matahari.
Astrid tersenyum. Ini adalah kesempatannya untuk mengenal lebih dalam siapa Liam. Sesuai dengan pikirannya, Astrid mau pasangan Tisha itu bisa menerima Tisha dan Kayla. Apalagi, Liam sepertinya masih single.
“Kayla memang sulit untuk didekati, apalagi dengan orang yang baru kenal. Nggak apa-apa, Nak Liam. Nanti juga dia akan bisa lengket. Kayak Bram, lihat dia udah dekat sama Oomnya,” ujar Astrid tidak secara langsung menunjuk ke Kayla yang tiba-tiba sudah digendong oleh Bram, ketakutan dengan ombak yang menerjang lembut.
“Ya,” sahut Liam lirih. Dari situ, beberapa pencerahan tentang Kayla telah dia simpulkan.
Setelah itu, Astrid bertanya tentang segala macam pekerjaan Liam, seperti yang biasa ditanyakan oleh seorang ibu pada calon menantunya.
“Tante berterima kasih jika Nak Liam mau menerima Tisha dengan Kayla. Masa lalu yang tidak baik dengan ayah Kayla, membuat segalanya menjadi kacau.”
“Tisha ... bercerai dengan suaminya?” Pertanyaan yang begitu saja meluncur dari mulut Liam.
Ada keraguan yang tertangkap dari wajah Astrid usai pertanyaan itu diluncurkan. Astrid menarik napas sebelum menjawab.
“Ya, begitulah.”
Liam mengangguk-angguk, meski rasanya janggal. Tapi dia cukup tahu tentang Tisha dan Kayla. Dia mendengarkan saja perkataan-perkataan yang meluncur dari mulut Astrid sambil berkelana dengan pikirannya sendiri.
***
Laras mengerutkan dahi ketika melihat Kayla menempel terus pada Bram. Dia merasa kesal karena tidak bisa menikmati waktunya dengan tunangannya itu.
“Mama, Oom Bram! Sini! Pegang tangan Kayla.”
Tisha speechless menyadari keceriaan sang anak yang telah menggenggam erat tangan kanannya, sementara tangan kanan anak itu sendiri menggenggam tangan kiri Bram. Untuk protes sudah tidak sempat lagi karena deburan ombak menerpa mereka bertiga.
Tisha yang tidak siap nyaris terguling, lalu Bram dengan tangkas memeluk tubuh Tisha agar tidak jatuh.
“Wah, untung Oom Bram pegang Mama!” ujar Kayla takjub.
Tisha kaget sekali. Dia berupaya melepaskan tangan Bram.
“L-Lepasin.”
“Maaf.”
Bram sontak perlahan melepaskan tangan yang otomatis sekali melindungi Tisha ketika dia akan terhuyung. Dia sempat menatap Liam yang langsung berdiri melihatnya. Bram melangkah menjauh dari Tisha dan Kayla untuk mencari Laras yang ternyata sudah tidak berada di sekitarnya. Bram keasyikan bermain dengan Kayla sampai melupakan Laras.
“Oom Bram! Mau ke mana?” teriak Kayla, yang langsung ditarik oleh Tisha agar ikut dengannya mencari kerang untuk mengalihkan perhatian Kayla pada Bram.
“Sebentar ya, Kayla? Oom Bram haus,” sahut Bram agar gadis kecil itu tidak merasa dia hindari.
Kayla mengerti, lalu mengikuti ibunya menelusuri sisi pantai untuk mencari kerang. Anak itu mulai suka dengan kegiatan barunya.
Bram menemukan Laras sedang duduk di pinggir pantai dengan wajah mendung. Dia duduk di samping Laras yang meminum air kelapa muda.
“Kamu pesen sendiri?” tanya Bram.
“Iya, kenapa? Dari tadi aku juga sendiri. Kamu bahkan malah main sama keponakanku itu. Kamu lupa ya sama aku? Aku yang ajak ke pantai biar kita bisa menikmati kebersamaan, malah sejak berangkat dari rumah sampai ke pantai, anak itu menyabotase kamu.”
Bram mengerutkan dahi. Dia tidak merasa itu adalah masalah yang besar. Toh, Cuma anak-anak?
“Dia keponakanmu, Sayang. Nantinya juga bakal jadi keponakanku. Jadi, semestinya aku sebagai calon Oomnya, senang kalo bisa dekat sama keluargamu, kan?” tukas Bram, heran. Namun, di sisi lain, ada rasa yang membuncah dari dalam hati Bram ketika dia bisa menghabiskan waktu bersama Tisha dan Kayla tadi.
“Kalian malah kayak keluarga,” sungut Laras, menyeruput air kelapa mudanya dengan kesal hingga terbatuk-batuk.
“Iya, mereka juga keluargaku, kan? Aku udah anggap—“
“Cukup! Kamu tunangan aku, Bram. Nggak seharusnya kamu malah dekat sama Kak Tisha. Kamu itu calon suamiku. Malah deket sama Tisha! Dia itu perempuan nggak bener—“
Bram membulatkan kedua mata mendengar ucapan Laras. Dia menatap Laras yang tampak kikuk usai mengeluarkan kalimat terakhirnya tadi. Laras menyibukkan diri dengan kelapa mudanya. Namun, Bram menangkap ada yang aneh dengan sikap Laras.
“Perempuan nggak bener? Maksud kamu apa? Dia bukannya kakak kandung kamu sendiri, kan?” ucap Bram, mendekat ke Laras.
Laras tidak menjawab pertanyaan Bram. Dia hanya berdecak, dan beranjak dari situ, entah ke mana. Bram menggelengkan kepala dengan tingkah kekanakkan Laras. Dia tidak juga mengikuti Laras, malah membiarkan gadis itu pergi ke toko-toko dekat pantai. Kalimat Laras sangat mengganggu pikiran Bram.
“Nggak bener gimana maksud dia,” gumam Bram.
Pikirannya teralih saat melihat Tisha telah bersama dengan Liam dan Kayla yang tampak masih menjauh dari Liam. Bram beringsut agar bisa melihat mereka dari kejauhan, agar Kayla tidak lagi mencarinya, meski rasanya sakit di dalam d**a melihat mereka bertiga.
***
Liam memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Dia mendekat ke arah Tisha yang berjongkok mencari kerang.
“Jadi, kamu udah punya anak,” desis Liam, membuat Tisha menghentikan kegiatannya.
Tisha menghela napas. Ya, cepat atau lambat Liam akan mengetahui hal ini. Semalam dia sudah berpikir soal pekerjaan. Dia sudah siap jika dikeluarkan dari perusahaan karena statusnya tidak single seperti yang tertera di kartu identitasnya.
“Jadi kamu udah tau Kayla itu anakku,” sahut Tisha.
“Siapa ayahnya?” tanya Liam, ikut berjongkok mengambil sebuah kayu dan mencoret-coret pasir dengan asal.
“Kamu nggak perlu tahu.”
Hati Liam sebenarnya sudah hancur ketika mendengar bahwa Tisha telah memiliki seorang anak dan telah menikah, kata ayah dan ibunya tadi. Sungguh, cintanya besar pada Tisha, tapi jika mengetahui kenyataan seperti ini, Liam mungkin berpikir dua kali untuk bersama dengan Tisha yang mungkin belum selesai dengan masa lalunya.
“Jadi, kalian berpisah setelah kamu melahirkan Kayla?” tanya Liam menelisik hal yang aneh terdengar di telinganya tadi.
“Ya ... seperti yang kamu dengar dari cerita kedua orang tuaku.”
Tisha sudah lelah dengan kebohongan. Biarlah kedua orang tuanya yang menjelaskan sesuai dengan skenario buatan mereka.
“Trus, gimana soal kerjaan? Kamu bohong kalo bilang—“
“Aku melakukannya demi Kayla. Kamu nggak ngerti rasanya jadi single parent. Aku akan melakukan kebohongan demi memberi nafkah anakku. Meski dosa sekalipun.”
Tisha tersenyum miris. Dia membohongi manager HRD bahwa dia masih single, demi mendapatkan pekerjaan yang sekarang ini begitu sulit didapat karena memperhitungkan pendidikan. Semua harus minimal lulusan sarjana, sementara dirinya tidak. Hanya ada satu lowongan yang pas dan itu harus berstatus single waktu itu. Akhirnya, Tisha harus berbohong apalagi dirinya memang belum menikah.
“Trus, kamu mengubah statusmu dulu dari menikah jadi tidak menikah sebelum melamar kerja?” tanya Liam, menatap ke arah Kayla yang memandangnya aneh.
“Iya. Sekarang terserah kamu, kamu udah tahu segalanya soal aku. Kalo aku dikeluarkan dari perusahaan, itu risikoku.”
Tawa Liam keluar seiring dengan bunyi coke yang dia buka. Dia tertawa kering. Merasa dirinya adalah orang yang bodoh, tidak tahu apa-apa.
“Kalo itu, aku bisa diam, ikut menyembunyikan statusmu. Namun, tentang aku? Kamu bohong padaku, Tisha!” ucapnya kesal, meneguk coke yang kalengnya agak penyok karena tangannya terlalu erat meremas kaleng itu, meluapkan kekesalannya.
“Bohong? Kamu belum mengenalku, Liam, tapi kamu udah memintaku menjadi kekasihmu. Mana bagian bohongku? Jika saja kamu memberiku waktu menjelaskan tentang hidupku, maka dengan senang hati aku akan mengatakannya,” sahut Tisha.
Mereka berdua terdiam usai berdebat kecil. Bermain dengan pikiran mereka sendiri-sendiri. Liam yang merasa bodoh, dan Tisha yang merasa memang Liam belum mengenalnya lebih dalam. Hanya ada bunyi desiran laut di dalam pikiran mereka.
Sementara itu, Bram yang duduk di sisi pantai, merasakan sesuatu dalam dadanya sakit melihat kebersamaan Tisha dan Liam. Dia memilih beranjak untuk mencari Laras lagi. Ada rasa nyeri melihat Tisha duduk berdua bersama dengan Liam di sana.
Diam-diam juga, Kayla sudah berada di antara kakek dan neneknya. Dia pun gusar karena mencari Bram dari tadi dan tidak berhasil menemukan lelaki itu.
“Oom Bram di mana, sih, Kek, Nek?” tanya Kayla, mengedarkan pandangannya ke sekitar.
“Lho, kan Kayla sama Oom Liam dan Mama? Kenapa nyariin Oom Bram?” tanya Astrid.
Kayla masih mengerucutkan bibir, tidak mengerti juga dengan hatinya. Kenapa ada teman ibunya, tapi dia malah mencari Bram.
“Enak sama Oom Bram,” sahut Kayla, jujur dengan hatinya.
Astrid menghela napas. Dia menarik tangan Kayla agar duduk di pangkuannya, memberikan s**u kotak pada anak itu agar sebentar melupakan keinginannya.
“Sini Kayla Sayang. Oom Bram lagi sama Tante Laras, kita tunggu di sini, ya? Tadi Kayla udah main sama Oom Liam?” tanya Astrid lagi.
Kayla menyedot susunya, menggelengkan kepala, enggan sekali melakukan apa yang ditanyakan oleh Astrid.
Rahman mengelus kepala cucunya. Merasa miris, bahwa Kayla memang belum bisa menerima orang dengan mudahnya. Dia hanya berharap semoga kehidupan Tisha dan Kayla berubah usai Liam datang dalam hidup mereka.
***
Laras membawa satu kantong belanjaannya. Empat setel baju yang dia pilih karena pelampiasan rasa kesalnya pada Bram. Dia melirik bertambah kesal pada Bram, bisa-bisanya lelaki itu malah membawa satu setel baju seusia lima tahun. Buat siapa lagi kalau bukan Kayla.
“Bram, ngapain pake beliin—“
“Sayang, kalo ada anak-anak aku pengennya beli—“
“Terserah!” gerutu Laras meletakkan belanjaannya ke meja kasir. Dia merasa sangat dongkol ketika Bram masih saja memikirkan Kayla. Meski hanya satu setel pakaian, tapi entah kenapa dalam hati dia merasa perhatian Bram terlalu besar untuk gadis kecil itu.
“Laras Sayang, jangan marah. Dia udah nggak punya ayah, mungkin dia butuh sosok ayah yang dekat dengannya.”
“Jadi, begitu? Itu urusan ibunya! Bukan urusan kita!” bentak Laras yang begitu kesal, makin kesal karena Bram bukannya menenangkan, tapi malah makin memberinya pengertian-pengertian yang menurut Laras tidak perlu.
“Laras! Kamu kenapa begitu sama keponakan sendiri?” ujar Bram, tidak suka dengan sikap Laras.
“Suka-suka!” omelnya, meninggalkan Bram sambil membawa kantong berisi belanjaan, meninggalkan baju yang dipilih oleh Bram untuk Kayla.
Bram menggelengkan kepala, meminta kasir untuk menghitung semua belanjaan dan memberikan kantong lagi untuk baju anak-anak yang dia letakkan di meja kasir.
***
Tisha telah membersihkan diri, bersama dengan Kayla yang tampak cantik dan rapi lagi setelah puas bermain air. Lalu, mereka telah masuk ke dalam restoran seafood di sekitar pantai. Semua duduk dalam satu meja besar dengan kursi yang cukup untuk mereka. Seorang pelayan memberikan daftar menu.
“Mama, Oom Bram beliin Kayla baju.”
Gadis kecil itu menunjuk ke kantong berwarna putih dengan wajah ceria. Liam menatap ke arah Bram yang tersenyum melihat kelakuan anak kecil itu. Dia masih dengan pikirannya sendiri, tentu tidak siap dengan keadaan Tisha, membuat pikirannya masih terusik.
“Udah bilang makasih sama Oomnya?”
Sengaja Tisha tidak menyebut nama Bram. Dia masih menyibukkan diri dengan beberapa nama makanan yang aman untuk sang anak. Tidak pedas dan tidak menimbulkan alergi.
“Udah,” sahut Kayla lirih, lalu Tisha tidak memperhatikan di mana Kayla duduk setelah itu.
“Kayla, duduk di dekat Mama!” ujar Laras yang semakin kesal pada gadis kecil itu.
Tisha sedikit menurunkan daftar menunya mendengar ucapan Laras dan melihat Kayla telah duduk di pangkuan Bram.
“Ras,” ujar Astrid, menyadari anak perempuannya agak marah dengan sikap Kayla.
Tisha sadar diri akan hal itu.
“Kay, sini, Kay. Coba Kayla mau pesan apa, sini,” ajak Tisha pada anak perempuan yang sepertinya sedih karena bentakan Laras.
Kayla turun dari pangkuan Bram, lalu berjalan ke arah ibunya lagi dan kali ini duduk di antara Liam dan Tisha. Laras mencebik saat mendengar Bram berdecak karena ulahnya.