Desakan

2039 Words
“Maksudnya apa ini, Pak?” tanya Tisha, menatap Liam dengan pandangan tidak mengerti. Dia mengambil bunga mawar merah itu, lalu bergantian menatap ke arah Liam. Mawar yang cantik, dengan sedikit hiasan bunga babybreath, dibungkus dengan manis. Liam menunduk, tapi kedua matanya menyorot tajam pada Tisha dengan senyum di balik tangan yang terjalin di depan mulutnya. Dia menurunkan tangan itu, lalu beranjak dari duduk dan mulai berdiri, berjalan dengan perlahan. Liam tidak langsung menjawab pertanyaan Tisha, malah mendekati wanita itu. “Kamu nggak tau maksudnya apa?” tanya Liam lirih, tidak segalak biasanya. Tisha sontak menggelengkan kepala dengan cepat. Rasanya malah bagai ketakutan sendiri ketika Liam mendekati, tapi dia tidak bisa bergerak pergi karena masih ada pertanyaan di benaknya. Apakah itu menyangkut dengan pekerjaannya atau apa hal lain? Wajah Tisha berubah menjadi pias saat Liam tiba-tiba berjongkok di hadapannya dengan memegang tangannya. Tisha menarik tangan yang dipegang oleh Liam karena merasa agak jengah dibuatnya. Liam sempat kaget dengan tarikan tangan itu, yang dia tahu upaya menghindar dari Tisha, tapi itu tidak menyurutkan niatnya. Dehaman Liam membuat Tisha kembali menatap pria itu dengan bingung. “Tisha, dengan bunga itu, aku ingin kamu menjadi kekasihku. Udah lama aku menyukaimu. Hari ini, aku ingin mengungkapkan perasaanku yang telah terpendam lama.” Tisha ternganga mendengar ucapan Liam. Dia mengerjapkan kedua matanya, dengan mimik tidak percaya. Tisha lama-lama tertawa dengan apa yang diperbuat Liam. “Nggak, Pak. Anda pasti bercanda. Setahu saya, Anda itu suka sekali menyiksa saya. Saya tau, Anda Cuma mau prank saya, kan? Nggak kaget saya, Pak.” Terdengar gelak tawa renyah dari mulut Tisha. Wanita itu bahkan menutup mulutnya dan menertawakan Liam yang masih menahan bobot tubuhnya dengan satu tumpuan kaki dan satunya bertumpu dengan lutut. Liam terpaku dengan wajah datar. Sedari tadi, jantungnya seperti berdentum tak beraturan hanya untuk mengucapkan kalimat itu. Enam tahun sudah dia memendam rasa dan hari ini dia ingin mengungkapkannya pada wanita yang menjadi pujaan hati. Namun, apa yang dia siapkan dianggap sebuah lelucon candaan bagi Tisha. “Tisha, aku serius.” Nada bicara Liam terdengar berbeda. Dia tidak ikut tertawa bersama Tisha, hanya menatap wanita yang berhenti tertawa itu dengan datar, mendukung ucapannya. “Aku tidak suka dianggap bercanda. Aku nggak lagi bercanda. Aku cinta kamu, aku suka kamu.” Tisha menjadi terdiam seketika. Merasakan keseriusan Liam saat ini. Ya, pria itu tampak serius dan tidak bercanda. Tisha mencubiti lengannya sambil berdiri di depan Liam. “Ini kenyataan, Tisha. Nggak usah kamu cubiti lenganmu. Aku sering mengganggumu karena aku penasaran denganmu saat sekolah dulu. Namun, aku sadar bahwa itu disebabkan karena aku mencintai kamu. Mungkin takdir yang membuat kita berdua bertemu saat ini.” Tisha menyugar rambutnya yang tadi dia gerai. Dia tidak bisa berpikir lagi, Cuma bertanya-tanya saja, kenapa pria di depannya malah memiliki perasaan cinta padanya. “Liam, kumohon kamu nggak serius, kan?” desak Tisha, sekarang tidak menggunakan ‘Pak’ sebagai panggilan demi menghormati atasan. “Aku serius, Tisha, aku ingin menjadi kekasihmu.” Liam berdiri dan mendekati Tisha. Dia berdiri di hadapan Tisha dan mereka saling bertatapan. Tisha menunduk usai melihat kesungguhan di kedua mata Liam, yang baru dia temukan dalam ketidakpercayaannya tadi. “Maaf, aku—“ “Aku nggak maksa kamu harus jawab sekarang, tapi kamu bisa pikirkan jawabanmu. Aku akan menunggu jawaban darimu.” Tisha mengangguk. Sekiranya itulah apa yang paling dia bisa lakukan sekarang. Menyingkir dari hadapan Liam dan berpikir lagi dengan ungkapan rasa Liam yang tidak dapat dia percaya. “Permisi, Pak.” Dengan membawa sebuah map berisikan pekerjaan dan setangkai bunga, Tisha memohon diri untuk kembali ke ruangannya. Hatinya tidak karuan. Tidak menyangka semua ini bakal terjadi. Inginnya bekerja, tapi malah mendapatkan ungkapan cinta. “Oh, apa lagi ini?” sungut Tisha saat masuk ke dalam ruangannya dan menghempaskan pantatnya ke sofa. Gita melihatnya kembali berdecak. “Kamu kenapa lagi, Sha? Kalo kamu ngerasa nggak enak badan, mendingan tadi ijin. Demi kewarasan, kita harus menyayangi tubuh dan kesehatan mental kita, Sha.” Tisha meraup wajah, benar-benar dia tidak mengerti dengan apa yang dia alami. “Kalo tau kayak gini, aku pasti ngelakuin yang kamu bilang itu, Git. Ijin,” sahutnya memijat kening. *** Tiga hari kemudian, Tisha memiliki jadwal baru. Dia harus pulang ke kota kelahirannya untuk menemui sang anak. Dia memiliki waktu tiga hari dan itu akan sangat menyenangkan bisa memuaskan diri dengan bertemu Kayla. Tidak ada hal lain yang lebih menggembirakan bagi seorang ibu selain bertemu dengan anaknya. Tisha telah menenteng paper bag berisi boneka baterai yang diminta oleh Kayla. Tidak sia-sia dia menjalani lembur beberapa hari itu. Liam juga memberinya bonus sebagai tambahan atas pekerjaannya. Hari itu, Tisha berpamitan pada bibinya untuk pulang. Dia memberi kecupan di pipi bibinya pagi tadi dengan pesan berderet demi kesehatan wanita itu. Sekarang, dia telah duduk di sebuah bus kota, menikmati perjalanan selama dua jam ke kotanya sendiri. Ini kali kedua dia pulang. Bayang wajah Kayla membuatnya bersemangat dan mengabaikan orang-orang yang terkadang menyebalkan yang ditemui di sepanjang perjalanan, juga barang bawaan berupa oleh-oleh yang dibawakan oleh Ratih, membuat bagasi atas terasa penuh. Hanya Kayla, yang menjadi tujuan Tisha. *** Jerit suara gadis kecil yang dia rindukan benar-benar mampu mempercepat langkahnya ketika berjalan masuk ke gang masuk rumahnya. Rasa bahagia menjalari hati Tisha melihat Kayla tidak sabar berlari ke arahnya dengan sangat riang. “Mama!” Itu adalah seruan paling merdu di telinga Tisha saat ini. ingin rasanya segera sampai dan memeluk tubuh kecil yang merindukannya juga. “Kayla, Sayang.” Akhirnya, meletakkan tas-tas bawaan di jalan dekatnya, Tisha lebih memilih untuk berjongkok dan memeluk putri satu-satunya itu dengan suka cita. “Mama kangen Kayla.” “Kayla juga kangen Mama,” sahut gadis kecil itu dengan sangat manis. Harum bedak bayi dan minyak kayu putih menyeruak dari sisi tubuhnya. Tisha merasa senang, kedua orang tuanya sangat memperhatikan dan merawat Kayla dengan baik. Dia melepaskan pelukan, lalu memegang kedua lengan anak itu, tidak perduli dengan orang-orang yang ikut tersenyum melihat mereka berpelukan di jalan. “Mama bawa mainannya?” Pertanyaan polos yang membuat Tisha mengerucutkan bibir. Namun, dia merasa geli sebentar kemudian karena anak kecil hanyalah anak kecil yang di kepalanya hanya mainan dan mainan. Tisha mengambil tasnya, lalu menarik sebuah paper bag dan mengulurkannya pada gadis kecil imutnya itu. Agak tergesa, Kayla mengintip isinya. “Wuah!” Seruan singkat, tapi dengan ekspresi kagum ala anak-anak yang membuat Tisha puas bisa membelikan anaknya mainan yang diinginkan. Tisha tersenyum, membenahi tasnya lalu mengalungkan tas itu ke bahu, kemudian mengajak Kayla kembali berjalan ke rumah. “Bagus?” tanya Tisha, meski dia sudah tahu jawabannya. “Banget!” sahut Kayla. *** Petang itu, mereka telah duduk di ruang tamu bersama dengan Rahman dan Astrid. Percakapan yang membicarakan pekerjaan, Ranti, dan kehidupa di luar kota, serta sekolah Kayla mengalir di ruangan itu. Lalu, saat Kayla tidur, obrolan itu sampai pada hal yang membuat Tisha harus membahasnya lagi meski dia enggan. “Gimana, Sha? Mama ada kenalan juga, duda—“ “Ma,” potong Tisha. Tidak habis pikir bagaimana dia akan melalui hidup bersama seorang duda, yang pasti memiliki anak juga. Tisha tidak yakin anaknya dan anak-anak pria itu akan bersama. Dia memijat keningnya. Bagaimana bisa ibunya memilihkan jodoh seperti itu? “Sha, kalo mengharapkan pria single, mungkin dia akan berpikir dua kali buat menghidupimu dan anak yang bukan anaknya. Logikanya begitu, meski ada seribu satu yang bisa seperti demikian.” Tisha sangat merasa rendah diri dikatakan seperti itu, tapi kenyataan memang tidak akan berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Setiap orang ingin hidupnya lancar, lahir dengan baik dalam keluarga yang harmonis, belajar, bekerja, menikah lalu punya anak-anak yang pintar dan hidupnya terjamin. Begitu kan? Meski Tisha sudah tidak bisa lagi berharap demikian, tapi setidaknya tidak begitu terpojok dengan desakan ibunya. Ya, mungkin dia bisa menikah, tapi tidak bisa dipaksakan, apalagi dengan jodoh asal-asalan. “Iya, Ma, tapi kalo buat nikah, aku juga butuh ngenalin sama Kayla, cocok apa nggaknya. Kalo itupun duda, apa anak-anaknya juga bisa berbaur dengan Kayla?” tanya Tisha. Astrid menghela napas. Kenapa anak sulungnya mengalami hidup yang sungguh berliku? Ya, dimulai dengan satu kesalahan akan merambat ke kekacauan hidupnya. Andai saja dulu Tisha tidak melakukan hal buruk itu, semua ini pasti tidak akan mengganggu pikiran mereka. Ah, ini bukan saatnya berandai-andai. “Trus, mau kamu yang gimana? Kayla butuh pendampingan, mumpung masih kecil, dia tidak akan tahan kalo mendengar suara-suara buruk di sekitar, Sha.” Tisha mengerti. Sungguh mengerti, tapi dia sendiri trauma dengan apa yang terjadi di masa lalunya. Tisha merasa tertekan. Meski kehadiran Kayla tidak dia sesali, tapi sekarang masalah baru datang untuk menyerang anak kecil tak berdosa itu, dan dia harus melakukan sesuatu untuk menebusnya. Wajah Bram terbayang. Tisha tambah membencinya, apalagi sekarang pria itu akan menjadi adik iparnya. Ayah Kayla akan menjadi Oom Kayla? Miris sekali. Suara deru mobil terdengar dari depan, menghentikan perbincangan mereka. Tisha mendengkus, menyadari mobil siapa yang datang. Ya, sepasang kekasih itu turun dari mobil dan ikut duduk di ruang tamu. “Kapan dateng, Kak?” tanya Laras, memeluk Tisha, dilanjut dengan Bram yang menyalaminya dan hanya disambut sekenanya oleh Tisha tanpa menatap. “Tadi sore.” “Libur berapa hari, Kak?” tanya Laras lagi. “Tiga harian,” sahut Tisha singkat. Kehadiran lelaki yang sekarang ikut menatapnya itu, membuat moodnya turun drastis. Astrid yang berdiri hendak membuatkan minum, sempat Tisha cegah untuk menggantikannya. “Mau minum apa, Bram?” tanya Astrid, hendak berdiri. “Nggak usah repot-repot, Tan—“ “Biar aku aja, Ma,” potong Tisha. “Oh, baik Tisha.” Astrid merasa aneh pada sikap anak sulungnya itu. Tisha berjalan ke dapur, agak lega karena tidak menemui Bram untuk sementara waktu. Dia membuat lima cangkir teh. Ingin rasanya mencampur satu cangkir teh dengan racun tikus untuk dia berikan pada Bram, tapi dia masih waras. Tisha membawa nampan berisi cangkir-cangkir teh itu ke ruang tamu, tidak mendengar obrolan apa yang mereka bincangkan tadi. Tampaknya, semua orang telah akrab dan baik sekali pada Bram. Tisha berdecih melihatnya. “Kak, kita berencana besok mau piknik ke pantai. Ikut, ya? Pasti Kayla suka.” Tisha terbelalak mendengarnya. “S-siapa aja?” tanya Tisha dengan konyol, padahal sudah pasti Bram yang jadi sopirnya. “Ya kita, di sini semua, sama Kak Tisha dan Kayla. Apa Kak Tisha mau bawa pacar?” tanya Laras, meliriknya. Sungguh, pertanyaan yang menyebalkan. Ditambah lagi dengan kagetnya wajah Bram menatap pada Tisha, ikut menunggu jawaban yang keluar dari mulut Tisha. Semua orang seperti sedang menunggu. Tisha menarik napas dibuatnya. Tambah lagi, Bram membuka suara. “Kayaknya Tisha belum punya—“ “Udah, kok,” potong Tisha. Bram terperangah dibuatnya. Sementara yang lain, heran dengan apa yang dilontarkan oleh Tisha. Tadi dia bilang tidak ada pandangan calon suami, sekarang dia bilang sudah punya kekasih. Rahman dan Astrid saling berpandangan, bingung. “Tapi—“ “Besok aku ajak. Kamu siapin mobil van, Ras. Kayaknya kita bakal rame-ramean.” Tak ada celah Bram untuk menyanggah perkataan Tisha. Jelasnya, ada satu luka dalam hatinya ketika mendengar Tisha mengatakan hal itu. Dua orang itu malah seperti saling bertengkar. “Wah, aku penasaran sama cowoknya Kak Tisha!” celetuk Laras. Memang, selama ini Tisha belum pernah sekalipun membawa seorang lelaki ke rumah. Apalagi, saat memiliki Kayla. Dia seperti menutup diri, tapi siapa sangka kalau ternyata Tisha memiliki kekasih. Rahman dan Astrid berpikiran sama dengan Laras. Mereka ikut penasaran siapa dan seperti apa pilihan Tisha. Sedangkan Bram menatap tajam pada Tisha seperti tanpa berkedip, dan Tisha menyadari itu. Dia tersenyum, senang sekali seolah memenangkan pertandingan sengit. Namun, Bram sudah menebak siapa lelaki itu. *** Tisha memijat kepalanya yang pening usai percakapan tadi. Dia merasa sangat konyol dengan omongannya sendiri. “Kenapa juga aku mesti harus bilang kalo punya cowok?” gumamnya sendiri. Perkataannya menjadi boomerang baginya. Sekarang, bagaimana caranya dia membawa pria itu ke rumah untuk sekadar diajak ke pantai dan Kayla? Ini masalah baru lagi baginya. Masalah? Tentu saja, karena Liam tidak tahu bahwa dia mempunyai seorang anak. “Gimana ini?” Tisha, seorang yang biasanya tenang, sekarang bagai ombak yang beriak dengan obrolan tadi. Entah kenapa dia ingin menunjukkan pada keluarganya bahwa dia itu tidak ingin lagi dipojokkan. Seorang yang introvert sekalipun, akan bertindak berani jika disudutkan. Bagaimana tidak? Usai didesak menikah, adiknya menanyakan tentang kekasih di depan Bram. Jiwa berontak Tisha mulai menggeliat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD