Wajah Liam seharian uring-uringan karena Tisha tidak berada di sekitarnya. Mungkin juga karena rasa gelisah dengan jawaban yang akan diberikan oleh Tisha. Jika saja dia menunda, tapi rasanya dia harus mengungkapkannya secepatnya agar tidak lagi kehilangan jejak Tisha. Menunggu adalah sesuatu yang membosankan, tapi harus dilakukan oleh Liam dan Tisha tidak pernah mengatakan kapan dia akan memberikan jawaban.
“Udah lama, eh dia nolak. Derita banget,” gumam Liam yang baru saja sampai di apartemennya, melempar jas ke ranjang lalu merebahkan diri. Baru semenit dia duduk, ponsel berbunyi nyaring. Liam berdecak malas untuk membuka pesan yang entah dari siapa. Namun, hatinya tergelitik untuk membukanya.
“Tisha?” gumam Liam terlompat dari tidurannya. Siapa sangka wanita itu akan menghubunginya duluan.
Dengan bersemangat, bagai terisi baterai full, Liam sontak duduk dan membuka pesan tergesa-gesa. Dia membaca kata demi kata yang dikirimkan oleh Tisha.
“Apa? Piknik? Mimpi apa aku semalam, Tisha mengajakku pergi piknik bersama keluarganya?”
Liam bersorak, keluar dari laman pesan lalu masuk ke contact. Dia tidak sabar mengetikkan balasan untuk Tisha. Dia ingin mendengar langsung penuturan Tisha.
“Halo, gimana?” tanya Liam.
“Gini, aku ajak kamu besok untuk ikut piknik sama keluargaku ke pantai. Kamu mau?” tanya Tisha.
“Boleh. Besok ya?” tanya Liam, melirik pada pergelangan tangannya. Di sana, melingkar jam tangan yang menunjukkan waktu itu sudah malam, tapi untuk Tisha, selalu ada waktu untuk pulang ke kotanya. Jika dibutuhkan malam ini juga Liam akan pulang.
“Eh, kamu ada di tempat kerja atau—“
Tisha menyesali kenapa langsung mengajak Liam, padahal dia tidak tahu posisi lelaki itu. Hal yang mendesak membuat Tisha nekat untuk langsung mengajak Liam.
“Besok aku pastikan bisa datang. Nggak usah banyak tanya,” sahut Liam, membuat Tisha mengerutkan dahi.
“Oh, oke. Makasih Liam.”
Hening di antara mereka. Di situ, Liam tergerak untuk menanyakan ungkapan hatinya waktu itu pada Tisha. Dia meneguk saliva, merasa gugup dengan pertanyaan yang akan dia ulang.
“Sha.”
“Y-ya.”
Sepertinya Tisha juga telah merasa bahwa Liam akan menagih janjinya.
“Mau kamu jawab sekarang?” tanya Liam.
Tisha memejamkan kedua matanya. Dia sungguh tidak berharap demikian, tapi desakan keluarganya membuat Tisha ingin mencoba untuk membuka hatinya. Rasanya, Liam bukan orang yang kejam dan urakan seperti dulu dia kira. Sepertinya, dia adalah pria yang baik. Urusan hati, itu bisa diperjuangkan nanti.
“Y-ya,” sahut Tisha, memantapkan diri.
Liam menyunggingkan senyuman di sudut bibir. Namun, tidak memungkiri ada rasa takut, tapi jika dilihat dari ajakan Tisha, sepertinya jawaban ini akan membuatnya senang.
“Apa?” tanya Liam karena Tisha tak kunjung memberikan jawaban.
“Ya,” sahut Tisha cepat.
Liam merasakan bunga-bunga kecil yang kuncup di dalam hatinya mulai mengembang dan bermekaran.
“Apa, Tisha? Aku nggak denger.”
“Iya, aku mau, Liam.”
Liam menarik napas lega, plong sekali rasanya begitu mendengar jawaban yang memuaskan hati, membuat dirinya bagai melayang dan bahagia. Rasanya ingin melakukan sebuah selebrasi seperti pemain bola lakukan usai menendang bola masuk ke gawang lawan. Namun, itu kekanakkan.
“Bener, Sha?” tanya Liam, masih ada keraguan dalam hati. Ingin rasanya mendengar beratus kali jawaban dari mulut Tisha, bahkan dia belum puas rasanya jika belum bertemu dengan Tisha-nya.
“Iya, Liam.”
“Makasih, Tisha. Jadi sekarang kamu pacarku, dan aku pacarmu.”
Liam tersenyum lega. Rasa kesal yang tadi dirasakan, serasa bubar tak lagi dia rasa, berubah menjadi kebahagiaan penuh, memenuhi di dalam d**a. Tisha tersenyum tipis. Masih mencoba merasakan kemantapan dirinya bahwa Liam pun baik untuknya.
***
Tisha meletakkan ponselnya, lalu mendekati anak perempuan yang sedang tidur di atas tempat tidurnya dengan nyenyak. Tisha ikut berbaring di samping anaknya. Menatap wajah polos itu dengan trenyuh. Tangan Tisha perlahan mengusap dahi anaknya. Kedua matanya menghangat melihat wajah itu.
“Maaf ya, Nak. Mama sebenarnya tidak ingin seperti ini. Kamu masih begitu kecil untuk memikul beban berat seperti ini. Apa yang terjadi pada Mama, betapa ingin tidak berakibat padamu, Nak. Namun, ternyata kamu harus merasakan akibat semua ini ....”
Basah kain bantal yang dipakai oleh Tisha, karena rembesan air matanya. Hidung Tisha memerah menahan isak. Dia tidak ingin mengganggu tidur Kayla. Namun, rasanya menyesakkan.
“Semoga Oom Liam bisa menerima kamu, Nak.”
Tisha meraup wajah, meredakan tangisnya, berharap bahwa keputusannya akan membawa perubahan untuk Kayla. Dia berencana untuk menemani Kayla, meski harus bekerja di dalam kota. Tisha tahu diri. Dia tetap harus bekerja meski suatu saat ada seorang lelaki yang sudi untuk masuk dalam hidupnya. Dia tidak mau Kayla menjadi beban bagi pria itu. Kayla adalah sepenuhnya tanggung jawabnya.
“Nak, sekolah yang pinter, ya? Kamu harus hidup dengan baik. Apa yang terjadi pada Mama, tidak boleh terjadi padamu. Apapun akan Mama lakukan demi kamu, Nak.”
Kedua mata Tisha terpejam, dia berusaha untuk tidur agar bisa sejenak melupakan masalahnya. Namun, kedua mata itu sekarang belum bisa diajak berkompromi, seolah matanya ikut berkontribusi untuk memikirkan masalahnya.
Sementara itu ketika Tisha mencoba terlelap, Liam sudah mengemudi mobilnya dengan santai ke kota kelahirannya malam itu juga. Usai Tisha mengakhiri telepon tadi, Liam bergegas bangkit dan bergerak untuk segera pulang ke kotanya. Tak putus senyuman Liam, menatap di atas dashbor mobil, sebuah pigura kecil dengan foto wanita yang sekarang menjadi kekasihnya.
“Aku sayang sama kamu, Sha. Makasih. Meski Cuma baru ikatan sebagai sepasang kekasih, tapi aku berusaha untuk mempercepat hubungan ini menuju ke jenjang yang lebih serius. Aku janji, Sha. Aku nggak ingin kehilangan kamu lagi.”
Lantunan lagu romantis mengalun dari tape mobil. Liam ikut menyanyi dengan keras. Dia sangat bersemangat, menikmati perjalanan pulang yang dia inginkan untuk segera sampai dan esok hari bertemu dengan Tisha dan keluarganya.
“Itu artinya, Tisha memang tidak memiliki perasaan apapun pada Bram.”
Hati Liam seperti tanah lapang yang luas, membuat udara seolah mudah sekali masuk dan melegakan sekali. Bahagia, menuju ke cintanya.
***
Suara dari dapur dan bau masakan membuat Kayla bergegas turun dari tempat tidur. Bau khas nasi goreng buatan sang Mama. Ya, hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan baginya. Ajakan berwisata ke pantai bersama sang mama yang ikut serta. Sungguh kebahagiaan yang mutlak bagi seorang anak kecil.
“Mama, di pantai itu banyak kerang?” tanya Kayla, duduk di kursi meja makan, dekat dengan dapur.
“Iya dong.”
Tisha masih saja membalikkan nasi agar tercampur sempurna dengan kecap manis dan kecap asin yang baru saja dia tuang.
“Trus, Kayla boleh nggak ambil kerang-kerang itu buat dibikin hiasan?” tanya Kayla.
“Boleh,” sahut Tisha bahagia melihat senyum tak juga surut dari wajah anaknya. Bunyi deru mobil van telah sampai di depan rumah. Suara seorang lelaki menggugah Kayla untuk bangkit dari simpuhnya.
“Yeeeyy! Ah, itu Oom Bram udah datang!”
Seruan itu membuat Tisha mendengkus lagi. Sialnya, sang anak malah tampak begitu senang dengan kedatangan Bram. Sebenarnya Tisha sangat malas hari ini. Dia merasa sangat pusing dengan masalahnya sendiri. Terdengar samar-samar suara berbincang di ruang tamu. Dia belum juga mau muncul dari kamar. Jika saja dia bisa menghilangkan hari ini, maka dia akan bersyukur sekali, tapi nyatanya tidak mungkin.
Setelah beberapa menit, Kayla memanggilnya untuk keluar. Tisha berjalan lunglai keluar dari kamar lalu menatap setiap orang yang berwajah ceria hari ini.
“Oom Bram, kita nanti naik mobil besar itu?” tanya Kayla, menunjuk ke depan rumah.
“Iya, Kayla.”
“Sayang, nanti kalo capek kamu bisa gantian sama pacarnya Kak Tisha. Mm, jadi dateng, kan, Kak?” tanya Laras menoleh pada Tisha.
Bersamaan dengan itu, seolah semua orang ikut menatapnya, meminta kejelasan dan pasti dengan wajah penuh rasa penasaran. Apalagi Astrid yang telah mewanti-wanti banyak pada Tisha tentang pasangan hidupnya.
“Iya, jadi,” sahut Tisha singkat, tanpa melihat Bram yang menarik napas dan mengembuskannya cepat dengan perasaan yang entah tidak dapat dia ungkapkan.
Benar saja, setelah itu, sebuah mobil putih datang dan berhenti di depan rumah. Astrid dan Laras sampai berdiri karena penasaran dengan pasangan Tisha. Seorang lelaki berkaus putih dan bercelana jeans turun dari mobil tersebut. Bram menunduk kesal setelah mengetahui tebakannya sangat benar. Ya, Liam yang menjadi kekasih Tisha.
“Permisi,” ujar Liam berdiri di depan pintu dan wajahnya kaget tatkala melihat Bram ada di dalam sana.
Namun, sebelum meluluskan pertanyaannya menjadi sebuah jawaban, Tisha mengenalkannya pada seluruh anggota keluarga.
“Ini Liam, Liam, ini papa dan mamaku.”
Liam menyalami Astrid dan Rahman dengan sopan.
“Astrid.”
“Rahman.”
Sedangkan Tisha dengan wajah datar mengelus kepala gadis kecil yang sekarang memeluk pinggangnya, menatap Liam dengan pandangan yang aneh. Begitu juga Liam yang tidak mengerti dengan gadis kecil itu.
“Dan ini ... Kayla—“
Suara Tisha tercekat, ingin mengatakan bahwa itu adalah anaknya di depan Liam, tapi nyatanya nyalinya kendur. Kemudian, Kayla pun menyalami Liam yang masih menunggu kalimat Tisha tentang siapa anak itu dengan senyuman di depan Kayla.
“Kayla, ini Oom Liam.”
Liam berjongkok dan menyalami Kayla, tapi wajah Kayla tampak tidak suka pada Liam. Dia hanya bersalaman sebentar, lalu berjalan ke arah Bram dan memeluk kaki Bram.
Tisha menutup wajahnya melihat hal itu. Apa yang dia takutkan sepertinya bakal terjadi. Kayla tidak bisa begitu saja mengenal orang asing dan itu terjadi pada Liam. Tisha mengalihkan semua itu, mendekatkan Liam pada Laras.
“Ini adikku, Laras. Dia tunangan Bram.”
Liam menyalami Laras. Dengan perkenalan dan ucapan Tisha, Liam baru mengerti kenapa Bram ada di rumah itu. Namun, masih ada hal yang janggal dengan anak kecil yang sekarang menggelayut tangan Bram.