Tugas dari Manager

2212 Words
“Siapa yang bilang itu, Kay?” desak Tisha. Rasanya sangat geram dengan orang yang menyampaikan kata-kata buruk itu pada anaknya. Tidak ada anak haram. Semua kesalahan adalah pada orang tuanya, tapi kenapa sepertinya orang-orang tidak mengerti akan hal itu? Kepala Tisha mendadak berdenyut-denyut. Rasa ceria tadi rusak seketika. “Apa, Ma? Artinya apa? Tadi Kayla tanya sama Nenek, Nenek juga nggak jawab. Malah nyuruh Kayla nggak usah dengerin orang yang bilang itu sama Kayla. Kok Kayla dibilang anak haram? Apa Kayla mirip kodok? Apa babi, Ma?” cerocos anak itu. “Udah Kay, nurut aja sama Nenek. Sekarang Kayla maem yang banyak. Jangan perdulikan omongan orang ya?” tukas Tisha. Gerah sekali rasanya. Ranti sampai speechless dan mengelus lengan Tisha agar lebih sabar. “Iya,”sahut Kayla, menutup panggilannya. Pada akhirnya, dia tidak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang pertanyaannya itu. Akhirnya pula, rasa rindu Tisha dan Ranti berubah menjadi rasa geram dan sedih. Tisha membawa piring kotornya ke belakang. Tadinya, perutnya masih lapar karena Tisha baru makan buncis dan daging. Baru mau tambah makan nasi, dia sudah dikenyangkan dengan pertanyaan Kayla. Ranti melanjutkan makannya dengan perlahan, membiarkan Tisha yang sudah pasti kehilangan selera makan karena kejadian barusan. “Sanksi sosial memang seperti demikian, Tisha.” Tisha mengayunkan jarinya di hadapan Ranti. Dia tidak ingin membahas itu dan ingin sekali masuk ke kamarnya. Di sana, Tisha menenangkan dirinya. Menangis sejadinya. Ranti mendengar itu dan tidak tahan. Dia meletakkan sendok garpu, lalu memasuki kamar Tisha. Dia memeluk Tisha dan mereka menangis bersama. “Ini bukan salah Kayla, Bi. Ini bukan salah dia .... Dia masih terlalu kecil untuk menghadapi hal seperti itu, Bi. Ini salahku, ini salahku ....” racaunya, dengan punggung berguncang karena isak tangisnya. Ranti hanya bisa mengelus punggung Tisha agar lebih tenang. Namun, tetap saja dia juga ikut berurai air mata. *** Astrid menatap wajah cucunya yang telah terlelap malam itu. Dia kembali menatap lagi ke layar ponselnya. Tisha tampak gelisah usai mencurahkan segala unek-uneknya saat tadi Kayla menghubunginya. “Memang, siapa sih yang bilang ke Kayla, Ma?” tanya Tisha dengan sangat dongkol. Astrid menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. “Mama sendiri nggak tahu, Sha. Kalo Mama nuduh, nanti dibilang su’udzon sama orang.” Seperti itu, selalu Astrid ingin keluarga mereka tampak baik di mata orang-orang. Dia tidak ingin ribut dengan orang. “Ma, kalo aku datangi orang itu, biar dia nggak bilang sembarangan di depan Kayla, gimana?” tanya Tisha, geram. “Sha, nggak perlu kita seperti itu. Malah nanti kita dipandang tidak baik di mata orang-orang.” Tisha berdecak. Sebagai seorang ibu, dia akan melakukan apapun demi melindungi anaknya. Seorang ibu, akan menjadikan tubuhnya tameng bagi anaknya. Dia tidak rela jika Kayla diperlakukan buruk oleh orang lain. Kesalahan bukan ada pada Kayla. Dia adalah anak yang dilahirkan tanpa dosa, apapun jalannya. “Tapi aku nggak mau Kayla dibilang anak haram, Ma. Dia akan tambah down. Apalagi, habis ada masalah di sekolah kemarin. Apa nanti nggak tambah nggak mau makan? Bisa-bisa dia depresi. Mama nggak mau, ‘kan?” tekan Tisha. “Sha, Mama nggak mau, tapi gimana lagi. Kita nggak bisa sembarangan gitu aja melabrak orang. Apalagi, memang itu kesalahan kamu dulu.” Tisha merasa terhenyak. Memang ini semua kesalahannya. Ya, masalah hamil di luar nikah, apapun alasannya, kebanyakan wanitalah yang mendapat nama buruk di masyarakat. Dia ingat dengan tetangganya yang hamil sepulang dari luar negeri. Menjadi tenaga kerja wanita, dan pulang hamil tanpa suami. Dia yakin itu bukan sepenuhnya kesalahan si wanita, tapi nyaris semua orang memandang wanita itu sangat rendah hingga dia harus berpindah ke kampung lain. Tisha agaknya bertambah benci pada Bram. Dia tidak mau mengatakan pada kedua orang tuanya tentang Bram karena dia takut saat itu Bram yang memiliki banyak uang akan menolak pengakuannya. Banyak yang terjadi seperti itu. Seorang anak pengusaha akan mengeluarkan uang berapapun untuk menyangkal tuduhan. Tisha menyadari siapa dirinya yang hanya anak pegawai biasa. Kedua orang tuanya tidak akan mampu melawan keluarga Bram waktu itu. Jadi, dia memilih untuk menyimpan rahasianya seorang diri. “Aku harus gimana, Ma?” tanya Tisha, pasrah dengan keadaannya. “Sha, tadi Papa sama Mama udah bicara soal ini. Kami berdua menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan semua. Apa yang terjadi pada Kayla, hanya karena ketidakadanya sosok ayah di sampingnya, kan?” Tisha mengangguk sambil menyelami maksud perkataan ibunya. “Nah, apa kamu nggak bisa cari ayah biologisnya Kayla? Kalau dia masih sendiri, kamu bisa memintanya untuk bertanggung jawab, Sha.” Tisha memegang dahi. Ucapan ibunya sama dengan ucapan Bram tadi. Hanya Tisha dan Tuhan yang tahu semua saat ini. Bahkan Bram masih meraba-raba saja, belum tahu kepastiannya. “Mama pikir gampang? Mama pikir aku dengan mudah menunjukkan ayah biologis Kayla!” Tisha menangis tersedu, melampiaskan segala amarah, kekesalan dan kekecewaan dalan hatinya. Ya, jika dia bilang pada seluruh keluarganya tentang ayah biologis Kayla, apa yang akan terjadi? Semua akan pecah. Laras akan membencinya untuk selamanya. Juga ayah ibunya mungkin akan stress dengan pengakuannya. Belum lagi, Bram mungkin akan menyangkal. Dia akan jadi pemfitnah besar di mata keluarganya. “Ya sudah, ya sudah. Tisha, jangan menangis, Nak. Itu yang pertama, yang kedua ada alternatif lain yang kami bicarakan.” “Nak, please, ini buat kebaikanmu dan Kayla. Jangan menangis.” Tisha menghentikan tangisnya. Dia meraih tissue untuk menghapus airmata. Lalu, menatap lagi ke layar ponsel. Di sana, Astrid juga menatapnya dengan kedua sklera mata yang memerah. Tampaknya ada rasa sedih pula melihat anaknya bersedih. Dia tahu, apa yang terjadi pada Kayla hari itu membuat Tisha meradang dan sedih. Namun, Astrid tidak tahu bahwa yang terjadi pada Tisha lebih dari itu. Bertemu dengan Bram, juga laporan dari Kayla. Ditambah lagi dengan nasehat Astrid sendiri. “Apa, Ma?” tanya Tisha, usai mengusap hidung yang sekarang memerah bagai tomat, dengan kedua mata yang sembab. “Sha, Mama minta maaf sekali lagi jika Mama terlalu mengurusi hidup kalian, tapi ini demi Kayla. Mama dan Papa minta kamu segera menemukan calon pendamping dan menikah dengannya.” Tisha mengelus dadanya. Ya, Tisha telah menutup pintu hati untuk semua pria usai malam laknat itu. Bramlah yang membuatnya menjadi seperti ini. Hatinya mati untuk membuka diri terhadap makhluk yang berjenis kelamin lelaki. Tisha tidak habis pikir. Dia hanya diam, tidak mengiyakan, tapi juga tidak menolak. “Kamu pikir dulu, Nak. Mungkin kamu bisa menemukan seorang lelaki yang bisa melengkapi hidupmu dan Kayla. Dengan begitu, setidaknya Kayla tidak akan merasa dia tidak memiliki ayah. Ada sosok yang melindunginya. Setidaknya—“ “Ya, nanti aku pikirkan lagi, Ma.” Astrid cukup tahu dengan jawaban Tisha. Dia mengangguk, mengucapkan selamat malam dan salam perpisahan, lalu menutup telepon. Dia menatap pada suaminya, Rahman. “Cukup, Ma. Setidaknya dia bisa berpikir untuk mencari ayah pengganti bagi Kayla.” Astrid mengangguk, memasrahkan diri berharap semoga anak sulungnya mau membuka diri dengan seorang pria yang mau untuk meminang. Dia rasa, Tisha tidak jelek. Bahkan wajahnya cantik. Sebelum pergi ke luar kota, bisa dibilang, banyak yang menanyakan anaknya itu. Para tetangga, teman suaminya, mereka ingin menjodohkan Tisha dengan anak lelaki mereka. Namun, takdir berkata lain. Anak sulungnya itu malah hamil di luar nikah. Sungguh membuat aib baginya dan keluarga. Nama baik itu, harus dipertahankan. Tisha yang sempat menjadi sorotan, tidak boleh down karena kesalahan itu. Hingga akhirnya pertanyaan tentang Tisha waktu itu menjadi surut sampai sekarang. Astrid memejamkan kedua matanya, perlahan dia hanyut ke dalam mimpi malamnya. *** Tisha memejamkan kedua mata, tapi tidak bisa. Dia ingin sekali menjerit malam itu seperti seorang gila. Ponselnya berdering-dering dari petang tadi, usai mengakhiri percakapan dengan ibunya. Dia membiarkan ponsel itu, bahkan mengabaikan si penelepon. Di ujung sana, dua orang pria sedang berupaya menghubungi satu nomor. Satu kali terhubung, yang lain tidak. Begitu sebaliknya. Ya, Bram dan Liam. Mereka berebut tanpa saling tahu petang itu mereka bersaing untuk bisa terhubung ke satu nomor ponsel itu. Bram mengerutkan dahinya, menatap layar ponsel. Dia masih terngiang dengan kejadian tadi ketika berada di pinggir jalan. Mencoba memeluk Tisha? Ah, Bram merasa sangat malu sekali kenapa bisa sampai melakukan hal yang nekat. Namun, rasanya desakan dalam d**a dia ingin memberi perlindungan pada Tisha. Pikiran Bram kacau, dia ingin meminta maaf pada Tisha saat ini, tapi entah kenapa wanita itu tidak mau mengangkat panggilannya. “Apa dia marah sekali padaku?” gumam Bram, memijat keningnya. “Bodoh sekali aku ini.” Bram berjalan ke pinggir ruang apartemen. Dia menyibakkan vitrase jendela dan menatap ke luar. Pekatnya malam dengan banyak lampu rumah membuat dirinya agak tenang. “Mungkin dia sedang tidur.” Bram mengangkat kembali ponselnya dan mengetikkan kata-kata sebagai ucapan maaf pada Tisha. Dia berjanji untuk tidak akan lagi berbuat seperti siang tadi. Sementara itu, Liam tidak kalah kesal, berdecak ketika Tisha tidak juga mengangkat panggilannya. “Lagi apa sih ini orang?” desisnya, mencoba lagi menghubungi Tisha. Bayang wajah Tisha masih selalu menari di benak Liam. Meski besok Tisha berangkat kerja, tapi malam itu rasanya ingin mendengar suaranya. Liam mengacak rambutnya. Jika dia tidak berpikir, bisa-bisa dia nekat mengetuk pintu rumah Tisha. *** Gita terbelalak menatap Tisha yang datang dengan kuyu, menghempaskan dirinya di kursi ruang kerjanya. Rambut Tisha juga tampak lepek, dengan kedua mata yang menghitam bercekung. Tampak sekali jika kurang tidur. “Ya ampun, Sha. Ngapain aja kamu semalam? Begadang demi apa?” sambut Gita, mendatangi Tisha dengan heran. Tisha berdecak sambil memejamkan kedua matanya. Dia mengabaikan Gita, sampai-sampai tangannya memukul pipi yang mendekat padanya. “Aduh!” Tisha terperanjat begitu mendengar suara lelaki mengaduh. Saat membuka mata, dia melihat Liam sudah mengelus pipi yang terduga dipukul oleh Tisha tadi. “M-Maaf, s-saya kira itu Gita,” ujar Tisha, sontak berdiri mengambil tissue dan mengulurkannya ke arah Liam. “Tissue? Kamu pikir sakit ini ilang karena tissue?” kesal Liam, masih mengelus pipinya dengan wajah kesal. “Maaf, Pak.” Tisha menarik lagi selembar tissue yang dia pegang, tapi kemudian Liam merebutnya dan meletakkannya di pipi. “Nanti ke ruanganku. Ada kerjaan buat kamu.” Setelah berkata demikian, Liam beranjak pergi dari hadapan Tisha. Gita meringis melihat Tisha dengan wajah tegangnya. Perlahan, setelah Liam keluar dari ruangan itu, otot-otot ketegangan Tisha berhasil kendur. Dia lemas sekali dan menghempaskan bobotnya ke sofa lagi. “Git, kenapa sih kamu nggak bilang kalo cowok itu yang masuk?” gerutu Tisha dengan suara lirih, kembali ke posisi semula, di mana dia menutup wajah dengan tangan kanannya dan memejamkan kedua mata. “Belum juga aku bilang, Pak Liam udah masuk aja, gantiin posisiku tadi.” Gita mengerucutkan bibir, sambil menata kertas-kertas hasil pekerjaan Tisha tempo hari. Dia sesekali menatap iba pada Tisha yang sepertinya sangat kelelahan itu. “Ya udah, sekarang aku ngerti. Setelah hari itu, hari-hari sialku akan berdatangan. Aku kudu siap dengan itu semua.” Omongan Tisha membuat Gita membulatkan bibirnya. Dia tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh sahabatnya itu. “Ngomong apaan, Sha?” tanyanya, mengibaskan tangan ke hadapan Tisha. Tisha mendesah pelan, menggulirkan pandangannya perlahan ke arah Gita. Sungguh, dia iri sekali pada Gita yang benar-benar free, anak mama, dan bebas. “Intinya, aku iri sama kamu yang jomblo itu, Git. Bisa bebas, dengan pikiran yang tidak terbatas. Ah, kenapa hidupku seribet ini sih?” Gita makin mengerutkan dahi mendengar sahutan yang mendekati ocehan dari mulutTisha. Dia mengangkat kedua bahunya tanpa bisa berkata-kata seraya mengekori kepergian wanita itu dari ruangan mereka. *** Liam memutar pulpennya, menunggu seseorang datang ke ruangan. Ya, orang itu sekarang telah mengetuk pintu ruangannya. Meski sudah bersiap, tapi Liam terlonjak kaget dengan kedatangan wanita itu. Dia merapikan rambut sekenanya, lalu menyuruh Tisha untuk masuk. “Ada yang harus saya lakukan hari ini, Pak Liam?” tanya Tisha dengan sopan meski usia mereka hanya berjarak beberapa tahun saja. Liam menatap wajah kuyu Tisha. Dia masih merasa kesal dengan semalam. “Kamu nggak tidur? Abis ngapain semalam?” tanyanya, menunjuk wajah Tisha dengan pulpennya. “Nggak ngapa-ngapain, Pak,” sahut Tisha, menunduk. Rasanya sangat mengantuk, tapi dia harus bekerja hari ini. “Kenapa kamu mengabaikan panggilan teleponku, hm?” tanya Liam. Tisha mengangkat kepalanya, menatap ke arah Liam. Dia bahkan sampai pagi ini pun, belum mengecek lagi ponselnya. Mana dia tahu kalau pria itu semalam menghubunginya? “Saya nggak tau, Pak. Maaf.” “Nggak tau? Kasih dering yang beda khusus untuk saya,” decak Liam. Kedua mata Tisha terbelalak mendengarnya. Apa manusia di depanku ini minta diistimewakan? “Saya akan lebih memperhatikan ponsel saya, Pak. Apa panggilan Bapak semalam berhubungan dengan pekerjaan saya hari ini?” tanya Tisha, menghubung-hubungkan dengan pekerjaan. Dia tidak mau urusan kerjaan dicampuri dengan urusan pribadi. “Ya! Ini! Kamu harus mengerjakan design aksesories ala penyanyi-penyayi Korea itu. Produk ini akan laris jika kita menggarapnya sekarang. Aku mau kamu mengerjakannya sekarang juga dan berhasil sempurna hari ini juga! Aku mau produk itu dipasarkan minggu ini. Demi peluang, Tisha.” Tisha memutar kedua bola matanya. Walau mengantuk, tapi dia harus mematuhi perintah orang itu. “Baik, Pak. Saya boleh bawa map ini, lalu ke ruangan saya?” pamit Tisha, dengan jari lentik menunjuk ke map berwarna biru yang agak aneh itu. “Ya, tapi buka di sini.” Tisha menganggukkan kepala. Betapa enaknya menjadi seorang manager. Bisa menyuruh-nyuruh kapanpun dan seperti apapun. Dia mulai mengambil map biru itu lalu membukanya perlahan. Mata Tisha yang mengantuk, menjadi terang seketika karena kaget. Setangkai bunga mawar merah yang manis ada di dalam map, dia atas sebuah kertas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD